
Sudah satu Minggu Edward belum pulang ke kediaman membuat Vivi merasa aman bertemu dengan sang om apalagi Vivi begitu banyak menguak pakta dari sang Om.
Awalnya merasa nyaman namun entah kenapa sendari kemaren Vivi menginginkan Edward pulang.
Bahkan sekarang pun sama, tiba-tiba Vivi ingin Edward ada di sampingnya.
Entah karena apa yang jelas Vivi ingin menanyakan satu hal lagi pada Edward tentang alasan kedua orang tuanya.
Jika sang om mengatakan kedua orang tuanya mengasingkan dia karena tak mau Vivi di kejar-kejar musuh dan juga penagih hutang apalagi jumlah hutang kedua orang tuanya sangatlah banyak tentu Vivi mendengarnya saja sangat terkejut.
Alasan masuk akal dan terdengar real, namun entah kenapa hati Vivi masih merasa janggal Akan semuanya apalagi Vivi baru tahu jika kedua orang tuanya mempunyai rumah sakit besar.
Vivi menatap sebuah berkas yang sang om berikan di mana rumah sakit itu lima puluh persen sahamnya akan di jual untuk pengobatan Clara putri sang om yang mengalami kecelakaan ketika liburan di jepang dan juga membantu melunasi hutang sang om di mana hutang itu gara-gara sang om meminjam guna menutupi sisa hutang kedua orang tua Vivi.
Vivi tahu gajih seorang dokter tak cukup jika harus membiayai pengobatan Clara yang tentu menghabiskan uang puluhan juta apalagi Clara di nyatakan koma.
Keputusan yang sangat sulit Vivi ambil, walau bagaimanapun itu rumah sakit kedua orang tuanya tapi mendengar pengorbanan sang om membuat Vivi tak tega.
Harusnya Vivi tak seberat itu melepaskan apapun yang berkaitan tentang kedua orang tuanya namun entah kenapa Vivi merasa berat dan masih banyak lagi kebingungan di hati Vivi.
Apa hanya itu yang menjadi alasannya atau ada hal lain sungguh Vivi sangat bingung. Apalagi Vivi merasa aneh pada sang om kenapa tak pernah sekalipun menanyakan keberadaan Arsen omnya bahkan menyangka Arsen sudah meninggal bersama dengan kedua orang tuanya.
Dari sikap om dan tantenya terlihat baik-baik saja tak terjadi apa-apa namun mendengar semua cerita membuat Vivi berpikir ulang seolah masih ada cerita yang tersembunyi.
Vivi menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ingin menghubungi Edward namun Vivi merasa enggan apalagi selama ini Edward belum pernah menelepon nya hanya sesekali mengirim pesan mengingatkan dia untuk jaga kesehatan.
Curang bukan, di saat Edward tahu tentang Vivi dan bagaimana kabarnya justru Vivi tak tahu tentang Edward sama sekali. Apa Edward baik-baik saja atau tidak.
Ego yang terlalu besar membuat Vivi merasa enggan untuk menghubungi Edward. Bahkan Vivi pun belum melihat Qennan kembali atau pun Rose.
"Jika aku telepon Edward pasti akan tahu!"
"Tapi jika tidak--- ah .. Kenapa pusing begini!"
Gumam Vivi kesal tak biasanya ia bertingkah seperti ini.
Sungguh Vivi benar-benar berada dalam dilema antara meminta bantuan Edward atau tidak. Vivi hanya ingin memastikan sekali lagi sebelum ia benar-benar menandatangani berkas itu.
Pusing yang Vivi alami membuat Vivi tak sadar jika ia menekan tombol panggilan untuk Edward.
"Oh, sittt!"
Umpat Vivi panik ketika sambungan itu ternyata tersambung. Vivi dengan cepat mematikan sambungan telepon tersebut namun sayang telepon nya sudah tersambung dengan Edward.
Vivi mondar mandir bingung harus bicara apa bahkan Vivi ragu mendekatkan ponselnya ke telinga.
__ADS_1
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang kamu butuhkan?"
Tanya Edward di sebrang sana bicara lembut. Jangan di tanya bagaimana raut wajah Edward yang berseri ketika mendapat panggilan dari Vivi bahkan ia menghentikan rapatnya guna mengangkat panggilan langka ini.
"Ak-aku--"
"Apa kamu sakit?"
"Tidak!"
"Lalu!"
"Kapan pulang?"
Deg ...
Vivi membekam mulutnya yang lancang bicara seperti itu. Bahkan wajah Vivi merah padam. Sungguh ini sangatlah memalukan kenapa Vivi bisa seberani itu.
Apa yang di pikirkan Edward nanti, mungkin dia akan besar kepala.
Bodoh ... bodoh ...
Rutuk Vivi benar-benar mengutuk mulutnya yang asal bicara.
"Apa kau merindukanku?"
"Terus kenapa meminta ku pulang?"
"Ada yang ingin aku bicarakan!"
"Itu saja, kenapa harus pulang di telepon saja bisa atau kau benar-benar merindukan ku?"
Vivi benar-benar mengupat Edward yang terus menggodanya bahkan kini Vivi benar-benar di buat mati kutu.
"My wife, katakan kau merindukan ku! Maka aku akan langsung pulang?"
Tut ...
Vivi refleks mematikan sambungan tlepon nya lalu membanting ponsel keatas shopa sana.
Bodoh ... Bodoh ...
Vivi memukul-mukul kepalanya merutuki kebodohannya dan mengupat Edward yang berani menggodanya.
Ah ...
__ADS_1
Kenapa jadi seperti ini, membuat Vivi benar-benar malu.
Edward pasti besar kepala karena dia telah menelepon terlebih dahulu bahkan memintanya pulang.
Bukan besar kepala tapi Edward benar-benar bahagia di telepon oleh Vivi bahkan memintanya pulang. Namun, Edward belum bisa kembali melihat kondisinya yang tak memungkinkan.
"Tuan, anda harus istirahat tolong letakan kembali ponselnya!"
Pinta Rose dengan hormat Edward harus istirahat apalagi kondisi tubuhnya yang kurang fit.
Karena banyaknya pekerjaan membuat Edward terus lembur bahkan bergadang dan melupakan kesehatan tubuhnya hingga tadi pagi Edward drop dan jatuh pingsan hingga harus di larikan kerumah sakit bahkan Rose langsung meminta Qennan untuk segera kembali.
"Apa pak tua itu sudah masuk perangkap?"
"Tuan--"
"Katakan Rose, saya baik-baik saja!"
Tegas Edward membuat Rose menghela nafas berat.
"Rencana tuan berjalan lancar, bahkan nona tak menyadari itu. Namun, sejauh ini nona seperti nya percaya akan pak tua itu. Bahkan pak tua itu bergerak cepat membohongi nona akan kecelakaan itu agar nona mau menandatangani surat mengalihkan saham itu!"
"Biarkan saja itu terjadi, kau hanya perlu mengawasi istriku. Biarkan dia tahu seperti apa kebusukan om nya itu!"
"Tuan benar-benar membuat rencana seperti real!"
"Karena aku tahu, itu lebih baik dari pada dia tahu dariku!"
"Tuan benar-benar sudah jatuh cinta!"
"Rose, jangan melewati batas!"
"Maaf tuan, kalau begitu saya pamit!"
Rose meninggalkan Edward di ruang perawatan di mana sudah ada dua bodyguard yang menjaga di luar.
Edward kembali membaringkan tubuhnya dengan mata menatap keatas langit-langit sana.
Edward tahu, Vivi menelepon nya meminta pulang bukan karena hatinya namun keterpaksaan. Edward tahu Vivi butuh satu alasan namun Edward tak akan pernah mengatakan semuanya. Biarlah Vivi tahu kebusukan om nya sendiri. Walau pada akhirnya untuk kedua kalinya hati Vivi akan hancur mengetahui pakta yang sesungguhnya.
Disaat itu terjadi maka Edward akan pulang. Anggaplah Edward memanfaatkan situasi ini agar ia dekat dengan Vivi.
Sedikit memanfaatkan situasi tak apa bukan, Edward sedang berjuang mendapatkan hati Vivi.
Bahkan keras kepalanya Vivi sampai sekarang ia masih tak mau menceritakannya. Sungguh berani menyelinap keluar ketika Edward tak ada walau Edward akui Vivi patuh pulang tepat waktu.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih.