
Hanz menyuruh semua orang menjauh dari kediaman utama karena sang Jendral nampaknya belum bangun di shopa sana.
Hanz tak mau kegiatan mereka membuat sang Jendral terganggu dalam tidurnya.
Aurora yang sendari tadi sudah bangun membiarkan sang suami tertidur karena pasti Kaka butuh istirahat lebih.
Aurora memilih membuatkan sarapan saja untuk mereka. Di kehamilannya Aurora bersyukur ia tak terlalu parah mengidam dari kebanyakan orang.
Mungkin sang baby mengerti keadaan ibu dan ayahnya.
Emmz ..
Kaka menggeram tertahan sambil memegang kepalanya yang terasa berat.
"Sayang!"
Gumam Kaka merasa sebelahnya merasa sang istri tak ada.
Kaka berusaha membuka kedua matanya menyesuaikan cahaya yang membuat matanya sakit.
Kaka mengedarkan pandangannya mencari sang istri namun tak ada.
Aroma masakan tercium membuat Kaka tahu di mana keberadaan sang istri. Kaka menggeram kesal karena sang istri tak mengiyakan ucapannya.
Kaka memang melarang Aurora memasak karena sudah ada koki handal. Namun nyatanya istrinya memang keras kepala.
"By!"
Pekik Aurora terkejut ketika Kaka memeluknya dari belakang. Entah bagaimana sang suami mengendap bahkan Aurora tak menyadarinya.
"Nakal!"
Aurora hanya tersenyum saja mengerti maksud sang suami. Untung saja omelet yang dia buat sudah jadi.
Aurora memutar badannya hingga menghadap.
"Aisstt!!"
Protes Aurora memundurkan wajahnya ketika Kaka akan mencium dirinya.
"Belum gosok gigi, bau. Mandi dulu!"
Kaka mengerucutkan bibirnya gemas mendengar ejekan sang istri. Mana ada dia bau, bahkan nafasnya segar walau bangun tidur.
"Mandi dulu by!"
"Mandikan!"
Rengek Kaka, entah kenapa Kaka ingin bermanja dengan sang istri.
"Ya sudah!"
Pasrah Aurora menarik sang suami masuk kedalam kamar. Seperti nya hari ini hari di mana Aurora mengurus full baby besarnya.
Sebelum mandi Aurora membersihkan bulu-bulu yang mulai menghiasi wajah sang suami.
"Kenapa bagian ini gak di bersihkan semuanya?"
Tanya Kaka heran karena Aurora selalu menyisakan bulu di bagian dagunya walau tipis.
"Suka saja!"
"Kenapa gak sekalian di panjangin saja kaya orang Turki!"
"Gak, segini saja! Rora sukanya tipis begini! Terlihat gagah!"
Kaka tersenyum mendengarnya sungguh istrinya memang sangat bisa membuat mood dia kembali baik.
__ADS_1
Bahkan Aurora sendiri yang memotong kan potongan rambut sang suami. Semenjak hamil Aurora suka melakukan semuanya, mengurus sang suami dari ujung rambut hingga kaki.
Kaka tak masalah malahan ia sangatlah senang dan bahagia.
Hari ini Kaka benar-benar menjadi baby besar Aurora. Sudah selesai mandi Aurora menyuruh sang suami duduk di salah satu kursi di ruang ganti.
Aurora mengambil handuk kecil guna mengeringkan rambut sang suami yang masih basah.
Kaka hanya diam saja dengan tangan berada di kedua sisi pinggang Aurora. Kaka tersenyum melihat perut sang istri yang mulai menonjol walau sedikit namun Kaka bisa merasakannya.
Grep ..
Dengan sekali angkat Aurora sudah berada di atas pangkuan sang suami. Aurora menatap tajam sang suami yang membuat ia terkejut setengah mati.
"Jangan melotot sayang!"
Plak ..
Karena kesal Aurora memukul pelan dada bidang Kaka membuat Kaka malah terkekeh.
"Jangan galak-galak, muachh!!"
Ucap Kaka sambil mengecup pipi sang istri dalam sampai membekas.
"By, jangan di sini, kelihatan tahu!"
"Jadi, maunya di mana, hm!'
Goda Kaka membuat Aurora tersipu karena malu sudah keceplosan.
"Sudah, pakai baju kita sarapan!"
"Baik, ibu ratu!"
Patuh Kaka membiarkan sang istri mengambil pakaian nya. Aurora juga membantu Kaka memakaikan nya.
"Sudah ganteng!"
"Terimakasih sayang!"
Aurora mengangguk dengan senyum manisnya.
"Sekarang giliran hubby mengurus sayang!"
Grep ..
Belum selesai Aurora protes Kaka sudah menggendong sang istri menuju meja makan sana.
Bahkan Kaka tak membiarkan sang istri duduk di atas kursi. Kaka sengaja mendudukkan sang istri di atas pangkuannya.
Aaa ...
Dengan senang hati Aurora menerima suapan dari sang suami. Begitu juga Kaka menyuapi dirinya sendiri. Masakan sang istri memang tak ada duanya tapi Kaka tak mau membuat sang istri kecapean apalagi nanti mereka akan melakukan perjalanan cukup panjang.
Sampai hari itu tiba Kaka tak mau sang istri tiba-tiba sakit atau apalah.
Aurora mengambil jus karena memang sangat jauh dari jangkauan sang suami.
Sarapan pagi yang indah apalagi di suapi oleh tangan sang suami sendiri.
"Bagaimana perasaan hubby hari ini?"
Tanya Aurora ketika mereka bersantai di atas shopa sana.
Bukannya menjawab langsung Kaka malah tersenyum mendapati pertanyaan seperti itu.
"Baik sangat sangat baik, karena sayang sudah membuat keadaan hubby jauh lebih baik!"
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu,"
"Katakan apa yang ingin sayang katakan, hm!"
Aurora menatap sang suami ragu karena takut apa yang ia tanyakan akan menyinggung hati sang suami.
"Jangan cemas, hubby baik-baik saja!"
Seolah tahu akan ketakutan sang istri Kaka mencoba meyakinkan jika ia baik-baik saja, tak masalah dengan yang akan sang istri pertanyakan.
"Ada hubungan apa dengan Edward! Bukankah dia han--"
"Dia adik sepupuku! Putra Berto!"
Deg ...
Aurora terdiam menatap manik biru sang suami. Terlalu banyak rahasia yang tersembunyi Aurora pikir ia sudah tahu semuanya tentang sang suami nyatanya tidak.
"Edward anak terbuang dan terasingkan oleh Berto dan juga ibunya karena sesuatu yang tak Ed suka! Sikap mereka bertolak belakang dari semuanya. Berto memutus darah ketika Ed tak mau mengikuti perintahnya hingga kebencian itu semakin menumpuk ketika Ed sendiri yang melaporkan tentang kejahatan Berto!"
"Walau begitu Ed hanya seorang anak tetaplah anak tapi--"
Kaka menghela nafas berat mengingat bagaimana Berto benar-benar tak mau menganggap Edward sebagai anaknya bahkan hingga sampai nafas terakhir.
Aurora mengelus dada sang suami, pasti di sini sangatlah menyesakan.
"Apa hubby saudara yang buruk!"
Aurora menggeleng cepat sambil menangkup wajah sang suami.
"Hubby paman yang baik bagi putri Cherry, saudara yang hebat bagi Edward, pemimpin yang bijak bagi semuanya. Hubby sempurna tak ada celah sedikitpun. Sekeras apapun hubby pada Edward di sini hubby sangat menyayanginya!"
"Terutama, hubby adalah suami yang penuh tanggung jawab, penyayang, pengertian dannn--"
Kaka menautkan kedua alisnya menunggu kelanjutan apa yang sang istri akan katakan. Aurora memajukan wajahnya hingga bibirnya tepat di samping telinga sang suami.
Seketika bibir Kaka melengkung membentuk bulan sabit mendengar bisikan sensual yang keluar dari bibir sang istri. Entah apa yang Aurora bisikan hingga membuat Kaka tersenyum seperti itu.
"Yang itu rahasia ya!"
"Kenapa sayang selalu menggemaskan sih!"
"Hubby yang mengajarinya!"
"Benarkah!"
"Iya!"
Jawab mantap Aurora karena Kaka lah yang merubah semua pandangan Aurora tentang semuanya. Karena Kaka lah yang mengajarkan ia arti cinta, menerima dan menjalani.
Kaka begitu dewasa pas dengan usianya yang matang. Selalu belajar berusaha mengimbangi setiap sikap dan sipat sang istri.
"Ngomong-ngomong bagaimana dengan penelitian nya, apa sudah selesai?"
"Tinggal sedikit lagi!"
"Jangan terlalu kecapean ya!"
"Siap my hubby!"
"Waktunya minum susu!"
"Tunggu disini biar hubby buatkan!"
Aurora mengangguk bahagia dengan apa yang Kaka lakukan.
Kesibukan membuat Kaka jarang membuatkan susu dan mengobrol dengan calon anaknya.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...