
Perlahan mata Shofi terbuka ketika mendengar sayup-sayup suara orang menangis.
"Dear!"
Gumam Shofi terkejut melihat sang suami menangis. Entah apa yang terjadi kenapa bisa Fatih menangis.
Shofi baru menyadari jika ia sedang berada di rumah sakit. Apa terjadi sesuatu yang serius pada dirinya hingga sang suami menangis sungguh Shofi jadi takut sendiri.
"Dear, kenapa?"
Tanya Shofi pelan mencoba bangun, Aurora langsung membantu Shofi sedang Fatih hanya diam saja menatap Shofi dengan linangan air mata.
"Sa-sayang!"
Fatih memeluk sang istri erat membuat Shofi benar-benar kebingungan apa yang sebenarnya terjadi.
Fatih terus tergugu memeluk sang istri bahkan Fatih semakin menenggelamkan kepalanya di cekuk leher sang istri.
Shofi mengelus pundak Fatih mencoba menenangkan.
Entah siapa di sini yang sakit dan harus di tenangkan membuat Aurora hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah sang kakak.
Shofi yang baru siuman tentu merasa pegal lama-lama di peluk sang suami apalagi posisi mereka tak menguntungkan bagi Shofi.
"Dear,"
"Maaf sayang!"
Fatih melerai pelukannya sambil menghapus air matanya kasar. Shofi menangkup wajah sang suami lalu menghapus sisa air matanya.
"Ada apa, apa terjadi sesuatu tentang kondisi ku?"
Fatih mengangguk kaku membuat Shofi menegang. Apa yang terjadi pada dirinya apa ada sesuatu penyakit yang serius sampai membuat sang suami menangis tergugu.
"Kamu hamil!"
Deg ...
Seketika putaran waktu seolah berhenti membuat Shofi langsung melepaskan tangannya dari waja Fatih.
Shofi terdiam mendengar ucapan sang suami, apa ia salah dengar atau apa kenapa rasanya sangat menyakitkan.
"Dear jangan buat aku berharap lebih!"
Lilir Shofi bergetar menunduk dalam karena Shofi sudah sangat lelah berharap sesuatu yang sendari dulu tak pernah ada di rahimnya.
"Itu nyata, malaikat kecil itu ada!"
Bukan Fatih yang bicara melainkan Aurora yang angkat bicara karena sudah tak tahan melihat drama di depannya.
Shofi kembali mengangkat wajahnya ketika Aurora yang bicara.
"Kakak memang sedang hamil, usia kandungannya baru menginjak empat bulan. Di sini sudah ada malaikat itu!"
Tegas Aurora membuat Shofi menggeleng menatap sang suami dengan mata yang kembali berembun.
Fatih mengangguk sambil memberikan hasil pemeriksaan dokter beserta Poto USG karena Fatih yang memintanya untuk menyakinkan dirinya dan sang istri.
__ADS_1
"Ini!"
Bibir Shofi gemetar menatap sebuah Poto USG di mana ada baby nya di sana.
Sayang benarkah kamu hadir!
Jerit batin Shofi sambil mengelus perut ratanya.
"Di sini ada baby, dia sudah hadir sayang!"
Ucap Fatih merengkuh tubuh sang istri sambil memegang tangan Shofi yang mengelus perutnya.
Seketika tangisan Shofi pecah dengan kebahagiaan tergambar jelas di matanya walau penuh air mata.
Kebahagiaan yang tak tergambarkan oleh apapun. Shofi bahagia sangat sangat sangat bahagia sampai Shofi bingung harus bicara apa.
Penantian yang cukup panjang ternyata membuahkan hasil yang sangat menakjubkan.
Ujian selalu bertubi-tubi silih berganti datang. Empat tahun terbelenggu oleh kerinduan menunggu Fatih datang dan sekarang tujuh tahun menanti kehadiran malaikat kecil di rahimnya.
Cobaan yang begitu berat Shofi jalani sampai-sampai Shofi merasa lelah akan semuanya. Tapi lihatlah Tuhan berencana lain Tuhan gantikan semuanya dengan hal tak terduga.
Kebahagian yang Shofi dan Fatih rasakan sudah sampai pada Davit dan Farhan.
Mereka tak kalah bahagia mendengar Shofi sedang hamil. Terutama Farhan benar-benar bahagia akhirnya sebentar lagi dia akan mempunyai cucu penerus keturunannya.
Bahkan Queen sampai meneteskan air mata mendengar menantunya sedang hamil. Queen bisa merasakan kebahagiaan putranya walau jarak mereka jauh.
Ingin sekali Queen terbang ke Jerman langsung namun Queen tak bisa karena tak bisa meninggalkan putra bungsunya yang kini sudah tumbuh remaja. Apalagi Aksara sedang sibuk-sibuknya kuliah dan tentu membutuhkan perhatian lebih dari Queen.
Melihat Fatih dan Shofi bahagia pada akhirnya Queen benar-benar merasa lega.
Entah akan jadi apa keturunan dua generasi ketika terlahir.
Entah akan mewarisi darah Damaresh atau Al-biru.
Fatih sengaja menutup rapat kehamilan istrinya dari awak media. Fatih hanya takut terjadi sesuatu jika sampai media tahu.
Kita tak pernah tahu di dunia bisnis mana kawan mana lawan kadang semuanya akan terbalik sesuai porosnya.
Karena ini kehamilan pertama Fatih benar-benar posesif bahkan Shofi tak di biarkan berjalan selangkah pun. Fatih yang akan menjadi kaki Shofi berjalan menjadi tangan buat memasak semua Fatih yang melakukan.
Bahkan Fatih sengaja cuti sampai kandungan sang istri benar-benar kuat karena dokter mengatakan jika kandungan istrinya sangat lemah akibat beban pikiran dan jarang makan hingga janin yang ada di dalam kandungan. Shofi sangatlah lemah.
Fatih tak mau ambil resiko demi keamanan calon baby nya. Biarlah Fatih di katakan lebay Fatih tak peduli bagi Fatih keselamatan sang istri dan calon baby nya sangatlah penting. Bahkan Fatih juga yang mengatur semua makanan untuk anak istri.
Karena sendari kecil Fatih di beri makanan serba sehat apalagi Fatih suka sekali buah maka sudah terbiasa bagi Fatih makan makanan sehat dan Fatih menerapkannya pada Shofi.
Bahkan Fatih memperkerjakan dokter kandungan khusus di rumahnya jadi setiap check up tak perlu Shofi dan Fatih yang kerumah sakit melainkan sang dokter yang pergi ke mansion Fatih.
Bahkan semua peralatan medis Fatih membelinya.
"Daddy!"
Panggil Shofi membuat Fatih terdiam mendengar suara lembut sang istri mengalun indah di pendengarannya.
"Daddy!"
__ADS_1
Panggil Shofi lagi membuat wajah Fatih memerah ternyata telinganya tak masalah sang istri benar-benar memanggil ia Daddy.
Seperti nya itu akan menjadi panggilan baru untuk mereka.
"Daddy kok bengong,"
"Apa Mommy!"
Ucap Fatih mendekat dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Mommy kangen Mentari!"
"Benarkah!"
"Iya, Mommy rasa kehadiran Junior karena rindu dengan kakak nya,"
"Ya, putri kita satu itu memang anugrah bagi kita yang Tuhan kirim!"
"Kapan Daddy membawa Mentari ke sini?"
Tanya Shofi memberanikan diri lagi membahas Mentari padahal sudah hampir satu tahun Shofi tak pernah membahas amanah itu lagi. Tapi kali ini suasananya berbeda, Shofi sedang hamil dan itu tak akan membuat Shofi takut.
"Tunggu sampai kandungan mommy kuat ya, kita jemput Mentari!"
Aurora tersenyum geli melihat kemesraan pasangan itu. Padahal mereka baru pulang dari rumah sakit bahkan panggilannya pun langsung berubah sungguh benar-benar menggelikan.
Aurora menghampiri pasangan mesra itu karena harus pamit.
"Kak, kakak ipar,"
Panggil Aurora sambil duduk di bibir ranjang.
"Rora harus kembali karena besok pagi jadwal pesawat Rora berangkat!"
"Lusa saja berangkatnya!"
"Tak bisa kak, pekerjaan begitu menumpuk Rora tak mau semakin menunduk lagi,"
"Baiklah, titip salam pada semuanya!"
"Ya,"
"Hay baby, Aunty pulang dulu ya kapan-kapan aunty ke sini!"
Ucap Aurora sambil mengelus perut rata Shofi. Ada kebahagiaan tersendiri bagi Aurora melihat kebahagiaan keluarga kecil kakaknya.
Entah kapan Aurora bisa seperti sang kakak membangun keluarga kecil juga. Jangan kan membangun keluarga kecil pacar pun tak punya.
Aurora terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga Aurora lupa dengan dirinya sendiri jika ia juga butuh pendamping apalagi di usinya yang sudah menginjak dua puluh enam tahun.
Bagaimana Aurora memikirkan soal asmara sang papa tak sekalipun memberi ia libur. Padahal Aurora ingin seperti yang lainnya menghabiskan masa muda dan mengejar cita-cita nya.
Namun, semuanya sudah hancur!
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1