
Suara tembakan dan baku hantam terdengar nyaring di sisa kesadaran Vivi bahkan Vivi sudah tak bisa melihat dengan jelas keadaan yang terjadi.
Tubuh Vivi terasa melayang seolah ia benar-benar mati.
"Bunuh dia!"
Deg ...
Sang om terkejut melihat semuanya, bagaimana bisa aparat polisi tahu akan markasnya.
Bahkan sang om membulatkan kedua mata nya melihat sosok yang berdiri di depan sana.
Sungguh ia tak menyangka jika hari ini hari sialnya.
"Oscar apa yang kau lakukan?"
Bentak sang om melihat sang kaki tangan malah menggendong Vivi menuju sosok bengis yang selama ini di takuti di dunia bawah.
"Maafkan saya tuan, namun saya lebih sayang nyawa saja!"
"Bedebah, beraninya kau mengkhianati ku!"
Bentak sang om masih bisa mengupat padahal hidupnya dalam bahaya bahkan markasnya sudah di kepung oleh pihak kepolisian.
"Lord!"
Oscar memberikan Vivi pada Edward yang sudah tak sadarkan diri.
"Darah!"
Pekik Oscar terkejut ketika melihat darah di tangannya.
"Lord!"
Gemetar Oscar melihat sang lord menatap tajam dirinya.
"Kau membiarkan istriku dalam bahaya, hah!"
"Lo-lord!"
"Bawa dia ke markas, bagaimana pun caranya!"
Titah sang lord sangatlah mutlak membuat Oscar mengangguk patuh.
Edward langsung pergi membawa Vivi jangan sampai terjadi sesuatu.
Sekarang tinggal Oscar memutar otak bagaimana cara membawa dokter Candra agar tak ketahuan aparat. Karena jika di bawa aparat maka sang lord tidak bisa mengeksekusi nya.
Sedikit berbahaya namun begitulah cara mereka meringkus para bajingan itu.
Mereka sudah biasa melakukan misi seperti ini.
"Akan ku bunuh kau Oscar!"
"Jangan terus mengoceh, jalan!"
Bentak Oscar pergi menuju pintu rahasia yang memang hanya dia yang tahu karena semuanya sudah di persiapkan.
"Lord!"
"Rose, siapkan mobil!"
Rose langsung berlari menuju mobil dan menyerahkan sisanya pada Qennan dan aparat untuk mengamankan semuanya.
Edward berharap Oscar sudah membawa tua bangka itu sebelum aparat masuk keruangan itu.
Edward begitu cemas melihat wajah pucat sang istri apalagi bokong sang istri terus mengeluarkan darah.
Jika sampai terjadi sesuatu Edward tak akan memaafkan Oscar yang tak bisa menjaga istrinya.
Sungguh, entah apa yang akan Edward lakukan karena luka itu di sebabkan oleh Oscar sendiri.
Padahal Oscar menendangnya pelan, namun kepala Vivi bisa mengalami pendarahan bahkan Oscar sendiri terkejut.
Semua orang terkejut melihat Edward berlari dengan lumuran darah membuat para suster dan dokter siaga karena mereka tahu siapa yang membuat kegaduhan itu.
__ADS_1
Rumah sakit yang tadinya tenang menjadi mencengkam aku at kedatangan Edward yang tiba-tiba dengan keadaan kacau.
Membuat beberapa dokter bersiaga karena tak mau melakukan kesalahan sekecil apapun jika mereka tak mau di amuk.
Pengaruh Edward memang besar di kalangan manapun hanya orang bodoh yang berani berurusan dengannya.
.
Edward terus mondar mandir di depan ruangan darurat membuat Rose hanya diam saja. Padahal kondisi Edward juga kurang fit namun Rose tak bisa melarang.
"Sial, apa yang mereka lakukan!"
Umpat Edward tak sabar kenapa mereka bisa selama ini apa yang sebenarnya terjadi.
Edward melihat kedua tangannya yang berlumuran darah membuat Edward berpikir keras.
Cklek ...
Lamunan Edward buyar ketika melihat sang dokter keluar.
"Bagaimana keadaan istriku?"
Tanya Edward tak sabaran membuat sang dokter menghela nafas berat.
"Keadaan istri anda baik-baik saja, namun kami tak bisa menyelamatkan baby yang ada di dalam kandungannya!"
Deg ...
Jantung Edward seolah berhenti mendengar pakta itu. Bahkan Rose pun terkejut mendengarnya.
Sang dokter mengerutkan kening melihat ekspresi sang lord.
"Ap-apa maksud dengan perkataan mu?"
Sudah sang dokter tebak jika sang lord tidak tahu bahwa istri nya hamil.
"Istri anda mengalami keguguran!"
Duarrr ...
Tubuh Edward terjatuh namun dengan cepat Rose menahannya.
Edward terpaku melihat Vivi di dorong di alihkan pada ruangan VVIP agar merasa nyaman.
Dengan langkah gontai Edward mengikuti sang istri.
Kapan pulang?
Suara itu kembali terngiang di ingatan Edward membuat Edward mengutuk dirinya sendiri.
Andai saja Edward kemaren pulang ketika Vivi meminta mungkin kejadian ini tak akan terjadi. Namun, semuanya memang harus seperti itu.
Sungguh, hal yang Edward nantikan dan harapkan kenapa harus terenggut kembali.
"My love, apa kau meminta ku pulang karena ingin memberi tahu kehamilan mu. Maafkan aku cinta maaf!"
Lilir Edward meneteskan air matanya sungguh hati Edward sangat hancur. Semua salah ya, ia yang menempatkan sang istri dalam bahaya. Andai saja ia tahu lebih cepat mungkin semua itu tak akan terjadi. Suami macam apa Edward kenapa tega menempatkan Vivi dalam bahaya.
Bahkan Edward tak sanggup menghadapi Vivi nanti. Apa Vivi akan marah dan membencinya karena dia tak bisa menjaga buah hati mereka.
Siapa yang tahu semuanya akan seperti ini, bahkan tak ada yang mau.
Edward terus menjaga Vivi bahkan Edward belum beranjak sama sama sekali membuat Rose khawatir akan kesehatan sang lord.
Tapi Rose tak berani masuk menggangu karena takut sang lord marah.
"Bagaimana keadaan lord dan nona?"
Tanya Qennan baru datang setelah menyelesaikan semuanya. Rose menggelengkan kepala membuat Qennan menghela nafas.
.
.
Jam terus berputar bahkan hari mulai gelap namun tak membuat Edward mengubah posisi matanya terus saja terpaku pada wajah sang istri yang pucat.
__ADS_1
Tangan Vivi bergerak membuat Edward siaga.
"My love!"
Perlahan Vivi membuka kedua matanya perlahan yang ia lihat wajah tampan Edward walau sedikit pucat.
"Ed akhh ..."
"Hati-hati!"
Cemas Edward melihat sang istri yang meringis memegang perutnya.
"Ini di mana Ed?"
Tanya Vivi lemah belum mengingat apapun. Edward hanya diam saja menatap sendu sang istri yang belum menyadari semuanya.
Ingatan Vivi berputar pada kejadian dimana sebelum ia pingsan. Membuat Vivi mengepalkan kedua tangannya erat. Sungguh hatinya sangat sakit mengingat semuanya.
Om yang selama ini iya cari dan percaya tak lebih dari seorang iblis bahkan dengan teganya membunuh kedua orang tuanya.
Sungguh Vivi tak bisa memaafkan perbuatan sang om, dia harus di hukum bahkan penjara pun tak cukup untuk menghukumnya.
Hiks ....
Di saat amarah Vivi meruak, Vivi terkejut mendapati Edward menangis.
"Ed?"
"Maafkan aku hiks .. Maafkan aku!"
"Aku suami yang tak berguna, maaf kan aku!!"
Vivi mengerutkan kening mendengar ocehan Edward yang tak masuk akal.
"Maafkan aku sayang, tak bisa menjaga kalian. Tolong maafkan aku!"
Vivi semakin bingung mendengar permintaan maaf Edward bahkan Edward sampai menangis begitu. Harusnya Vivi yang minta maaf karena tak menuruti perintah Edward untuk diam tak perlu tahu alasan itu.
"Ed, kau kenapa?"
"Maafkan aku yang tak pulang, maaf tak bisa menjagamu dan maaf sudah membuat mu mengalami hal buruk!"
"Apa maksud mu, Ed aku tak mengerti!"
"Kamu mengalami keguguran!"
"What!!"
Pekik Vivi tak mengerti dengan ucapan Edward membuat Edward terdiam menghapus air matanya merasa heran dengan reaksi Vivi.
"Sayang!"
"Keguguran apa, aku tak hamil!"
Deg ...
Edward terdiam menatap Vivi serius membuat Vivi merasa heran apalagi kenapa perutnya terasa sakit.
"Terus, kenapa kamu memintaku pulang. Bukankah kamu ingin memberi tahu kan bahwa kamu hamil!"
"Ed, aku tak hamil, ak-aku memintamu pulang karena ... Karena--"
Vivi menatap Edward begitu Edward, mereka saling tatap satu sama lain membuat Vivi menyadari sesuatu.
"Ed--"
"Ka-kamu tak sadar jika sedang hamil!"
Hati Edward semakin tercabik mengetahui pakta itu pantas saja sikap Vivi sangat aneh.
"Dan, sekarang kamu keguguran akibat benturan keras yang kau dapatkan!"
"Ed, tidak .. tidak mungkin!!"
Pekik Vivi memegang perutnya yang memang terasa sakit.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...