
"Bagaimana keadaan nya sekarang?"
Tanya tuan besar yang sudah tak sabar ia sangat kesal sekali karena dokter yang di puja-puja oleh dunia sampai sekarang belum bisa menyimpulkan sesuatu dari penyakit putranya.
Bahkan ini sudah satu Minggu lebih dan yang ia dapatkan hanya omong kosong.
Tuan besar menatap tajam Vivi yang terdiam bingung harus berbuat apa.
Sudah satu Minggu ini Vivi bertahan semampunya menunggu Aurora datang padahal ia sudah memberikan sinyal sendari awal tapi kenapa Aurora masih belum datang juga untuk menyelamatkannya.
Kini Vivi tak bisa mengelak lagi jika tuan besar tahu siapa dirinya sebenarnya. Vivi sudah pasrah namun bagaimana dengan keadaan adiknya.
Krek ...
Tuan besar mencengkram wajah Vivi membuat Vivi terkejut bahkan sampai menjatuhkan alat medis yang ia pegang.
"Kau mencoba membodohi ku, hah!"
Bentak tuan besar menggelegar membuat Vivi terpekik sakit gendang telinganya.
Bruk ....
Tubuh Vivi tersungkur keras di atas lantai sana dengan punggung membentur kaki meja.
Saat nya Vivi pasrah akan semuanya karena ia tak bisa mengelak lagi.
"Kau bukan dokter yang sebenarnya bukan!"
Ucap Tuan besar mendekat dengan aura kelam membuat Vivi bungkam.
"Katakan di mana dia atau--"
Glek ...
Vivi menelan ludahnya kasar ketika sebuah pistol keluar dari balik kemeja tuan besar.
"Cih, kau tak bisa membodohi ku selama itu, katakan yang sebenarnya atau peluruh ini menembus kepala mu!"
"Tu-tuan, itu wajar bagi Pangeran belum sadar karena ia terlalu lama koma, tolong beri saya sedikit waktu!"
"Katakan kau bukan dokter itu?"
"Sa-saya!"
Vivi bingung harus menjawab apa semuanya sudah berakhir.
"Pengganti!"
Deg ...
Vivi membulatkan kedua matanya gemetar ketika pistol itu di arahkan pada kepalanya. Sungguh tubuh Vivi sudah gemetar ingin menangis.
Apa hidupnya benar-benar berakhir detik ini juga.
"Tuan saya mohon, percayalah saya sedang berusaha!"
"Tuan melihatnya kan jika pangeran keadaannya jauh lebih baik lagi!"
Vivi berusaha menggoyahkan pikiran taun besar berharap bisa terpengaruh karena memang kondisi pangeran sedikit lebih baik dari sebelumnya.
"Saya mohon, saya memang bukan dokter hebat gelar itu hanya orang-orang bukan yang memberikannya saya bukan tuhan namun saya berusaha yang terbaik!"
__ADS_1
Vivi terus mempengaruhi pikiran tuan besar agar tak membunuhnya.
"Katakan di mana dokter itu!"
"Tuan!"
Pekik Vivi sakit ketika perutnya di tekan ujung pistol walau tak tajam namun sangat menyakitkan.
"Katakan hah!"
Bentak tuan besar sudah habis kesabarannya ia tak bisa menunggu lagi.
"Baiklah!"
"Berto!"
Teriak tuan besar membuat Berto langsung mendekat.
"Tunjukan pada gadis pembohong ini bagaimana nasib adik tercintanya!"
"Tidak Arsen!"
Teriak Vivi tercekat melihat keadaan sang adik yang begitu mengenaskan. Entah apa yang mereka lakukan pada adiknya kenapa bisa seperti itu.
"Jangan sakiti adikku hiks ...,"
Mohon Vivi sangat sakit dan sesak melihat sebuah vidio yang memperlihatkan di mana Arsen akan di dorong ke jurang.
"Katakan di mana dokter itu?"
"Jangan sakiti dia hiks ,,"
"Katakan sialan!"
Tuan besar tak sesabar itu ia tanpa belas kasih menendang Vivi membuat Vivi tersungkur kembali sampai kepalanya membentur meja.
Tuan besar marah akan kebisuan Vivi yang tak mau mengatakan semuanya.
Vivi mengusap darah di keningnya dengan bulir bening yang terus keluar.
Apa yang harus ia lakukan nyawa dia dan adiknya dalam bahaya tapi jika ia buka mulut bagaimana dengan Aurora. Sungguh keputusan yang sangat sulit di ambil tak mungkin Vivi membahayakan nyawa Aurora.
Vivi tak peduli dengan keadaan dia yang penting adiknya selamat namun jika ia terus tutup mulut bagaimana dengan adiknya.
.
Jika Vivi sedang berada dalam dilema yang menyakitkan berbeda dengan Aurora yang sudah matang merencanakan kaburnya.
Ya, malam ini Aurora harus kabur dari menara terkutuk ini karena memang itu sudah di rencanakan apalagi Kaka tidak ada di menara membuat hari keberuntungan buat Aurora.
"Maafkan aku!"
Gumam Aurora ketika ia melihat para penjaga yang tergeletak tak sadarkan diri akibat makanan yang ia campurkan dengan obat tidur dosis rendah di mana hanya berfungsi dua jam saja. Cukup bagi Aurora dua jam ia menjauh dari sini.
Aurora menggeletak kan Rose di atas shopa sana karena ia harus segera kabur.
Aurora masuk tak membawa apa-apa maka ia juga pergi tak membawa apapun.
Aurora segera bergegas pergi namun ada sesuatu yang tertinggal di kamar sesuatu yang sering Aurora bawa kemana-mana.
Dengan cepat Aurora berlari menuju kamar mencari sebuah barang yang memang ia simpan rapat-rapat agar Kaka tak melihatnya.
__ADS_1
Aurora segera mengangkat sedikit ranjang karena rasa panik Aurora tak sengaja menyenggol sebuah patung kepala rusa yang menempel di dinding.
Krek ...
Sebuah bunyi terdengar nyaring pertanda ada sesuatu yang terbuka membuat Aurora terkejut.
Aurora diam mematung ketika ranjang yang selama ini ia tiduri terbelah menjadi dua di sana juga muncul sebuah lemari unik di mana ada tumpukan berkas di sana.
Karena penasaran Aurora mengambil salah atau berkas tersebut dan membukanya.
Seketika mata Aurora melotot sempurna melihat deretan tulisan yang tertera di sana.
"Dia!"
Gumam Aurora tercekat melihat berkas itu sebuah kebenaran yang tak terduga di mana di sana tertera siapa jati diri sang suami.
Sungguh Aurora ingin menyangkal namun berbagai kejadian membuat ia di paksa percaya.
Belum reda keterkejutan Aurora kini Aurora di buat penasaran lagi dengan berkas yang berlogo aneh logo itu sama seperti sesuatu yang pernah Aurora lihat.
Deg ...
Seketika tubuh Aurora menegang membaca berkas tersebut sungguh Aurora benar-benar tak menyangka jika suami kertasnya itu lihai berperan.
Sampai di berkas terakhir tangan Aurora sudah gemetar namun rasa penasaran itu cukup tinggi apalagi yang di sembunyikan suami kertasnya itu.
Dengan kasar Aurora membukanya namun kali ini reaksi Aurora nampak berbeda wajah tegang itu berubah menjadi sendu bahkan tanpa sadar bulir bening keluar begitu saja membasahi pipi Aurora.
Nafas Aurora tercekat dengan dada sesak melihat sebuah perjanjian pernikahan.
"Ja-jadi selama ini!"
Gumam Aurora gemetar sungguh dadanya sangat sesak sekali mengetahui pakta-pakta yang benar-benar di luar dugaan.
"Papa!"
Lilir Aurora sampai menjatuhkan berkas tersebut sungguh Aurora tak menyangka jika sang papa adalah orang di balik ini semua.
Pernikahan mereka bukan sebuah kebetulan melainkan hal yang sudah di rencanakan sang papa.
Setega itu sang papa menghancurkan misinya, cita-cita dan kehidupannya.
Sang papa menyerahkan dia pada Kaka karena sebuah perjanjian yang sulit Aurora pahami.
Namun yang Aurora yakini adalah satu, sang papa sudah menjualnya pada Kaka.
Setega itulah pah, apa salah Rora!
Jerit Aurora sakit sungguh hatinya sangatlah hancur. Kenapa lagi-lagi harus sang papa yang menjadi alasan kehancuran dirinya.
Sialnya selama ini Kaka berpura-pura tak kenal dan masa bodo. Kaka mengurung dia hanya untuk tebusan seorang pengkhianat negara dan kerajaan menjadikan ia umpan agar orang tersebut keluar.
Itu artinya selama ini Kaka sudah tahu siapa dia tapi kenapa masih berpura-pura.
"Ak-aku membencimu Ka, aku sungguh membencimu sialan!"
Teriak Aurora menggelegar sambil membanting sebuah kotak kayu ke ujung sana.
Kotak itu tak lagi istimewa karena semuanya hanya sia-sia.
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...