
"Kenapa kalian tak memberi tahu saya hah!"
Marah seseorang pada dua gadis di depannya yang menunduk gemetar.
Mereka ketakutan karena baru kali ini mereka melihat dokter Candra semarah itu karena hal sepele.
"Maafkan kami dok, kami pikir gadis itu berbohong!"
"Saya sudah lama mencarinya, dan kalian!!"
Bentaknya lagi benar-benar murka. Bagaimana tidak marah jika selama ini dia mencari Vivi kemana-mana tak pernah ketemu bahkan jejaknya pun tak ada.
Dan sekarang gadis kecil itu datang padanya sialnya sang resepsionis malah terlambat menyampaikannya.
"Apa dia meninggalkan pesan?"
"Dia meninggalkan sebuah nomor telpon, sekali lagi kami minta maaf dok!"
"Berikan!"
Salah satu sang resepsionis memberikan sebuah kertas pada dokter Chandra. Dengan cepat dokter Candra mengambilnya.
Dokter Candra melihat nomor telepon yang tertulis di sana. Seketika bibirnya menyeringai membuat dua resepsionis merinding.
Tanpa berkata apa-apa Dokter Candra pergi karena ini sudah malam. Ia duduk di kursi kemudi sambil memandang nomor itu.
Ia tak menyangka jika keberuntungannya menghampiri dia. Ia ingin langsung menelepon namun urung karena ini sudah malam pasti Vivi sudah tidur.
"Ha .. Ha ..., anak buah sialan mereka tak becus mencari tapi ternyata ikan itu datang sendiri!"
Tawa yang begitu menyeramkan, entah apa yang ada di dalam kepala dokter tua itu. Terlihat penuh kelicikan dan siasat.
Ia sudah tak sabar menunggu hari esok dan bertemu dengan keponakannya.
Dokter Candra tak menyangka jika kakak nya begitu cerdik menyembunyikan keponakannya yang entah di mana selama ini tinggal.
Dia begitu terkecoh bahkan sudah mati pun mereka sangat menyusahkan dan kini harapannya tinggal Vivi. Dia harus bisa memenangkan hati Vivi bagaimana pun caranya.
Senyuman seringai tak lekas di bibirnya sampai dokter Candra sampai rumah.
"Pah, apa ada sesuatu yang membuat mu bahagia hari ini?"
Tanya istri dokter Candra membuat dokter Candra semakin mengembangkan senyumannya membuat sang istri semakin penasaran.
"Tebak mah, apa yang papa dapatkan?"
"Kenaikan jabatan, atau dapat mangsa baru!"
Dokter Candra menggeleng, ia tak dapat keduanya.
"Lalu!"
"Ini!"
Istri dokter Candra hanya bisa menautkan kedua alisnya bingung melihat sebuah nomor di selembar kertas.
"Papa selingkuh!"
"Sembarangan!"
"Lantas nomor siapa ini, nomornya saja jelek!"
"Mah, ini nomor Vivi!"
"Gadis itu datang sendiri mah,"
"Benarkah!"
"Ya, kenapa tak dari dulu gadis sialan itu datang, kita tak perlu menyewa detektif handal!"
Kesal Dokter Candra karena dia sudah banyak mengeluarkan uang begitu banyak.
__ADS_1
Sungguh detektif handal saja tak bisa melacak keberadaan Vivi entah siapa yang menyembunyikan keberadaan Vivi dan sekarang tiba-tiba Vivi muncul.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan pah?"
"Kita ke rencana awal!"
"Ok!"
"Sekarang papa cape, mau istirahat!"
"Baiklah suami ku, ayo kita tidur!"
Ucap sang istri menggandeng lengan sang suami. Sebentar lagi semuanya tercapai dan ia tak perlu takut lagi akan hal apapun.
.
.
Nampaknya bulan berganti mentari yang nampak masih malu-malu tersenyum.
Sinar yang masih terhalang oleh gumpalan salju yang turun.
Dokter Candra sendari tadi menghubungi nomor Vivi namun tak ada satupun panggilan yang di angkat. Bahkan, nomornya kini malah tak aktif membuat dokter Candra menjadi kesal.
"Sialan! berani sekali tak mengangkat telepon ku!"
Kesal dokter Candra membuat sang istri yang sedang berada di dapur langsung menghentikan aktivitas nya.
"Ada apa pah?"
"Gadis sialan itu tak mengangkat telepon ku!"
"Apa jangan-jangan nomor itu palsu!"
"Tak mungkin, papa udah lihat dari cctv jika memang Vivi yang mencari ku!"
"Walau wajah dia nampak berubah dewasa namun, papa tak salah mengenali!"
"Kita tunggu saja, mungkin dia sedang sibuk!"
Teriak seorang gadis berambut pirang sambil menuruni anak tangga.
"Pagi sayang!"
"Papa udah siapkan kan, keberangkatan ku ke Jepang!"
"Sudah dong sayang, papa udah siapkan semuanya!"
"Thank you papa!"
"See you!"
Gadis pirang itu mencium pipi kanan kiri sang papa dan sang mama. Lalu gadis pirang super manja itu pamit pergi karena ia harus berangkat ke kampus.
"Papa harus segera berangkat mah!"
"Baiklah, mama siapkan sarapan nya dulu!"
Pasangan suami istri itu memulai sarapannya dengan semangat baru karena sebentar lagi tujuan mereka tercapai tinggal menunggu waktu.
Mereka sudah menggenggam kartu aksesnya tinggal menggeseknya.
.
.
Vivi sendari tadi cemberut tak mau menjawab apapun ketika Edward bicara. Vivi sangat kesal sekali karena dari di bandara Edward menyita ponselnya dengan alasan tak mau ada yang menggangu ketika mereka liburan.
Alasan yang aneh yang benar-benar tak bisa Vivi terima.
Padahal Vivi menunggu sang om menelepon jika begini Vivi tak akan tahu. Namun, jika jujur Vivi takut Edward akan marah karena dia berkeliaran sendiri. Posisi yang serba salah namun Vivi tak bisa apa-apa.
__ADS_1
Ia hanya memilih diam saja marah percuma, jujur juga takut.
Edward biasa saja tak peduli dengan apa yang Vivi rasakan.
Masa bodo mau Vivi marah atau tidak karena ia sudah menyita ponselnya.
Perjalanan Jerman-Belanda memakan waktu satu jam tiga puluh menit. Waktu yang singkat bagi Vivi namun waktu yang lama bagi Edward.
Tujuan Edward saat ini menuju desa Kinderdijk. Di sana Edward dan Vivi di sambut hangat oleh seseorang yang entah siapa Vivi tak tahu.
Seorang perempuan mungkin usianya setara dengan Edward tersenyum ramah.
Mereka di bawa ke sebuah Villa tak jauh dari desa Kinderdijk supaya memudahkan Edward nanti ke sana.
"Selamat honeymoon, semoga Ed junior segera hadir!"
Bluss ...
Wajah Vivi seketika memanas mendengar bisikan wanita itu. Namun, cukup terdengar jelas di telinga Vivi.
Edward menatap tajam wanita yang selalu menjengkelkan di hadapannya ini.
"Jangan dengarkan, ayo masuk!"
Cetus Edward berjalan menuju pintu Villa. Vivi tersenyum kaku tak tahu harus bersikap apa.
"Eva!!!"
Teriak Edward kesal melihat Eva membisikan sesuatu entah apa pada Vivi karena dia sudah ada di depan pintu.
"Ingat, monster itu bisa lunak jika kau menurut!"
Bisik Eva sebelum ia benar-benar pergi karena tak mau di semprot Edward. Vivi hanya tersenyum saja melihat kepergian Eva yang terbirit-birit ketakutan melihat tatapan tajam Edward.
Vivi menunduk menghampiri Edward yang ternyata sudah membawa kopernya.
"Jangan dengarkan apapun yang di katakan Eva!"
Tegas Edward membuat Vivi mengangguk saja.
"Tapi, ngomong-ngomong siapa dia?"
"Istri Qennan!"
"Hah!"
Vivi sungguh terkejut mendengarnya, Vivi pikir tadi Eva teman atau-
"Hey, jangan mematung di situ cepat kesini!"
Teriak Edward membuat Vivi tersentak, ia langsung berlari kecil menyusul Edward yang masuk kedalam sebuah kamar.
Deg ...
Vivi diam mematung di ambang pintu melihat isi kamar itu.
Begitu banyak taburan bunga di lantai begitu pun di atas ranjang di mana kelopak-kelopak bunga tersebut berbentuk love.
Sungguh, kamar yang cocok untuk sepasang suami istri yang bulan madu namun tidak dengan mereka.
"Abaikan saja, itu ulah Eva!"
Ketus Edward melihat reaksi Vivi yang sangat berlebihan.
"Istirahat lah, aku akan keluar sebentar!"
Ucap Edward langsung keluar tanpa menunggu jawaban Vivi.
Edward mengepalkan kedua tangannya kuat sangat murka dengan apa yang Eva lakukan. Gadis itu benar-benar membuat mereka jadi canggung, jika ketemu Edward tak akan melepaskan nya.
Untuk itu Edward memilih berbelanja saja untuk keperluan mereka selama di sana.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...