Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 87 Ngeyel


__ADS_3

Kaka menggeram prustasi dengan kelakuan istrinya yang sampai sekarang masih merajuk.


Padahal ini sudah tiga hari kenapa gara-gara cemilan sialan itu sang istri bisa marah seperti ini.


Kaka hanya tak mau tenggorokan sang istri sakit nantinya. Bahkan Kaka juga tak tahu jika sang istri akan seperti ini demi makanan kesukaannya Aurora mendiamkan dia.


Entah apa yang harus Kaka lakukan agar sang istri mau memaafkannya, semuanya demi kebaikan Aurora sendiri.


Bahkan gara-gara cemilan itu nafsu makan Aurora jadi berkurang karena ingin makan cemilan itu terus. Kaka hanya takut kesehatan Aurora terganggu apalagi jika sudah dalam dunianya Aurora pasti luka akan makan.


Walau begitu tapi Kaka tetap tak memperbolehkan sang istri memakannya. Kaka yakin ada cara membujuk sang istri agar mau bicara lagi dengannya.


Terlalu banyak pekerjaan membuat Kaka harus membagi waktu. Walau terasa pusing Kaka mencoba menahannya.


Sedang Aurora sesudah mengurus pasien nya ia di sibukkan dengan penelitiannya lagi-lagi sampai lupa makan andai saja Kaka tahu tentu sendari tadi Kaka akan memarahinya.


"Selesai!"


Gumam Aurora tersenyum bahagia karena sudah menyelesaikan obat yang ia racik. Aurora berharap obat yang ia buat bisa mengantisipasi alergi sang suami.


"Kangen!"


Gumam Aurora lagi sambil mencium obat tersebut seolah itu adalah Kaka.


Sebenarnya Aurora sudah tak marah pada sang suami namun ia sengaja mendiamkan sang suami karena akan memberikan kejutan ini.


Setiap penelitian yang Aurora lakukan maka sang suami orang pertama yang harus tahu.


Ia tak sabar untuk pulang dan memberikan surprise ini, bahkan Aurora sudah menyediakan sebuah kotak kecil yang sudah di hias secantik mungkin.


"Semoga kau suka, by!"


Monolog Aurora langsung membereskan semuanya dengan cepat karena tak sabar ingin bertemu, memeluk dan mengucapkan sesuatu.


"Dokter Aurora!"


Panggil seseorang dari arah samping sana membuat Aurora menghentikan langkahnya.


"Bisa tolong saya?"


"Ada apa dokter Sindi, kenapa wajah anda pucat begini!"


"Saya lagi datang bulan, perut saya sakit. Bisa tolong bantu saya memeriksa pasien di ruang 9!"


Mohon dokter Sindi karena bingung tak tahu harus meminta bantuan pada siapa. Hanya dokter Aurora yang selalu membantunya dalam segala hal.


Tiba-tiba saja ia sakit perut ternyata datang bulan karena sudah bisa bagi dokter Sindi mengalami itu ketika datang bulan.


"Baiklah, saya akan memeriksanya!"


"Terimakasih dok!"


Bahagia dokter Sindi walau suaranya sudah sangat lemah.


"Sayang!"


Deg ...


Aurora terkejut ketika dokter Sindi akan terjatuh untung saja seseorang menahan tubuhnya.


"Maafkan aku terlambat, tadi ada insiden kecil terjadi!"


Ucapnya khawatir langsung menggendong dokter Sindi ringan membuat Aurora hanya diam saja.


"Tak apa, mas!"


"Terimakasih dok, sudah mau membantu istri saya!"


Aurora mengangguk kaku menjadi tahu jika laki-laki yang menggendong dokter Sindi adalah suaminya sendiri.

__ADS_1


"Saya permisi, dok!"


Lagi-lagi Aurora hanya mengangguk saja bingung harus mengucap apa.


"Sayang sabar ya, kita nginap saja ya di hotel agar kau cepat istirahat, ke rumah terlalu jauh!"


Aurora terpaku melihat sepasang suami istri itu menjauh dari pandangannya. Masih terbayang wajah cemas dan khawatir suami dokter Sindi membuat Aurora teringat sang suami.


Kaka akan panik dan cemas jika ia tak makan atau malah seperti kemaren.


"Maafkan Rora, by. Rora janji gak akan buat hubby khawatir!"


 Gumam Aurora melanjutkan langkahnya menuju Pasien dokter Sindi dengan berkas di tangannya.


"Selamat malam pak, bahagia kabar hari ini?"


Tanya Aurora ketika sudah masuk, begitu lah Aurora ketika akan memeriksa pasien dia akan bertanya dengan senyum khasnya.


"Kemana dokter Sindi, kenapa anda yang ke sini!"


Ketus pak tua menatap tajam Aurora membuat Aurora hanya tersenyum saja sudah biasa.


"Dokter Sindi sedang kurang enak badan jadi saya yang gantikan!"


"Boleh saya memeriksa?"


Pak tua hanya mengangguk cemberut membuat Aurora lagi-lagi tersenyum.


Dengan telaten Aurora memeriksa pasien sampai selesai.


Ya ampun kenapa pusing sekali!


Batin Aurora merasa kepalanya tiba-tiba berdenyut sakit.


Sekuat tenaga Aurora menahannya sampai ia benar-benar selesai dengan urusannya.


Aurora dengan cepat keluar ruangan pasien berjalan menuju loby.


"Ada apa dengan ku!"


Gumam Aurora aneh tiba-tiba kepalanya pusing dan sekarang merasa mual.


"Jika hubby tahu aku belum makan dia pasti akan marah!"


Gumam Aurora entah kenapa ia merasa takut jika Kaka mengetahuinya.


Ya, Aurora menyakini jika pusing dan mual yang ia rasakan gara-gara belum makan karena memang sudah biasa seperti itu.


"Aku harus mengisi perutku, berharap pulang sudah tak sakit lagi!"


Aurora segera bergegas menyalakan mobilnya mencari lestoran terdekat namun urung ketika menyadari jika ajudan sang suami pasti mengikuti dia.


"Ah, by jangan marah ya!"


Gumam Aurora memilih langsung pulang saja karena percuma pasti sang suami sudah tahu dari mata-mata.


Dan benar saja ketika Aurora baru masuk gerbang di depan sana sudah terlihat Kaka berkaca pinggang membuat Aurora menelan ludahnya kasar.


Seperti nya ini hari sial bagi Aurora kenapa juga Kaka malah pulang lebih awal, biasanya suka malam.


 "By!"


Lilir Aurora ketika Kaka berjalan membukakan pintu untuknya.


"Kau memang harus di hukum!"


Glek ...


Aurora menelan ludahnya kasar melihat wajah sang suami yang mengeras. Aurora mengutuk siapapun yang melaporkan dirinya pada sang suami.

__ADS_1


"By, jangan marah ya! Rora tadi lupa!"


"Rora tadi han--"


"Diam lah!"


Tegas Kaka namun masih dalam kelembutan membuat Aurora bungkam dengan bibir mengerucut gemas. Sekarang jadi siapa yang marah harusnya masih Aurora.


Kaka mendudukkan sang istri di kursi meja makan dengan berbagai hidangan yang sudah tersaji.


Melihat berbagai hidangan di meja makan bukannya membuat nafsu makan Aurora timbul malah mati.


Bahkan melihatnya saja sudah membuat Aurora mual. Asam lambung Aurora seperti nya kembali kambuh.


Aaa ...


Aurora langsung menutup mulutnya sambil menggeleng bak anak kecil yang tak napsu makan.


"Makan sayang, jangan buat hubby marah!"


Kesal Kaka mulai tak bisa sabar karena Aurora selalu saja membantah akan ucapannya.


"Ak mau by!"


"Makan!"


Mata Aurora berkaca-kaca entah kenapa sangat sakit ketika Kaka membentaknya.


Dengan terpaksa Aurora membuka mulutnya menerima satu suapan dari Kaka.


Rasanya pahit di lidah Aurora namun Aurora memaksakan makan karena tak mau membuat suaminya menjadi marah.


Satu suap, dua suap, tiga suap ke empat suap Aurora sudah tak sanggup lagi menelannya jika terus di paksa maka itu akan keluar kembali.


"Telan sayang!"


"Sayang!"


Pekik Kaka terkejut ketika Aurora malah kabur ke dapur.


Hoek ...


Hoek ...


Aurora memuntahkan nasi yang sudah ia telan semuanya membuat Kaka semakin khawatir melihat keadaan istrinya.


Hoek ...


Lagi-lagi Aurora muntah membuat Kaka semakin khawatir langsung memijat tengkuk sang istri.


"Kenapa jadi seperti ini, kau benar-benar!"


Antara kesal, marah dan juga khawatir bersarang jadi satu membuat Kaka benar-benar prustasi.


"Maafin Rora by hiks .. Hoek ...!"


Aurora terus saja memuntahkan isi perutnya bahkan sampai membuat wajah Aurora pucat dengan kepala berdenyut nyeri.


"Bunda hiks ,,"


Begitulah Aurora jika sedang sakit akan merengek memanggil nama sang bunda.


"Hanz!"


Teriak Kaka membuat Hanz langsung menghadap.


"Panggil Emma ke sini, istriku muntah-muntah!"


Panik Kaka membuat Hanz ikutan panik bahkan semua orang yang ada di mansion Ikutan juga.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2