
Kaka melirik jam pergelangan tangannya waktu sudah pas berangkat namun Aurora belum muncul juga.
Tak ... Tak ...
Terdengar langkah kaki menuruni anak tangga karena lupa tak menggunakan lift.
Kaka perlahan berbalik menatap ke arah tangga.
Deg ....
Kaka terpaku melihat bidadari berjalan anggun menghampirinya. Gaun yang pas di tubuh ramping Aurora. Penampilan yang berbeda membuat Kaka benar-benar tak bisa berpaling.
Gaun yang begitu kontras dengan kulit putih Aurora tanpa celah.
Aurora gugup di tatap begitu apalagi ia tak begitu nyaman memakai gaun yang memperlihatkan salah satu bahu mulusnya dengan belahan memperlihatkan betis indahnya.
"Cantik!"
Satu kata meluncur dari bibir Kaka membuat Aurora mengeluarkan semburat merah.
Bukan hanya Kaka yang terpaku Aurora pun sama melihat penampilan sang suami yang begitu gagah memakai kemeja yang senada dengan gaunnya.
Satu tangan di masukan kedalam saku dengan satunya lagi memegang jas.
Perpeck!
Satu kata buat mereka yang begitu memukau dengan penampilannya masing-masing.
Kaka menekukkan tangannya membuat Aurora mengerti segera mengalungkan tangannya ke tangan Kaka.
Mereka berjalan ke luar di mana sudah ada mobil terparkir menunggu mereka.
Aurora merasa tersanjung ketika Kaka membukakan pintu untuknya. Apa begini rasanya di artikan oleh orang yang tepat. Hal kecil namun membuat Aurora terasa berbeda.
"Kita mau kemana?"
"Lihat saja nanti!"
Aurora mencebikkan bibirnya kesal karena Kaka selalu saja menjawab begitu. Apa salahnya ia memberitahu agar Aurora tak penasaran.
Sungguh Aurora tak mengerti caranya berbuat romantis semuanya harus serba instan.
Perjalanan malam ini nampak damai seolah mendukung mereka.
Hingga mereka sampai di sebuah hotel di mana para ajudan di sana bersiap menyambut kedatangan sang Jendral.
Kaka membawa Aurora ke acara penyambutan kembalinya dirinya dan misi yang sudah terselesaikan.
Karpet merah terbentang menyambut kedatangan sang Jendral membuat ajudan sana memberi hormat.
Aurora yang melihat penyambutan ini sangat terkejut pasalnya Kaka benar-benar tak memberitahu dia tentang ini.
Bagaimana cara Aurora berbaur dan bersikap di depan pada komandan-komandan dan jendral lain yang tentu ada di acara ini juga.
__ADS_1
Aurora mengeratkan pelukan lengannya karena tak nyaman dengan semuanya.
"Rileks sayang!"
Bisik Kaka membuat Aurora mengupat, jika tahu sejak awal ia tak akan ikut karena memang sejatinya Aurora tak pernah ikut-ikutan ke acara pesta atau apalah selama hidupnya.
Aurora lebih suka menghabiskan waktunya di dalam lab karena itu hobi nya.
Bahkan ke acar pernikahan pun Aurora belum pernah dia hanya akan memberikan hadiah di awal.
Dan, cuma di pernikahan Fatih dan Shofi Aurora ada karena tak mungkin tak ada dan kini Aurora harus di hadapkan dalam situasi seperti ini.
Aurora paling benci acara begini karena dia harus pura-pura ramah dan sopan itu sikap yang menyebalkan baginya.
Sungguh Kaka benar-benar menguji kesabarannya. Andai saja tak menjaga image Kaka sudah di pastikan Aurora sendari tadi pergi.
"Jendral!"
Hormat Hanz terlihat gagah dengan balutan jasnya.
"Katakan, percepat acaranya istriku tak nyaman!"
Perintah Kaka membuat Hanz mengangguk lalu pergi entah kemana.
Aurora hanya diam saja berusaha tersenyum ketika ada yang menyapa sang suami.
Di sini sang suami begitu di hormati dan di segani membuat Aurora hanya diam saja tak bicara karena Kaka yang akan menjawab setiap ada yang bertanya.
Kaka terlihat posesif sekali membelit pinggang ramping Aurora supaya merapat padanya.
Namun apalah daya ia harus membawanya mengenalkan pada semuanya.
"Perhatian semuanya!"
Semua orang langsung berbalik ke arah podium di mana ada seseorang yang mengalihkan perhatian mereka.
Aurora hanya diam saja karena tak kenal, walau begitu ia menghargai acara sang suami karena ia harus terbiasa begini.
"Selamat datang kembali Jendral Al, mohon berkenan untuk memperkenalkan siapa wanita di samping Jendral?"
Aurora menautkan kedua alisnya ketika Kaka di panggil Jendral Al bulan Kaka.
Semua orang tertuju pada Kaka yang memang sempat sok melihat sang Jendral menggandeng wanita.
Padahal mereka tahu siapa Jendral satu ini, sangat dingin sedingin kutub Utara. Bahkan tak ada yang berani satupun wanita yang mendekatinya karena akan berakhir nama.
Tapi malam ini lihatlah, sang Jendral begitu terlihat berbeda bahkan pandangannya begitu lembut pada sosok yang sendari tadi ingin mereka tahu namun mereka tak berani mendekatinya.
Hanya orang-orang setara saja yang berani menyapa selain pada itu mereka tak berani mereka terlalu takut sok akrab dengan Jendral satu ini.
Kaka berjalan ke depan sambil menggandeng Aurora yang menurut saja. Walau Aurora tak nyaman ia terus berusaha menampilkan wajah yang terbaik.
Acara yang begitu megah untuk sebuah penyambutan membuat Aurora tak habis pikir. Apa seperti ini dunia militer, pikir Aurora.
__ADS_1
Suasana nampak hening ketika Kaka sudah berada di sana dengan Aurora.
"Terimakasih atas penyambutan kalian semuanya, saya merasa tersanjung akan ini!"
"Perkenalkan, dia istriku!"
Duarr ...
Semua orang nampak melotot tak percaya mendengarnya. Sejak kapan mereka menikah sedang mereka tahu sang Jendral sangat alergi dengan yang namanya pernikahan.
"Cerita kami memang sangat rumit, tapi saya sangat mencintai istri saya, dia Aurora Al-biru tentu kalian tahu siapa keluarga Al-biru!"
Belum selesai rasa keterkejutan mereka kini mereka di buat terkejut lagi oleh kenyataan yang ada.
Sosok putri Al-biru siapa yang tak tahu seorang putri pengusaha nomor satu di Asia bahkan juga Eropa. Sosok yang selama ini di sembunyikan identitas oleh king Asia dan sekarang sosok itu ada di hadapan mereka.
Pantas saja Auranya sangatlah berbeda ternyata dia keturunan Al-biru. Tentu mereka tahu karena dulu Farhan pernah di minta FBB untuk bergabung.
"Saya sangat menyayanginya, mencintainya dan dia satu-satunya wanita yang bisa membuat saya jatuh cinta!"
Woww ...
Mereka semua tak menyangka jika sang Jendral bisa seromantis itu.
Bahkan membuat Aurora tersipu dengan kata-kata manis itu. Sungguh Aurora tak menyangka jika Kaka akan mengatakan hal itu di depan semuanya.
Sungguh antara malu dan bahagia bercampur jadi satu. Sebelum nya Aurora tak pernah merasakan hal seperti ini ia benar-benar merasa di cintai sedalam mungkin.
"Nyonya ayolah katakan sesuatu!"
Teriak para ajudan Kaka berani walau mereka harus mendapat tatapan horor dari Kaka.
"Ak-aku!"
Gugup Aurora membuat Kaka menggeleng. Aurora menatap sang suami lembut membuat semua orang menunggu.
"Awalnya aku tak tahu siapa orang di hadapan ku ini. Dia laki-laki arogan, dingin, kaku dan kasar yang pernah saya kenal bahkan berani mendorongku sampai tak sadarkan diri!"
Glek ...
Mereka semua menelan ludah nya kasar mendengar cerita Aurora. Mereka pikir kisah mereka sangat romantis nyatanya sangatlah menyeramkan.
"Tapi, kini aku sadar jika dia hanya membutuhkan sedikit pengertian maka seluruhnya akan ia beri. Halnya dengan cinta kami, dia orang pertama yang mengenalkan ku apa cinta padahal aku tak mengerti. Aku ingin lepas darinya tapi ketika dia mencoba melepaskan ku perlahan aku tak mau!"
"Dan sekarang apapun yang terjadi aku ingin selalu mendampinginya!"
Prok ...
Prok ...
Semua orang bertepuk tangan antara haru dan juga miris. Sungguh ternyata perjalanan cinta mereka sangatlah luar biasa.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih .....