
Kaka menatap sendu sang istri di mana punggung tangan mulusnya di pasang selang infus.
Akibat selalu telat makan dan minum membuat Aurora kekurangan cairan apalagi Aurora mengkonsumsi makanan tak bergizi.
"Kau memang keras kepala!"
Geram Kaka bercampur sedih melihat istrinya berbaring lemah walau ada rasa lain yang Kaka rasakan.
Bagaimana Kaka bisa bahagia di saat istrinya seperti ini.
"Sayang, bukankah kau ingin memberikan kejutan pada hubby! Ayo bangunlah!"
Ucap Kaka lembut mengelus lembut wajah sang istri.
"Ini sudah dua jam, kenapa belum bangun, hm!"
Ucap Kaka lagi tak tega melihat istrinya yang seperti ini. Sesekali Kaka mengecup punggung tangan sang istri dengan penuh kasih.
"Hm!"
Kaka terkejut ketika mendengar suara gumaman sang istri.
Perlahan bulu mata lentik itu mengerjap pelan hingga terbuka menampakan netra hitam kecoklatan.
"Sayang!"
"By!"
Ucap Aurora lemah sambil menggeram tertahan merasa punggung tangannya sakit. Aurora melirik sekilas ternyata tangannya di pasang infus.
"Selamat ulang tahun, by!"
"Kau!"
Geram Kaka bisa-bisa sang istri mengucapkan selamat ulang tahun padanya di saat seperti ini.
Aurora berusaha bangkit namun Kaka melarangnya.
"Tas!"
Ucap Aurora lemah, ingin sekali Kaka menjitak kening sang istri yang benar-benar sudah membuat perasaan ia naik turun.
"Tas, by!"
Rengek Aurora membuat Kaka memejamkan kedua matanya menahan kekesalan.
"By!"
Mau tak mau Kaka beranjak dari pada istri keras kepalanya memaksakan bangun.
Aurora tersenyum tipis melihat wajah masam sang suami bukannya terlihat jelek malah semakin tampan.
"Terimakasih, by!"
Aurora mengambil sesuatu dalam tasnya di mana sebuah kotak kecil keluar dari genggamannya.
"Maaf, Rora hanya bisa ngasih ini!"
Ucap Aurora memberikan kotak kecil itu pada Kaka.
Perasaan kesal yang tadi menyelimuti hati kini berganti rasa haru dan bahagia. Istrinya sampai segini hanya demi sebuah kado.
Sebuah miniatur dua orang Jendral yang terbuat dari ranting-ranting yang sudah di awetkan hingga tak akan patah walau terjatuh. Kepalanya khusus dari peluruh sendiri entah dari mana Aurora mendapatkannya.
Namun yang membuat Kaka tak bisa menahan air matanya melihat sebuah nama yang tergantung di leher dua miniatur itu.
...Jenderal Geoffrey Aldarberto...
...Jendral Kaka Aldarberto...
Sebuah nama yang di ukir khusus dari emas murni entah berapa nilainya. Sebuah pangkat yang ter-tahta berlian sungguh miniatur yang sangat indah yang pernah Kaka lihat.
__ADS_1
Bahkan miniatur-miniatur koleksi dirinya tak seindah buatan sang istri.
"Apa hubby suka?"
Tanya Aurora lemah sambil menghapus lelehan bening sang suami.
"Sayang!"
Sungguh ini adalah kado terindah yang pernah ia dapatkan karena ini kado kedua setelah enam belas tahun lalu.
Bahkan Kaka tak ingat kapan ulang tahunnya sendiri setelah kejadian mengerikan itu.
Kaka memeluk sang istri lembut sambil mengecup pelipis sang istri membuat Aurora nyaman. Rasa mual dan pusing itu seakan hilang ketika wangi tubuh sang suami masuk kedalam indra penciumannya.
"Terimakasih sayang,"
"By, menyukainya?"
"Sangat!"
"Ini kado terindah yang pernah hubby dapatkan setelah enam belas tahun!"
Hati Aurora teriris mendengarnya sungguh begitu banyak rasa sakit yang sang suami tanggung Aurora berharap dia adalah alasan Kaka bahagia kedepannya.
"Terimakasih sayang, terimakasih ini kado kedua yang sayang berikan!"
Aurora menautkan kedua alisnya bingung, bukannya ini kali pertama Aurora memberikan sebuah hadiah lantas hadiah apa yang ia berikan selain dari pada ini.
"By, Rora baru memberikan hubby hadiah, ini yang pertama!"
"Tidak sayang, ini yang kedua!"
"Lalu!"
"Ini! Di sini hadiah pertama yang sayang berikan!"
"Di sini!"
Beo Aurora sambil memegang tangan sang suami yang mengelus perutnya.
Aurora terdiam menatap sang suami bingung. Otak Aurora entah kenapa bekerja menjadi lambah tak biasanya membuat Kaka gemas.
"Di sini sudah ada buah cinta kita!"
Deg ...
Seketika tubuh Aurora menegang menatap sang suami tak percaya. Bahkan tatapan Aurora terlihat kosong dengan otak ya yang berpikir.
"Sayang hamil!"
"By!"
Lilir Aurora menggigit bibir bawahnya gemetar mendengar kata hamil. Reflek Aurora menatap perut datarnya dengan mata mengembun.
"By!"
Sekali lagi Aurora memastikan berharap ini bukan mimpi.
"Sayang hamil, di sini sudah ada baby!"
Ucap Kaka memperjelas membuat tangisan Aurora pecah.
"Ak-aku hamil,,, ak-aku hamil,,"
Lilir Aurora dengan lelehan bening yang sudah tak bisa di tampung lagi.
Sungguh apa yang Aurora lakukan sampai mendapatkan kebahagiaan sebesar ini. Berniat memberi kejutan pada sang suami di hari ulang tahunnya nyatanya dia sendiri yang terkejut akan kabar kehamilannya.
"Baby!"
"Ya! Baby!"
__ADS_1
Aurora menangis bahagia dalam pelukan sang suami. Aurora masih tak menyangka jika dirinya telah hamil padahal Aurora tak pernah merasakan hal apapun selain dari pada siang tadi.
Aurora pikir ia hanya asam lambung namun nyatanya sudah ada baby dalam perutnya.
"Kau hadiah terindah yang Tuhan kirim untuk menemani hidup hubby!"
"Terimakasih sayang, sudah memberikan kebahagiaan sebesar ini, love you!"
Aurora sudah tak bisa membalas ungkapan kasih sayang sang suami. Dia terlalu bahagia sampai sulit untung bicara apa.
Sungguh sang baby hadir di waktu yang tepat memberikan kabar bahagia bagi semuanya.
"By,"
Aurora mengangkat wajahnya guna melihat wajah tampan sang suami di mana Kaka langsung menunduk.
Mata mereka saling mengunci satu sama lain dengan lelehan bening yang terus keluar.
"Hubby bahagia?"
"Sangat!"
Jawab Kaka cepat sambil mengelus wajah sang istri.
Kaka mengelus lembut penuh damba bibir pucat sang istri.
Cup ...
Aurora menarik tengkuk sang suami hingga bibir mereka bertemu. Kaka tersenyum tipis di sela ciumannya. Kaka pikir hanya dia yang menginginkan ini nyatanya sang istri juga sama.
Ciuman yang begitu penuh kelembutan walau ada sedikit tekanan sungguh mereka sangat rindu ini apalagi sudah tiga hari sang istri mendiamkannya.
"By!"
Lilir Aurora entah kenapa menginginkan sang suami dalam keadaan seperti ini.
"Sayang lagi sakit!"
"Kangen!"
Ucap Aurora memelas membuat Kaka mengepalkan kedua tangannya. Siapa yang akan menolak dari pesona bidadari satu ini namun Kaka berusaha tetap waras karena di dia tahu kalau sudah terjadi dia tak bisa bermain lembut apalagi Aurora akhir-akhir ini sedikit agresif.
"Usia kandungan?"
"Enam minggu!"
"Apa kata dokter?"
"Banyak istirahat, dan harus mengkonsumsi makanan-makanan bergizi. Tak boleh kelelahan karena baby sedikit lemah!"
Wajah Aurora seketika murung ini salah dia yang tak menyadari kehadiran buah cintanya.
Kaka yang melihat wajah murung sang istri menjadi bingung harus bagaimana. Sungguh jika saja tak mengingat lemahnya kehamilan sang istri sudah pasti Kaka tak akan membuat wajah sang istri murung begini.
Cup ...
Kaka mengecup bibir sang istri berusaha mengalihkan pikirannya. Kaka tahu menahan itu sangatlah tak nyaman bisa-bisa sang istri bertambah sakit.
Sebisa mungkin Kaka mengendalikan semuanya bahkan apa yang Kaka lakukan sangatlah lembut membuat Aurora hanyut dalam kenikmatan yang sang suami ciptakan.
Tak ada rasa sakit yang ada hanyalah sebuah kenikmatan yang tercipta. Kaka berharap apa yang ia lakukan mampu membuat sang istri nyaman.
Bahkan ketika memasuki begitu hati-hati dan sangat pelan sampai semuanya menyatu.
"Begini!"
Aurora mengangguk karena memang ini yang inginkan.
Bahkan selang infus sudah terlepas sendari tadi.
Entah lah, kenapa Aurora bisa seagresif ini yang jelas Aurora menyukai wangi tubuh sang suami.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...