
"Gimana sekolahnya?"
Tanya Vivi menatap sang adik tampannya yang tak terasa kini sudah tumbuh remaja.
Rasanya baru kemaren ia menggendong Arsen dan membawanya kemanapun ia pergi terkecuali jika memang Vivi sedang ada tugas kampus Arsen akan di tinggal sendiri.
"Lancar kak,"
"Kapan berangkat lagi?"
"Mungkin nanti sore, Kak Qennan lagi ada urusan dulu!"
Vivi mengangguk mengerti, Vivi sungguh bersyukur masih ada orang baik yang menjaga sang adik.
Arsen memang di sekolahkan oleh Prof Tuner ke Amerika. Semua pasilitas dan biaya hidup di sana sudah di tanggung.
Kepergian profesor Tuner tak membuat Vivi khawatir karena tanggung jawab itu teralih oleh Edward.
Walau begitu Vivi meminta Arsen tak menggunakan uang pemberian Edward. Vivi tak mau memanfaatkan situasi yang ada. Apapun yang terjadi selagi Vivi bisa Vivi akan mengusahakannya.
Bahkan setiap bulan Vivi yang akan mengirim uang makan dan saku Arsen walau tak sebesar apa yang Edward berikan. Vivi cuma tahu diri siapa dia dan Arsen, mereka tak mau memanfaatkan kebaikan orang lain.
"Yang rajin belajar, sehat-sehat di sana. Ingat pergaulan ya!"
"Siap kak, Arsen akan selalu ingat pesan kakak!"
Vivi tersenyum mengusap lembut puncak kepala sang adik. Sekuat tenaga ia mencoba menahan agar bulir bening itu tak keluar. Namun, nyatanya keluar juga.
"Kakak nangis?"
"Sebentar lagi kita akan berpisah, mungkin kakak akan merindukan kamu!"
Arsen menarik sang kakak kedalam pelukannya. Mereka berdua menangis mengeluarkan segala rasa yang ada.
"Berjanjilah, kakak harus bahagia!"
"Tentu!"
Walau pada kenyataannya Vivi sendiri ragu apa ia akan bahagia atau malah sebaliknya.
Dari kejauhan Qennan memerhatikan interaksi kakak beradik itu.
Terlihat saling menyayangi dan menjaga membuat Qennan teringat akan adiknya yang sudah meninggal karena penyakit.
Andai saja adiknya masih hidup mungkin Qennan tak akan merasa kosong.
"Sudah kak, Arsen harus berangkat!"
"Ya sudah!"
Rasanya Vivi berat melepaskan sang adik jauh darinya. Namun, ia harus rela demi tujuan Arsen.
Vivi dan Arsen beranjak dari duduknya menghampiri Qennan dan Edward yang sendari tadi selalu saja fokus pada ponselnya seolah tak peduli pada sekitar.
"Sudah?"
"Titip adikku!"
Mohon Vivi membuat Qennan mengangguk pasti. Ia akan menjaga Arsen seperti adiknya sendiri.
"Cih, dia laki-laki untuk apa di jaga!"
Ketus Edward tanpa menoleh sedikitpun membuat Vivi mengepalkan kedua tangannya.
Arsen menatap datar Edward walau bibirnya diam. Andai saja dia sudah kuat dan besar sudah di pastikan Arsen menendang kursi yang di duduki Edward.
"Sudah, jangan drama pesawat kita sebentar lagi berangkat!"
__ADS_1
Vivi menganga tak percaya dengan apa yang Edward katakan. Sungguh mulutnya itu selalu saja pedas.
"Sudah kak gak apa!"
Arsen mencegah kakaknya memaki karena tak mau membuat suasana semakin tegang.
"Hey, cepat!"
Teriak Edward membuat Vivi menghela nafas berat, sungguh ia benar-benar kesal dengan apa yang Edward lakukan.
Terpaksa Vivi harus mengakhiri pertemuan dan bergegas menuju mobil Edward.
Wajahnya terlihat masam dengan bibir mengerucut bak tutut.
Edward masa bodo, ia langsung meninggalkan lestoran tempat Vivi bertemu Arsen.
Edward melirik jam pergelangan tangannya dengan kaki langsung menginjak gas membuat mobil melaju dengan kencang.
Vivi terkejut dengan apa yang Edward lakukan pasalnya ia belum memakai sabuk pengaman.
Karena tak mau mati konyol Vivi berusaha memakai sabuk pengamannya.
Untung saja ia sudah biasa dalam posisi seperti ini karena dulu Aurora selalu membawa mobil dengan kecepatan tinggi apalagi ketika ke rumah sakit.
Edward memelankan laju mobilnya ketika Vivi sudah memakai sabuk pengaman.
Edward benar-benar kurang kerjaan, apa salahnya cuma ngomong tak usah isyarat.
Pada akhirnya Vivi baik-baik saja tak terlihat ketakutan sama sekali.
Di bandara sudah ada beberapa bodyguard yang menunggu kedatangan Edward.
Tentu kemanapun Edward ia tak luput dari penjagaan mengingat banyak musuh yang berkeliaran. Entah di dunia bisnis atau dunia mafia.
"Tuan!"
Srettt ...
Tiba-tiba Edward menarik pinggang Vivi membuat tubuh Vivi seketika menempel di tubuh Edward.
"Diam!"
Tekan Edward ketika Vivi akan protes dengan apa yang Edward lakukan.
Dalam posisi seperti itu membuat Vivi merasa tak nyaman bahkan tubuhnya mulai gemetar karena jarak mereka terlalu dekat.
Edward menekan kepala Vivi hingga menempel di dadanya.
Bahaya jika wajah Vivi terlihat ini belum saatnya masih banyak yang harus Vivi pelajari sebelum wajahnya terlihat musuh.
"Tu-tuan!!"
Lilir Vivi benar-benar gemetar, Vivi tak biasa dalam posisi se-intim ini.
"Diam lah, musuhku tak boleh melihat mu!"
Seketika Vivi mencengkram jubah yang Edward pakai. Buku kuduknya merinding, apa ia akan mati di sini, di tangan musuh suami nya.
Sekilas mereka terlihat seperti sepasang suami istri yang saling mencintai. Padahal itu hanya sebuah perlindungan yang Edward berikan jangan sampai Vivi di temukan.
"Masuklah terlebih dahulu dan jangan pernah lepaskan kacamata!"
Perintah Edward membuat Vivi hanya bisa mengangguk dengan kebingungannya.
Entah apa yang terjadi Vivi sungguh tak mengerti dalam situasi seperti ini.
Kenapa Vivi harus menikah dengan orang seperti Edward. Mengingat itu membuat Vivi teringat akan Aurora.
__ADS_1
Tentu Edward dan Kaka pasti tak beda jauh dalam kehidupannya.
Vivi dengan berat hati masuk keruang check in di mana anak buah Edward sudah menunggu di dalam.
Entah apa yang Edward lakukan kenapa menyuruh ia pergi terlebih dahulu. Apa Edward akan menyusulnya atau malah meninggalkannya.
Mengingat itu membuat Vivi merasa Dejavu dengan kejadian enam belas lalu. Di mana ia di tinggalkan tepat di bandara.
Sesekali Vivi menengok ke belakang berharap Edward akan segera datang.
"Nona lewat sini!"
Ucap seseorang berpakaian serba hitam membuat Vivi ketakutan namun melihat kode yang di berikan orang tersebut Vivi mengerti.
Entah kenapa Vivi jadi merasa takut menghadapi situasi yang membingungkan ini.
Anak buah Edward terus memandu Vivi kemana ia harus pergi.
"Bukankah kita akan menggunakan penerbangan Bisnis, kenapa lewat sini?"
Tanya Vivi karena tujuan mereka melenceng jauh dari tiket yang mereka pesan.
"Pengalihan!"
"Tap--"
"Nona, mohon jangan banyak tanya tuan akan marah jika kita tak tepat waktu!"
Vivi menatap kesal sang bodyguard padahal ia hanya ingin tahu.
Sampai di mana mereka keluar arah barat bandara. Di sana ternyata sudah ada Edaran menunggu membuat Vivi terkejut kapan Edward sampai di sana.
"Lambah!"
"Maaf tuan!"
Sesal sang bodyguard menunduk membuat Vivi hanya diam dalam kebingungannya.
Mereka masuk kedalam mobil entah mau kemana perginya.
Vivi hany diam saja tak berani bertanya mengingat wajah Edward begitu dingin bahkan rasanya semakin dingin.
Hingga mereka sampai di sebuah gedung di mana helikopter sudah menunggu.
"Pakai ini!"
Ucap Edward ketika mereka sudah berada di dalam lift.
Vivi menurut saja memakai jaket yang Edward berikan. Hingga mereka sampai di atas atap gedung sana.
Deg ...
Vivi terkejut melihat sebuah helikopter yang sudah siap terbang. Sungguh Vivi tak menyangka jika mereka akan menggunakan helikopter untuk kembali.
"Naiklah!"
Edward membantu Vivi naik kedalam helikopter.
"Kau akan terbiasa dalam situasi seperti ini!"
"Jika mau mundur, katakanlah!"
Duarrr ...
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ....
__ADS_1