Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 49 Sadar


__ADS_3

Satu hari lalu Kaka sudah di bawa pulang ke menara di mana sudah terpasang alat-alat medis di sana. Terutama sebuah alat di mana membuat Kaka seolah berdiri. Karena tak mungkin Kaka di baringkan karena luka yang tak memungkinkan.


Kaka berdiri di sebuah tabung besar di mana hanya bisa dua orang saja yang masuk dan semuanya Aurora yang mengambil alih.


Setiap hari Aurora meracik obat-obatan membuat dokter Abe dan dokter Amma kagum akan kecerdasan otak Aurora.


Gadis itu masih muda namun bakatnya tak bisa di remehkan.


Bahkan Aurora sangat jeli sekali dengan tatapannya saja dia sudah bisa mendiagnosa.


Seperti nya Aurora cocok untuk mengembangkan penelitian mereka, seperti itulah dari tatapan dokter Abe dan dokter Emma.


Tak ada kata lelah bagi Aurora merawat Kaka di mana luka bakarnya mulai membaik walau masih belum ada tanda-tanda Kaka akan bangun.


Pengobatan yang Aurora lakukan sangatlah cepat membuat dokter Abe dan Emma benar-benar kagum bahkan hasilnya sangat sempurna.


"Hey, kapan kau bangun, tak lelah kah kau seperti ini!"


Gumam Aurora menatap Kaka di dalam tabung sana. Di mana rencananya akan kembali di pindahkan ke atas ranjang karena memang luka bakar itu sudah sembuh bahkan tak ada cacat sama sekali.


"Ini sudah satu bulan lebih kenapa kau tak kunjung bangun!"


Aneh Aurora kenapa Kaka belum sadar juga padah Aurora sudah melakukan semuanya. Bahkan keadaan Kaka mulai membaik tapi belum ada tanda-tanda Kaka akan bangun dari komanya.


"Ayolah hiks .., kau tak akan mengurungku dengan cara begini!"


Rengek Aurora karena ia juga rindu akan suasana luar bahkan Aurora sudah sangat merindukan putri cantiknya.


Jika begini terus kapan Aurora bisa bebas karena tak mungkin Aurora meninggalkan Kaka dalam keadaan seperti ini.


Ia sudah berjanji jika akan mengurus Kaka sampai sembuh jika sudah maka ia akan bebas.


"Kau memang menyebalkan!"


"Benarkah!"


Deg ...


Aurora terkejut mendengar suara lemah itu, Aurora membulatkan kedua matanya melihat Kaka membuka kedua matanya.


"Kau!"


Aurora langsung beranjak dari duduknya memeriksa keadaan Kaka dengan cekatan membuat Kaka hanya diam saja karena lemah bahkan rasanya Kaka sulit menggerakkan tangannya.


"Jangan di paksa bergerak, kau baru sadar wajar jika itu masih kaku!"


Cegah Aurora memegang lengan Kaka yang di paksa bergerak.


Wajar jika Kaka sulit menggerakkan anggota tubuhnya yang lain apalagi ia bangun dari koma yang cukup lama membuat urat-urat sarafnya kaku membutuhkan waktu untuk kembali.


Namun, Aurora harus mengecek dulu tentang semuanya apakah ini sementara atau tidak apalagi bagian punggung Kaka sempat patah.


Kaka menurut membiarkan Aurora memeriksanya walau ia benci keadaan ini. Kaka terus menatap Aurora dengan ekor matanya entah apa yang ia pikirkan.


Aurora yang tahu dengan apa yang Kaka lakukan mencoba masa bodo, ia fokus pada pekerjaan tanpa memperdulikan Kaka.

__ADS_1


Edward, Qennan dan Hanz yang mendengar kabar sang lord sudah sadar sangat lah senang begitu pun anggota yang lain. Walau mereka belum bisa melihat langsung keadaan sang lord karena sekarang Aurora yang berkuasa.


Ya, semenjak Aurora yang merawat sang lord tak ada satupun yang boleh masuk ke sana. Kecuali dokter Abe dan Emma yang memang membantu Aurora.


Perlu di garis bawahi jika Emma sebenarnya putri dari dokter Abe sendiri. Usianya mungkin tak jauh dari Aurora yang sudah menginjak usia dua puluh delapan tahun.


Bahkan di izinkan sebentar pun tidak Aurora benar-benar melarang semuanya.


Bukan tanpa alasan Aurora melakukannya karena Aurora memang seperti itu, dia selalu butuh privasi apalagi Kaka di tempatkan di kamar yang pernah Aurora tiduri namun sudah rapih kembali.


Padahal setahu Aurora ia sudah menghancurkan kamar ini namun kamar ini kembali utuh seolah tak terjadi apa-apa.


"Aku akan menerapkan teknik akupuntur agar sel-sel kembali normal. Hampir sama dengan kemoterapi lumpuh ini hanya bersifat sementara kau akan kembali normal jika bekerja keras!"


Kaka diam saja mendengar setiap penjelasan Aurora yang memang ia sudah paham akan ke sana.


"Edward!"


"Kau jangan dulu bertemu siapapun, fokuslah pada kesembuhan mu!"


Ketus Aurora kembali membereskan alat-alat dokter ya.


Kaka menatap tajam Aurora yang tak peduli sama sekali. Bahkan tak takut mata itu melotot yang ada Aurora menyukainya karena ketika begitu Aurora bisa melihat dengan jelas mata biru itu yang begitu indah.


"Edward!"


"Kau ini apa-apa an!"


"Edw--"


"Kau!"


"Kau, lebih baik tak usah bangun jika menyusahkan!"


Geram Aurora melotot berani karena keadaan Kaka seperti ini dan Kaka tak akan berani memarahinya.


Untuk kedua kalinya Kaka membulatkan kedua matanya dengan kening mengerut kenapa Aurora seberani itu.


Mungkin karena keadaannya begini, Aurora jadi berani.


"Kau harus sembuh, aku tak mau terus terkurung di sini. Jika kau sembuh setidaknya aku tak lagi punya hutang nyawa!"


"Dan aku bisa secepatnya pergi!"


Deg ..


Kaka terdiam mendengarnya membuat Kaka menatap Aurora rumit. Kaka memilih memejamkan kedua matanya dengan rasa aneh yang menggelitik hatinya.


Pergi!


Cih, Kaka baru sadar jika hubungan mereka tak sedekat itu. Apa kisah mereka akan benar-benar berakhir bukankah itu yang di inginkan tapi kenapa Kaka ingin egois.


Aurora menghela nafas berat melihat Kaka memejamkan kedua matanya. Aurora tak bermaksud menyinggung Kaka, Aurora hanya ingin Kaka diam menurut padanya hanya itu tak lebih.


Aurora memilih keluar saja karena tak mau hubungan mereka akan semakin canggung.

__ADS_1


Karena semuanya sudah berubah Aurora kembali mencoba menghubungi nomor Vivi namun sampai saat ini belum juga aktif membuat Aurora nampak gelisah.


Aurora belum sempat mencari tahu semuanya karena sibuk mengurus kesembuhan Kaka, tapi sekarang Kaka sudah sadar membuat Aurora harus mencari kemana perginya Vivi bahkan Karl pun tak mengetahui akan itu.


Setidaknya keadaan Zilla tetap aman bersama Karl namun Aurora tak bisa berkunjung jika tak membawa Vivi ke sana. Karena tentu putri cantiknya akan menanyakan di mana keberadaan aunty nya.


Vi, kau kemana bahkan di rumah sakit sudah sebulan lebih kau tak masuk. Apa terjadi sesuatu pada Arsen!


Batin Aurora cemas karena tak biasanya Vivi pergi tanpa meninggalkan pesan. Sialnya semua data ada di dalam laptop itu, Seperti nya Aurora harus mengakses kembali agar tahu.


"Nyonya, Lord terjatuh!"


Deg ...


Aurora terkejut mendengarnya membuat Aurora langsung berlari masuk ke dalam kamar.


Tadi memang Aurora sempat menitipkan pada dokter Abe karena takut terjadi sesuatu jika di tinggal karena Aurora tahu Kaka orang keras kepala.


"Kau, apa yang kau lakukan!"


"Sudah ku bilang jangan memaksakan diri, kau baru sadar!"


"Nyonya!"


"Apa!"


Kesal Aurora mengangkat Kaka di bantu dokter Abe yang bingung harus mengatakan apa.


"Lord ingin ke kamar mandi!"


Deg ...


Aurora menatap Kaka yang hanya diam dengan wajah datarnya merasa kesal karena di marahi.


"Kamar mandi!"


"Lord ingin buang air kecil!"


Bruk ...


"Lord!"


Kaget dokter Abe gemetar melihat kilatan amarah di mata sang lord ketika Aurora malah melepaskan sanggahannya hingga Kaka terjatuh.


"Jika kau tak mau membantu, keluar!"


"Maaf ak-ak--"


"Keluar!"


Bentak Kaka membuat Aurora terperanjat merasa bersalah.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2