Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 115 K: PC 2 (Sebuah permintaan)


__ADS_3

Entah berapa lama Vivi terdiam seolah ini hanyalah mimpi.


Dalam sekejap Edward berubah, Vivi tak mau percaya itu.


Bisakah kamu menyembuhkan luka ku, maka akan ku sembuhkan seluruh luka mu!


Bisakah kamu menyembuhkan luka ku, maka akan ku sembuhkan seluruh luka mu!


Kata itu terus saja terulang-ulang di ingatan Vivi seolah tak percaya dengan semuanya.


Benarkah di hadapannya sosok menyebalkan itu, benarkah yang sekarang di hadapannya laki-laki pemarah itu yang selalu membuat Vivi naik darah dan jantungan.


"Aku tahu! Menikahi mu adalah sebuah balas budi. Namun, ku coba menerimamu dalam hidupku karena aku tak mau pernikahan ini berakhir!"


Nasi sudah menjadi bubur, tak mungkin Edward melepaskan Vivi juga. Bagi Edward pernikahan sebuah janji suci dan ia tak bisa bermain di dalamnya.


Jika Kaka bisa melewati semuanya maka Edward juga harus.


"Ba-bagaimana kalau tetap gagal!"


"Kau seorang dokter dan juga ilmuan tentu tahu apa yang aku butuhkan!"


Deg...


Tubuh Vivi menegang melihat uluran tangan Edward.


Sekarang apa yang harus ia lakukan, jika ia menerima uluran tangan itu berarti ia setuju.


Sungguh Vivi di buat dilema antara menerima atau tidak. Vivi hanya takut suatu hari nanti menyakiti Edward dengan traumanya.


"Ak-aku tak mencintaimu!"


"Sama! Maka misi kita buat diriku jatuh cinta padamu dan aku akan melakukan hal yang sama!"


Vivi terdiam sungguh kini ia tak bisa menjawab pernyataan Edward.


Ini terlalu cepat baginya dan Vivi belum berpikir kearah sana.


Edward menatap tangannya aneh sambil tersenyum kecut. Entah kenapa ada rasa yang menggelitik hati ya rasa yang baru iya rasakan.


Berjanjilah kakak harus bahagia!


Di dunia ini tak ada yang gratis, jika ingin di cintai maka berkorban lah terlebih dahulu!


Ucapan Arsen dan Aurora kembali terngiang di ingatan Vivi membuat Vivi memejamkan kedua matanya bingung.


Edward benar-benar menatap nanar tangannya. Perlahan Edward menariknya dengan perasaan hampa.


"Akan ku coba!"


Deg ..


Edward terkejut ketika Vivi menggenggam tangannya. Edward menatap tangan Vivi yang menggenggam lengannya erat.


Terlihat jelas tangan Vivi gemetar saking gemetarnya bahkan sampai merambat ke tangan Edward sendiri.


Edward menatap wajah Vivi yang sudah pucat pasi dengan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.


"Hey, lihat aku!"


Vivi bukannya menurut malah menunduk membuat keringat Vivi sampai berjatuhan tepat di lengan Edward.


Melihat Vivi yang seperti itu membuat Edward teringat akan Kaka dulu. Edward bisa merasakan kesakitan dan ketakutan itu secara bersamaan.

__ADS_1


"Lihat aku!"


"Aku tak akan menyakiti mu!"


Tegas Edward menangkup wajah Vivi kuat tapi tak menyakiti. Edward menatap kedalam bola mata hitam penuh kegelapan itu.


"EDWARD AKU EDWARD, JANGAN TAKUT!!"


Tekan Edward terus mengunci tatapan Vivi yang sendari tadi berkeliaran. Berharap Vivi bisa mengendalikan ketakutan itu.


Nafas Vivi memburu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Ak-aku benci! Aku benci diriku yang lemah hiks ..."


"Tidak kau tidak lemah, kau hanya perlu sedikit perjuangan lagi. Kau bisa, pasti bisa!"


"Akhhhh!!!"


Jerit Vivi sungguh tak sanggup lagi mengendalikan dirinya sendiri sampai jatuh pingsan. Dengan sigap Edward langsung menahan tubuh Vivi.


Edward benar-benar merasa Dejavu dengan semuanya. Dulu Kaka seperti ini, entah sadar atau tidak Edward menitipkan air mata sungguh Edward tak bisa melihat Kaka seperti itu dan sekarang Vivi begini.


Dengan cepat Edward menggendong Vivi dan membawanya ke dalam kamar. Dengan hati-hati Edward membaringkan Vivi di atas ranjang.


Edward tahu apa yang harus ia lakukan, karena sudah biasa mengurus Kaka dulu membuat Edward jadi tahu sedikit banyaknya menangani orang yang Trauma.


"Tak akan ku biarkan ada Kaka kedua!"


"Bagaimana bisa kau bertemu om mu jika ini saja tak bisa kau kendalikan. Kau harus sembuh sebelum ada luka baru!"


Gumam Edward sendu, menggenggam lengan Vivi erat.


Seperti nya memang mereka sudah di takdirkan untuk seperti itu. Saling melengkapi dan menyembuhkan luka masing-masing.


Edward menatap lekat wajah pucat Vivi, kenapa ia harus berada di antara orang-orang seperti ini. Kenapa harus ia yang melihat kenapa harus ia yang tahu.


Mungkin Tuhan sudah menggariskan jalan Edward seperti itu. Tanpa Edward sadari bahwa dia juga butuh yang menyembuhkan.


Hari ini Edward benar-benar tak pergi ke kantor bahkan ada rapat sore pun Edward serahkan pada Qennan.


Seperti nya hidup Edward akan berubah dari sekarang tinggal menunggu waktu kapan itu akan berakhir.


Seharian menjaga Vivi membuat Edward kelelahan hingga tertidur.


.


.


Perlahan Vivi membuka kedua matanya, kepalanya terasa berat.


Vivi menatap langit-langit yang terasa asing baginya. Ia mengingat-ingat apa yang terjadi.


Kejadian beberapa jam lalu terekam ulang di ingatan Vivi membuat Vivi terdiam.


"Mungkin hanya mimpi!'


Gumam Vivi menyangkal semuanya, namun Vivi merasa aneh akan sesuatu. Vivi melirik tangannya seketika Vivi langsung menariknya membuat Edward terbangun dari tidurnya.


"Kau sudah sadar?"


Ucap serak Edward khas orang bangun tidur. Mata Edward menyipit karena masih pusing akibat terbangun karena terkejut.


Vivi hanya diam saja menatap Edward lekat, nyatanya ini bukan mimpi.

__ADS_1


Benarkah sosok di depannya ini meminta dia menerimanya.


Apa ini sebuah candaan, sungguh Vivi benar-benar menyangkal akan hal itu.


Edward menghela nafas berat melihat Vivi mencengkram erat selimut. Seperti nya Edward butuh kesabaran penuh untuk mendekati Vivi.


"Apa kau masih takut?"


"Istirahat lah, aku akan keluar!"


Edward mengerti, ia memilih untuk keluar saja dari pada membuat suasana menjadi canggung.


"Tunggu!"


Edward menghentikan langkahnya tanpa menoleh menunggu apa yang akan Vivi katakan.


"Terimakasih!"


Seketika Bibir Edward tertarik kesamping, sambil melanjutkan langkahnya.


Vivi hanya bisa menatap punggung lebar Edward menghilang di balik pintu.


Apa benar itu laki-laki yang telah menjadi suaminya.


Apa benar itu laki-laki yang mengajak ia serius akan pernikahan ini.


Apa benar itu laki-laki yang meminta dia menyembuhkan lukanya.


Apa benar itu laki-laki yang meminta untuk di buat jatuh cinta.


Rasanya ini mustahil, bagaimana bisa Edward secepat itu berubah.


Itulah yang membuat Vivi ragu akan memutuskan semuanya. Bahkan jawaban itu hanya bisa ia telan dalam-dalam.


Vivi takut keputusannya hanya akan menyakiti dirinya sendiri.


Edward sama-sama terluka apa bisa dua orang yang terluka saling menyembuhkan.


Sikapnya yang cepat berubah membuat Vivi takut akan kekecewaan.


Jatuh cinta memang mudah, namun Vivi takut untuk patah hati.


"Arsen apa yang harus kakak lakukan!"


Gumam Vivi meremas selimut bingung dengan semuanya.


"Jangan berubah, tetaplah jadi Edward yang dulu!"


Monolog Vivi lagi, bukannya senang Edward berubah Vivi malah semakin takut.


Di hidupnya baru kali ini ada laki-laki yang ingin membuatnya sembuh. Masuk dalam kehidupan ia tanpa sengaja berusaha menghadirkan sebuah cinta.


Mampu kah Vivi menciptakannya, sedang ia masih terbelenggu oleh kekecewaan dan ketakutan.


Takut jika orang yang ia percayai akan menyakitinya, membohongi dan memanfaatkan nya.


Vivi tak sanggup lagi mengenal akan nama penghianatan.


Luka itu belum sembuh, ia tak mau membuat luka baru yang membuat ia semakin terbelenggu.


"Ini mimpi, dia bohong, ini tak nyata!"


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2