Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 37 Pertama kali


__ADS_3

Aurora dengan santai berendam sambil menyetel musik kencang di televisi yang memang sudah di rancang.


Aurora tak mendengar teriakan dari Kaka bahkan Aurora yakin Kaka tak berani macam-macam dan tak bisa masuk karena pintu kamarnya sudah ia kunci.


Kaka semakin menggeram kesal ketika pintu baja ini di kunci dari dalam, Aurora pikir ia tak bisa masuk dengan mudah.


"Edward!"


"Lord!"


"Berikan!"


Bentak Kaka membuat Edward gemetar kali ini kemarahannya tak bisa di cegah lagi.


Nyonya kau melakukan kesalahan besar, iblis satu ini hilang kendali!


Batin Edward was-was jika Aurora akan mati detik ini juga.


Duarrr ...


Aurora terpekik ketika mendengar sebuah ledakan membuat Aurora langsung bangkit dari dalam bathtub sambil meraih handuk.


Entah ada ledakan apa kenapa bunyinya sangatlah dekat.


"Aurora!!"


"Ap-"


Deg ...


Tenggorokan Aurora tercekat melihat pintu di belakang sana sudah koyak berkeping-keping.


Sedang Kaka terpaku menatap penampilan Aurora yang berani membuat tenggorokan Kaka naik turun.


Glek ..


Edward langsung memalingkan wajah melihat penampakan di depannya. Bolehkah Edward mengintip walau sedikit sungguh keindahan di depannya ini sulit berpaling.


"Kau!"


Bentak Kaka membuat Aurora tersadar dengan penampilannya.


Edward langsung terbirit tak mau mengambil kesempatan bisa jadi kedua matanya keluar detik itu juga.


"Ke-kenapa kau menghancurkan pintu itu!"


Gugup Aurora menyilangkan kedua tangannya di depan dada putih mulus itu.


"Menurut mu!"


Aurora melangkah mundur tetkala Kaka malah mendekat dengan tatapan elangnya seolah ingin menguliti Aurora hidup-hidup.


"Ma-mau apa kau, cepat keluar!"


Bentak Aurora ber-bata waspada melihat tatapan Kaka yang mengerikan namun nampak berbeda.


"Kau mau meracuniku, hm!"


"It-itu salah ka--"


Bruk ...


Kaka menarik keras lengan Aurora yang akan kabur kedalam kamar mandi sana membuat tubuh Aurora terhuyung menabrak dada bidang Kaka.


Wangi sabun seketika meruak kedalam penciuman Kaka membuat Kaka seketika terpesona melihat keindahan di depannya ini.


Bola mata hitam bening bak kucing merajuk di hiasi alis tebal pas dengan bulu mata lentik seperti Farhan.

__ADS_1


Bibir merah alami walau sedikit pucat karena dingin bergetar seolah minta di sentuh.


"Le-lepas!"


Lilir Aurora malu namun jika Kaka melepaskannya otomatis handuk yang di pakai Aurora akan merosot.


"Baiklah!"


"Jangan!"


Pekik Aurora panik malah merapat pada Kaka supaya handuknya diam. Aurora tak bisa menahan handuk dengan tangannya karena lengannya di kunci oleh Kaka hanya dengan menempel di tubuh Kaka supaya belitan handuk itu tak lepas.


Apa yang Aurora lakukan justru membuat Kaka mulai terpancing, bagaimana bisa Kaka berpaling dari keindahan ini rugi jika di lewatkan.


"Kau racun!"


"Apa?"


Aurora tak bisa mendengar dengan jelas gumaman Kaka karena terlalu fokus menahan handuk nya.


"Mau menggodaku!"


"Tidak!"


Pekik Aurora tercekat ketika Kaka malah sengaja membelikan lengannya membuat Aurora refleks membusung.


"Kau harus tanggung jawab!"


"Tanggung jawab apa?"


Bingung Aurora berusaha menghindar dari tatapan elang Kaka. Mata ini harus di hindari jangan sampai Aurora khilaf.


Kaka bukan pula tipe laki-laki pecundang yang akan memanfaatkan sesuatu.


"Sudah menggodaku!"


Deg ...


Tubuh Aurora seketika terdiam kaku dengan tatapan terpaku pada sosok di depannya.


Kaka menarik dagu Aurora yang sendari tadi terus menghindar dari tatapannya hingga membuat Kaka menahan dagu itu dan mengangkatnya hingga tatapan mereka bertemu.


"Boleh menyentuh ini?"


Ucap Kaka pelan mengusap bibir tipis sedikit berisi menggoda.


Apa yang Kaka lakukan membuat tubuh Aurora seakan tersengat listrik ribuan vol. Ini kali pertama ia di perlakukan seperti ini oleh laki-laki wajar Aurora bereaksi seperti itu.


Sialnya Aurora sulit sekali menjawab tidak, dimana tubuhnya bereaksi lain.


"Kau diam tanda kau mengijinkan?"


Ucap Kaka lagi memastikan karena Kaka tak mau membuat Aurora semakin membencinya dengan kelancangan dia.


Sial, kenapa aku mendadak sulit bicara!


Geram Aurora bohong jika ia tak terpesona dengan ketampanan suami kertasnya ini. Apalagi mata biru ini membuat Aurora seolah tenggelam kedalamnya.


Krek .....


Aurora mencengkram pinggang Kaka ketika benda kenyal itu menyentuh bibirnya. Entah sejak kapan juga Kaka melepaskan cengkeramannya yang beralih menangkup wajah cantik Aurora.


Ini kali pertama bagi mereka berdua melakukan kontak pisik dengan lawan jenis.


Sial kenapa manis sekali!


Batin Kaka tak menyangka ia akan menyentuh bibir yang selalu mengumpat dan membenci namanya.

__ADS_1


Apa ini rasanya ciuman!


Batin keduanya kaku karena memang ini pertama bagi keduanya. Namun, Kaka seorang laki-laki yang tentu instingnya lebih mendominasi dalam hal ini.


Kaka hanya mengikuti insting saja ketika ia menggerakkan bibirnya membuat Aurora semakin mencengkram pinggang Kaka ketika Kaka ******* pelan namun pasti terasa lembut sekali dengan sedikit tekanan.


Awal yang kaku namun lama kelamaan Kaka bisa melakukannya walau tak ada balasan dari Aurora yang kelewat polos.


Keduanya hanya mengikuti alur saja entah bagaimana jadinya jika keduanya sama-sama sadar tentu akan ada kecanggungan yang mereka rasakan.


Bahkan tanpa sadar handuk yang Aurora pakai sudah tergeletak pasrah di atas marmer sana.


Kaka terus ******* bibir manis ini sambil mengiring Aurora perlahan ke dekat ranjang.


Sungguh entah syetan dari mana membuat Kaka bisa melanggar perjanjian itu walau dari awal sudah izin terlebih dahulu.


"Maaf aku khilaf, tapi aku tak bisa berhenti!"


Gumam Kaka ketika ia melepaskan ciumannya menatap dalam kedalam bola mata Aurora meminta izin lebih.


Sungguh Kaka tersiksa akan ini semua karena semenjak Aurora datang ia tak bisa mengendalikan sesuatu yang sudah lama tertidur kini bangkit.


Bahkan wajah Kaka bak kepiting rebus terbukti jika hasratnya tak bisa di tahan lagi hanya dengan Aurora Kaka seperti ini.


Aurora sendiri hanya diam dengan nafas memburu menatap kilatan hasrat dalam tatapan ini.


Wajah ini sama!


Aurora malah teringat kejadian di ruang kerja Kaka ketika ia duduk di atas pangkuan Kaka, wajah Kaka berubah seperti ini sebelum mengusirnya dan sekarang wajah ini terlihat kembali.


Apa Kaka waktu it--


Lamunan Aurora seketika buyar ketika Kaka kembali menciumnya bahkan Aurora tersentak sejak kapan ia sudah berbaring di atas ranjang dengan Kaka yang mengungkungnya.


Sitt ..


Aurora mencengkram seprai ketika ciuman Kaka turun ke leher membuat Aurora benar-benar tercekat dengan reaksi tubuhnya.


Aurora ingin menolak ini salah walau ia adalah seorang istri tapi tak ada cinta di antara mereka bagaimana nasibnya nanti jika ia menyerahkan semuanya, Kaka pasti akan membuang dia.


Namun sialnya Aurora sulit berteriak, sulit memaki dan sulit mencegah apalagi ketika Kaka terus menjelajahi tubuhnya hingga.


"Maaf!"


Deg ...


Aurora terpaku melihat lelehan bening keluar dari netra biru itu bahkan sangat deras. Harusnya Aurora yang menangis bukan Kaka, ini sangatlah aneh.


"Maaf!"


Hanya kata itu yang terus keluar dari mulut Kaka yang sudah memperkenalkan Aurora kenikmatannya.


Dengan pelan Kaka bangkit lalu menutup tubuh polos Aurora dengan selimut. Kaka menatap sendu Aurora dengan lelehan bening yang terus keluar membuat Aurora bingung.


Ada apa dengan Kaka kenapa malah menangis seolah di sini Kaka adalah korban.


"Maaf, tolong jangan benci hal satu ini!"


Ucap Kaka aneh pergi begitu saja meninggalkan Aurora dengan kebingungannya.


Aurora memegang dadanya di mana jantungnya berdetak lebih hebat dari biasanya.


Entah kenapa Aurora tak bisa marah akan apa yang Kaka lakukan justru Aurora malah di buat bingung dengan tangisan Kaka kenapa malah menangis.


Tidak mungkin!


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2