Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 124 K: PC 2 (Rasa yang baru)


__ADS_3

Entah sejak kapan Edward sudah membaringkan Vivi di atas ranjang dengan tubuhnya mengungkung tubuh mungil Vivi.


Bahkan keadaan Vivi sudah terekspos indah di mata Edward.


Entah sadar atau tidak Vivi tak tahu ia sendari tadi bergelut dengan dirinya sendiri sampai tak sadar dengan apa yang Edward lakukan pada tubuhnya.


"Tolong hentikan aku, karena aku tak bisa berhenti!"


Mohon Edward membuat Vivi hanya diam saja masih belum selesai dengan perang batinnya.


Melihat Vivi yang terus terdiam membuat Edward mengartikan jika Vivi tak melarang ia melakukan apapun.


Sittt!


Vivi mencengkram pundak Edward kuat ketika merasa ada sesuatu yang ingin menerobos pertahanan nya.


Vivi menatap Edward yang diam dengan wajah yang memerah menahan segala gejolak yang ada. Vivi baru sadar dengan apa yang mereka lakukan bahkan rasanya Vivi ingin mendorong Edward sekuat mungkin namun nasihat-nasihat Aurora terus saja bermunculan melawan rasa takut itu.


"Apa kamu ingin aku menghentikannya?"


Tanya Edward serak kepalanya begitu pening menahan di bawah sana yang baru perkenalan.


Bukan tanpa alasan Edward bertanya, karena baru kali ini Vivi menahan dadanya. Andai Vivi memintanya berhenti maka Edward akan menghentikan semuanya detik ini juga karena Edward tak mau memaksa Edward akan menunggu sampai Vivi benar-benar percaya padanya.


Vivi tak menjawab apapun ia malah membingkai wajah Edward dengan kedua tangannya seolah ingin memastikan jika yang ada di atasnya adalah Edward suaminya bukan orang lain.


Menelusuri satu persatu pahatan wajah tampan Edward dari atas sampai mentok di bibir merah yang sudah membuat ia lupa akan segalanya.


Vivi mengusap lembut bibir itu membuat Edward menggeram tertahan. Sungguh apa yang Vivi lakukan sangat menyiksa diri nya.


Cup ...


Vivi mengecup bibir itu membuat Edward tersenyum karena sudah menemukan jawaban yang ingin ia dengar sendari tadi.


Jika begini berarti Vivi mengizinkan ia melanjutkannya. Sungguh Edward sangat bahagia ia tak pernah menyangka akan jatuh cinta pada wanita di bawah kunjungannya.


Edward meringis ketika Vivi menggigit bahunya di mana di bawah sana ia sudah masuk semuanya sungguh ini pengalaman pertama baginya.


Edward berusaha lembut karena tahu ini yang pertama bagi mereka berdua bahkan tadinya Edward ingin menghentikannya karena tak tega melihat Vivi menangis menahan rasa sakit atas perbuatannya.


Namun Vivi memintanya melanjutkan apapun yang ingin Edward lakukan.


Aku sudah menyerahkan semuanya pada suami ku sendiri. Aku berharap kamu tak pernah mematahkan hatiku!


Batin Vivi menenggelamkan kepalanya di cekuk leher Edward.


Nafas mereka berdua benar-benar memburu, peluh membanjiri keduanya entah berapa lama mereka mengarungi surga dunia yang baru pertama kali mereka rasakan, sangat luar biasa.


Bahkan Vivi tak mau Edward menatap wajahnya yang pasti sudah memerah padam.


Ia malu sangat malu dengan semuanya, bagaimana bisa ini terjadi bahkan ia benar-benar menyerahkan semuanya pada Edward.


Laki-laki yang sangat ia benci dan tak mau percaya dengan semua perkataannya. Namun nyatanya Vivi salah, selama ini Edward memperlakukan dirinya dengan baik sangat baik membuat Vivi tanpa sadar merasa nyaman dan aman bahkan Vivi tak lagi takut dengan Edward. Semuanya mengalir begitu saja tanpa sadar jika Edward perlahan bisa mengendalikan trauma Vivi terbukti dengan hasil yang di dapatkan.

__ADS_1


"Terimakasih istriku, terimakasih atas kepercayaan yang kau berikan padaku!"


"Terimakasih my love!"


Vivi semakin menenggelamkan wajahnya mendengar setiap kalimat yang Edward ucapkan. Ingin ia bertanya sejak kapan namun rasa malu membuat Vivi tak berani.


Rasa cinta yang Edward miliki semakin yakin dengan apa yang telah mereka lakukan mungkin juga semakin tumbuh subur di hati Edward.


Edward tak peduli Vivi sudah atau belum mencintainya yang terpenting bagi Edward ia sudah memiliki Vivi seutuhnya.


Yang artinya Vivi tak bisa keluar dari kehidupan Edward apapun yang terjadi. Edward tak akan pernah melepas kan Vivi kecuali Vivi yang pergi meninggalkannya.


Karena merasa lelah dengan aktivitas yang sudah mereka lakukan. Edward dan Vivi tertidur dengan posisi saling berpelukan.


Rasa yang baru telah di mulai di antara ke keduanya. Entah apa yang akan terjadi besok, apa mereka menerimanya atau malah Vivi yang menyesal.


.


.


Emmz ...


Gumamam kecil keluar dari bibir tipis berisi Vivi. Ia menggeliat mengeratkan pelukannya.


Perlahan Vivi membuka kedua matanya, mata Vivi sedikit menyipit menatap objek di depannya.


Sebuah buket bunga dan kotak kecil bertali pita tergeletak di samping Vivi.


Wajah Vivi memanas melihat sebuah tulisan yang menempel di buket bunga tersebut.


Vivi menggigit bibir bawahnya mengingat kejadian semalam membuat ia benar-benar malu.


Vivi berusaha duduk memegang kotak kecil tersebut entah apa isinya.


"Sudah bangun?"


Deg ....


Vivi terkejut melihat Edward berdiri di depan pintu sana dengan tangan yang sedang memegang nampan.


Wajah Edward sudah segar bahkan terlihat tampan berkali-kali lipat sedang Vivi masih berantakan membuat Vivi benar-benar.


Edward tersenyum melihat sang istri menutup wajahnya.


Edward mendekat menyimpan nampan di atas nakas.


"Kenapa di tutup, hm!"


"Bukalah, aku ingin melihat wajah cantik istriku!"


"Tidak!"


Vivi berusaha menahan selimut yang Edward tarik. Bagaimana bisa Vivi menunjukan wajahnya yang berantakan ini bahkan ia memakai kemeja Edward.

__ADS_1


Sungguh ini sangatlah memalukan andai saja ia punya kekuatan seperti Raib pasti sendari tadi sudah menghilang kemana saja asal jangan dulu melihat Edward.


"Ayo mandi dulu, nanti kita sarapan?"


Vivi tetap tak bergeming ia semakin membungkus kepalanya dengan selimut.


Grep ...


Sekali angkat Vivi sudah berada di gendongan Edward membuat Vivi meringis tertahan.


Sungguh gesekan di bawah sana sangat menyakitkan membuat mata Vivi berkaca-kaca.


"Maaf, ini pasti sakit tapi kamu harus mandi my love!"


Lagi-lagi Edward memanggilnya penuh cinta membuat Vivi yang tadinya meringis jadi menahan malu sungguh Edward bisa saja membuat Vivi tak berkutik.


Entah kemana sikap cuek, menyebalkan dan pemarahnya Vivi benar-benar melihat sosok lain di diri Edward.


Edward menggendong Vivi menuju kamar mandi dan mendudukkannya di atas kloset.


"Mau apa?"


"Memandikan!"


"No!"


Panik Vivi merapatkan kedua kakinya dan menyilangkan kedua tangan di dadanya. Edward tersenyum melihat tingkah laku istrinya yang menggemaskan.


"Aku sudah melihat keindahan semuanya, kenapa harus malu!"


"Ak-aku bisa mandi sendiri, please!"


Mohon Vivi, ia tak mau di mandikan bahkan wajahnya mungkin sudah menjadi kepiting rebus karena Edward terus menggodanya.


"Baik baik lah, tapi hati-hati mandinya kalau sakit bilang!"


Edward keluar kamar mandi membiarkan sang istri mandi sendiri.


Huh ...


Vivi membuang nafas kasar sambil memegang dadanya yang terasa mau meledak.


"Sitt, kenapa sakit sekali!"


Gumam Vivi meringis namun sekuat tenaga ia tahan agar tak terdengar oleh Edward.


Sedang di luar Edward tersenyum sambil membereskan ranjang bahkan seprai nya sudah terganti dengan yang baru.


"Dad, terimakasih sudah menghadirkan bidadari dalam hidupku. Daddy benar, Vivi gadis yang berbeda dari yang lain!"


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2