
"Sial, dasar bandot tua sialan!!!"
Maki seseorang membuka pakaian dan membanting ke segala arah lalu melangkah menuju kamar mandi guna menggosok bagian-bagian yang menurutnya sangat menjijikan.
"Akan ku bunuh kau, Sial .. Sial ..."
Makian terus keluar dari bibir seksi Eva dengan amarah yang tak bisa di bendung lagi. Hampir saja rencananya gagal dan membahayakan dirinya sendiri.
Ternyata bandot tua itu cukup cerdik walau Eva masih bisa lolos.
Eva terus saja membersihkan tubuhnya sedikit kasar karena tak Sudi tubuhnya di sentuh bandot tua itu walau tak lebih.
Tanpa Eva sadari sendari tadi sepasang mata menatapnya tajam dengan rahang mengeras mendengar segala umpatan Eva.
Perlahan ia masuk tanpa jejak hingga Eva sendiri tak sadar jika di dalam bahaya.
Deg ...
Eva menghentikan aktivitas ketika merasa ada sebuah tangan yang menelusuri punggung mulusnya.
Tak ...
Tinjuan yang dengan cepat di tangkis oleh sosok gagah yang menatap Eva tajam seolah mau mengikuti Eva hidup-hidup. Bahkan Eva membulatkan kedua matanya melihat siapa yang sudah berani menyelinap ke apartemen nya.
"Beraninya kau!"
Eva menelan ludahnya kasar seperti nya kali ini hidupnya benar-benar dalam masalah besar. Bahkan kini tubuhnya malah menggigil entah karena takut atau kedinginan karena air shower yang terus mengalir.
Bruk ..
Tubuh Eva di dorong keras hingga membentur tembok membuat Eva hanya bisa menahan sakit tak bisa melawan ketika kedua tangannya di kunci dengan bibir yang di bungkam kasar.
Eva pasrah mendapat serangan kasar secara tiba-tiba membuat ia tak bisa mengelak.
Ciuman kasar sedikit menuntut bahkan memaksa Eva membuka kedua mulutnya agar bisa mengekspos bebas rongga mulut Eva.
Eva kewalahan mengimbangi ciuman menggebu itu bahkan nafasnya terasa sesak namun seolah tahu ciuman itu berubah lembut sangat lembut membuat Eva hanyut dalam ciuman tersebut seolah lupa dirinya dalam bahaya.
Plup ...
Ciuman itu terhenti karena mereka berdua sama-sama kehabisan nafas. Kening mereka menyatu dengan benang Slavina yang membentang di antara bibir mereka.
"Kau begitu berani, baby!"
"Apa kau mau mengkhianati ku!"
Bisik Qennan begitu menyeramkan terdengar di telinga Eva.
Sungguh siapa yang tak marah mendengar istrinya hampir saja di perkosa oleh orang lain.
Membuat Qennan benar-benar murka dan dia akan menghilangkan bekas menjijikan itu.
"Katakan baby, dimana manusia sialan itu menyentuh mu lagi!"
"Apa di sini, kau menggosoknya terlalu kasar baby!"
__ADS_1
Ucap Hanz pelan namun mampu di dengar Eva yang terdiam dengan nafas memburu karena masih terkejut dengan kehadiran Qennan dan serangan Qennan yang cukup brutal.
"Bab!"
"Seperti nya aku harus menghukum mu, baby!"
Qennan menggendong Eva ringan keluar dari kamar mandi tak mungkin mereka melanjutkan kegiatan mereka di sana melihat Eva menggigil kedinginan.
"Ba-bab, sejak kapan ada di sini?"
Tanya Eva mencoba mencairkan suasana berharap Qennan melupakan apa yang ia umpat kan tadi.
"Jangan dulu bertanya baby, kita selesaikan dulu hal ini!"
Jika sudah begini maka Eva tak bisa lolos lagi. Eva pasrah dengan apa yang Qennan lakukan pada tubuhnya walau hal ini yang ia rindukan. Rindu akan sentuhan sang suami yang selalu memanjakannya.
Entah berapa lama mereka meneguk kenikmatan dan berapa kali pula Eva mendapatkan pelepasan sungguh ini sangatlah memabukkan.
"Terimakasih baby!"
"Hm!"
Eva sudah tak bisa lagi menjawab, ia sangat lelah sekali apalagi Qennan benar-benar menghukum nya tak memberikan ia jeda walau semenit.
Qennan membawa Eva kedalam pelukannya tanpa melepas sesuatu di bawah sana.
"Baby, ini selalu sama!"
"Bab, kau sudah janji akan mengatakannya!"
"Tapi kamu membuatku marah baby, tapi baiklah. Aku sudah sampai dari tadi pagi tadinya mau memberi mu kejutan tapi kamu ternyata sudah tak ada sepagi itu. Aku menunggu seharian dan pulang lihatlah apa yang aku dengar, kamu membuatku marah!"
Eva menutup mulutnya menyadari apa yang telah ia lakukan bahkan rahang Qennan kembali mengeras.
"Dan?"
"Da-dan--"
Eva bingung harus mengatakannya apa tentu Qennan akan marah jika ia mengatakannya tapi jika ia bohong habislah riwayat dia.
"Hanya sebatas mencium leher ya leher it-itu saja tak lebih Bab, percayalah!"
"Berani sekali baby, kau membiarkan orang lain mencicipi milikku!"
"Ayolah Bab, ini hanya tugas! Jangan marah ya aku janji akan hati-hati!"
"Seperti nya aku harus melenyapkan manusia sialan itu!"
"Ayolah Bab, kau jangan membuat misi ku menjadi rumit, jika dia mati aku tak akan bisa mendapatkan cip itu!"
"Selalu saja begitu!"
Kesal Qennan membuat Eva menghela nafas berat. Jika begini Eva harus memutar otak agar sang suami tak marah lagi.
Ini kecerobohan nya tak menyadari jika Qennan ada.
__ADS_1
"Bab, jangan marah ya?"
"Aku tak marah hanya kesal!"
"Apa pun itu please lihat aku!"
Eva mengelus wajah Qennan agar mau menghadapnya.
"Bab!!"
Qennan tetap saja memalingkan wajahnya walau Eva sudah menggoda dengan sebuah kecupan manis. Jika begini hanya satu-satunya cara membangkitkan Qennan kembali agar mau melihatnya.
Eva perlahan bangun merangkak naik keatas tubuh Qennan membuat Qennan terkejut akan pergerakan sang istri.
"Masih marah, hm!"
"Baby, apa yang kamu lakukan!"
Kesal Qennan menahan pinggang sang istri agar berhenti bergerak.
Qennan bangun menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang. Walau sejujurnya ia harus menahan kejolak hasrat yang mulai naik akibat ulah Eva. Tapi Qennan tak setega itu apalagi melihat sang istri sudah kelelahan.
"Tidurlah, kamu pasti lelah!"
"Maafkan aku dulu?"
"Baby, kau selalu keras kepala. Aku sudah tak marah jadi tidurlah!"
Qennan menarik sang istri agar menyandar keatas dada bidangnya.
"Benar?"
"Yes!"
"Terimakasih bab!"
Qennan mengelus punggung polos sang istri sesekali mengecup puncak kepalanya juga hingga Eva tertidur pulas akibat kelelahan pekerjaan dan juga harus melayani sang suami.
Seperti nya Qennan harus membuat sang istri hamil agar bisa cuti beberapa waktu. Mereka butuh waktu berdua dan tak mungkin terus menerus selalu LDR jika tak di paksakan hubungan mereka akan tetap seperti itu tak akan ada yang berubah.
Jendral Kaka sudah punya Kim dan seperti nya Edward segera menyusul bahkan Hanz pun sebentar lagi akan menikah.
Tak mungkin Qennan terus mengalah hingga usianya semakin tua.
"Maafkan aku baby, jika dengan cara ini membuat mu diam!"
Gumam Qennan sudah merencanakan semuanya. Tak mungkin Qennan meminta Eva memundurkan diri dari tugasnya itu tak mungkin karena Eva pasti akan menolak. Satu-satunya cara Eva harus hamil dan mau tak mau Eva harus mundur.
"Aku mencintaimu sangattttt!"
Gumam Edward mengecup sekilas bibir bengkak sang istri akibat ulahnya.
Qennan perlahan membaringkan sang istri agar nyaman tidurnya.
"Selamat tidur baby, mimpi indah!"
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah komen dan Vote Terimakasih ...