Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 78 Racun


__ADS_3

By, kenapa Aku belum memahami mu!


Batin Aurora gemetar merasa harus mencari tahu kenapa sang suami mempunyai trauma sebesar ini.


Mereka hanyut dalam sebuah pelukan dengan Kaka yang menenggelamkan kepalanya di dada nyaman sang istri.


 "Sayang, apa masih takut?"


"Tidak!"


"Benar kah!"


Aurora mengangguk jujur ia sudah tak takut lagi pada Kaka apalagi sejak tadi Kaka hanya diam menunggu dirinya.


"Rora hanya sedang mencoba memahami semua ini pekerjaan hubby, dan Rora harus menerimanya bukan!"


"Sayang!"


"Tapi, jika keluar dari tugas seorang Jendral aku tak tahu!"


"Tak akan sayang, hubby tak akan melakukan suatu hal tanpa alasan!"


"Baiklah!"


"Terimakasih sudah mau mengerti!"


Ucap lembut Kaka menarik sang istri duduk di atas pangkuannya membuat Aurora refleks melingkarkan kedua kakinya di pinggang sang suami.


Mereka saling pandang satu sama lain menyelami kedalam bola mata masing-masing.


"Kau tahu by, dari tadi Rora menunggu!"


"Maaf!"


"Rora pikir Hubby sibuk dengan pekerjaan di kantor nyatanya--"


"Maaf, di sana khusus ruang eksekusi berjanjilah jangan masuk ke sana!"


Aurora mengangguk karena tak mau mencampuri urusan sang suami lebih dalam. Tugas ia hanya menerima dan memahami bahwa itu suaminya dan Kaka pilihannya.


"Terimakasih!"


"Jangan terlalu banyak berterimakasih, aku istri hubby ya tentu harus menerima apapun kelebihan dan kekurangan hubby sama seperti hubby menerima semua yang ada pada diri Rora tanpa mempermasalahkan semuanya!"


Kaka tersenyum lega mendengarnya ternyata sang istri benar-benar bisa mengerti dirinya. Kaka pikir Aurora akan marah besar melihat jiwa lain dia. Sungguh Kaka bersyukur mencintai wanita yang sang memahami dirinya tanpa menuntut ini itu.


"Ini di mana by, kenapa Rora baru melihatnya?"


Tanya Aurora ketika menyadari mereka berada di tengah-tengah tanaman bunga dengan suara air yang mengalir.


"Surga kecil!"


Jawab Kaka enteng, ya mereka berada di sebuah surga kecil sebuah bangunan kaca di mana di dalamnya terdapat tanaman bunga dengan sungai yang mengalir di dalamnya. Sebuah sungai buatan yang memang Kaka ciptakan. Terlihat nyata padahal itu buatan Kaka sendiri di mana ia akan menghabiskan waktu di sini ketika pikirannya sedang kacau.


"Sangat indah by!"


"Sayang menyukainya?"

__ADS_1


"Iya!"


Jujur Aurora karena memang ia benar-benar menyukai tempat ini. Kenapa sang suami baru mengajaknya ke sini jika tahu sejak awal mungkin Aurora akan banyak menghabiskan waktu di sini.


Melihat binar bahagia terpancar indah di mata Aurora membuat Kaka ikut bahagia dan juga lega. Mata Kaka terpaku tepat di bibir merah alami sang istri yang sedang tersenyum.


"Sayang?"


"Hm!"


Cup ..


Aurora terdiam ketika sebuah benda kenyal menyentuh bibirnya.


Dengan senang hati Aurora membalasnya apalagi hanyut dalam suasana indah ini.


Ciuman yang awalnya pelan penuh kelembutan berganti sebuah ******* yang menggebu seolah mematik hasrat mereka berdua.


"Sayang!"


"By!"


Ucap keduanya ketika tautan itu terlepas, nafas mereka memburu seolah mereka sama-sama menginginkan lebih dari pada ini.


"Ini di luar by!"


Kaka tersenyum seringai, ia langsung menggendong sang istri masuk lebih dalam hingga langkah Kaka berhenti.


Deg ...


Jika sudah begini mana bisa Aurora protes sungguh ini hal baru bagi mereka seolah mereka melakukan di ruang terbuka nyatanya tidak.


Malam ini mereka menghabiskan waktu di sana bahkan Aurora sampai lupa tujuan awal dia menunggu sang suami.


Mereka berdua tak ada puasnya meneguk kenikmatan surga dunia walau Aurora merasa lelah namun kenikmatan yang sang suami berikan tak bisa ia tolak begitupun sebaliknya.


"Terimakasih sayang!"


"Kasih kembali!"


Jawab Aurora sambil mengeratkan pelukannya, dada Kaka adalah tempat ternyaman bagi Aurora karena di sana Aurora bisa merasakan setiap detak jantung sang suami.


Begitupun Kaka mengeratkan pelukannya, Kaka merasa bahagia istrinya mau mengerti dan tak menuntut apapun darinya.


Mereka kembali hanyut dalam pikiran masing-masing sampai mereka berdua terlelap di sana.


Sungguh pemandangan yang sangat indah membuat siapapun iri melihatnya.


Rembulan berganti mentari menyapa dua insan yang enggan untuk membuka mata. Mereka terlalu nyaman di posisi seperti itu hingga keduanya bukannya bangun malah semakin merapat satu sama lain.


Gemercik air terjun terdengar jelas membuat Kaka terbangun. Hal pertama yang ia lihat wajah cantik sang istri yang terlihat damai dalam pelukannya.


Kaka tersenyum mengingat momen semalam yang tak menyangka mereka akan menghabiskan waktu di sini.


Sensasi yang sangat berbeda namun membuat Kaka candu karena dengan begitu ia bisa leluasa menguasai semuanya.


Kaka menarik selimut guna menutupi tubuh sang istri sedang ia beranjak menuju air terjun buatan. Kaka berendam di bawah air terjun itu dengan aroma terapi yang di siapkan.

__ADS_1


Kaka memejamkan kedua matanya menikmati sejuknya pagi dengan pikiran melayang entah kemana. Terlalu banyak beban membuat Kaka harus menyelesaikan nya satu persatu.


Kaka tak akan membiarkan siapapun mendekat pada keluarganya terutama sang istri yang mungkin publik akan segera tahu jika Aurora bukan hanya sekedar putri dari pengusaha kaya raya tapi juga seorang dokter hebat yang di juluki Jingga.


Seorang dokter yang di nanti dunia untuk menunjukan wajahnya.


Kaka tersenyum ketika merasa air sedikit terguncang bisa Kaka tebak jika pelakunya adalah istrinya sendiri.


"Sudah bangun, hm!"


Ucap Kaka sambil membuka kedua matanya di mana istrinya sudah ada di dalam pelukan dia.


"Kenapa selalu menghilang tiba-tiba, lain kali bangunin Rora!"


Kesal Aurora mengeratkan pelukannya, tadi ia mencari sang suami karena lagi-lagi tak ada di sampingnya. Nyatanya sang suami sedang berendam tanpa mengajak dia.


Aurora melepaskan diri agar ada jarak di antara mereka. Aurora menatap intens pahatan sempurna di depannya.


Teringat jelas di ingatan Aurora ketika pertama kali ia menolong sang suami.


Ada dua luka tembak di bagian lengan dan perut. Luka itu sudah menghilangkan bekasnya.


Pertemuan kedua masih sama, Aurora menolong Kaka dengan luka yang sama tapi di bagian yang berbeda. Perut bagian kiri dan bahu luka itu sudah menghilang.


Dan pertemuan terakhir di mana lagi-lagi Aurora harus menolong Kaka dari luka yang terbilang cukup parah karena luka tembak itu hampir mengenai organ dalam tepat di bagian perut kanan Kaka di tambah cuaca saat itu tak memungkinkan.


Semua lukanya sudah sembuh bahkan tak meninggalkan bekas. Hanya tertinggal luka bakar di punggung Kaka akibat ledakan dua bulan lalu dan ini.


Tangan Aurora berhenti tepat di dada kiri sang suami. Aurora perhatikan luka ini masih ada harunya luka di sini sudah sembuh sejak lama entah bekas luka apa ini seolah Kaka membiarkannya.


Jika Aurora fokus pada bagian-bagian luka di tubuh Kaka berbeda dengan apa yang Kaka rasakan. Apa yang Aurora lakukan justru membangkitkan singa yang sedang tidur.


"Sayang!"


Deg ...


Aurora terkejut melihat wajah suaminya yang memerah bahkan sampai telinga bisa Aurora tebak jika begini.


Sungguh tubuh Aurora bagai racun yang menghidupkan.


"Kenapa begini by, bukankah semalam sudah!"


Cicit Aurora ikut malu sendiri sungguh Aurora tak habis pikir suaminya selalu saja sensitif jika ia pegang.


"Kau racun!"


"Benarkah!"


"Heem!"


Sittt!!!


Geram Kaka tertahan ketika sang istri tiba-tiba naik di atasnya dengan tubuh yang menyatu.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2