
Farhan dan Queen tak bisa membendung kebahagiaan nya ketika ia mendengar jika Shofi sedang hamil. Sungguh ini kabar yang sangat membahagiakan.
Saking bahagianya Queen meminta sang suami untuk berkunjung ke Jerman Queen ingin bertemu dengan putra dan menantunya.
Tentu Farhan menyetujui itu seolah tuhan berpihak padanya.
Bahkan detik ini juga Farhan mempersiapkan keberangkatan dirinya dan sang istri.
Aurora hanya bisa menggelengkan kepala melihat antusiasnya sang Bunda mendengar kebahagiaan ini.
Tanpa sadar Aurora mengelus perutnya yang rata membuat Aurora tersentak kaget.
Sial, apa-apa ini!
Batin Aurora mengepalkan kedua tangannya erat. Bayangan menyeramkan itu kembali muncul entah kenapa semenjak mimpi sialan itu membuat pikiran Aurora kusut.
Tinggal Aksara dan Aurora saja yang tak ikut karena Aksara tak mungkin ikut pergi juga karena harus mengurus perusahaan.
Aurora sedikit bahagia karena tak ada kedua orang tuanya membuat Aurora bebas melakukan semuanya apalagi Aksara jarang pulang kerumah karena dia menginap di apartemen.
Aksara memilih tinggal di apartemen karena tak mau bulak-balik ke kampus dan ke kantor yang jarak rumahnya terlalu jauh dengan kampus.
Setelah semuanya pergi kini Aurora bereaksi di mana memang Aurora di beri libur oleh Farhan tak masuk kantor karena sudah membuatnya puas.
Aurora segera menyalakan laptop nya yang sudah lama terbengkalai itupun Aurora sembunyikan karena takut semuanya terbongkar.
Beberapa email terus muncul entah sudah berapa ribu email yang masuk. Bayangkan saja selama tujuh tahun Aurora tak berani membuka laptop rahasianya.
Pandangan Aurora fokus dengan tatapan menajam melihat deretan-deretan tulisan yang di kirim oleh profesor dan kaki tangannya di sana.
Entah apa yang sedang Aurora lakukan gadis itu nampak serius menarikan jari-jari lentiknya di atas keyboard.
Satu persatu Aurora balas dengan teliti dan seksama karena ini menyangkut hidup orang banyak. Otak cerdasnya terus berpikir dan memutar mencari solusi masalah yang rumit.
Ada satu email berkode khusus yang tak berani Aurora buka karena Aurora tahu email itu mengandung racun yang bisa saja seseorang bisa melacak keberadaan nya jika ia membuka email itu.
"Perpeck!"
Gumam Aurora tersenyum manis ketika ia sudah membalas semua email dari profesor dan teman-teman dokternya.
Aurora sangat senang jika rumah sakit yang ia dirikan berkembang pesat dan maju bahkan sampai sejajar dengan rumah sakit milik kakak iparnya itu.
Prestasi Aurora tak bisa di ragukan lagi namun semua itu tak lekas dari berkat profesor tercintanya itu.
Aurora memang sengaja menyembunyikan hal yang satu ini dari siapapun bahkan tak ada yang tahu termasuk Shofi sendiri.
Mendirikan rumah sakit yang bermula bangunan terbengkalai Aurora sulap menjadi rumah sakit gratis di mana bangunan itu memang berdiri di tengah-tengah kota pinggiran Jerman.
Sebuah kota kecil yang penduduknya rata-rata kelas menengah ke bawah.
__ADS_1
Tapi lihatlah hasil kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil yang sempurna.
Bahkan dulu yang asalnya kota kecil dengan masyarakat pengangguran kini berubah menjadi masyarakat pekerja di mana memang Aurora juga sengaja menciptakan lapangan kerja di kota itu agar tak ada lagi orang kelaparan.
Di kota itu Aurora sangat di sanjung bagi mereka Aurora adalah malaikat keberuntungan.
Bermula ketika Aurora berkunjung sembilan tahun silam ketika Aurora jalan-jalan bersama uncle Smith.
Aurora menelusuri setiap sudut kota pinggiran Jerman mencari sesuatu di sana siapa sangka yang awalnya mencari sebuah tanaman langka yang akan di uji coba ternyata menuntun Aurora menuju keberuntungan dan di sanalah gelar dokter Jingga itu berada.
Mengingat itu semua membuat Aurora teringat akan baby mungil yang ia selamatkan tujuh tahun silam dengan keadaan mengenaskan.
Aurora yakin putri cantiknya pasti sudah tumbuh menjadi gadis pintar.
Ezilla!
Nama itu Aurora berikan pada baby mungil yang penuh luka tersangkut di ranting-ranting sungai yang kala itu sedang banjir.
Mereka hanya bisa berkomunikasi lewat via vidio call saja.
Ketika Aurora di Jerman ia sibuk sebenarnya harus pulang pergi melihat putrinya yang cantik sampai tiga hari berturut-turut Aurora bergadang.
Walau tak ada ikatan darah di antara mereka namun Aurora sangat menyayangi Ezilla. Bagi Aurora Ezilla adalah sebuah keberuntungan yang nyata.
Hadirnya baby mungil itu menjadi penyemangat dirinya dikala ia rapuh. Bahkan Aurora selalu berkomunikasi jika ada kesempatan.
Itulah kenapa Aurora melarang siapapun masuk ke ruangan jika tanpa izin dirinya termasuk Dom sendiri.
Karena tak ada yang tahu bagaimana kehidupan Aurora saat di Amerika dan di Jerman. Gadis itu terlalu tertutup pada orang luar.
"Sabar ya nak, sebentar lagi kita akan bersama!"
Gumam Aurora melihat photo-photo Ezilla dari mulai baby hingga beranjak jadi gadis manis.
Aurora menitipkan Ezilla pada Karl sang kaki tangan yang sekarang mengurus rumah sakit milik Aurora.
Aurora tidak tahu jika kepesatan berdirinya rumah sakit yang ia dirikan tak lepas dari campur tangan seseorang.
Entahlah, bagaimana reaksi Aurora jika tahu yang sebenarnya.
"Baik-baik ya sama Daddy!"
Monolog Aurora sambil tersenyum.
Ya, baby Ezilla memanggil Karl sang Daddy karena gadis itu hanya tahu Karl adalah Daddy nya dan Aurora bundanya.
Tanpa Aurora sadari jika baby yang ia selamatkan suatu hari nanti akan kembali di ambil oleh kedua orang tua aslinya dan jika waktu itu tiba entah apa yang akan terjadi pada Aurora.
Aurora sudah sangat menyayangi baby itu karena Ezilla bagai obat kekuatan Aurora selama ini.
__ADS_1
"Kakak!"
Deg ...
Aurora terkejut ketika mendengar suara Aksara di luar. Dengan cepat Aurora mematikan semua laptop nya dan menyimpannya di tempat aman.
"Kak!"
Suara Aksara semakin mendekat membuat Aurora secepat kilat membereskan semuanya.
"Ada apa?"
Kening Aksara mengerut melihat wajah sang kakak yang tegang dengan nafas yang tak teratur seperti habis lari maraton.
Aksara masa bodo karena ia ada meeting dan ia butuh flashdisk yang tadi Aurora pinjam lupa di ambil kembali.
"Mana flashdisk tadi, Aksa butuh itu!"
"Sebentar Kakak ambil dulu!"
Dengan cepat kilat Aurora berlari sambil menutup pintu kamarnya membuat Aksara bertambah bingung dengan tingkah kakak cantiknya itu.
"Ini!"
"Kakak kenapa?"
"Gak, adek pulang jam berapa?"
"Seperti nya adek gak pulang kerumah, kakak gak apa kan sendirian!"
"Gak apa, sana berangkat!"
"Hm,"
Sudah mendapatkan flashdisk nya Aksara segera pergi karena ia sudah sangat telat.
Aurora bernafas lega melihat Aksara sudah pergi. Untung saja Aksara tak berani menerobos kamarnya jika yang di depannya Fatih sudah jadi mereka akan ribut.
Karena Fatih satu-satunya orang yang berani masuk ke kamar Aurora tanpa permisi.
"Hampir saja!"
Lega Aurora sambil mengelus dadanya yang sudah jantungan sendari tadi.
"Seperti nya aku harus lebih hati-hati!"
Aurora kembali menutup pintu kamarnya pelan.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...