
"Kaka, kapan menjelaskannya dari tadi diam terus!"
Kesal Aurora yang ingin tahu kenapa Arsen bisa bersama Kaka lalu di mana Vivi.
Bahkan sendari kemaren Kaka terus menghindar dari pertanyaan itu membuat Aurora kesal.
Dan kesabarannya kini sudah habis karena Aurora tak bisa menunggu lagi.
"Kenapa kau cerewet sekali, hm. Nanti!"
"Dari kemaren nanti-nanti mulu!"
Ketus Aurora mengencangkan pijatannya membuat Kaka meringis.
"Pelan-pelan, kau mau menyiksaku!"
Geram Kaka menatap tajam Aurora yang sengaja.
Aurora memang sedang melakukan pijat di kedua kaki suaminya supaya cepat sembuh dan peredaran darahnya lancar.
"Habis kau selalu berbohong!"
"Siapa yang berbohong, cuma bilang nanti!"
"Sama saja!"
Aurora kembali melakukan pekerjaan menggerak-gerakkan ringan pergelangan kaki sang suami.
Seperti nya ini akan cepat sembuh apalagi Aurora yang melakukannya.
"Cobalah gerakan sendiri!"
Perintah Aurora membuat Kaka mencoba menggerakkan kakinya. Terasa berat dan ngilu namun Kaka terus mencobanya.
"Kalau masih sakit jangan di paksa!"
"Aku bisa!"
"Cih!"
Aurora mendelik malas baru sadar jika suaminya sangat keras kepala dan tak suka di bantah.
"Sudah-sudah, begini cukup!"
ucap Aurora menghentikan usaha Kaka yang terlihat kesakitan. Walau bisa sedikit setidaknya itu kesembuhan yang sangat cepat mengingat baru satu minggu mereka melakukan pengobatan akupunktur.
"Gerakan perlahan saja jangan terlalu di paksa!"
"Hm!"
Aurora kembali menurunkan celana panjang Kaka yang memang sempat di gulung agar memudah kan Aurora memijat.
"Kemari lah!"
Perintah Kaka ketika Aurora sudah selesai membereskan alat-alat medisnya.
Aurora mendekat duduk di bibir ranjang namun Kaka menepuk tempat di sebelahnya membuat Aurora menurut saja dari pada Kaka marah.
Kini mereka berdua duduk berdempetan sambil menyandarkan punggung mereka kesadaran ranjang.
"Apa kau lelah?"
"Sedikit!"
"Apa kau bahagia!"
Emm,,, ak-aku!"
"Katakan apa yang kau inginkan!"
Potong Kaka mengerti Aurora belum bisa menjawab ke arah sana.
__ADS_1
"Banyak!"
"Katakanlah!"
"Aku tak tahu, terlalu banyak yang aku inginkan!"
Ucap Aurora menatap lurus ke depan sana walau tak ada hal yang menarik.
"Menjadi seorang dokter adalah cita-cita ku, menolong orang adalah kehausan ku. Aku ingin mengembangkan rumah sakit yang aku dirikan. Di sana kekurangan tenaga medis sedang di sana banyak warga yang membutuhkan. Tapi sebelum itu aku butuh belajar lagi dari profesor Tuner!"
"Ada lagi!"
"Bertemu Vivi, entah di mana sahabat ku itu aku butuh dia memutuskan semuanya!"
"Ada lagi!"
"Apa ya, aku tak tahu!"
Bingung Aurora karena terlalu banyak terutama Aurora sudah sangat rindu pada putrinya namun Aurora segan mengungkapkan itu karena pasti Kaka akan mempertanyakannya.
"Rumah tangga apa yang kau inginkan!"
Deg ...
Aurora terkejut atas pertanyaan itu karena Aurora tak pernah berpikir kesana.
Rumah tangga seperti apa!
Pertanyaan itu bak bongkahan yang menghantam dadanya. Sungguh Aurora cuma berpikir santai, jalani itu saja.
Melihat keterdiaman Aurora membuat Kaka tersenyum kecut. Nyatanya membangun sebuah rumah tangga tak ada dalam otak istrinya. Padahal, bukankah setiap orang selalu memimpikan rumah tangga yang seperti ini dan itu.
Jika seperti ini, pikiran mereka tak akan sejalan. Kaka bisa saja mengabulkan setiap apa permintaan Aurora detik ini juga namun jika hanya keinginan Aurora yang terkabul bagaimana dengan keinginannya.
"Maaf!"
"Untuk apa!"
Aurora kembali terdiam bingung harus mengatakan apa membuat Kaka lagi-lagi tersenyum kecut.
Seperti nya hanya Kaka seorang yang berusaha tapi tidak dengan Aurora.
"Bersiaplah ada seseorang yang ingin bertemu!"
Ucap Kaka mencoba baik-baik saja di mana langsung menekan remote hingga pintu sana terbuka.
Hanz dan Qennan masuk seperti biasa mereka membantu sang lord duduk di atas kursi roda.
"Ku tunggu di luar!"
Aurora ingin bicara namun Kaka sudah terlebih dahulu keluar.
Aurora menghela nafas berat apa ia salah bicara hingga membuat Kaka berubah. Aurora sadar akan perubahan sikap Kaka yang menutupi sesuatu.
Namun Aurora mencoba menepisnya ia segera bersiap karena takut Kaka menunggu lama.
Entah siapa yang ingin bertemu dengannya membuat Aurora penasaran juga.
Kaka selalu punya kejutan untuknya walau pada akhirnya hanya meninggalkan sebuah penjelasan.
Sudah bersiap Aurora bergegas keluar langsung di sambut oleh senyum hangat Kaka.
Mereka memasuki lift biasa membuat Aurora sekarang menjadi hapal letak dan tempatnya.
Bangunan ini bukan hanya seperti labirin namun juga penuh jebakan dimana jika kita tak tahu kita hanya akan masuk keruang kosong atau pintu palsu.
Sampai di mana mereka sampai di lantai bawah.
Kosong!
Itulah yang pertama Aurora lihat, di ruangan ini tak ada siapapun membuat Aurora menatap Kaka bingung.
__ADS_1
"Pergilah ke taman sana, di sana orangnya menunggu!"
Ucap Kaka tegas membuat Aurora nampak ragu namun Kaka mendorongnya membuat Aurora mau tak mau pergi ke taman sana.
Pintu kaca itu terbuka hingga nampaklah taman yang begitu luas nan indah. Aurora masuk seperti masuk ke taman negri dongeng karena memang taman ini tidak seperti taman pada umumnya. Dimana sebuah taman bukankah selalu di ruang terbuka berbeda dengan taman yang Kaka maksud. Taman yang berada di sebuah ruangan kaca di mana pada siang hari atap di atas sana akan di buka.
Aurora di buat takjub melihat ada bermacam tanaman bunga dari berbagai negara belum selesai rasa takjub itu Aurora benar-benar di buat terpesona melihat ada banyaknya tamanan obat-obatan juga di sana bahkan tanaman terlangka pun ada sungguh Aurora benar-benar tak menyangka jika ia bisa melihat salah satu tanaman langka yang pernah ia cari beda di sini.
Buru-buru Aurora tersadar dengan rasa takjubnya ketika teringat ada seseorang yang menunggunya.
Aurora mencari seseorang di taman luas ini hingga langkah Aurora terhenti ketika melihat punggung seseorang.
Aurora menautkan kedua alisnya seolah punggung itu begitu familiar baginya namun Aurora menepis itu karena tak mungkin.
Aurora mencoba mendekat guna bisa menyapa.
"Excuse me!"
Ucap Aurora lembut membuat orang yang sedang berdiri meresapi harumnya bunga seketika menegang mendengar seseorang menyapanya.
Suara itu!
Deg ...
Aurora maupun Vivi terdiam mematung menatap tak percaya satu sama lain.
Aurora dan Vivi refleks keduanya mengucek kedua mata mereka seolah memastikan jika apa yang mereka lihat benar-benar nyata bukan ilusi.
"Ra!"
"Vi!"
Ucap keduanya sama-sama rindu memeluk satu sama lain.
Sungguh mereka berdua tak menyangka jika akan di pertemukan di sini.
"Ra, hiks ..!"
"Kau baik-baik saja, ak-aku pikir kam--"
Sungguh Vivi tak bisa membendung tangis harunya melihat keadaan Aurora yang nampak baik-baik saja. Vivi pikir Aurora akan bernasib sama seperti dirinya nyatanya tidak.
"Ak-aku pikir kamu terluka, apa iblis itu menyakiti mu! maafkan aku!"
Ucap Vivi sambil memeriksa keadaan Aurora takut ada yang lecet sedikitpun.
Aurora nampak bingung dengan apa yang Vivi maksud. Iblis, siapa! Ada apa dengan Vivi, bingung Aurora.
"Hey, kamu kenapa aku baik-baik saja!"
"Aku takut kamu terluka!"
"Aku baik-baik saja!"
Tegas Aurora memegang bahu Vivi yang terguncang membuat Aurora benar-benar bingung.
"Tenang dulu, baru bicara!"
Ucap Aurora lagi membuat Vivi mencoba mengendalikan emosinya. Bahkan berkali-kali Vivi mengambil nafas lalu membuangnya.
"Semuanya karena aku!"
"Apa nya!"
"Identitas kamu bocor!"
Duarrr ....
Aurora membulatkan kedua matanya tak percaya dengan apa yang Vivi katakan, seolah Aurora ingin menyangkal itu.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...