Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 82 Kambuh


__ADS_3

Vivi sangat senang sekali dan kagum akan bangunan megah ini sungguh Aurora beruntung sekali.


Bahkan sendari tadi Vivi terus mencium berbagai aroma bunga. Membuat jiwa racikan Vivi berkoar.


Jika Aurora cerdas dalam berbagai racikan obat-obatan berbeda dengan Vivi ia pintar dalam hal membuat parfum. Bahkan parfum yang Aurora pakai itu khusus Vivi yang membuat dan tak ada yang lain karena itu memang di khususkan untuk Aurora.


Wangi khas yang sama namun begitu berbeda dengan daya tariknya membuat parfum itu seolah melekat dengan orangnya.


Bahkan parfum yang Aurora pakai sengaja tak Vivi edarkan karena tak ingin wanginya menempel di tubuh orang lain selain di tubuh Aurora karena itu racikan pertama yang Vivi buat dan kebetulan dulu Aurora langsung menyukainya sampai sekarang.


"Ra, apa aku boleh meraciknya?"


"Hey, di sana kau sudah di berikan ke bebasan membuat apapun. Di sini kau harus izin pada suami ku!"


Cetus Aurora jahil membuat Vivi mengerucutkan bibirnya gemas.


Vivi kembali melihat bunga-bunga lain mencari aroma yang berbeda.


Aurora hanya bisa tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu yang sudah Aurora anggap adiknya sendiri karena memang usia mereka berbeda dua tahun, Vivi lebih muda di bawah Aurora.


Sesekali Aurora mengecek ponselnya berharap sang suami akan menelepon atau pun memberi pesan namun sampai sore ini tak ada kabar darinya.


Aurora sudah gatal ingin menelepon namun berkali-kali ia tahan karena takut menggangu sang suami apalagi Kaka sudah bilang jika ada urusan penting.


Entah urusan dan pekerjaan sepenting apa hingga tak sempat memberi pesan walau hanya satu kalimat.


By, apa kau baik-baik saja. Aku harap tak terjadi apa pun!


Batin Aurora merasa cemas karena tak biasanya Kaka seperti ini. Jika tentang masalah kemaren itu tak mungkin pasti ada masalah lain yang terjadi entah di kantor atau di kerajaan.


"Ra, sini!"


Teriak Vivi membuat Aurora langsung tersadar dari lamunannya.


Aurora langsung menghampiri Vivi guna melihat.


"Ada apa?"


"Lihatlah di sana ada air terjun, terlihat indah kita ke sana ya!"


"Jangan!"


Cegah Aurora menahan lengan Vivi agar tak ke bangunan sana. Di jauh tak terlihat ada bangunan padahal itu sebuah bangunan yang di desain dari kaca wajar dari jarak jauh tak terlihat. Jika di malam hari baru bangunan itu akan terlihat karena Kaka melapisinya dengan kaca hitam.


"Apa suami kamu melarangnya!"


"Ya, bagian itu tempat yang tak boleh di masuki oleh siapapun, itu tempat khusus nya!"


Jelas Aurora sedikit memerah karena teringat malam panjang mereka di sana. Mana bisa Aurora membawa Vivi ke tempat bersejarah bagi Aurora dan Kaka.


"Baiklah!"


Lemas Vivi padahal ia sangat penasaran ke sana.


"Ngomong-ngomong wajah suami mu seperti apa?"


Tanya Vivi merasa penasaran karena memang ia belum pernah melihat wajah suami dari sahabatnya ini.


"Nanti juga kamu akan tahu!"


"Ya ... Ya .."


Jawab Vivi tak mau bertanya lebih walau ia penasaran apa lagi Aurora sudah menceritakan semuanya kenapa ia di panggil.


Sungguh Vivi benar-benar penasaran bagaimana bisa ada orang yang alergi bersentuhan namun dengan Aurora tidak sungguh aneh bukan entah kebetulan atau apa DNA Aurora bisa cocok dengan DNA sang suami.


"Nyonya!"


Deg ...

__ADS_1


Vivi terkejut ketika melihat beberapa orang yang berseragam militer mendekat membuat Vivi langsung bersembunyi di balik punggung Aurora yang terdiam dengan tangan mengepal.


Tak lama Edward datang bersama Hanz dengan raut wajah berbeda namun dua-duanya begitu serius dan juga terlihat ada kecemasan di sana.


Hari mulai gelap membuat suasana menjadi mencengkram dengan jantung Aurora yang sudah tak normal.


"Ikut!"


Tegas Edward menarik lengan Vivi menjauh membuat Vivi memberontak memanggil nama Aurora namun Aurora diam saja karena merasa ia harus diam.


"Nyonya, alergi Jendral kambuh!"


Deg ....


Aurora melangkah mundur sambil meremas dadanya kuat ternyata kecemasannya ini telah terjawab.


"Di-dimana dia!"


Hanz langsung membawa Aurora menuju ruang rahasia dimana jika sang Jendral kambuh akan di bawa ke ruang khusus sana yang sudah tersedia obat-obatan.


Di dalam sana dokter Abe sudah mengurus namun seperti nya kambuh kali ini cukup serius bahkan menyebar ke bagian muka.


Sial!


Mengingat itu membuat Hanz ingin melenyapkan manusia satu itu.


Jantung Aurora semakin terpacu hebat melihat para ajudan menjaga ketat ruang yang baru Aurora tahu.


Krek ...


Pintu itu terbuka menjadi dua membuat Aurora langsung menerobos masuk.


"Hubby!"


Duarr ...


Tubuh Aurora mematung dengan lelehan bening terjatuh tanpa di minta. Dada Aurora sangat sakit melihat keadaan sang suami seperti itu.


Bentak Kaka mengamuk dengan rasa sakit dan panas menjalar ke tubuh ya di tambah bayangan itu kembali muncul membuat Kaka sulit di dekati.


"Jendral!"


"Aku tak mau, pergi akhh ..,!'


Jerit Kaka berusaha bangun mencari obatnya padahal dokter Abe sudah memegangnya.


Akhh ...


Bruk ...


Kaka meremas dadanya kuat merasa semakin sesak membuat Aurora masih terpaku antara shok dan juga sakit.


"Nyonya hati-hati!"


Cegah dokter Abe takut sang Jendral melukai istrinya sendiri.


"Apa yang harus aku lakukan!"


"Suntikan cairan ini, namun-"


Dokter Abe tak bisa melanjutkan ucapannya lagi ketika Aurora sudah melesat ke arah sana .


"Hubby!"


"Pergi sialan pergi akhh ..!"


"Hubby!"


Bruk ...

__ADS_1


"Nyonya!"


Teriak Hanz dan dokter Abe membulatkan kedua matanya ketika tubuh Aurora terpental menubruk meja akibat kibasan tangan kekar Kaka tak sadar ketika Aurora sudah berhasil menyuntikan cairan itu di leher Kaka.


Kaka menatap Aurora dengan mata memerah begitupun dengan Aurora menatap sendu sang suami. Aurora berdiri di bantu Hanz dan dokter Abe.


Aurora mencoba mendekati sang suami yang terus menggeram kesakitan dokter Abe ingin mencegah namun Hanz menahannya.


Akhh ..


"By!"


Lilir Aurora gemetar tak sanggup melihat keadaan sang suami seperti ini.


Grep ...


"Nyonya!"


Teriak dokter Abe terkejut akan keberanian Aurora yang memeluk Kaka padahal keadaan Kaka masih emosional.


"By, hiks .. Ini Rora sayang!"


Isak Aurora mengeratkan pelukannya kuat walau Kaka terus mendorong nya namun dalam keadaan begitu kekuatan Kaka mulai melemah hingga membuat Aurora semakin mendekat sang suami.


Aroma tubuh Aurora meruak membuat Kaka antara sadar dan tidak dengan mulut yang terus menggeram sakit dan sesak.


Aurora menangkup wajah sang suami yang sudah tak terbentuk.


"By!"


Cup ...


Aurora mengecup bibir sang suami berharap dengan itu sang suami mengenalinya bahkan Aurora tak peduli seberapa kuat penolakan Kaka.


Sungguh Aurora sangat sakit dan sesak melihatnya begini. Alergi ini bukan alergi sembarangan Aurora merasakannya.


entah manusia jahat mana yang sudah membuat suaminya begini karena Aurora paham ada sebuah trauma besar yang terjadi hingga Kaka seperti ini.


Lama kelamaan kesadaran Kaka mulai menghilang akibat cairan yang mulai bereaksi apalagi cairan itu di suntikan bukan hanya di satu titik namun sepuluh titik di bagian rongga vital.


Bersambung ...


Jangan lupa, Like, Hadiah, komen dan Vote, Terimakasih ...


Pengumuman buat para reader yang gak sabar nunggu kisah Mentari udah Author Update ya🤭🤭🤭


Mungkin ceritanya akan sedikit menguras emosi dan air mata


.



Blur :


Maafkan aku sayang! maaf sudah membuatmu menderita!


......


Kenapa harus aku?


Pertanyaan itu muncul di benak Mentari!


Kenapa harus dirinya mempunyai takdir yang sangat menyedihkan. Bukankah banyak miliaran orang dia atas bumi ini kenapa harus Mentari.


Nama yang indah, namun tak sehangat perjalanan hidupnya. Lahir tanpa kedua orang tua membuat Mentari tumbuh jadi sosok pendiam.


Kesakitan Mentari tak cukup di sana, kesedihannya semakin ternganga ketika ia harus di benci oleh orang yang Mentari sayang, tanpa sebab.


Apa salahku?

__ADS_1


Pertanyaan itu selalu muncul namun tak ada satupun yang bisa menjawabnya!


So, ikutin terus ceritanya🙏🙏🙏


__ADS_2