Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 28 Sachsen!


__ADS_3

"Vi, apa kamu sudah dapat kabar dari Aurora?"


"Belum, bahkan nomor nya juga tidak aktif!"


"Bagaimana ini, keadaan Zilla semakin memburuk!"


Ucap Karl di ujung telepon sana membuat Vivi terdiam. Ia juga bingung harus melakukan apa karena tak biasanya Aurora seperti ini. Bahkan nomor khususnya juga sama sekali tak bisa di hubungi.


"Karl lakukan apapun untuk menyelamatkannya. Jangan sampai terjadi sesuatu pada Zilla jika tak mau Aurora murka!"


Terdengar hembusan nafas kasar dari Karl begitu juga Vivi yang tak tahu lagi harus berbuat apa.


Setiap tahun Zilla akan seperti itu dan hanya Aurora yang bisa mengatasinya. Sungguh malang gadis itu.


"Ra, dimana kamu sebenarnya. Apa kamu baik-baik saja, aku harap kamu baik!"


Gumam Vivi meremas ponselnya kuat ketika Karl sudah mengakhiri teleponnya.


Vivi yakin pasti ada sesuatu yang terjadi sampai Aurora seperti ini. Vivi sangat paham betul bagaimana karakter sahabatnya itu.


Raut cemas dan panik terlihat jelas di mata Vivi. Entah apa yang sedang Vivi pikirkan seolah ada beban berat di hatinya.


"Kak!"


Deg ...


Vivi tersentak ketika suara lemah sang adik terdengar.


"Iya sayang!"


"Kakak kenapa melamun?"


"Tak apa, apa kamu sudah makan hm?"


"Sudah kak, tuh sudah habis!"


"Pintar!"


Vivi mengelus adik tampan satu-satunya yang menderita leukimia.


Vivi tak punya orang tua dan hanya sang adik yang Vivi miliki dan sangat menyayangi adik tampan nya ini. Apapun akan Vivi lakukan demi sang adik karena hanya sang adik yang Vivi miliki.


Mereka berdua tinggal di sebuah apartemen hasil jerih payah Vivi selama ini. Vivi berharap sang adik akan sembuh dari penyakitnya.


"Kembali ke kamar ya, kamu harus banyak istirahat!"


"Tapi aku bosen kak!"


"Ayo sama kakak!"


Ajak Vivi sambil menggandeng lengan sang adik.


.


Di sebuah menara tepatnya di salah satu kamar Aurora mengerjap-enjap kedua matanya. Bulu mata lentiknya mulai terbuka menyesuaikan cahaya yang mengendap-endap masuk lewat ventilasi.


Aurora mengedarkan penglihatan tanpa sadar akan sesuatu.


Huh ....


Aurora menghela nafas berat kenapa ia masih berada di dalam kamar terkutuk ini Aurora pikir ia sudah pindah ke alam surga walau ada sesuatu yang berbeda.


Ahhh ...

__ADS_1


Bugh ...


Jerit Aurora refleks menendang tubuh seseorang yang tidur di sampingnya.


Kaka menggeram marah dan sakit ketika bokongnya mencium lantai. Kaka menatap tajam Aurora yang waspada menaikan selimut menutupi dadanya.


"Ap-apa yang kau lakukan di atas ranjang ku?"


Gugup Aurora bercampur panik walau tak terjadi apa-apa.


Kaka bangkit sambil mengusap bokongnya menatap tajam Aurora.


"Kenapa kau bisa tidur di sini, apa yang kau lakukan?"


Ulang Aurora tak sabaran membuat Kaka menggeram tertahan.


"Pikir saja sendiri!"


Ketus Raja lalu beranjak pergi meninggalkan Aurora yang terdiam. Aurora berpikir apa yang terjadi pada ia kenapa ia bisa berbaring lagi di atas ranjang. Bukankah kemaren ia sudah sadar dan sempat berdebat dengan suami kertasnya itu.


Oh, sitt!!


Pekik Aurora tertahan ketika mengingat perdebatan kemaren yang berujung ia sakit kembali namun Aurora tak ingat kenapa suami kertasnya bisa tidur dengannya bahkan dengan keadaan telanjang dada.


"Apa aku demam!"


Gumam Aurora pada dirinya sendiri sambil memeriksa lehernya.


Seketika Aurora menangkup pipinya sendiri yang memerah menduga-duga apa yang terjadi.


"Apa dia melakuka ... Ahh Bunda!!"


Panik Aurora menepuk-nepuk pipinya yang semakin memanas karena menduga sesuatu. Apalagi memang posisi itu sangat pas Aurora tahu akan hal itu yang sama seperti ia lakukan pada Kaka dulu ketika Kaka demam.


"Tapi kenapa ia melakukan itu, bukankah dia!!"


Sebelum tahu maksud dari suami kertasnya Aurora akan tetap bungkam dengan semuanya karena itu juga bisa bahaya bagi seseorang.


"Aku butuh ponsel untuk semuanya, tapi bagaimana aku mendapatkannya jika keluar saja dari neraka ini tak bisa!"


Monolog Aurora kesal dia terus memutar otak agar bisa bebas dari semuanya.


Seketika senyum di bibir Aurora mekar membuat Kaka yang sedang memantau gerak-gerik Aurora dari layar laptop mengerutkan kening karena bingung dengan tingkah gadis itu.


Namun Kaka sedetik sempat terpaku melihat senyuman indah di hiasi gigi ginsul dengan lesung pipi yang menawan membuat gadis itu nampak berbeda.


Mata Kaka terus fokus menari kemana Aurora berjalan dan melakukan apa. Hingga sampai di mana Aurora menghilang di balik pintu kamar mandi baru Kaka menghela nafas berat.


"Ed!"


"Iya Lord!"


Edward langsung mendekat pada sang lord sambil membawa sebuah laptop keluaran tahun 2000 yang sudah di rancang khusus seperti nya di rancang oleh ahli.


Kaka membuka laptop itu lalu perlahan menyalakannya.


Mata Kaka menyipit menatap sebuah Poto di mana Aurora sedang menggendong anak kecil dengan rambut pirangnya sambil tersenyum memegang balon.


Kaka tidak terlalu jelas menatap wajah bocah kecil itu karena jarak memotret mereka seperti nya jauh.


Kaka menghela nafas mencoba mengerikan sesuatu sandi pada laptop itu namun sialnya sudah berapa kali percobaan selalu gagal.


Bagaimana tidak gagal jika laptop itu ada sidik jari dan sensor mata untuk membuka kodenya dan itu sangatlah sulit.

__ADS_1


"Seperti nya laptop ini bukan laptop sembarangan! Pantas saja Nyonya Semarah itu ketika lord menghancurkannya!"


Kaka terdiam dengan pikiran rumit terus menatap layar ponsel itu dang memperlihatkan layar sensor mata dan sidik jari.


Jika begini hanya Aurora yang bisa membukanya dan itu tak mungkin Aurora pasti sangat marah besar.


"Bagaimana dengan ponsel?"


"Ini aneh lord!"


Kaka menatap tajam Edward yang tak biasanya lambah dengan kasar Kaka mengambil ponsel di tangan Edward.


Kosong!


Itulah yang Kaka temukan bahkan tak ada satu Poto yang bersemayam di galeri atau data-data yang lain.


Kaka beralih pada kotak telepon di mana hanya ada beberapa nomor saja dengan bahasa Romawi.


Pantas saja Edward tak mengerti karena Edward memang tak mengerti bahasa Romawi apalagi bahasa Romawi kuno.


Satu persatu Kaka membuka pesan dari nomor tersebut. Begitu banyak pesan dan telepon yang masuk dengan kode-kode rahasia yang jika orang awam yang membukanya pasti tak akan mengerti.


Edward hanya diam saja melihat sang lord sedang mengotak-atik ponsel tersebut dengan raut wajah berubah-ubah membuat Edward penasaran namun tak berani.


Edward tersentak ketika melihat wajah sang lord yang nampak mengeras namun sepersekian detik berubah datar lagi.


Sungguh Edward sangatlah penasaran apa rahasia ponsel itu.


Brak ...


"Lord!"


Panik Edward melihat Kaka menjatuhkan ponselnya sambil menyandarkan punggung lebarnya kesadaran kursi dengan mata tertutup erat seolah sang lord sedang menahan sesuatu namun bukan amarah.


Bahkan dada sang lord naik turun membuat Edward cemas apa yang sebenarnya terjadi.


"Ed!"


"Iya lord?"


"Perintahkan Qennan untuk ke Sachsen, lindungi gadis yang bernama Vivi bersama adiknya!"


"Lord!"


"Sekarang! Akan ku kirim datanya!"


"Baik lord!"


Walau tak mengerti Edward melakukan titah sang lord dengan pikiran terus bergelut menerka-nerka apa yang terjadi.


Namun Edward tak seberani itu bertanya lebih yang ada dirinya kena imbas.


"Tuan!"


"Ke Sachsen sekarang!"


"Ada apa, apa ada pemberontak di sana?"


"Kau kesana Lord yang akan mengirim datanya langsung!"


Tut ...


Edward langsung mematikan ponselnya karena ia tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2