Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 135 K: PC 2 (Alasan)


__ADS_3

Edward berusaha menjaga kesehatan dirinya agar dia bisa tetap menjaga sang istri juga.


Sudah tiga hari pasca kejadian itu kini Vivi memaksa ingin pulang.


 Vivi memang tak membahas masalah om nya pada Edward. Edward pun hanya diam saja membiarkan dan menunggu Vivi cerita sendiri.


Walau pada kenyataannya Vivi lebih banyak diam bahkan melamun. Kondisi pisiknya memang mulai membaik namun tidak dengan mentalnya yang masih sama.


Jika di biarkan terus begini Edward takut sang istri semakin parah dan kembali seperti dulu lagi. Seperti nya Edward sendiri yang harus memulai akan semuanya.


Edward tak akan membiarkan Vivi terus menerus murung seperti itu, Edward ingin Vivi kembali bangkit dengan semangat 45 nya.


Bukan Vivi yang hanya duduk diam dengan pandangan kosongnya.


Puk ..


Edward menepuk pundak Vivi membuat Vivi terperanjat.


"Maaf!"


Sesal Edward melihat Vivi se-kaget itu, padahal ia sangat pelan menepuknya.


"Mau ikut?"


Tawar Edward mengulurkan tangannya, Vivi membisu dengan tatapan dingin nya. Edward dengan setia menunggu Vivi meraih tangannya.


Huh ...


Vivi menghela nafas halus menatap uluran tangan Edward. Perlahan ia meraihnya membuat Edward tersenyum.


Vivi mengikuti kemana saja Edward melangkah, ia tak bertanya karena enggan.


Cklek ...


Edward membuka sebuah pintu ruangan yang begitu sangat luas. Banyak sekali benda-benda yang di tutupi kain putih dari mulai yang terkecil hingga yang besar entah apa di balik kain putih itu.


Vivi menatap ruangan yang cukup luas dengan banyaknya lukisan yang menghiasi ruangan itu.


Bau cat begitu kental membuat Vivi tahu jika ini ruangan khusus lukis.


"Bagaimana apa semua karyaku bagus?"


Tanya Edward membuat Vivi berbalik menatap Edward inten. Vivi baru tahu ternyata Edward punya bakat melukis.


"Bagus!"


Jawaban singkat dan cepat namun terdengar dingin membuat Edward tersenyum kecut. Edward duduk di salah satu kursi membiarkan Vivi menelusuri setiap lukisannya hingga mata Vivi terpaku pada benda-benda yang di tutupi kain. Benda-benda itu berjajar rapi dari yang mulai tinggi hingga pendek. Vivi yakin itu juga lukisan namun lukisan apa karena rata-rata lukisan Edward menggambarkan langit yang cerah dengan sebuah taman yang indah.

__ADS_1


"Bukalah!"


Karena sudah mendapat izin dari Edward Vivi membuka kain putih tersebut.


Srett ...


Selembar kain merosot dengan perlahan membuat mata Vivi nampak fokus.


Deg ...


Tubuh Vivi mematung melihat lukisan di depannya. Entah dorongan dari mana Vivi membuka semua tutup kain tersebut satu persatu.


Vivi terpaku dengan jantung berdetak lebih kencang dari biasanya menatap sebuah lukisan di mana ada seorang gadis yang sedang berdiri di balkon sana menggunakan pakaian pasien ada juga yang sedang menunduk menenggelamkan kepalanya di sudut ruangan.


Seorang gadis yang berjongkok memegang sebuah bunga dengan senyum cerahnya.


Seorang gadis yang tertidur belaras rumput dengan bunga-bunga mengelilinginya.


Seorang gadis memutar tubuhnya menggunakan alat skiding dengan tangan terentang wajahnya yang tersenyum membuat lukisan itu semakin sempurna.


Vivi tahu betul siapa gadis yang berada dalam lukisan itu, semuanya dirinya tentang dirinya dari mulai ekspresi sedih hingga bahagia.


Sungguh Vivi tak menyangka Edward melukis tentang dirinya. Bahkan pakaian pasien itu Vivi tahu betul, itu pertama kali ia menginjakan kaki kedalam lingkaran kastil ini.


Sebuah tangan melingkar di kedua sisi pinggang Vivi. Vivi hanya diam saja ketika Edward memeluknya dari belakang menyimpan dagunya di bagian pundak kanan Vivi.


"Semua tentang kamu, aku tak pernah berbohong tentang perasaan ku!"


"Aku tahu, semua yang terjadi sudah di rencanakan!"


"Aku tahu semua yang kamu lakukan, aku sudah memperingati mu agar tak pernah mencari tahu tentang sebuah ALASAN namun nyatanya kamu memaksa. Aku yang merencanakan pertemuan kalian dan aku juga di balik petunjuk yang kamu dapatkan. Aku tahu yang aku lakukan salah, namun apa boleh buat kamu yang memaksa biarlah kamu tahu sendiri alasan itu dari orang yang kamu percaya. Jangan salahkan diri kamu atas kehilangan baby kita, yang kamu pantas salahkan adalah aku! Aku yang menempatkan kamu dalam posisi ini!"


"Kenapa kamu memilih diam dan membiarkan aku seperti ini?"


"Karena aku tahu, kamu tak akan percaya karena tak ada bukti apalagi hati kamu masih membenci kedua orang tuamu!"


Vivi mencengkram erat kerah kemeja Edward dengan tatapan tajam namun penuh genangan air mata. Cengkraman Vivi semakin erat dengan air mata yang keluar.


Rasa sakit itu kembali bukan tapi masih sama membuat Vivi sesak.


Lima belas tahun ia membenci semuanya, hingga membuat kepercayaan pada siapapun hilang dan kini ia harus tahu kebenaran sesungguhnya.


Kedua orang tuanya bukan membuang dia, tak berniat menempatkan Vivi dalam perjalanan hidup menyakitkan.


Mereka hanya ingin melindungi dari iblis sesungguhnya karena Vivi pemegang aset semuanya.


Walau cara mereka salah tapi itu yang terbaik menurut mereka kala itu. Kondisi yang menyempit membuat mereka tak bisa berpikir dengan jernih hingga pada akhirnya harus seperti ini.

__ADS_1


"Marahlah pada ku, aku akan menerimanya karena aku alasan mereka semua pergi!"


Vivi menangis di dada bidang Edward meluapkan kesesakan yang menyakitkan.


"Kenapa?"


Isak Vivi bertanya tentang semuanya, tapi apalah daya semuanya sudah terjadi dan siapa yang pantas di salahkan.


Itu sudah takdir dan ketetapannya, toh semuanya tak bisa di kembalikan yang sudah terjadi biarlah terjadi terakhir kita hanya bisa menerima.


Edward tak salah, ia juga hanyalah korban dan tak tahu apapun tentang semuanya. Begitu juga dengan Vivi mereka sama-sama korban keluarga yang serakah atas semuanya.


"Maafkan aku!"


"Maafkan atas semuanya!"


Ucap Edward menjatuhkan dirinya sendiri membuat Vivi terkejut.


Kenapa harus Edward alasan kehancuran orang-orang tersayangnya.


Kaka, Cherry, tuan pertama dan sekarang Vivi. Edward selalu menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi karena semuanya tak akan terjadi jika kedua orang tuanya tak berulah dan tak bersekutu.


"Kenapa?"


"Maafkan aku!"


"Dari semuanya yang terjadi kenapa kau tak marah akan baby kita?"


Teriak Vivi menjatuhkan diri mengguncang tubuh Edward.


"Apa aku harus marah sedang baby pergi karena diriku, katakan apa aku sebuah kutukan!"


Deg ...


Vivi terkejut dengan apa yang Edward katakan, Vivi lupa Edward juga tersiksa atas semuanya. Setiap malam selalu menyalahkan diri sendiri atas semuanya, berandai dia tak di lahir kan mungkin kedua orang tua Vivi tak perlu melindunginya. Berandai dia tak di lahir kan mungkin Edward tak akan menanggung malu atas apa yang kedua orang tuanya lakukan.


Edward pikir, dia adalah sebuah kutukan yang membuat semua orang di sekitarnya hancur.


Terlepas dari kedua orang tuanya pergi emang Vivi membenci Edward karena bagi Vivi Edward memang sebuah kutukan yang membuat bencana ini terjadi. Namun kehilangan baby mereka Vivi tak menyalahkan Edward dia menyalahkan dirinya sendiri karena tak menyadari kehadiran anaknya sendiri. Dia ibu yang jahat yang tak bisa melindungi baby nya malam menempatkan anaknya dalam masalah hingga pergi.


"Aku memang membenci kamu, sangat. Tapi sialnya aku tak bisa terus membencimu terlebih cinta yang kamu berikan, ak-aku hanya takut kamu meninggalkan ku sama seperti mereka!"


"Tidak, aku tidak akan meninggalkan kamu bagaimana bisa aku meninggalkan kamu sedang kamu alasan cahaya itu!"


"Jangan tinggalkan aku!"


"Tidak akan!"

__ADS_1


Bersambung ....


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2