
Belum selesai acara Kaka memilih membawa Aurora pulang karena merasa kasihan melihat ketidak nyamanan sang istri.
Siapa yang benari melarang sang Jendral bahkan mencegah pun mereka tak berani.
Jendral mah bebas bukan!
"Kau lelah!"
"Sedikit!"
Cicit Aurora menyandarkan kepalanya di bahu kokoh sang suami.
Acara tadi benar-benar membuat Aurora lelah. Apalagi harus menunggu sang suami berbaur dengan rekan-rekan walau sebentar tapi meninggalkan ia seorang diri.
Kaka menggenggam lembut tangan sang istri, ia merasa lega sudah mengumumkan statusnya yang tak lagi lajang.
Kaka harus karena tak mau sesuatu hal terjadi jika ia tak mengumumkannya.
Cup ..
Kaka mengecup punggung tangan Aurora membuat Aurora hanya diam saja ngantuk. Entah kenapa setiap kali bersandar membuat Aurora merasa ngantuk, entah karena nyaman atau memang kelelahan.
Kaka tak menggangu ia membiarkan sang istri tertidur karena mengerti.
Kaka sudah terbiasa melek karena memang seperti itu.
Ini serasa mimpi bagi Kaka, awal yang begitu mengerikan sekarang ia bisa merasakan kebahagiaan kecil ini.
Bahkan Kaka tak pernah menyangka jika ia akan jatuh cinta pada wanita keras kepala dulu yang selalu melawan apapun titahnya.
Bahkan teringat jelas dulu Kaka menghempaskan tangan Aurora sampai Aurora tersungkur dan tak sadarkan diri.
Apa ia se-kasar itu dulu!
Sungguh Kaka tak berniat begitu namun Aurora yang memancing amarahnya. Karena sejatinya Kaka memang penuh cinta dan sayang.
Mobil yang memasuki mereka masuk kediaman membuat para ajudan langsung pergi.
Rumah Kaka memang di kelilingi ajudan di setiap sudutnya namun Kaka menyuruh mereka menghilang ketika ada Aurora. Kaka hanya tak ingin sang istri merasa tak nyaman saja dengan keberadaan mereka yang banyak.
"Emmz ..,"
Aurora menggeliat ketika Kaka menggendongnya ringan namun tak mengusik sama sekali.
Kaka membaringkan Aurora di atas ranjang king size itu dengan hati-hati.
Membuka sepatu dan juga mantel yang tadi di gunakan.
"Maaf sudah membuat mu lelah hari ini!"
Gumam Kaka tak lebih ia menyelimuti Aurora lalu ia beranjak guna mengganti pakaian nya.
Kaka tak langsung tidur ia malah pergi keruang kerjanya yang berada di lantai bawah.
"Jacob!"
Seseorang yang di panggil langsung menampakkan wajahnya.
"Jendral!"
"Bereskan semuanya, jangan sampai dia mengusik istriku!"
"Siap Jendral!"
Jacob langsung menghilang lagi membuat Kaka menghela nafas berat.
Sudah mengumumkan statusnya Kaka harus hati-hati karena tak tahu siapa lagi musuh yang akan menyerang dari belakang. Aurora tak tahu apa-apa Kaka tak akan membiarkan terlibat.
Namun, bagaimana bisa mengatasi istrinya sedang Kaka tahu istrinya bukan wanita biasa.
__ADS_1
Aurora mungkin menurut namun jiwa pemberontak nya akan keluar jika dirinya di usik.
Hari semakin larut membuat Kaka tak beranjak sedikit pun dari kursi kebesarannya. Entah pekerjaan apa lagi yang ia kerjakan kenapa sampai selarut itu.
"Kaka!"
Panggil Aurora menepuk-nepuk tempat di sebelahnya namun tak ada orang membuat Aurora memaksakan diri membuka kedua matanya.
"Kaka!"
Panggil Aurora lebih keras namun tak ada sahutan hanya ada keheningan saja.
Aurora menyibak selimutnya beranjak dari ranjang. Entah kemana suaminya pergi apa ia akan di tinggal lagi.
Mengingat Kaka suka pergi tanpa pamit membuat Aurora was-was apa Kaka meninggalkan ia lagi untuk kedua kalinya.
Aurora mulai panik ia keluar dari kamar guna mencari.
"Kaka!"
Teriak Aurora keras menggema di seluruh ruangan dengan perasaan tak menentu.
Kemana Aurora akan mencari sedang ia belum tahu selak beluk bangunan rumah ini.
Aurora membuka setiap pintu namun tak ada membuat Aurora terpaksa turun kelantai dasar.
"Kaka!"
Panggil Aurora mulai berkaca-kaca takut Kaka meninggalkannya lagi.
Jika itu terjadi Aurora bersumpah akan menghajar Kaka habis.
"Kaka kau di mana hiks ,,,"
"Sayang!"
Deg ..
Tanpa kata Aurora berlari kearah Kaka yang nampak diam mematung ketika sebuah tangan melingkar di pinggangnya.
Namun Kaka tersentak ketika mendengar isakan dari bibir tipis berisi ini.
"Sayang, kau kenapa?"
Tanya Kaka terkejut kenapa bisa istrinya menangis.
Tadi Kaka terkejut ketika melihat jam pergelangan tangannya karena ia sudah terlalu lama meninggalkan Aurora untuk itu ia keluar dari ruang kerja namun siapa sangka Kaka mendengar istrinya memanggil.
"Sayang!"
"Kau jahat hiks ,,,"
"Maaf, tapi kenapa?"
"Aku pikir kau meninggalkan ku lagi hiks,,"
Isak Aurora semakin mengeratkan pelukannya membuat Kaka mematung.
Benarkah istrinya takut kehilangan dia, sungguh senyum indah terbesit di bibir Kaka bukan menertawakan tangisan sang istri namun ia merasa bahagia sang istri benar-benar tak mau kehilangan ia.
Grep ...
Kaka menggendong sang istri ringan membuat Aurora semakin mengeratkan pelukannya. Entah kenapa Aurora sangat takut sekali Kaka pergi apalagi mimpi sialan itu sangat menyeramkan.
"Sudah jangan menangis terus, aku di sini!"
Aurora bungkam saja karena terlalu emosional antara kesal dan lega menjadi satu.
Kaka kembali membaringkan Aurora di atas ranjang namun tiba-tiba Aurora menahannya membuat jarak di antara mereka begitu intim.
__ADS_1
"Apa kau akan meninggalkan ku suatu hari nanti?"
Deg ...
Kaka terkejut mendengar kata itu bagaimana bisa sang istri berpikir seperti itu bahkan tak terlintas sedikit pun ia meninggalkan Aurora setelah semua yang terjadi.
Kaka menatap sang istri intens mencari apa yang terjadi. Hanya ada ketakutan di dalam manik hitam kecoklatan itu.
"Sayang!"
"Sentuh aku!"
Duar ....
Kaka membulatkan kedua matanya tajam mendengar kalimat sakral itu. Bahkan tenggorokan Kaka begitu tercekat seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Sayang jangan begini!"
"Sentuh aku hiks ,,,"
"Jadikan aku satu-satunya wanita di hidup mu bukan yang lain!"
Kaka benar-benar di buat bungkam dengan semuanya. Hati Kaka begitu miris mendengarnya. Bagaimana bisa Kaka membiarkan sang istri memohon seperti ini.
"Sayang, dengarkan aku!"
Tegas Kaka menghapus lelehan bening yang keluar dari pelupuk mata sang istri. Sungguh hati Kaka teriris melihatnya.
"Apa yang kamu takutkan, hm! Katakan?"
Aurora bungkam karena dia juga tak mengerti dengan dirinya sendiri.
Aurora hanya tak suka pada tatapan seseorang yang memuja suaminya apa lagi berusaha mepet di acara beberapa jam lalu. Di tambah sebuah mimpi yang membuat Aurora ketakutan dan di saat bangun suaminya tak ada seperti sebelumnya membuat semuanya menjadi kacau.
"Apa kau akan mencari yang lain, jika nampak kekurangan ku?"
"Tak akan sayang, kenapa jadi seperti ini?"
"Aku takut kau begitu! apalagi dia menatapmu berbeda!"
"Dia!"
Bingung Kaka menatap sang istri intens mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Tak mungkin Aurora bersikap seperti ini jika tak ada yang terjadi.
Apa ada sesuatu yang Kaka lewatkan di acara tadi sampai sang istri seperti ini.
"Kau di sini bersamaku!"
Kaka hanya diam saja dengan pikiran rumitnya ketika Aurora memeluknya posesif. Posisi seperti ini tak baik untuk Kaka tapi apakah daya Aurora malah begini.
"Sayang!"
"Hm!"
"Apa kau benar-benar siap memberikan hak ku!"
Deg ....
Tubuh Aurora menegang mendengarnya, kenapa sekarang jadi dia yang gugup bukankah tadi Aurora yang meminta bahkan sampai menangis.
Kaka menarik diri agar bisa melihat wajah sang istri dengan jelas. Mata sembab dengan hidung memerah gemas akibat menangis.
"Boleh aku memintanya?"
Aurora tetap bungkam dengan perasaan tak menentu. Kenapa sekarang jadi ragu padahal tadi tidak.
"Jika belum siap tak ap--"
"Lakukanlah!"
__ADS_1
Bersambung ..
Jangan lupa Like, Hadiah komen dan Vote Terimakasih ..