Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 99 Ekstra part ( Melihat dunia)


__ADS_3

Kaka terus berlari menelusuri koridor rumah sakit mencari di mana istrinya berada.


Sungguh jantung Kaka rasanya mau copot mendengar istrinya terjatuh ketika memaksa keluar ingin membeli es krim.


Jika terjadi apa-apa sudah di pastikan Kaka tak akan mengampuni semua ajudannya.


Yang Kaka khawatir karena istrinya sedang hamil besar dan malah memaksa keluar bahkan Aurora tak mengindahkan perintahnya. Andai Kaka tak ada kerjaan sudah di pastikan ia akan pulang lebih awal namun pekerjaan mengekangnya.


Bugh ...


Stau tinjuan melayang pada kepala ajudan yang menjaga istri ya.


"Kalian, kenapa membiarkan istriku keluar hah!"


Bentak Kaka penuh emosi bahkan rahangnya mengeras seolah ingin menguliti mereka hidup-hidup.


"Kalau terjadi sesuatu pada istri dan anak ku akan ku hab--"


"Jendral!"


Cegah Hanz datang terlambat menahan tubuh sang Jendral agar tak lepas kendali.


"Nyonya butuh Jendral, biar saya yang urus!"


Kaka mengontrol nafasnya sambil memejamkan kedua matanya.


Hanz tak menyangka jika sang Jendral akan lepas kendali seperti ini. Tak biasanya sang Jendral seperti ini pasti ada sesuatu yang terjadi hingga mempengaruhi emosinya.


Semarah apapun sang Jendral ia tak akan meninju ajudannya di depan umum seperti ini.


"Nyonya di dalam menunggu!"


Kaka langsung melesat masuk kedalam ruangan persalinan.


Hiks ..


Suara tangisan menggema di ruangan tersebut di mana sudah ada dokter Emma dan para dokter lain.


Melihat suaminya datang membuat Aurora semakin menangis dengan rasa sakit di bagian bawahnya.


Seolah ada sesuatu yang memaksa keluar, padahal Aurora tidak terjatuh sampai mencium lantai karena para ajudan yang langsung siaga. Tapi, Tiba-tiba perut Aurora sakit hingga membuat semuanya panik dan langsung melarikan sang Nyonya ke rumah sakit.


"Sayang!"


"By, hiks ..,"


Isak Aurora membuat Kaka langsung memeluk sang istri.


"Kenapa kalian diam, tangani istriku!"


Bentak Kaka menggelegar membuat dokter Emma menghela nafas berat.


"Jendral kami harus menunggu-"


"Kau!"


"Akhh ... By!"


Pekik Aurora ketika rasa sakit itu kembali datang menjalar di perutnya.


"Bedebah kalian, cepat kenapa diam saja hah!"


"Nyonya baru pembukaan enam, kami tak bisa memaksa mengeluarkan baby nya. Kami harus menunggu sampai pembukaan penuh!"

__ADS_1


"Nyonya harus tenang, agar persalinannya lancar!"


Deg ...


Seketika tubuh Kaka menegang mendengar penjelasan dari dokter Emma. Nyatanya istrinya akan melahirkan kenapa ia tak ngeh akan hal itu.


Karena terlalu panik membuat Kaka tak bisa melihat keadaan, fokusnya hanya pada sang istri yang menangis.


Dan, Aurora menangis karena merasa takut suaminya marah karena ia hampir jatuh.


Aurora padahal seorang dokter hebat namun dalam keadaan begini ia lupa siapa dirinya. Aurora lupa jika rasa itu tanda-tanda akan melahirkan.


"Bisa tolong Jendral bantu tenangkan Nyonya agar semuanya lancar!"


Kaka menatap sang istri yang yang terus mengeluarkan lelehan bening dengan tangan mencengkram erat kerah seragamnya.


Sejenak Kaka memejamkan mata lalu membukanya kembali dengan helaan nafas berat.


"Sayang, tenang ya di sini sudah ada hubby!"


Akh ..


Piki Aurora terkejut ketika merasa jika ada sesuatu yang terus memaksa keluar.


"Nyonya tolong ikuti instruksi kami! Jangan tegang, ini sudah pas. Tarik nafas dan coba keluarkan perlahan dengan sedikit tekanan!"


"Jendral!"


Kaka mengerti membuat Kaka langsung menangkup wajah sang istri.


Sungguh Aurora sangatlah tegang membuat ia sulit mengendalikan dirinya sendiri.


"Nyonya tarik nafas dan keluarkan!"


Aurora mencoba tenang mengikuti segala instruksi walau tangannya tak tinggal diam mencengkram pundak sang suami hingga atribut yang terpasang di seragam Kaka terkoyak semunya.


"Sekali lagi nyonya, baby sudah kelihatan!"


Terlihat kepala baby perlahan keluar dan mungkin sekali tarikan nafas baby akan melihat Dunia.


"Sayang, demi baby I Love You!"


Akh ....


Owek ... Owek ..


Tangisan baby menggema membuat para dokter bernafas lega melihat penerus sang Jendral sudah keluar dengan selamat walau harus ada drama terlebih dahulu.


Nafas Aurora memburu menenggelamkan kepalanya di cekuk leher sang suami dengan kedua tangan mencengkram erat kedua bahu Kaka.


"Selamat sayang, terimakasih!"


Lilir Kaka menitipkan air mata melihat anaknya sudah lahir dengan selamat walau ia harus menjadi korban keganasan sang istri.


Aurora hanya diam sana mengatur nafas yang memburu seolah pasokan oksigen di ruangan ini habis.


Tes ... Tes ..


Kesadaran Aurora seketika tertarik ketika merasa keningnya basah. Perlahan Aurora mengendurkan cengkraman ya dengan nafas yang mulai teratur.


"Terimakasih sayang, terimakasih!"


Hanya kata itu yang mampu Kaka ucapkan dengan bibir gemetar Sungguh Kaka sangat bahagia bahkan lebih dari kata bahagia.

__ADS_1


"Selamat Jendral dan Nyonya, baby kalian seorang putri!"


"By!"


Lilir Aurora gemetar melihat sang buah hati dalam gendongan Kaka. Kaka sedikit membungkukkan tubuhnya menyimpan sang buah hati tepat di dada sang istri.


Baby merah nan mungil itu terdiam nyaman menempel pada dada Aurora seolah merasakan detak jantung sang bunda.


Netra biru bening terlihat polos dengan gerakan bulu mata lentik. Sungguh hati Aurora bergetar melihat mata sang suami turun pada putrinya hanya bulu mata lentik miliknya berada di sana.


Tergambar jelas kebahagiaan di wajah Kaka dan Aurora walau mata mereka tak henti menangis.


Para dokter di sana terdiam haru melihat kebahagiaan sang Jendral. Momen ini momen paling langka mereka lihat.


Jendral yang selalu terlihat dingin dan kaku kini terlihat menjadi sosok yang berbeda.


Sosok lembut penuh kesih sayang tergambar jelas.


Mereka ikut bahagia dengan kehadiran putri Aldarberto.


Sang baby kembali Kaka gendong karena Aurora harus segera di bersihkan.


Bahkan Kaka turun tangan langsung memberikan buah hatinya pada dokter Emma.


Hanz berdiri siaga ketika pintu ruang persalinan terbuka.


Dokter Emma keluar sambil mendorong brankar baby di ikuti dokter-dokter lain. Sekilas dokter Emma melirik Hanz yang berdiri tegap setia dengan wajah datarnya.


Tak lama di susul oleh Aurora di mana Kaka tak lepas memegang lengan sang istri.


Mereka di pindahkan keruang VVIP setelah di bersihkan agar semuanya nampak nyaman.


Kaka dengan hati-hati memindahkan sang istri ke brankar paling nyaman.


Tak lama sang baby dokter Emma berikan pada Aurora untuk menyusui tentu Aurora mengerti karena memang ini penting bagi baby mendapatkan kolostrum.


Kolostrum merupakan cairan berwarna kekuningan yang keluar di awal proses menyusui.


Kolostrum sendiri mulai terbentuk secara alami di trimester ketiga kehamilan hingga mendekati hari perkiraan lahir. Kolostrum juga kerap disebut golden milk atau cairan emas karena punya banyak sekali manfaat yang baik untuk bayi baru lahir. Ya, kolostrum mengandung protein IgA, IgG dan IgM hingga vitamin A, Moms. Adanya protein di dalam kolostrum bisa membuat tidur bayi lebih nyenyak, lama dan berkualitas.


Kaka hanya diam saja melihat istrinya memberikan asi pertama pada buah hatinya.


Wajah Aurora sedikit meringis dengan mata menyipit menahan perih. Sudah biasa bagi seorang ibu baru merasa sakit ketika baru pertama kali menyusui.


"Sakit sayang!"


"Nikmat by!"


Jawab enteng Aurora karena gemas bercampur kesal akan ucapan sang suami.


Kaka hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil nyengir kuda.


"Nak, jangan kencang-kencang ya, kasihan bunda!"


Ucap Kaka sambil mengelus pipi merah buah cintanya.


"Namanya siapa by?"


"A--"


Bersambung ...


Jangan lupa Like Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2