Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Maafkan Wila


__ADS_3

Mita begitu sumringah setelah mengetahui Juna sudah ada di depan Kampus menunggunya pulang.


"Oke, aku pulang duluan ya, Juna sudah ada di depan", ucapnya sambil berdiri. Setelah pamit kepada kedua temannya, Mita pun pulang.


Wila dan Lela berjalan ke luar dari kelasnya, mereka berpisah di lorong, Lela langsung pulang, sedangkan Wila harus ke ruang P3K dulu.


"Sampai ketemu besok, terima kasih ya, kemarin sudah mau menampung aku", canda Wila.


Mereka saling berpamitan.


Tinggallah Wila di sana. Ia bergegas menuju ruang P3K, tanpa sepengetahuannya, Hamzah mengikuti Wila ke sana.


Hamzah merasa khawatir, pasti akan terjadi sesuatu setelah serangkaian tes dilakukan. Sebelumnya Wila meminta ijin dulu kepada Petugas yang lagi jaga hari itu.


Di ruang P3K Wila melakukan tes dengan alat yang ada di sana. Saat mau menggunakan tensi meter, ia bingung, tak ada satu pun orang di sana yang bisa ia mintai bantuan untuk menjadi patnernya.


"Butuh bantuan", suara seseorang mengagetkannya.


Wila mencari sumber suara, dan ternyata Hamzah sudah berdiri di pintu.


"Aku bersedia menjadi pasienmu", senyum Hamzah sambil berjalan mendekati Wila.


Tanpa di suruh ia langsung membaringkan tubuhnya di bed pasien yang ada di samping Wila.


"Ayo, aku sudah siap, silahkan!", Hamzah kembali tersenyum menatap Wila.


Wila jadi serba salah, ia salah tingkah, tidak dapat dipungkiri, kehadiran Hamzah sukses membuat jantungnya berdegup kencang.


"Kok malah diam, cepat Bu Perawat periksa aku!", goda Hamzah.


Wila tak punya pilihan lain, ia mulai memasukkan tensi meter ke lengan kanan Hamzah dan melakukan serangkaian tes sesuai prosedur, ia catat hasilnya.


"110/80", ucap Wila . Lalu ia beralih mengambil statoskop, ia kembali melakukan pemeriksaan , ia arahkan alat tersebut ke dada dan perut Hamzah.


Saat mengarahkan tangannya ke dada, Hamzah menyambar tangan Wila dan memegangnya erat ."Maafkan aku!, tolong ijinkan aku bertanggung jawab", mohon Hamzah.


Wila menarik tangannya, "Aku sudah memaafkanmu", lirih Wila.


"Sudahlah, ada orang yang mungkin sedang mencarimu, terima kasih sudah membantu", Wila membelakangi Hamzah, ia membereskan kembali alat-alat yang sudah ia pakai.


Dan ia bergegas hendak ke luar dari sana, tapi kembali Hamzah menahannya, Hamzah kembali menarik tangan Wila dari belakang seraya berbisik "Jangan biarkan dia tumbuh tanpa sosok Ayah",


Deg......

__ADS_1


Wila terkesiap mendengarnya, ia mematung. Dan kini tangan Hamzah berpindah ke pinggang Wila, ia melingkar di sana. Meraba perutnya, "Aku tahu dia sudah ada di sini, aku tidak ingin dia tumbuh tanpa Ayah ",bisik Hamzah.


Wila seolah terhipnotis, rasa hangat dari tangan Hamzah menjalar ke tubuhnya membuatnya nyaman.


Namun itu tak berlangsung lama, terdengar suara langkah kaki mendekat, dan itu Sarah.


Ia kehilangan Hamzah dan mencarinya ke sana.


Segera Hamzah mengambil jarak dari Wila.


"Ow..., ternyata di sini? , kamu nggak tahu malu ya, berduaan sama suami orang, dasar wanita kampung!", Sarah tampak marah.


" sudah berapa kali dibilangin, jauhi suamiku!", Sarah berjalan ke arah Hamzah dan menggandeng lengannya.


"Ayo kita pulang saja, aku sudah lapar, dari tadi di tunggu, eh... Malah nyasar ke sini",


"Awas ya kamu, jangan coba menggoda suamiku lagi",


Sarah menggandeng Hamzah pergi, saat berpapasan dengan Wila, Hamzah kembali menyentuh tangan Wila sambil tersenyum.


Wila melihat mereka pergi, ia tatap punggung laki-laki yang sudah menanamkan benih dirahimnya dengan nanar.


Setelah itu ia pun beranjak pergi. Tinggal satu langkah lagi, sebelum pulang ia mampir ke Apotek untuk membeli alat tes kehamilan.


"Assalamu'alaikum",


"Wa'alaikumsalam, Bi Yeni menyambutnya dengan senang. "Alhamdulillah Neng, sudah pulang?, ayo cepat makan dulu!",


"Iya Bi, nanti Wila masuk dulu", Wila menyalami bibinya dan beranjak menuju kamar, lalu kembali setelah menyimpan tas di meja belajarnya.


"Bagaimana Bi jualannya , lancar?",


"Alhamdulillah Neng, Bibi sudah bisa nabung, walau sedikit", senyum Bi Yeni.


"Alhamdulillah kalau begitu, semoga Bibi sehat terus ya",


"Aamiin , ayo makan dulu, tadi Bibi masak sayur asem",


"Iya Bi",


Mereka tampak menikmati makanannya diselingi obrolan dan tawa .


Sepanjang makan, sebenarnya Wila lagi memikirkan cara untuk bercerita kepada Bi Yeni soal keadaannya.

__ADS_1


Mau tidak mau Wila harus jujur, apapun akibatnya. Sesuatu yang sedang tumbuh di perutnya tidak bisa disembunyikan, semakin lama akan semakin menampakkan dirinya.


Wila takut Bi Yeni marah. Tapi bagaimana pun, ia harus bicara.


"Makan yang benar, kok malah melamun!",


"I...iya Bi", Wila tersadar dari lamunannya, dan kembali melanjutkan makannya.


"Ini enak sekali Bi, rasanya sama dengan sayur asem buatan Ibu",


"Ya iya lah Neng, ini kan resep warisan", senyum Bi Yeni.


"Bagaimana dengan Hamzah?, kemarin malam-malam ke sini mencari Neng".


Wila terdiam sejenak, "Ya...begitulah Bi, dia menyusul ke rumah Lela, dan tadi pagi pun ke sana lagi", terangkan Wila.


"Kasihan dia, ya seharusnya bereskan dulu , biar dia tidak terus mengejarmu, nggak enak juga siih, sekarang kan dia sudah mennjadi suami orang",


Wila menerawang, bagaimana mungkin bisa dibereskan cepat, lah ia lagi mengandung anaknya. Sampai kapan pun tidak bisa dipisahkan.


Walaupun kini Hamzah sudah menjadi suami Sarah, tapi Hamzah juga Ayah dari janin yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.


"Ya, sudah selesaikan dulu makannya", Bi Yeni kembali mengingatkan Wila yang kembali melamun.


Mereka pun melanjutkan makannya sampai selesai. Selepas itu Wila membantu membereskan dapur, sementara Bi Yeni kembali melayani pembeli.


Saat malam menjelang, Wila mencoba melakukan tes dengan alat tes kehamilan yang tadi dibelinya.


Ia memasuki kamar mandi. Dan seketika tubuhnya luruh di sana. Dua garis merah tampak jelas terlihat dari alat itu.


Wila memang sudah menduga , saat dirinya telat mendapatkan siklus bulanan. Tetapi tetap saja ia sock saat melihat bukti akurat dari alat tes yang ia gunakan. Ini tidak mungkin salah.


Dirinya sedang hamil. Harusnya ini menjadi kabar gembira bagi pasangan muda yang baru menikah, tapi tidak dengan Wila.


Kuliahnya, nama baik keluarganya menjadi taruhannya. Bagaimana anak yang dibanggakan malah mencoreng nama baik keluarga.


Wila terisak. Tidak menyangka semua impiannya sejak sekolah dulu, hancur karena ulahnya sendiri.


Kuliahnya yang baru setengah jalan, kini diambang kehancuran. Sedangkan orang yang sudah menanam benihnya , kini sudah menjadi suami orang.


"Bagaimana ini, Ya Rabb, ampuni hamba, beri solusi terbaik untukku",


Suara adzan Isya menyadarkan Wila, ia bangkit dan membersihkan dirinya, ia berwudhu dan bersimpuh memohon ampun dalam shalatnya.

__ADS_1


Malam ini ia harus bercerita kepada bibinya, apa pun akibatnya, harus ia hadapi. Ia akan jujur kepada bibinya, walaupun berat.


__ADS_2