
Mulut Edward sendari tadi bungkam dengan kedua tangan yang tak diam.
Dengan hati-hati Edward membersihkan luka sang istri.
Vivi hanya diam saja membiarkan Edward membersihkan luka nya lalu membalut kedua tangan dan lututnya.
"Diam dan makan!"
Tegas Edward membuat Vivi tak jadi bicara bahkan Vivi menelan ludahnya kasar melihat Edward yang dulu. Edward yang penuh perintah dan paksaan.
Vivi perlahan membuka mulutnya takut ketika Edward menatap ia tajam. Bahkan tatapan itu penuh intimidasi membuat Vivi hanya bisa menurut.
Dengan susah payah Vivi menelan makanan yang terus Edward suapi sampai habis.
Sudah selesai makan Edward membereskan piring kotor nya.
Vivi menatap punggung Edward yang berjalan kesana kemari.
Perasaan apa ini, kenapa membuat Vivi serba salah.
Kecanggungan tercipta di antara mereka. Dua-duanya sama-sama bungkam tak mau ada yang mau memulai.
Edward masih kesal dengan apa yang Vivi lakukan. Padahal selama ini ia sudah berusaha baik dan menerima semuanya walau awalnya ia di paksa Kaka.
Edward akui ucapan Vivi di restoran tadi memang benar, ia palsu semua yang ia lakukan palsu tapi itu pada awal.
Seiring berjalannya waktu Edward memberinya dengan hatinya sendiri bukan lagi misi atau balas Budi. Edward ingin melindungi, menjaga dan menyayangi Vivi.
Apa salah yang ia lakukan, lantas seperti apa supaya hati Vivi mencair.
Apa se-beku itu hingga sulit Edward cairkan apa Edward harus memaksa dan menjadi dirinya yang dulu.
Edward terdiam sambil memejamkan kedua matanya kenapa begitu sulit menyakinkan Vivi. Padahal selama menjalankan misi mudah bagi Edward melakukan semuanya tapi meluluhkan hati perempuan butuh kesabaran Ektra. Padahal Edward tak bisa sesabar itu entah kenapa dengan Vivi Edward menahannya.
Deg ...
Tatapan mereka bertemu tepat ketika Edward berbalik. Dengan cepat Vivi memutus tatapannya mencari objek lain.
Edward mendekat lalu duduk di sebelah Vivi membuat Vivi beringsut menjauh bahkan sampai mentok di sisi shopa.
Tak ...
Seketika tubuh Vivi menegang ketika Edward dengan lancang tidur di atas pangkuannya.
Edward tahu kedua kaki Vivi begitu kaku bahkan bisa Edward tebak Vivi sedang menahan nafasnya. Edward tak peduli, ia hanya ingin Vivi tahu jika ia sedang lelah.
"Aku pikir seorang ibu rumah bagi anaknya, tempat berteduh dan berlindung. Aku tak tahu rasanya di sayang oleh orang tua. Aku tak tahu rasanya di perhatikan dan di cintai!"
"Lantas apa salah aku menginginkan itu semua dari istriku sendiri. Lantas apa salah aku menjadikan mu rumah untukku pulang!"
Duarrr ...
__ADS_1
Vivi tak bisa berkata apa-apa mendengar setiap kata yang Edward ucapkan. Kenapa hati Vivi rasanya tercabik-cabik, seolah bisa merasakan kesepian Edward.
Vivi tahu rasanya di telantarkan dia tahu sangat tahu dan paham.
"Lantas kemana aku harus pergi, jika semua rumah tak mengijinkan aku masuk!"
Edward semakin menenggelamkan wajahnya di perut datar Vivi.
Entah ada kekuatan dari mana tangan Vivi terulur mengelus kepala Edward bak seorang anak yang sedang mengadu. Vivi mengelus-elus kepala Edward seolah tahu ini yang Edward butuhkan.
"Sebuah kepercayaan!"
Edward membalikan badannya hingga bisa melihat wajah Vivi dengan jelas di bawah sana.
"Kepercayaan yang sudah hancur berkeping-keping oleh penghianatan. Kebaikan patah oleh sebuah kemanfaatan lantas bagaimana aku bisa membiarkan orang lain masuk sedang hati ini sudah lama fana!"
Vivi menunduk membuat tatapan mereka kembali beradu.
Sesaat mereka terdiam menyelami kedalam bola mata masing-masing.
Yang satu haus akan pengakuan yang satu haus akan kasih sayang.
Mereka berdua sama-sama sakit berusaha saling menyembuhkan namun sulit karena hanya satu yang berjuang.
"Akan ku sembuhkan luka itu, asal kau izinkan aku masuk!"
Ucap Edward dalam posisi sama membuat Vivi terdiam.
"Aku tak mau di kasihani!"
Lilir Vivi membuat Edward langsung menggeleng kuat. Edward tak mengasihani Vivi ini kemauannya sendiri. Edward sudah lelah berharap pilihan profesor Tuner adalah yang terbaik.
"Kata orang jangan pernah lepaskan wanita yang masa lalunya penuh luka. Karena sekali sudah terbuka, dia akan setia!"
"Ini pilihan ku, hati ku yang menginginkannya!"
Edward membawa tangan Vivi tepat di dadanya. Bisa Vivi rasakan jantung Edward berdetak kencang sama seperti dirinya.
"Ak-aku butuh waktu!"
"Akan ku tunggu, asal kau tak meminta pergi karena aku tak akan melepaskannya!"
Tegas Edward walau sedikit keegoisan, Edward hanya ingin menegaskan jika ia tak akan melepaskan Vivi dalam keadaan apapun kecuali Vivi sendiri yang pergi.
Mereka berdua kembali sama-sama diam, bergelut dengan pikirannya masing-masing.
Keraguan, ketakutan tak bisa lepas dari wajah Vivi Edward tahu itu tapi Edward benar-benar tak akan pernah melepas Vivi walau pada akhirnya harus dengan cara paksa.
"Aku lelah!"
Lilir Edward membalikan tubuhnya memeluk perut datar Vivi. Wangi tubuh Vivi sangat Edward sukai entah parfum apa yang Vivi pakai.
__ADS_1
Apa yang Edward lakukan membuat Vivi benar-benar diam sebab posisi Edward begitu intim bahkan Vivi bisa merasakan halusnya kehangatan nafas Edward pada perutnya.
Ingin sekali Vivi mendorong Edward tapi entah kenapa tangannya tertahan. Ia hanya diam saja sambil menatap rambut Edward.
Hati dan pikiran Vivi terus bergelut dengan ego, keputusan apa yang akan ia ambil.
Jika Edward menginginkan pernikahan ini utuh lantas apa yang Vivi cemaskan. Ia hanya membuka dan biarkan Edward masuk menyembuhkannya.
Namun, Vivi sangatlah takut, takut jika Edward suatu hari nanti akan meninggalkannya juga. Menelantarkan dia sama seperti yang dulu sang ayah lakukan.
Apapun alasannya Vivi masih belum mengerti kenapa harus terbuang.
"Tu-tuan!"
Panggil Vivi namun tak ada sahutan dari Edward.
"Tuan bisakah anda bangun!"
Masih tak ada sahutan membuat Vivi menghela nafas berat.
Pada akhirnya Vivi membiarkan Edward tidur di atas pangkuannya walau ia harus menahan semua gejolak yang ada.
Cukup lama Vivi terdiam memandang Edward yang menenggelamkan kepala di perutnya.
"Aku harap tak ada kebohongan di hati mu, tuan!"
Gumam Vivi menerawang jauh entah apa yang Vivi pikirkan.
Edward benar-benar tidur bak anak kecil membuat Vivi teringat akan Arsen. Biasanya Arsen selalu seperti ini jika di hari libur. Bermanja ria pada sang kakak karena tahu sang kakak selalu saja sibuk dengan pekerjaan nya.
Vivi memberanikan diri mengelus belakang kepala Edward karena dalam benak Vivi saat ini dia adalah Arsen bukan Edward.
Elusan kasih sayang seorang kakak pada sang adik tergambar jelas.
Seketika elusan Vivi tertahan ketika merasakan ada sesuatu yang aneh. Vivi menundukkan kepala sambil menyibak rambut Edward.
"Ini!"
Lilir Vivi menatap sendu bekas sebuah luka dalam di mana tak bisa tumbuh lagi rambut di area itu.
Seperti bekas sebuah benturan atau kecelakaan entahlah Vivi tak tahu yang jelas bekas luka itu sangat mengerikan.
Bekas ini tak terlihat karena rambut Edward sedikit tebal.
"Kapan Arsen punya luk--"
Deg ...
Bersambung ..
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1