
"Bagaimana keadaannya?"
Tanya Kaka pada Edward yang sudah memastikan semuanya.
"Kondisi nya lemah, apalagi dia terlalu banyak menelan air dengan luka di kepala yang cukup serius!"
"Selamatkan dia, kita butuh informasi darinya!"
"Baik lord!"
Kondisi Vivi saat ini memang sangat kritis telat saja beberapa detik maka nyawanya tak akan tertolong.
Bahkan Edward ketika menemukannya pun sangat miris membuat Edward tak mau menatap.
Kaka mengisyaratkan Qennan untuk ikut dengannya sedang Edward kembali ke ruang rahasia bersama Rose.
Hanz di utus untuk memantau pergerakan pangeran Arnold karena Kaka yakin pangeran Arnold tidak akan berani keluar negara Ceko dalam kondisi seperti ini.
Kaka hanya ingin memberikan nafas sebentar sebelum ia menghancurkan semuanya. Kaka duduk di kursi kebesarannya di mana di hadapannya terdapat beberapa komputer canggih yang sudah menyala karena Qennan sudah mempersiapkan semuanya.
Kaka mulai mengerikan sesuatu di atas keyboard dengan tatapan serius penuh ketelitian. Tak lama Kaka memasang earphone begitu pun dengan Qennan.
Terdengar percakapan di serang sana membuat wajah Kaka seketika mengeras dengan tangan mengepal kuat.
Kaka berusaha mengendalikan emosinya guna ingin mengetahui apa yang mereka rencanakan.
Ya, Kaka terlihat santai karena ia sudah merencanakan semuanya di mana Kaka sudah menempelkan alat pelacak dan penyadap suara di salah satu ajudan sang Pangeran.
Namun Kaka tidak lah bodoh ia mengirim anak buah yang lain mengejar mereka seolah itu adalah dirinya untuk mengalihkan semaunya.
Itulah cara kerja militer apa lagi dunia mafia yang selalu punya tipu muslihat Kaka menguasai itu semua. Mereka hanya mengirim gertakan kecil sebelum gertakan dahsyat karena Kaka harus hati-hati.
Apalagi wilayah itu dekat dengan penduduk mereka takut penduduk akan panik ketika mereka menyerang langsung.
Kaka harus menyusun strategi agar semuanya aman tanpa membuat panik masyarakat.
Sungguh licik sekali pangeran ia berada di lingkungan orang-orang baik sedang di dalamnya penuh kebusukan.
"Lord, ini tak bisa di biarkan nyawa nyonya taruhannya!"
Geram Qennan mendengar percakapan itu, sungguh Qennan sangat emosi sekali ingin rasanya menyeret Bedebah itu ke kandang buaya.
"Jangan gegabah, istriku tak selemah itu!"
Deg ...
Qennan terdiam menatap rumit sang lord, sejak kapan sang lord menganggap Aurora istrinya.
Istriku!
Sungguh sangat menggelikan sekali terucap dari mulut sang lord yang tak menyangka akan melabelnya. Qennan pikir setelah urusan ini selesai sang lord akan melepaskan Aurora sesuai perjanjian dan membiarkan gadis itu meraih apa yang ingin ia raih.
Cukup lindungi, tak lebih dari itu namun nyatanya ada hal lain yang Qennan tangkap dari cara sang lord.
__ADS_1
"Kenapa kau menatap ku!"
"Tak berani lord!"
Qennan langsung menatap layar komputer cari aman jangan sampai kepala ia di penggal.
Sungguh sang lord selalu saja punya caranya sendiri.
Setidaknya pangeran Arnold tak tahu jika Aurora sudah menikah itu lebih baik dari pada semuanya jadi kacau.
Kaka mengisyaratkan Qennan untuk tetap memantau sedang ia beranjak menelepon seseorang. Entah apa yang Kaka bahas dari cara bicaranya Kaka seperti segan dan patuh.
Seperti nya di sebrang sana orang yang sangat penting hingga Kaka sangat menghormatinya.
Masalah ini akan berakhir jika akarnya sudah di patahkan. Urusan Berto Kaka akan mengurusnya terakhir karena yang berhak atas semuanya hanya Cherry.
Keponakannya yang malang sungguh entah sampai kapan penderitaannya usai.
.
Di tempat lain tepatnya di sebuah kamar di mana dinding-dinding nya hanya ada sebuah kaca anti peluruh.
Seorang gadis mengerjakan kedua matanya berat. Entah berapa lama ia tak sadarkan diri sungguh hidupnya sangatlah berat hingga ia memilih terus tidur dan sekarang Aurora baru bisa bangun walau enggan.
Padahal telinga tajam Aurora mendengar berbagai percakapan orang-orang asing di sekitarnya. Aurora bisa menebak jika ia kembali ke dalam sangkar neraka walau ini nampak berbeda.
Aurora bangun menatap kesekeliling semuanya putih.
Satu pertanyaan meluncur pada dirinya sendiri menatap kesekeliling.
Aurora menautkan kedua alisnya melihat banyaknya orang berpakaian serba putih berlalu lalang membuat Aurora tahu jika ia berada dalam sebuah lab besar entah penelitian apa.
"Hey, keluarkan aku! Siapa kalian!"
Teriak Aurora sambil menggedor-gedor kaca sana namun percuma karena tak akan ada yang mendengarnya.
Mereka seperti robot tak memperdulikan Aurora. Aurora memicingkan kedua matanya menatap semuanya.
Mereka manusia namun seperti robot tak bernyawa seperti nya mereka semuanya di kendalikan oleh sesuatu.
Tanpa Aurora sadari jika pergerakannya sendari tadi di pantau oleh pangeran Arnold yang tersenyum puas jika kali ini ia bisa mendapatkan keturunan Al-biru.
Sendari awal memang pangeran Arnold sudah tahu jika Vivi bukan asli keturunan Al-biru. Dia sengaja melakukan semuanya agar memancing Aurora keluar dan kali ini ia berhasil walau keberadaannya harus di ketahui lord Devil yang membuat pangeran Arnold penasaran siapa sebenarnya lord devil itu.
"Cih, kenapa dia mewarisinya pada satu keturunan!"
Gumam pangeran Arnold menyeringai menatap Aurora penuh kebencian dan juga minat.
Entah ada perkara apa hingga membuat pangeran Arnold seolah membenci keturunan Al-biru sungguh ini masih tuka-teki yang harus di pecahkan.
Pangeran Arnold keluar dari persembunyiannya masuk kedalam lab tersebut.
Aurora memicingkan kedua matanya menatap siapa yang berjalan kearahnya. Dari cara berjalan dan auranya membuat Aurora tahu jika orang tersebut bukan orang sembarangan.
__ADS_1
Krek ...
Seketika pintu kaca itu terbuka membuat Aurora mundur satu langkah dengan tatapan tajam tak pernah menurun sedikitpun membuat pangeran Arnold tersenyum seringai. Tidak salah lagi jika Aurora memang benar-benar keturunan Al-biru, mata ini sama dengan mata seseorang.
"Siapa kau?"
Ketus Aurora menatap tajam dua orang di hadapannya.
Pangeran Arnold mengisyaratkan pada kaki tangannya untuk meninggalkan ia berdua sampai pintu kaca itu kembali tertutup.
"Salam kenal tuan putri Al-biru!"
Aurora menautkan kedua alisnya ketika laki-laki paru baya di hadapannya mengenalinya membuat Aurora waspada.
Selama ini tak ada yang tahu siapa jati diri seperti nya orang ini bukan orang sembarangan, batin Aurora.
"Perkenalkan saya Arnold teman baik dan musuh kakek mu!"
Aurora di buat tak mengerti dengan omongan laki-laki paruh baya ini. Jika teman kenapa menyebut musuh juga, kakek, siapa bingung Aurora.
"Sudah-sudah jangan bingung, saya tak akan menyakiti mu. Kamu aman di sini!"
Kekeh pangeran Arnold sangat suka melihat raut wajah berubah-ubah Aurora yang sangat menggemaskan.
"Mau dengar satu cerita, hm!"
Aurora terus diam saja enggan untuk menjawab karena tak mengerti dengan semuanya.
"Kamu pasti bingung dan bertanya-tanya kenapa kamu berbeda dengan saudara mu yang lain, yang melanjutkan bisnis kerajaan Al-biru!"
"Karena kamu istimewa, kamu sama seperti mendiang Eyang mu. Ayah dari nenek mu sendiri. Dulu ia seorang dokter hebat bekerja dengan keluarga kami dan kamu lihat, penelitian ini dulu beliau yang mengembangkan!"
Deg ...
Aurora tertegun seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar. Benarkah itu, tapi kenapa sang papa ataupun sang nenek tak pernah ada yang membahasnya dulu.
"Jangan kaget, kamu pasti sudah tahu dari papa mu!"
"Jangan membual!"
Ha .. Ha ...
Pangeran Arnold tertawa puas sangat yakin jika semuanya di sembunyikan membuat pangeran Arnold dengan mudah mempengaruhi gadis ini.
"Baik-baik lah, kamu pasti kaget dan perlu bukti!"
"Lihat lah!"
Timpal pangeran Arnold lagi memperlihatkan sebuah photo masa lalu di mana ia sedang berfoto dengan eyang dan kedua nenek kakek Aurora.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1