Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 23 Di kurung


__ADS_3

Aurora kelimpungan sendari tadi mencari bangkai laptop dan ponselnya yang tak ada. Perasaan Aurora menyimpannya di dalam laci namun kenapa tak ada siapa yang berani mengambilnya. Aurora yakin ini pasti ulah suami kertasnya itu.


Kebencian setiap hari terus tertumpuk di hati Aurora pada sang Lord yang selalu semena-mena memperlakukan ia.


Apalagi sekarang ia di kurung di menara neraka yang menyeramkan. Aurora tak bisa kemana selain di lingkup bangunan tinggi itu. Ada banyak pelayan dan para bodyguard yang menjaga dan memenuhi kebutuhan Aurora namun bukan itu yang Aurora inginkan ia hanya butuh kebebasan.


Bahkan sendari pagi Aurora enggan makan karena kesal dan marah membuat mood makannya hilang.


Aurora terus memutar otak pintarnya mencari jalan keluar. Bangunan ini benar-benar seperti labirin yang membuat Aurora pusing.


Jika begini terus Aurora tak bisa kabur, seperti nya Aurora harus dekat dengan salah satu pelayan agar ia dapat informasi.


"Hey!"


Sapa Aurora membuat salah satu pelayan berbalik.


"Iya nyonya, ada yang nyonya butuhkan!"


"Siapa nama mu?"


"Rose, nyonya!"


"Nama yang bagus!"


"Hemmz, aku bosan di kamar bisa kau ajak aku berkeliling?"


Rose terdiam sambil meremas ujung bajunya membuat Aurora nampak heran dengan pelayan ini seperti ketakutan.


"Ada apa?"


"Maaf nyonya, tapi tuan tak mengizinkan nona keluar dari bangunan ini!"


Sial!


Aurora mengepalkan kedua tangannya erat menahan amarah namun sebisa mungkin Aurora menahannya demi rencana.


"Baiklah, apa saja yang di perbolehkan oleh tuan mu?"


"Nona hanya boleh melihat-lihat bangunan ini saja tanpa keluar!"


Manusia sialan!


Aurora terus saja mengupat kesal karena baru kali ini ia benar-benar di perlakukan seperti hewan peliharaan.


Aurora berusaha mengendalikan amarahnya jangan sampai meletup-letup pada orang lain.


Entah kenapa si sabar ini bisa selalu mengupat kasar dan marah semenjak terjerat dengan sang lord pasalnya dulu tak serumit ini hidupnya.


Baiklah! Melihat-lihat setidaknya aku harus tahu setiap sudut labirin ini agar aku tahu celah bisa keluar!


Batin Aurora menyeringai membuat Rose bergidik ngeri melihat senyuman itu.


"Baiklah, beri tahu aku setiap sudut bangunan ini!"


Rose mengangguk segera memandu Aurora melihat setiap sudut bangunan yang nampak seperti labirin ini.


Rose menjelaskan satu persatu setiap sudut bangunan membuat Aurora sedikit pusing karena banyaknya pintu membuat Aurora harus mengingat-ingat pintu kemana saja.


"Dan yang terakhir ini dapur tempat para juru masak!"


Jelas Rose menjelaskan satu persatu setiap sudut ruangan sampai ke dapur.


"Di mana jalan keluar bangunan ini, seperti nya taman di luar sangat indah!"

__ADS_1


Pancing Aurora namun Rose nampak bungkam tak mau menjawab membuat Aurora terus memutar otak pintarnya.


Aurora mengingat-ingat seperti nya ada yang terlewatkan satu dan otak cerdas Aurora tak perlu di ragukan lagi.


"Rose, seperti nya ada satu ruangan yang tidak kau jelaskan?"


"Maaf nyonya, saya tak bisa menjelaskan!"


"Kenapa?"


Tanya Aurora penuh kekecewaan dengan wajah yang di buat-buat sedih.


"It-itu ruang khusus tuan!"


Ucap Rose pelan bahkan seperti bisikan namun Aurora tak tuli.


"Apa aku boleh kesana?"


"Nyonya!"


"Bercanda Rose, baiklah terimakasih karena sudah mengajak ku jalan-jalan!"


Rose mengerutkan kening mendengar kata jalan-jalan yang benar saja. Mereka hanya berkeliling bangunan labirin ini bukan jalan-jalan seperti nya nyonya mereka butuh itu membuat Rose iba.


"Jangan sungkan nyonya!"


"Lain kali aku akan memasak untuk kalian!"


"Terimakasih nyonya!"


"Ya sudah aku kembali!"


Aurora berlalu begitu saja membuat Rose menghela nafas berat apa nyonya nya akan tahu jalan menuju kamar.


"Hey!"


Sorak Aurora girang namun dalam hati ketika ia berhasil mengingat jalan menuju kamar dalam satu kali keliling. Otak cerdas Aurora tak perlu di ragukan lagi bahkan mengingat ribuan jenis obat-obatan pun Aurora sanggup.


Senyum manis terus mengembang di bibir Aurora sambil masuk kedalam kamar. Hari sudah mulai gelap namun suami kertasnya tak kunjung terlihat batang hidungnya. Entah pekerjaan apa yang di lakukan ya sampai pulang selalu malam.


Ya, Aurora walaupun cuek namun ia memerhatikan setiap gerak-gerik suami kertasnya. Namun yang Aurora heran kenapa suami kertasnya itu selalu memakai sarung tangan bahkan di dalam ruangan juga.


Aurora membuka jendela kamarnya perlahan.


Piuhh ...


Semilir angin malam langsung menerpa wajah Aurora lembut seolah mereka tak berani membelai kasar wajah bersih ini.


Aurora menatap kebawah di mana ada sebuah taman di sana Aurora sangat ingin sekali memijakkan kedua kakinya di atas rerumputan hijau itu.


Sekarang Aurora paham jika menara ini di kelilingi bangunan-bangunan yang berbentuk kotak dengan desain kuno namun nampak elegan. Aurora bisa melihatnya dengan jelas entah bangunan apa di bawah sana dan berapa luas bangunan ini dan di ujung sana di kelilingi oleh pepohonan membuat menara ini seperti berada di tengah hutan.


Padahal Aurora bukan Rapunzel yang harus terkurung di menara ini.


Aurora tak tahu jika bangunan berbentuk kotak yang nampak elegan di luar itu tak sama dengan wajah luarnya. Bangunan itu menyimpan sesuatu yang menyeramkan dan misterius bahkan tak ada satu orangpun yang mau ke sana.


Puas menatap ke sekeliling bangunan yang nampak indah dari atas Aurora memutuskan menutup jendela kamarnya karena udara semakin dingin apalagi salju mulai turun kembali.


Aurora terdiam sejenak melihat makanan yang tadi pagi dan siang yang belum ia sentuh sama sekali. Aurora memang tak nafsu makan apalagi dalam keadaan seperti ini.


Tok .. Tok ...


Suara pintu di ketuk membuat Aurora sangat hapal siapa yang mengetuk pintu.

__ADS_1


"Rose!"


"Nyonya waktunya makan malam!"


Gemetar Rose membuat Aurora nampak aneh.


"Kenapa?"


Tanya Aurora seperti nya Rose tak baik-baik saja seperti orang ketakutan.


"Nyonya, bisakah kali ini membantu saya!"


Rose memelas dengan wajah pucat nya dengan ekor mata yang terus menari-nari.


"Bantu apa, katakan?"


"Tolong makan kali ini!"


Deg ...


Aurora tersentak mendengarnya Aurora pikir ada apa. Tapi melihat wajah Rose yang tak baik-baik saja membuat Aurora ingin tahu.


"Aku tak bernafsu Rose!"


"Nyonya, mengerti lah!"


"Sebelum kau menjelaskan ada apa, aku tak mau makan!"


Glek ..


Rose menelan ludahnya kasar nyonya dan tuannya sama-sama keras kepala dan menakutkan.


"Tuan akan membunuhku jika nyonya tak makan!"


Duarr ...


Aurora membulatkan kedua matanya sempurna mendengar kalimat keramat itu. Pantas saja Rose ketakutan seperti itu nyatanya ulah suami kertasnya.


"Nyonya!"


Aurora menghela nafas berat entah tahu dari mana suami kertasnya itu jika ia tak makan, walau ada rasa lain yang menyapa Aurora namun segera Aurora tepis.


"Baiklah!"


"Selamat!"


Mau tak mau Aurora harus makan karena tak mau gara-gara dirinya Rose yang terkena masalah. Rose sudah membantu Aurora nama mungkin Aurora membuat Rose kesusahan.


"Duduk!"


Tegas Aurora tak mau di bantah.


"Nyonya!"


"Baiklah aku tak akan makan jika kau tak dud--"


Dengan cepat Rose langsung duduk di hadapan Aurora dengan nafas yang tercekat dan telinga memekik.


Oh tuhan selamat kan nyawaku, Aku masih menunggu jodoh!


Batin Rose mengusap telinganya yang sakit pasalnya telinga Rose di pasang earphone yang sudah terhubung dengan sang Lord di sebrang sana.


Bersambung ..

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ....


__ADS_2