Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 57 Biarkan, aku tak penting baginya!


__ADS_3

Aurora sendari tadi terus mondar-mandir menunggu Kaka namun sampai detik ini juga Kaka belum juga balik membuat Aurora cemas.


Entah kemana Kaka perginya ini sudah tiga hari Kaka pergi entah kemana. Sungguh tak ada jejak bak di telan bumi.


Aurora tak tahu harus kemana lagi ia mencari, semua ruangan yang ada di menara sudah Aurora telusuri bahkan kompaknya Edward, Qennan dan Hanz juga tak ada membuat Aurora prustasi kemana perginya.


Kaka masih sakit kenapa harus berpergian bahkan tak pamit padanya membuat ia kesal. Entah kenapa Aurora tak suka sikap Kaka seperti ini.


Jika ingin pergi kenapa tak bilang malah menghilang entah kemana.


Bahkan di bangunan di mana Vivi berada tak ada juga. Tinggal beberapa bangunan yang tak Aurora cari karena bangunan itu di jaga ketat bahkan iya tak di izinkan masuk membuat Aurora penasaran apa isi bangunan tersebut.


Bagian selatan, timur dan Utara yang tak boleh ia masuki hanya bagian barat saja yang di perbolehkan di mana bangunan itu memang tempat Vivi dan Arsen di rawat.


"Kau dimana!"


Gumam Aurora menatap kebawah sana di mana memang Aurora sekarang ada di kamarnya sendiri. Tepatnya di balkon, sedang menatap indahnya bangunan-bangunan di bawah sana dengan cahaya rembulan yang indah.


Entah kenapa Aurora merasa ada yang kurang di sini. Biasanya ia akan memijat Kaka sebelum tidur dan bercerita kecil tentang apa saja tepatnya Kaka yang sering bertanya.


Tapi kini tak ada pertanyaan-pertanyaan tak bermakna lagi ia dengar bahkan senyuman hangat yang sering akhir-akhir ini ia dapatkan kini menghilang.


"Kenapa kau buat aku begini hiks ,,"


Rengek Aurora kesal pada dirinya sendiri yang tak mengerti kenapa! hari dan pikirannya tak sejalan.


Belum pernah Aurora merasakan hal seperti ini, khawatir yang tak beraturan.


Malam semakin larut namun Aurora masih enggan masuk membiarkan tubuh di balut jubah tidur itu di terpa angin dengan rambut yang melambai-lambai di biarkan tergerai.


Bahkan Aurora mengeratkan pelukan tangannya sendiri namun enggan untuk masuk.


Hingga rasa kantuk mulai menyapanya membuat Aurora mau tak mau ia harus masuk.


"Jika besok tak ada, lihatlah apa yang akan ku lakukan!"


Geram Aurora mengepalkan kedua tangannya benci berada di posisi ini.


.


Sedang di tempat lain seseorang sedang berdiri menatap keluar sana dengan tangan yang di masukan kedalam saku celananya.


Entah apa yang sedang ia pikirkan, tatapannya lulur tak bermakna.


"Jendral!"

__ADS_1


"Hm,"


"Apa Jendral tak akan memberi tahu nyonya?"


Tanya Hanz hati-hati takut membuat sang lord tersinggung.


Tadi Edward memberitahunya jika Nyonya terus mencari sang lord bahkan menangis. Setiap malam bergadang hanya menunggu kedatangan sang lord.


"Biarkan, aku tak penting baginya!"


Hanz menghela nafas berat mengerti dengan situasi seperti ini jika memang Nyonya tak mencintai lord dia bertahan karena tak mau jadi janda.


"Jam berapa eksekusi bajingan itu?"


"Jam sepuluh siang, semuanya sudah di persiapkan bahkan awak media sudah tak bisa di cegah lagi!"


Kaka memangut-mangut mengerti akan semuanya karena itu memang pantas.


Penghianat kerajaan tak pantas di berikan nafas sedetikpun bahkan sudah merugikan beberapa negara.


Ya, tiga hari lalu memang Kaka berangkat ke Landon karena titah sang Raja semua itu Kaka rahasiakan dari Aurora.


Awalnya Kaka akan mengajak Aurora ke istana namun mengingat jawaban Aurora tentang keinginannya membuat Kaka urung.


Kaka memang bisa mengabulkan setiap keinginan Aurora namun tak ada satupun keinginan Aurora bersamanya membuat Kaka lebih baik menjauh.


Entah sampai kapan Kaka berada di London karena begitu banyak yang harus ia kerjakan mengingat ia juga seorang jenderal.


Tugas penyamaran ia sudah selesai membuat Kaka harus kembali dengan Aurora entahlah.


Kaka hanya takut memaksakan sedang impian Aurora ada di Jerman sedang pekerjaan Kaka ada di London.


Suatu yang sangat sulit hingga harus ada salah satu yang mengalah.


Jika Aurora tetap pada keinginannya Kaka hanya bisa apa. Bukankah lebih baik melepas dari pada terus tersakiti. Apalagi Kaka tak yakin dengan perasaan Aurora mengingat istrinya tipikal gadis yang unik.


"Siapkan semuanya, terutama jaga ketat keponakan ku!"


"Siap Jendral!"


Kaka berjalan pergi meninggalkan Hanz seorang diri yang menatap sendu Kaka.


Kaka memang sudah bisa berjalan berkat Aurora namun Kaka memang selama ini menyembunyikannya karena ingin berlama-lama di dekat Aurora.


Apa yang Aurora lakukan memang membuat kesembuhan Kaka pesat. Namun Kaka melakukan semuanya karena hanya ingin melihat wajah Aurora dari dekat.

__ADS_1


Wajah yang mungkin entah masih bisa ia tatap atau tidak.


Kaka mencengkram kota yang berada di tangannya.


Sebuah kotak berwarna biru di mana di dalamnya terdapat sepasang cincin berlian yang harganya sangat fantastis.


Niat ingin melamar Aurora mengingat pernikahan mereka tak menyenangkan namun lagi-lagi prinsip Aurora yang mematahkan semuanya membuat Kaka lagi-lagi harus menahannya seorang diri.


Buat apa berjalan dalam pernikahan ini jika salah satunya tak mau melangkah membuat semuanya sia-sia.


Kaka bukan tipikal orang yang suka memaksa walau ingin namun Kaka tak mau menyakiti hati orang yang di cintainya jika tak ingin bersamanya.


Kaka hanya bisa menatap nanar kotak itu yang Kaka buka tutup dengan pikiran entah kemana.


Belum pernah Kaka merasakan perasaan semacam ini. Ini kali pertama buatnya namun baru juga tumbuh nyatanya harus di patahkan oleh keadaan.


"Akan ku kabulkan keinginan mu, tapi sayang bukan aku yang kau inginkan!"


Gumam Kaka merasa sakit, kenapa sesakit ini jatuh cinta bahkan baru saja merasakannya sudah se-menyesakan ini.


"Apapun keinginan mu, semoga kau bahagia tapi maafkan aku yang akan mengambil salah satu kebahagiaan mu!"


"Aku hanya ingin mengembalikan pada tempat seharusnya!"


Kaka terus saja bicara pada kotak itu seolah ia sedang berbicara dengan Aurora.


Besok adalah hari yang berat bagi Kaka namun sampai detik ini pikirannya sangat kacau.


"Tapi apa kamu akan membenciku jika ku paksa atau aku harus menunggu kau merelakannya!"


Monolog Kaka bingung di antara dua hari dan ia harus menjaga hati keduanya sedang salah satunya pasti akan sakit.


Di satu sisi ingin keadaan Cherry membaik di satu sisi tak mau membuat Aurora hancur kehilangan semangatnya.


Sungguh sebuah keputusan yang sangat sulit. Andai Aurora memilih dia mungkin semuanya tak akan serumit ini dan mereka bisa menjalaninya bersama-sama.


Tak ....


Kaka menutup kotak itu kasar dengan helaan nafas yang begitu berat.


Entah masalah apa yang sedang Kaka hadapi terlihat sekali jika masalah itu sangatlah serius.


Bersambung ..


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2