Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 117 K: PC 2 (Harapan besar)


__ADS_3

Tepat jam setengah dua belas malam Edward sampai kediaman. Rasa lelah tak bisa Edward sembunyikan.


Edward berhenti tepat di depan pintu kamarnya ragu antara masuk atau tidak.


"Apa dia mengunci pintu atau tidak!"


Gumam Edward ingin memastikan, perlahan Edward membuka pintu kamarnya dengan hati-hati.


Deg ...


Edward terkejut ketika menyadari jika Vivi tak mengunci pintu kamarnya.


"Ap-apa dia sengaja!"


Gumam Edward tak menyangka jika Vivi tak menguncinya padahal ia sudah berpesan. Entah sengaja atau memang lupa Edward tak tahu namun ada rasa lain yang menggelitik hati Edward melihat pintu kamarnya tak di kunci.


Dengan pelan Edward masuk takut membangunkan tidur Vivi.


Hal yang pertama Edward lihat punggung Vivi yang memang selalu seperti itu posisi tidurnya.


Edward berjalan melepas jasnya lalu menggantungnya di tempat biasa.


Karena takut menggangu tidur Vivi Edward terpaksa tak mandi, dia hanya mencuci wajah dan gosok gigi saja lalu mengganti baju dengan baju tidur.


Sejenak Edward menghentikan langkahnya menatap Vivi yang seperti nya tak terusik oleh kehadirannya.


Edward bisa melihat dengan jelas wajah cantik Vivi karena memang lampu tak di matikan. Vivi tak suka tidur dalam keadaan lampu mati.


Entah ada dorongan dari mana Edward mendekat lalu membenarkan selimut yang Vivi gunakan karena sedikit menurun.


"Kau sedikit menjengkelkan, namun kau satu-satunya orang yang membuatku tersenyum tanpa sebab!"


Gumam Edward pelan, ia jujur akan perkataannya.


Hati Edward yang membeku akan kejadian naas itu. Namun semenjak Vivi datang dengan segala kepolosannya dan bibir cerewetnya awalnya membuat Edward terganggu namun lama kelamaan Edward menyukainya. Apalagi ketika melihat Vivi dalam mode jengkel matanya akan met bola dengan bibir yang mengerucut di mata Edward itu sangatlah menggemaskan.


"Terimakasih!"


Ucap Edward sedikit berbisik, entah kenapa Edward mengucapkan kata itu.


Di balik kata itu hanya Edward yang tahu, Edward benar-benar misterius bak selembar kertas yang kosong namun ada diksi yang bersembunyi.


Edward segera beranjak takut membuat Vivi terbangun dan pingsan jika tahu ia sedekat itu.


Edward segera merebahkan tubuhnya di atas shopa sana. Berharap esok adalah hari yang menyenangkan baginya.


.


.


Edward mengerjakan kedua matanya pertanda sudah bangun.


Edward melirik kearah ranjang, tempat itu sudah kosong membuat Edward langsung duduk.


"Kemana perginya dia sepagi ini!"

__ADS_1


Gumam Edward sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar.


Edward merentangkan kedua tangannya lalu menepuk pundaknya yang terasa sakit.


Edward memilih langsung mandi saja karena hari ini ia harus ke kantor ada meeting.


Sudah selesai dengan setelannya Edward segera keluar guna sarapan. Di atas meja makan sudah ada sarapan yang tersedia membuat Edward tersenyum kecil.


Edward langsung duduk, ia memulai sarapannya. Walau hati ini nampaknya ia sarapan sendiri itu tak masalah mungkin Vivi sedang ada banyak pekerjaan di rumah sakit.


Vivi memang bekerja di rumah sakit milik perusahaan Aldarberto selain itu Vivi juga membantu meneruskan sebuah penelitian di lab.


Sudah sarapan Edward bergegas pergi karena dia hampir telat.


Semenjak dia menggantikan tuan pertama di perusahaan jadwal Edward begitu padat. Walau begitu terkadang Edward menyempatkan waktu untuk gym agar tubuhnya tetap gagah.


Walau belum ada kemajuan dalam hubungan mereka namun, setidaknya sikap mereka berdua tak terlalu canggung.


Edward di sibukkan dengan pekerjaan begitupun dengan Vivi. Ia sengaja pergi pagi-pagi sebelum Edward bangun karena pagi ini ada jadwal operasi untuknya.


Tentu Vivi butuh konsentrasi akan semuanya. Apalagi dalam pikiran ia yang bercabang saat ini.


Vivi berusaha fokus menjalankan tugasnya, sebenarnya Vivi sengaja mengambil jadwal itu supaya ia bisa pulang lebih cepat karena dia harus mencari omnya lagi berharap hari ini membuahkan hasil.


Walau Vivi harus izin tak masuk lab, seperti nya Vivi benar-benar sudah menjadwalkan aktivitas nya akhir-akhir ini.


Bahkan tugas dia meracik parfum pun belum ia kerjakan.


Vivi ingin menyelesaikan urusan ia satu persatu agar semuanya tepat waktu karena Vivi tak mau Edward marah jika dirinya pulang telat.


Lampu merah menyala pertanda operasi di mulai. Beberapa tim membantu Vivi, mereka semua selalu kagum dengan kinerja Vivi yang selalu bersih.


Keringat dingin bercucuran membuat salah satu tim mengelap keringat Vivi agar tak menggangu.


Entah berapa jam mereka menghabiskan waktu di ruang operasi hingga tepat pukul sebelas siang operasi selesai.


Detak jantung pasien kembali normal di mana beberapa menit sempat terjadi ketegangan karena jantung pasien melemah.


Ketenangan yang Vivi ciptakan membuat semuanya bernafas lega karena operasi telah berhasil.


Vivi membuka sarung tangannya lalu mencuci tangan membersihkan darah yang menempel.


Hari ini sungguh hari yang melelahkan bagi Vivi. Walau begitu, Vivi tersenyum bahagia karena tugasnya sebentar lagi selesai.


Ia hanya perlu memeriksa beberapa pasien lalu pulang.


Vivi makan siang selalu saja di ruangannya tak pernah bergabung dengan teman-teman nya yang lain.


Tentu karena Edward melarangnya, entah apa alasannya tapi itu salah satu larangan mutlak untuk Vivi patuhi.


Walau sempat menolak, namun Vivi menerimanya karena tak mau Edward membuat surat pengunduran diri untuk dia yang artinya ia akan terkurung selamanya di kastil dan hanya bekerja di lab saja.


Andai saja tak ada banyak mata tentu Vivi akan diam-diam berbaur dengan dengan lain. Namun, Vivi tahu ada salah satu anak buah Edward yang bekerja di rumah sakit.


Setidaknya Edward tak meminta bodyguard mengikuti kemana ia pergi membuat Vivi sedikit bebas.

__ADS_1


"Baiklah, semangat Vi!"


Gumam Vivi membuka jas Dokter nya mengganti dengan mantel. Ia harus segera pergi karena waktu dia sangat sempit.


Vivi melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.


Tujuannya saat ini ia akan mendatangi rumah sakit pusat karena dari kabar yang ia dapat omnya pindah ke sana.


"Semoga ini hari keberuntungan ku!"


Gumam Vivi menghela nafas berat sambil memandang rumah sakit besar di hadapannya. Untung rumah sakitnya tak jauh dari tempat ia bekerja.


Vivi berjalan masuk dengan hati yang berdebar. Ia menuju sang resepsionis untuk bertanya.


"Permisi, apa di sini ada dokter Candra Albert spesialis bedah yang bekerja di sini?"


Tanya Vivi sopan membuat sang resepsionis saling pandang dengan temannya.


"Apa anda sudah membuat janji!"


Deg ...


Vivi terdiam mendengar jawaban itu, itu artinya om nya ada di sini.


"Be-belum, tapi--"


"Maaf, Dokter Candra saat ini tak bisa di ganggu!"


"Tinggalkan pesan, nanti saya akan menyampaikannya!"


"Tidak .. Tidak .., saya ingin bertemu dengan beliau katakan saya keponakannya!"


Mohon Vivi membuat sang resepsionis terdiam, mereka melihat penampilan Vivi yang mengaku-ngaku sebagai keponakan dokter Candra. Itu tak mungkin karena setahu mereka keponakan dokter Candra sudah meninggal.


"Maaf, tapi tetap tak bisa!"


"Saya mohon!"


"Itu sudah peraturan, tinggalkan pesan saja!"


"Tapi--"


Vivi terdiam, ia sangat bahagia karena tahu sang om masih hidup. Itu artinya ia punya peluang besar untuk tahu kebenarannya.


Walau sedikit sedih karena tak bisa bertemu, namun setidaknya Vivi sudah tahu om nya bekerja di sini dan Vivi bisa kembali besok.


"Ini nomor ponsel saya, katakan saya Clara Vivian Albert!"


"Baik, saya akan menyampaikannya!"


"Terimakasih!"


Ucap Vivi lemah, ia harus bersabar setidaknya harapan besar ada di depan matanya.


Bersambung ..

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....


__ADS_2