Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 138 K: PC 2 (Ajarkan aku)


__ADS_3

Edward terus mengikuti kemana langkah kaki Vivi melangkah. Menelusuri setiap perkebunan teh sambil menyapa orang-orang yang ada di sana.


Benar kata orang, orang-orang Indonesia sangat ramah tamah membuat Vivi menyukainya.


Jalanan batu membuat Edward harus hati-hati jangan sampai Vivi terjatuh.


"My love hati-hati!"


Cemas Edward mengejar sang istri yang malah berlari.


Para penduduk tersenyum melihat tingkah pasangan bule itu yang menurut mereka sangatlah lucu. Apalagi Edward sangat kesusahan berjalan mengejar Vivi.


Walau mereka tak mengerti dengan yang Edward teriaki melihat tingkah mereka berdua membuat penduduk paham jika mereka sepasang pasturi.


Terlihat lucu dan menggemaskan di mata mereka.


Vivi terus berlari menuju jalan naik di mana ada sebuah pohon besar di puncak sana seperti indah jika beristirahat di situ apalagi nanti bisa melihat seluruh pemandangan membayangkannya saja membuat Vivi tak sabar hingga tak sadar meninggalkan Edward.


"Wow!"


Pekik Vivi kegirangan melihat pemandangan yang sangat indah. Benar-benar indah dari sekedar imajinasi. Di tambah udara perkebunan sangatlah sejuk dengan cuaca yang menyegarkan cocok beristirahat di bawah pohon.


Bruk ...


Vivi berbalik ketika mendengar suara terjatuh.


Deg ..


Vivi membulatkan kedua matanya melihat Edward tersungkur.


"Ed!"


Cemas Vivi memangku kepala Edward, nafas Edward memburu dengan keringat yang membanjiri pelipis Edward.


"Kau membuatku takut cinta, huh!"


"Kenapa dengan baju mu, kotor sekali?"


"Terjatuh tadi di bawah saat mengejar mu, tak apa yang terpenting kamu baik-baik saja!"


Ucap Edward menegakkan tubuhnya, ternyata Vivi lihai juga berlari di jalan berbatu begini.


Vivi membantu Edward berdiri lalu memapahnya menuju bawah pohon besar. Mereka duduk di sana sambil meluruskan kedua kakinya.


"Terimakasih Ed kamu sudah membawaku ke sini, ini sangat indah sekali, aku suka!"


"Udaranya sangat sejuk dan menenangkan!"


Ucap Vivi girang memejamkan mata menikmati setiap belayan angin.


Edward tersenyum melihat wajah ceria sang istri terlihat bercahaya nan indah. Senyuman yang selalu membuat Edward terpesona dan tak bisa berpaling memandangnya.


Tatapan intens dan dalam membuat Vivi membuka kedua matanya merasa jika sendari tadi Edward terus memperhatikannya.


"Ed, jangan menatapku seperti itu!"


Larang Vivi menutup mata Edward dengan telapak tangannya. Edward menjauhkan tangan Vivi dari kedua matanya.


Bruk ...

__ADS_1


Edward tidur di atas pangkuan Vivi dengan tangan yang masih di genggam erat dan meletakkannya di atas dadanya.


"Kenapa?"


"Kenapa kau begitu imut!"


Bluss ...


Wajah Vivi memerah dengan sinar mentari yang meneranginya membuat wajah Vivi semakin bersinar.


"Sihir apa yang kamu gunakan hingga aku begitu menyukai mu?"


"Mana ada, aku tak punya sihir apapun!"


"Tapi kau selalu menyihir ku, my love!"


"Ed, jangan terlalu mencintai ku!"


"Lantas?"


"Aku hanya takut jika aku melakukan kesalahan cinta itu akan memudar dan kau berpaling dari ku!"


Jujur Vivi ia hanya ingin di cintai sesederhana bukan memuja.


"Aku mencintaimu dengan caraku memandang mu apa yang ada dalam diri mu, tak akan ada yang berubah walau apapun yang terjadi tak peduli seberapa kamu berubah atau melakukan kesalahan. Bukankah cinta itu menerima, menerima baik buruknya diri mu di masa lalu atau masa depan!"


Vivi menatap Edward intens menatap kedalam bola mata hitam mencari sesuatu.


"Maka ajarkan aku cara mencintai dengan sederhana


Dengan kata yang tak sempat di ucapkan angin pada daun yang membuatnya tertidur di atas bumi.


Dengan isyarat yang tak sempat di sampaikan malam pada siang yang menjadikannya tiada?"


Deg ...


Edward berdebar mendengar permintaan Vivi bak syair yang menyiram hatinya membuat bunga-bunga di sana bermekaran.


Sebuah kata yang tak bisa Edward jawab, sungguh kata yang begitu dalam dan penuh makna Edward baru mendengar kata itu keluar dari mulut Vivi.


Tatapan penuh keseriusan tak ada keraguan sedikitpun di sana membuat Edward benar-benar terhipnotis.


Edward bangun dari tidurnya, tangannya mengelus lembut wajah Vivi tanpa celah turun menelusuri leher perlahan menarik tengkuk Vivi mendekat padanya.


Jantung Vivi berdebar menatap tatapan Edward, jantungnya semakin terpacu ketika dirinya di tarik mendekat refleks Vivi memejamkan kedua mata ketika wajahnya begitu dekat sangat dekat sampai Vivi bisa merasakan hangatnya nafas Edward menerpa wajahnya.


Vivi tak merasakan apapun, Vivi pikir Edward akan menciumnya nyatanya tidak. Perlahan Vivi membuka kedua matanya kembali.


Cup ...


Deg ...


Vivi refleks membulatkan kedua matanya ketika Edward menekan tengkuknya hingga bibir mereka bertemu. Vivi menahan nafas menatap wajah Edward begitu dekat dengannya. Bibir ini begitu lembut menyentuhnya membuat Vivi tak sadar mengerjap-enjap lucu.


Kaget!


Tentu!


"Jangan menutup mata my love, aku ingin kamu melihat apa yang aku lakukan!"

__ADS_1


Bisik Edward sensual membuat Vivi merinding. Edward memeluk Vivi sejenak menormalkan jantungnya tak lama Edward kembali mendorong tubuh Vivi pelan.


"Aku tak akan selesai dengan ini, jadi jangan hentikan aku!"


Deg ...


Lagi-lagi Vivi di buat terkejut dengan serangan Edward lagi. Kali ini bukan sekedar kecupan biasa melainkan sebuah ciuman nyata.


Edward memperlakukan Vivi sangat lembut begitu lembut sampai Vivi hanyut kedalamnya di dukung oleh angin yang menghembus tenang menyaksikan sepasang suami istri yang sedang meluapkan rasa cintanya dan kasih sayang.


Rasa itu tak bisa di jabarkan oleh kata, rasa yang sedikit berbeda dari rasa sebelum nya.


Senang dan bahagia itulah yang Vivi rasakan dengan apa yang Edward lakukan padanya. Terasa nyaman dan sungguh Vivi tak bisa menjelaskannya.


Edward membawa Vivi berbaring di atas rumput menahan kepala Vivi dengan satu tangannya dan tangan satu lagi mengelus leher Vivi.


"Teruslah buka mata jangan pernah menutup nya ketika aku melakukan nya!"


Bisik Edward tepat di depan bibir Vivi, sungguh Vivi tak bisa membayangkan bagaimana merahnya wajah dia.


Edward mengungkung tubuh Vivi menatap wajah yang selalu memerah ketika ia menggodanya. Sipat malu-malu yang selalu identik pada perempuan itulah yang tak bisa mereka buang karena fitrah nya dan Edward sangat menyukai hal satu itu karena ia bisa melihat sisi lain yang sangat indah.


Mereka berdua sama-sama tersenyum dengan Edward membaringkan tubuhnya sambil menarik Vivi kedalam pelukannya.


Mereka berdua menatap keatas sana memandang langit cerah dengan burung-burung berlarian satu sama lain.


"Ed?"


"Hm!"


"Seperti nya perutku butuh asupan?"


"Baiklah, kita cari makan!"


Mereka berdua bangun, lalu menepuk-nepuk bagian yang kotor.


"Naiklah?"


Perintah Edward membungkukkan dirinya membuat Vivi mengerti. Vivi naik keatas punggung Edward.


Edward menggendong Vivi sepanjang jalan sambil berbincang ringan. Mereka kembali melewati para pekerja, tersenyum ramah selalu mereka dapatkan.


Para pekerja tersenyum geli melihat dua bule yang baru turun dari atas bukit sana. Mereka benar-benar pasangan yang perfek membuat siapa saja iri melihat ya.


"Ed turunkan aku, kamu pasti cape?"


"Tak apa, bentar lagi kita sampai!"


Di depan sana memang mobil mereka terparkir, karena jarak mereka begitu jauh membuat Edward berkeringat bahkan Vivi bisa merasakannya.


Edward menurunkan Vivi tepat di depan mobil, Edward membuka dua kancing atas bajunya lalu menarik-narik pelan agar rasa gerah yang ia rasakan sedikit berkurang.


Vivi terdiam melihat apa yang di lakukan Edward, kenapa terlihat hot dan tampan apalagi rambut Edward yang sedikit berantakan namun tak sedikitpun mengurangi ketampanan Edward.


"Ed, ayo!"


"Hm!"


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa Like Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2