Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 63 Kekacauan di istana


__ADS_3

Semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang khusus.


Hari ini keputusan semuanya di mana posisi Cherry di pertaruhkan.


Karena tak bisa memberi keturunan dengan kondisi Cherry yang tak memungkinkan memimpin.


Kerajaan butuh seorang penerus dan mereka tak mungkin menunggu selama ini. Bahkan Pangeran Jarvis terus di desak menikah lagi karena harus memberikan keturunan bagi kerajaan.


Keadaan nampaknya tak kondusif apalagi masih panas dengan keputusan hukum mati bagi pangeran Arnold.


Terlalu banyak kontroversial membuat semuanya rumit. Semuanya saling serang demi ingin kedudukan itu.


"Bagaimana dengan kondisi tuan putri?"


"Masih sama, keadaannya semakin memburuk!"


Sang raja hanya bisa menghela nafas berat bagaimana dengan pertemuan ini bahkan ia juga tak mungkin terus menghandle desakan pada jajaran.


Jika begini terus posisi Cherry bisa tergantikan dengan yang lain apalagi banyak yang menginginkan posisi itu sedang sang Raja harus memberi keputusan yang bijak.


Sang Raja masuk kedalam ruangan nya sambil memijit pelipisnya yang sangat berat.


Pangeran Jarvis pasti tak akan mau berkorban dia akan tetap pada pendiriannya. Tak mungkin Jarvis mengkhianati cinta sang istri sungguh Jarvis sangat geram akan desakan para petinggi.


Di keadaan kerajaan yang berduka mereka malah terus mengobarkan api membuat Jervis ingin mencekik orang-orang lintah itu.


Jarvis tak pernah beranjak sedikit pun dari samping sang istri yang kondisinya selalu begini.


"Sayang jangan buat aku takut!"


Lilir Jarvis tak bisa melangkah jika belahan hatinya seperti ini.


Dret ..


Ponsel Jarvis berdering terlihat nama seseorang menelepon.


Jarvis langsung mengangkatnya sambil menjauh dari sang istri karena tak mau menggangu.


"Itu tak mungkin!"


Ucap Jarvis memijat pelipisnya yang sangat pusing dengan semuanya.


Bagaimana bisa ia keluar dalam keadaan rumit seperti ini.


"Sekarang, jika ingin semuanya membaik!"


"Tapi, bagaimana dengan Raja dia akan menghadapi ini sendiri!"


"Biarkan mereka berkoar Raja pasti bisa menangani ini!"


Tegas seseorang di sebrang sana tak bisa di bantah.


"Cepat, waktu mu tak banyak!"


Jarvis mengupat dalam hati ketika panggilan itu terputus. Ia menatap sang istri yang berbaring lemah.


Ia harus segera membawa sang istri karena keselamatan nya di pertaruhkan. Cherry tak bisa menghadapi ini semua dalam kondisi seperti ini.


"Baiklah, kita lihat seberapa jauh para penjilat itu berkoar!"


Gumam Jarvis mengetik sesuatu pada seseorang entah siapa.


Ia langsung menggendong sang istri masuk kedalam ruang rahasia yang akan tembus ke istana bagian barat.


.


"Jendral semuanya sudah siap!"

__ADS_1


"Bagus!"


"Hanz jangan sampai keponakan ku lecet sedikitpun!"


Perintah Kaka membuat Hanz hanya bisa menelan ludahnya kasar.


Hari ini hari yang menegangkan bagi kerajaan di mana sang Raja harus memutuskan semuanya.


Kaka harus hati-hati karena mereka semua sangatlah licik. Kaka tak akan membiarkan siapapun menyakiti Cherry seujung kulit pun.


"Periksa apa Pangeran Jarvis dan tuan putri sudah siap?"


"Siap Jendral!"


Hanz langsung melangkah mundur tegas meninggalkan ruangan sang Jendral. Hari ini akan di putuskan semuanya dan mereka menunggu keputusan sang Raja dan Pangeran.


Hanz melangkah gagah dengan atributnya menuju wilayah pangeran Jarvis guna memeriksa semuanya.


Para ajudan memberi hormat melihat sang kaki tangan Jendral melewati mereka.


"Komandan Hanz menghadap!"


Teriak salah satu ajudan, Hanz menunggu namun tak ada yang membuka pintu membuat Hanz menyerngit heran.


Hanz tetap berdiri tegak menunggu sambil melirik jam pergelangan tangan nya.


Sampai di mana dua puluh menit Hanz menunggu ia langsung menerobos masuk dan menyuruh para ajudan berjaga.


Deg ...


Hanz terdiam melihat ruangan ini nampak kosong membuat Hanz sedikit panik. Ia harus segera melapor karena tak mungkin membiarkan kekacauan ini semakin rumit.


Hanz yakin sang jendral akan marah besar mengetahui pangeran Jarvis dan tuan putri tak ada.


"Jangan biarkan masuk siapapun ke kediaman pangeran!"


"Siap komandan!"


Hanz langsung masuk ke kediaman sang Jendral.


"Jendral!"


Tegas Hanz berdiri tegap membuat Kaka terdiam pasti ada sesuatu yang terjadi.


"Katakan!"


"Pangeran Jarvis dan tuan putri Cherry tak ada di kediaman!"


Deg ...


Kaka mengepalkan kedua tangannya dengan rahang mengeras. Bagaimana bisa pangeran Jarvis dan tuan putri tak ada di kediaman pasti ada sesuatu yang tidak beres.


"Periksa cctv!"


Perintah Kaka membuat Hanz langsung hormat segera pergi keruang khusus.


Kaka mencoba menelpon nomor Jarvis namun tak aktif begitu juga nomor Cherry.


"Sial!"


Umpat Kaka kesal kemana perginya mereka. Di saat keadaan begini mereka berdua tak ada membuat Kaka benar-benar pusing.


Bahkan tuan muda pertama juga tidak bisa di hubungi membuat Kaka benar-benar murka kenapa semua orang malah menghilang di saat seperti ini. Kaka yakin pasti ada sesuatu yang tuan muda pertama rencanakan tanpa sepengetahuan dia.


Kaka langsung masuk keruang khusus memeriksa cctv. Namun sialnya cctv sudah ada yang meretas membuat Kaka mencoba kembali memulihkan.


Kaka terus mencoba memulihkan cctv namun sialnya sudah tak ada waktu ia harus segera menghadap Raja.

__ADS_1


Kaka bergegas ke istana utama ia harus segera melapor.


Para ajudan semuanya berdiri tegak di mana sang jendral berjalan melewati mereka. Mereka terlalu takut dengan Jendral satu ini yang selalu menatap mereka tajam bahkan mulutnya selalu terkunci dan akan menghabisi siapa saja yang mengusiknya.


"Jendral Al menghadap!"


Teriak salah satu ajudan karena memang Kaka di panggil Jendral Al ketika di istana.


Pintu indah itu terbuka membuat Kaka langsung masuk di mana sang Raja duduk di kursi kebesarannya.


"King!"


Hormat Kaka membuat sang Raja mengangguk lalu Kaka langsung menurunkan tangannya.


"Pangeran dan taun putri tak ada di kediaman!"


Deg ...


Sang Raja memijit pelipisnya pusing, ada masalah apa lagi kenapa putranya selalu saja membuat masalah.


Padahal pertemuan para jajaran sebentar lagi di mulai.


"Ada seseorang yang membawa mereka!"


Lapor Kaka karena yakin pangeran Jarvis tak akan bertindak jika tak ada orang di belakangnya. Entah siapa yang sudah membuat rencana ia jadi rumit seperti ini.


"Temukan dalam 24 jam, atau saya tak bisa menanganinya lagi!"


"Laksanakan!"


Kaka langsung melangkah mundur melaksanakan titah. Ia harus mencari kemana perginya pangeran Jarvis bersama tuan putri.


Karena tak mau ada yang curiga Kaka bersikap biasa saja masuk kedalam ruang utama di mana para jajaran sudah ada.


Mereka menatap sinis Kaka yang memang orang berpengaruh di istana. Selain kepercayaan sang Raja Kaka juga seorang Jendral tentu siapa yang mengusiknya akan habis bahkan Kaka orang yang tak pandang bulu menghabisi siapapun yang membahayakan.


"King dan ratu memasuki singgasana!"


Teriak salah satu ajudan membuat semua orang yang ada di sana berdiri.


Sang raja langsung duduk di singgasananya dengan sang istri yang selalu menemaninya.


Suasana seketika hening menunggu apa yang akan di ucapkan sang raja.


"Pengadilan di tunda!"


Deg ..


Semua orang terkejut akan ucapan sang raja yang tiba-tiba. Bagaimana bisa mereka tak terima.


"King, keadaan sudah pelik ada masalah apa lagi!"


"Ya, harusnya ini segera di tuntaskan!"


"Dan, di mana pangeran Jarvis dan putri Cherry!"


"Harusnya mereka ada, singgasana harus segera di isi!"


"Bagaimana bisa, jika putri Cherry sakit-sakitan itu akan memperburuk citra kerajaan!"


"Apalagi ia tak bisa memberikan keturunan!"


Krek ..


Kaka mengepalkan kedua tangannya kuat mendengar desakan para jajaran yang terus memojokkan keponakannya.


Kaka hanya diam ingin melihat bagaimana para penjilat itu berkoar.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2