
Kaka menyuruh para ajudannya menjaga ketat perjalanan dia ke Jerman. Kaka tak mau ambil resiko apalagi istrinya sedang hamil. Kaka tak tahu musuh mana lagi yang akan menyerangnya setelah beberapa musuh sudah Kaka selesai kan.
Hari ini memang keberangkatan Kaka dan Aurora ke Jerman menghadiri sebuah acara yang entah acara apa Aurora tak tahu karena Kaka tak memberi tahunya.
Di sepanjang jalan Aurora hanya tidur dan tidur entah kenapa semakin bertambahnya usia kandungan dia Aurora cepat lelah dan mengantuk di hari-hari tertentu. Sama seperti saat ini, ia sangat mengantuk sekali hingga tidur di pelukan Kaka.
Ya, Aurora merengek meminta duduk di atas pangkuan Kaka walau dengan senang hati Kaka melakukannya.
Aurora bagai baby besar yang menyusup pada sang ayah. Apalagi Kaka sengaja menjadikan mantel yang ia pakai menutupi tubuh mungil sedikit berisi ini.
Satu jam empat puluh menit mereka tiba di bandara Hamburg tentu di sana sudah ada banyak bodyguard yang berjaga.
Qennan sudah standby menyambut kedatangan sang lord yang sudah lama baru menginjakan kaki lagi bumi Jerman.
Kaka mengisyaratkan pada Qennan untuk diam karena tak mau membuat istrinya terbangun sedang Hanz sudah sendari tadi membukakan pintu untuk Kaka.
Mobil Lamborghini keluar meninggalkan bandara Hamburg.
"By!"
Gumam Aurora bangun namun Kaka menekan sang istri untuk tetap diam.
"Tidur lagi sayang, sebentar lagi sampai nanti hubby baru bangunkan!"
"Hm!"
Aurora hanya bergumam saja sambil mengendus-endus dada bidang sang suami mencari tempat nyaman.
Sebenarnya Aurora sendari tadi sudah bangun namun karena malu akan banyak orang membuat Aurora memutuskan pura-pura saja toh suaminya juga mengerti.
Kaka hanya bisa mengulum senyum geli akting sang isteri sungguh buruk namun menggemaskan.
"By!"
Aurora menyembulkan kepalanya di balik mantel bak anak kecil dengan bola mata bulat hitam kecoklatan.
"Kenapa, Hm?"
Kaka sedikit menundukkan kepalanya agar tak membuat sang istri merasa sakit tengkuknya.
"Lapar!"
Cicit Aurora sambil menggigit bibir bawahnya malu. Kaka tersenyum mendengarnya sungguh istrinya sangat menggemaskan.
"Hanz cari lestoran terdekat!"
"Siap Jendral!"
Hanz langsung membelokan kearah kanan di mana 50 meter lagi ada restoran berbintang lima.
Karena tak mau membuat sang istri tak enak seperti biasa Kaka mengisyaratkan pada Hanz untuk menyuruh sang ajudan menjauh mereka hanya memantau dari kejauhan saja.
Hanz langsung mengerti menekan tombol di pergelangan tangannya hingga tersambung pada semuanya.
"Sudah sampai!"
Aurora mengintip keluar jendela sebelum dia memutuskan keluar.
"By, kau memblokir semuanya?"
Tanya Aurora memicingkan kedua matanya melihat tak ada satupun orang yang lalu lalang atau mobil terparkir.
"Ayo, katanya lapar!"
Ucap Kaka mengalihkan pembicaraan membuat Aurora memberengut kesal.
Suaminya selalu saja mengerti akan dirinya jika Aurora tak suka menjadi pusat perhatian.
Walau terkadang ini sangatlah berlebihan, tapi begitulah perempuan selalu berkata tidak namun nyatanya iya, kadang sebaliknya atau terserah.
__ADS_1
Mungkin sudah identik nya wanita seperti itu dari sono nya. Sulit untuk merubahnya bahkan se-mandiri-mandirinya perempuan pasti ada sisi seperti itu.
Kaka hanya diam saja melihat istrinya makan, melihatnya saja membuat Kaka kenyang.
"Kenapa tak makan by?"
"Hubby sudah cukup kenyang melihat sayang makan, bahkan kaya begini!"
Cetus Kaka sambil mengelap bibir sang istri yang belepotan membuat Aurora tersipu.
Dengan Kaka Aurora tak perlu menjadi orang lain. Ia menjadi dirinya sendiri tanpa menjaga image.
Aurora yang manja, mandiri, merajuk, tegas, lembut dan keras kepala semuanya keluar di hadapan sosok dingin dan kejam.
Aurora tak menyangka jika pernikahan mereka sudah berjalan sampai sejauh ini. Aurora pikir ia akan gagal menjalaninya namun nyatanya Aurora salah besar.
Saling menerima dan memahami membuat mereka sampai berada di titik ini walau rintangan yang mereka lalui sangatlah tak mudah.
Merenggang nyawa beberapa kali membuat Aurora takut memulai, tapi dukungan kedua orang tua membuat Aurora yakin.
"Rora makan banyak ya!"
Cicit Aurora meringis melihat piring yang menumpuk bekas ia makan sendiri bahkan bagian Kaka pun Aurora makan. Kaka tak masalah selagi istri dan calon buah hatinya sehat-sehat.
Aurora celingak-celinguk melihat sekeliling takut ada yang melihat. Bagaimana bisa istri seorang Jendral makan seperti seorang gelandangan.
Kaka hanya bisa mengulum senyum melihat tingkah absurd sang istri yang baru ia lihat. Sisi lain yang begitu menggemaskan dengan tatapan polosnya.
"Mau nambah lagi?"
"By!"
Pekik Aurora malu membuat Kaka terkekeh gemas dengan tingkah sang istri. Kenapa baru sekarang sang istri menunjukan sisi itu.
"Katakan?"
"Apapun!"
"Es krim!"
"Terwujud!"
Senyum Aurora mengembang ketika Kaka mau mewujudkannya tanpa malu melihat istrinya yang sangatlah rakus.
"By mau?"
Tawar Aurora membuat Kaka menggeleng tanda tak mau.
Kini Aurora makan es krim di dalam mobil karena Kaka yang meminta agar mereka cepat sampai untuk istirahat sebelum besok mereka di sibukkan oleh aktivitas padat.
Aaa ..
Aurora tak menyerah begitu saja ia menyuapi sang suami. Mau tak mau Kaka membuka mulutnya. Seumur-umur Kaka baru merasakan rasa yang namanya es krim karena waktu kecil Kaka di jaga ketat dalam hal makanan.
Kaka menautkan kedua alisnya dengan ekspresi aneh membuat Aurora bingung.
"Apa gak enak by?"
"Dingin!"
"Kan es krim!"
"Ada rasa vanilla dan coklat!"
"By!"
"Jendral baru pertama kali makan es krim!"
Deg ...
__ADS_1
Aurora seketika terdiam mendengar ucapan Hanz membuat Kaka diam tanpa ekspresi.
"Benarkah by?"
"Hm!"
Ha .. Ha ...
Tawa Aurora seketika pecah mendengar nya, bagaimana bisa ada manusia yang belum pernah memakan es krim sungguh sangat Aurora sampai terbatuk-batuk membuat Kaka geram.
Ha .. Uhuk .. Uhuk ....
"Sudah sayang, diam!"
Kesal Kaka sambil mengelus punggung sang istri agar tak batuk lagi.
He .. He ...
Aurora nyengir kuda membuat Kaka benar-benar greget.
"Makan atau hubby buang!"
Ancam Kaka membuat Aurora seketika berhenti tertawa. Aurora kembali memakan es krim nya dengan tenang walau sedikit mencair karena ulahnya sendiri.
"Padahal enak loh, by!"
Goda Aurora membuat Kaka tetap tak bergeming ia fokus menatap lurus kedepan dengan ekor mata yang mengawasi sang istri yang benar-benar membuat ia berpikir lebih.
"Hanz berapa lama lagi perjalanan?"
"Sebentar lagi jendral, ini sudah masuk kawasan!"
Kaka mengangguk sedang Aurora asik dengan dunianya sendiri.
Mobil yang Kaka tumpangi masuk kedalam garasi bawah tanah dimana memang semua mobil terparkir di sana.
"Hanz!"
"Siap Jendral!"
Seakan sudah mengerti dengan situasi Hanz langsung keluar dan menutup rapat pintu mobil.
"Sudah sampai, by!"
Deg ...
Aurora diam mematung dengan apa yang sang suami lakukan. Bahkan beberapa kali Aurora mengerjap-enjap kedua bulu mata lentik nya ketika sang suami tiba-tiba menciumnya.
Sungguh cara makan es krim Aurora membuat Kaka berpikir liar andai saja bukan di perjalanan sudah sendari tadi Kaka menerkam sang istri.
"Sayang!"
Serak Kaka memerah padam menatap sang istri penuh damba. Aurora hanya diam saja karena masih shok dengan apa yang terjadi.
Aurora memerhatikan pahatan tampan di hadapannya ini yang terlihat menahan sesuatu.
"Di mobil!"
"By!"
Aurora terkejut ketika jok mobil menurun sendiri hingga membentuk seperti ranjang empuk. Sungguh Aurora tak menyangka jika mobil suaminya di desain seperti ini dengan canggihnya. Bahkan Aurora merasa nyaman tak perlu khawatir akan baby nya.
"Boleh?"
Seketika Aurora mengangguk membuat Kaka tersenyum cerah.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....
__ADS_1