Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 21 Dokter Jingga


__ADS_3

Tatapan lemah menghunus tajam sang lord yang hanya diam dengan wajah datar biasanya.


"Kau menikah tak memberi tahu ku!"


Kesal Cherry menatap tajam Kaka yang tak peduli dengan semuanya.


"Sayang dia menyakitiku!"


Rengek Cherry mengadu pada Jarvis membuat Jarvis langsung menatap tajam Kaka.


"Kau menikah tak memberi tahu kami, sahabat macam apa kau ini!"


Aurora yang melihat orang-orang di depannya menatap bingung dengan tatapan tak percaya.


Mata Aurora terpaku pada Jarvis yang sedang memeluk Cherry wajah itu membuat Aurora mengingat sesuatu.


Aurora bingung siapa mereka ini dan dimana tuan putri yang di maksud.


"Pangeran Jarvis suami tuan putri Cherry putri saya dan anak sialan itu dia omnya tuan putri!"


Aurora mengangguk-angguk saja dengan kebingungannya.


Walau sedikit terkejut ternyata tuan putri yang mereka maksud keponakan suami kertasnya ini. Pantas saja di panggil tuan putri nyatanya menikah dengan seorang pangeran tak heran jika kastil ini milik mereka.


Entah seberapa kaya sampai mereka mempunyai kastil seperti ini keluarga Aldarberto berarti bukan keluarga sembarangan sampai keluarga mereka bisa dekat dengan keluarga kerajaan bahkan sampai anak-anak mereka di nikahkan.


"Nak!"


"Aurora!"


Ucap Aurora spontan karena bingung harus bicara apa. Pada orang baru memang Aurora seperti itu tak bisa ramah atau sok ramah hanya wajah datar dan cuek saja yang Aurora perlihatkan.


Sang Lord menatap tajam istri kertasnya yang tak sopan berdiri tegak tanpa membungkuk sama sekali siapa dia hingga berani seperti itu apalagi sang lord semakin tak suka melihat tatapan aneh Aurora yang terus menatap Jarvis.


"Kau sakit?"


Deg ...


Sang lord menggerakkan gigi-gigi nyaring dengan rahang mengeras melihat ketidak sopan Aurora. Edward hanya bisa menunduk melihat aura kelam sang lord yang pasti marah akan tingkah istrinya.


Tuan Aldarberto hanya diam menatap rumit Aurora sedang Jarvis dan Cherry tak tahu apa pandangan mereka pada Aurora.


"Sejak kapan?"


Grep ...


Tuan Aldarberto mencengkal lengan sang lord yang ingin menyeret Aurora keluar akan pertanyaan lancang itu.


Cherry hanya bisa diam karena baru kali ini bertemu gadis yang mengingatkan Cherry pada sahabatnya.


"Dia seperti itu semenjak kematian putrinya, setiap tahun setiap mengenang kematian putrinya Cherry akan jatuh sakit!"


Jawab tuan Aldarberto membuat Aurora terhenyak refleks langsung mendekat dengan tatapan sulit menatap Jarvis.

__ADS_1


Sang lord semakin murka melihat apa yang di lakukan Aurora sedang Jarvis hanya diam karena tak tahu harus berbuat apa tatapan Aurora padanya seolah menyampaikan sesuatu yang sulit di tebak.


"Boleh saya menyentuh bagian tubuh tuan Putri Cherry?"


Tanya Aurora sopan dengan penuh kelembutan membuat semua yang ada di sana terhenyak dengan perubahan sikap Aurora.


"Biarkan!"


Tegas tuan Aldarberto membuat Jarvis turun dari ranjang membiarkan Aurora mendekat.


"Maaf!"


Ucap Aurora memegang lengan Cherry bagian tertentu dan juga leher Cherry. Kening Aurora mengerut dengan dada bergemuruh hebat.


"Tak mungkin!"


Deg ...


Semua orang nampak terkejut melihat Aurora yang memundurkan langkahnya dengan wajah menegang dan keterkejutan yang nyata membuat Jarvis takut terjadi sesuatu pada istrinya.


Sang lord terdiam menatap rumit Aurora yang mulai menunjukan sisi lainnya.


Aurora meremas dadanya kuat dengan pandangan berkaca-kaca menatap rumit Cherry dan Jarvis seolah ada kesakitan di sana namun apa.


Rasa sakit yang tiba-tiba menghantam dada Aurora entah apa yang sebenarnya terjadi.


"Nak katakan apa ada sesuatu yang terjadi pada putriku?"


Tanya tuan Aldarberto memegang lengan Aurora yang nampak linglung tak percaya.


Batin bingung menatap Cherry yang menatap Aurora sendu apa ia mempunyai penyakit yang berbahaya atau bagaimana.


"Tidak ada, tapi penyakit ini sulit di sembuhkan!"


Duarr ...


Tuan Aldarberto lemas mendengarnya dengan Cherry yang kembali menangis di pelukan Jarvis apa penyakit itu memang benar-benar tak bisa di sembuhkan.


"Kau jangan mengada-ada!"


Bentak sang lord menarik kasar lengan Aurora hingga menghadapnya. Sang lord menatap tajam Aurora yang sudah membuat keponakannya menangis.


Siapa dia yang berkata seperti itu dokter bukan, cih seolah tahu semuanya.


Suasana semakin mencengkram dengan kebungkaman Aurora yang menatap sang lord rumit.


Terlihat jelas kecemasan di mata itu membuat Aurora jadi teringat om Alam yang sudah meninggal.


Kasih yang sang lord berikan pada keponakannya sama seperti om Alam menyayangi dia. Aurora tahu bagaimana rasanya jika seseorang yang kita cintai menderita dengan penyakitnya sama seperti yang om Alam alami. Namun, penyakit ini kasus yang berbeda dan bahkan sulit di sembuhkan oleh pakar dokter.


"Jangan buat Cherry menangis, katakan kau hanya membual!"


Bentak sang lord tega membentak istrinya sendiri di hadapan semuanya. Sang lord begitu melindungi Cherry tanpa peduli hati Aurora yang sakit nyatanya dia benar-benar tak di anggap.

__ADS_1


Tak ada yang peduli dengan perasaannya keluarganya, bahkan suami kertasnya tak sedikitpun menghargai ia.


"Katakan!"


"Kaka!"


Bugh ...


Tuan Aldarberto terpaksa meninju adiknya karena sudah menyakiti Aurora. Tuan Aldarberto tahu Kaka sangat menyayangi putrinya namun bukan cara seperti ini.


Seperti nya Aurora harus kuat di dunia kejam ini yang tak ada satupun orang yang peduli padanya.


Aurora tersenyum miris sangat rindu sang kakak yang tak akan membiarkan ia di perlakukan seperti ini oleh orang lain.


"Maaf!"


Ucap Aurora berusaha tegas di hadapan semuanya. Wajar sang lord marah karena mereka belum tahu siapa ia sebenarnya.


"Tuan putri tidak sakit semestinya, namun itu sebuah tekanan batin yang begitu kuat. Maaf, bukankah tuan bilang jika tuan putri kehilangan putrinya seperti nya itu yang memicu tuan putri sakit!"


"Ketidak relaan dan ketidak ikhlasan membuat batin tuan putri tertekan apalagi pisik tuan putri juga terguncang oleh keadaan!"


Aurora menatap Jarvis yang hanya diam karena yang di katakan Aurora memang benar adanya. Istrinya terlalu tertekan oleh keluarganya. Semenjak kehilangan putri mereka Cherry di paksa harus hamil kembali agar melahirkan penerus kerajaan. Peliknya orang-orang kerajaan membuat istrinya seperti ini semua ini Jarvis sembunyikan dari semuanya atas dasar permintaan sang istri karena tak mau tuan Aldarberto dan Kaka cemas.


Kaka yang mendengar semuanya menatap tajam Jarvis. Jika sudah begini tak ada yang bisa di sembunyikan lagi.


"Kau!"


"Cukup Kaka!"


Bentak tuan Aldarberto kesal karena adiknya tak bisa mengontrol emosi. Tuan Aldarberto tak bisa menyalahkan Jarvis atas semuanya karena sudah tahu itu sendari awal.


Tuan Aldarberto hanya selangkah lagi menangkap musuh kerajaan yang membahayakan nyawa putrinya. Jangan sampai tempramen Kaka mengacaukan semuanya karena keluarga mereka juga terlalu pelik.


"Katakan apa yang bisa membantu putriku keluar dari semuanya!"


"Dokter Jingga!"


"Membual!"


Kesal Kaka pergi begitu saja dari kamar Cherry dengan amarah yang menggebu.


Dokter Jingga kenapa harus dokter itu sudah lama Kaka mencarinya namun sampai saat ini ia belum bisa menemukan keberadaan dokter Jingga itu.


Keberadaan sang dokter di incar oleh beberapa pihak membuat Kaka harus lebih dulu menemukannya sebelum orang lain karena jika orang lain yang menemukannya itu akan bahaya bagi perusahaan, dunia bawah dan orang-orang kerajaan.


"Hanya dokter itu yang tahu jawabannya!"


Ucap Aurora langsung berlalu begitu saja meninggalkan kamar Cherry dengan tangan mengepal erat.


Tuan Aldarberto dan Jarvis saling tatap rumit seolah mereka berdua harus merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....


__ADS_2