
Menempuh perjalanan selama kurang lebih empat belas jam membuat Vivi kelelahan pasalnya memang kondisi Vivi belum stabil.
Jam delapan malam mereka baru sampai di Indonesia. Edward benar-benar membenarkan perkataan nya jika mereka akan honeymoon di Indonesia salah satu negara yang di juluki surga dunia.
Edward juga penasaran dengan negara kelahiran istri dari sepupu nya ini. Padahal banyak negara yang sangat indah lainnya tapi Edward memilih Indonesia sebagai tempat menenangkan diri. Apalagi katanya warga Indonesia sangatlah ramah tamah dan sopan itu akan bagus untuk Vivi.
Sebagai turis tentu Edward dan Vivi sangatlah di hormati apalagi pengaruh Edward love, bangun kita sudah sampai!"
Bisik Edward mengelus wajah Vivi lembut. Vivi mengerjakan kedua matanya menatap Edward.
"Sudah sampai, ayo turun!"
Vivi mengangguk mengumpulkan kesadarannya lalu menyusul Edward keluar.
Udara malam nampak dingin, entah di mana ini. Udaranya sangat berbeda dengan udara musim dingin ini terasa dingin namun terasa segar apalagi banyak pepohonan di sekelilingnya.
"Ed, ini di mana?"
"Bandung my love, apa kamu suka?"
Vivi menengadahkan wajahnya keatas sana, kedipan bintang terlihat indah entah sudah berapa lama Vivi tak melihat indahnya bintang.
Ternyata musim di Indonesia sangatlah berbeda dengan Jerman.
"Ini sangat indah Ed!"
"Sekarang sudah mengaguminya, kita harus masuk!"
Vivi mengangguk menerima uluran tangan Edward sedang barang-barang mereka sudah di masukan ke dalam oleh beberapa bodyguard yang ikut serta.
Edward ternyata memilih menyewa Villa dari pada tidur di hotel karena Edward memang berencana sedikit lama di Indonesia sampai Vivi hamil.
Bangunan sederhana namun terasa nyaman dengan nuansa klasik.
"Bersihkan dulu badan mu, nanti kita makan malam!"
"Ya!"
Vivi bergegas menuju kamar mereka guna membersihkan tubuhnya. Seperti nya berendam cocok untuk badannya yang terasa remuk akibat perjalanan jauh. Namun, Vivi tak bisa lama-lama karena ini sudah malam.
Edward menyiapkan makan malam yang memang sudah tersaji tinggal di pindahkan saja ke meja makan. Sambil menunggu Vivi Edward memilih berkeliling melihat bangunan ini.
Sedang bodyguard yang ikut serta berada tak jauh di samping bangunan yang Edward tempati.
"Ed!"
Panggil Vivi karena tak mendapati Edward ada di rumah tamu.
"Ada apa?"
"Aku udah selesai, giliran kamu!"
Edward mengangguk masuk kedalam kamar guna membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Vivi tersenyum melihat menu makan malam yang sudah Edward siapkan. Karena bosen Vivi memilih duduk di jendela sambil menatap keatas sana.
Seperti nya Vivi sangat menyukai suasana baru itu.
"Kapan-kapan aku akan mengajak Arsen ke sini!"
__ADS_1
"Dek, kakak kangen!"
Gumam Vivi menatap bintang sana, sungguh langit Indonesia sangatlah indah.
Vivi benar-benar menyukai ini, tersenyum manis tak sabar akan kemana Edward nanti membawanya jalan-jalan.
"My love!"
Vivi berbalik menatap Edward memakai kaos oblong dengan celana di bawah lutut. Vivi sejenak terdiam baru pertama kali melihat Edward berpakaian seperti itu, terasa aneh namun terlihat cocok.
Biasanya Edward tak akan lepas dengan kemejanya mau itu panjang atau pendek tapi kali ini Edward nampak berbeda terlihat santai.
Memakai pakaian seperti itu membuat Edward malah terlihat lebih muda dan Coll.
"Ayo makan?"
Vivi turun dari jendela dengan Edward memegang tangan Vivi. Mereka berdua makan malam dengan tenang.
Masakan Indonesia tak kalah enak dengan makanan Jerman apalagi mereka punya bumbu tersendiri.
Sudah makan Vivi membereskan tempat makan mereka.
"Tidurlah duluan, aku akan keluar sebentar ada sesuatu yang akan ku bicarakan pada bodyguard!"
"Heem!"
Edward keluar menghampiri sang bodyguard yang sudah menunggu nya di kursi sana.
Edward nampak berbicara sesuatu pada kedua bodyguard membuat Vivi tak bisa mendengar dengan jelas karena jarak mereka terlalu jauh.
Vivi memilih masuk kedalam kamar saja ini sudah larut Vivi harus segera tidur apalagi mereka akan jalan-jalan.
Vivi menatap pintu berharap Edward segera kembali. Namun, Edward belum ada tanda-tanda kembali, ini sudah satu jam Edward meninggalkannya, katanya sebentar tapi ini sangat lama.
Crek ...
Suara pintu terbuka membuat Vivi berpura-pura melihat ponsel.
"Belum tidur?"
"Lagi nonton!"
Edward tersenyum melihat sang istri memperlihatkan ponselnya. Edward menyimpan ponselnya di atas nakas, mencuci kaki dan tangan. Edward naik keatas ranjang mengambil ponsel sang istri lalu mematikan film yang sedang sang istri tonton.
"Ayo tidur!"
Edward membaringkan tubuhnya membuat Vivi juga mengikuti. Melihat Vivi yang masih kaku tidur satu ranjang dengannya membuat Edward hanya bisa tersenyum saja.
Dengan satu kali tarikan Edward berhasil menarik sang istri merapat padanya.
"Ed!"
Kaget Vivi dengan apa yang Edward lakukan. Edward masa bodo ia memeluk Vivi erat, menahan kepala Vivi agar tetap tidur di dadanya. Posisi yang begitu intim membuat Vivi menyukainya walau masih sedikit malu-malu.
Edward tersenyum ketika Vivi mulai memeluk perutnya. Seperti nya Edward masih butuh kesabaran extra untuk membuat istrinya semakin jatuh cinta.
Ini kali pertama mereka tidur dengan posisi sama-sama sadar bukan Edward yang selalu menunggu Vivi tidur duluan baru ia bisa tidur sambil memeluk Vivi.
Tapi kali ini sepertinya akan ada hal yang berbeda. Ini awal dari kisah cinta mereka bukan awal dari perjalanan hidup mereka.
__ADS_1
Kita doakan saja semoga hubungan mereka semakin erat dan tak terpisahkan.
.
.
Hembusan angin menerobos masuk di sela-sela jendela menggangu sepasang suami istri yang masih tertidur di bawah hangatnya selimut.
Seperti nya ini tidur yang paling nyenyak yang Edward rasakan bahkan ketika Vivi sudah bangun pun Edward tak terusik apapun.
Vivi membuka jendela kamarnya membuat udara pegunungan meruak masuk menerpa wajah mulus tanpa makeup.
Vivi memejamkan kedua matanya menikmati setiap hembusan. Sangat sejuk dan segar berpadu dengan kicauan burung-burung menari di pohon sana.
"Morning my love!"
Bisik Edward memeluk mesra pinggang ramping Vivi.
Vivi tersenyum memegang lengan Edward yang memeluknya. Menyandarkan kepala pada dada bidang Edward sungguh suasana yang romantis bukan.
"Tempat ini sangat tenang dan damai!"
"Ya, semoga kamu bisa nyaman di sini!"
"Terimakasih!"
"Untuk?"
"Semuanya,"
Seperti nya burung di atas sana sangat malu melihat pasangan pasturi yang sedang mesra.
Ciuman pagi yang menyegarkan bukan untuk memulai aktivitas. Walau Vivi masih nampak malu-malu akan apa yang mereka lakukan.
Tak menolak ataupun menerima itu jawaban yang pas, hanya saja Edward terlalu pintar untuk memanfaatkan situasi.
Kesempatan emas jangan pernah di sia-siakan jika tidak berlian itu akan pergi.
Edward menyudahi ciuman mesranya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Ed!"
Pekik Vivi ketika Edward mengangkat tubuhnya membuat Vivi refleks memegang lengan kekar Edward.
"Waktunya mandi!"
"Aku bisa sendiri!"
"Berdua lebih baik!"
"Hah!"
"Kebiasaan!"
Vivi menutup mulutnya ketika Edward akan menciumnya kembali.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1