
Entah sejak kapan Kaka menyukai bau parfum yang Aurora pakai. Sialnya parfum ini terasa nyaman di indra penciuman Kaka padahal parfum ini sering di pakai oleh orang lain juga tapi entah kenapa menempel di tubuh Aurora terasa berbeda.
"Menjauh lah dari ku!"
Bruk ...
Aurora membulatkan kedua matanya tiba-tiba Kaka mendorong dia hingga terjatuh di atas lantai sana.
"Apa-apa sih, kau ini sakit tahu!"
Kesal Aurora menatap tajam Kaka yang masa bodo. Sungguh Aurora tak tahu kebisuan Kaka sejak kemaren karena menahan sesuatu.
Entah kenapa setiap kali dekat dengan Aurora membuat jiwa lain Kaka bangkit, Kaka tak mengerti kenapa ini bisa terjadi padahal sebelumnya nya tak seperti ini.
Apalagi sendari tadi Aurora terus di dekatnya karena sedang mengganti perban. Setiap gerakan Aurora maka Kaka akan menahan nafas.
"Kau belum lihat photo sahabat ku, lihatlah walau sebentar kau sudah janji akan mencari tahu keadaan nya?"
Aurora berusaha menahan kekesalannya karena ia harus tahu bagaimana kabar Vivi. Jika Vivi dalam bahaya Aurora harus bergerak tak mungkin Aurora membiarkan Vivi dalam masalah.
"Katakan di mana dokter Jingga?"
"Aku tak akan mengatakannya sebelum kau menepati janji mu!"
"Cih, bahkan kau sudah melebihi batas!"
"Ap-apa maksud mu!"
Gugup Aurora seolah ketangkap basah sudah melakukan kesalahan.
"Kau merawat ku karena ingin mendapatkan ponsel hm!"
Deg ...
Aurora terkejut jika Kaka mengetahui itu semua. Bagaimana bisa tahu padahal dari kemaren Kaka tak sadarkan diri apa Edward yang memberi tahu jika ia awas saja kau Ed, batin Aurora kesal.
"Karena kau melakukan kesalahan, perjanjian itu batal!"
"Tak bisa gitu!"
Kesal Aurora terpancing emosi Kaka selalu saja mempermainkan dirinya. Bukankah sudah janji kenapa harus di ingkari.
"Kaka!"
Teriak Aurora mengejar Kaka yang tak mengindahkan ucapannya.
"Kau sudah janji kenapa harus ingkar, Kaka berhenti!"
Sungguh Aurora benar-benar di buat naik darah dengan apa yang Kaka lakukan.
"Kaka!"
"Sitt!"
Geram Kaka terasa nyeri ketika Aurora menarik tangannya membuat Kaka menatap tajam Aurora yang merasa bersalah.
"Maaf tap--"
"Diam!"
Bentak Kaka membuat Aurora seketika diam dengan wajah sendu.
"Tak bisakah kau mengatakan sekali, jangan melebihi batasan!"
Aurora tetap diam mendengar bentakan itu membuat Aurora mengepalkan kedua tangannya kuat.
Kenapa sulit sekali meluluhkan hati batu itu bahkan sekarang ia di ingatkan dengan batasan. Ya, Aurora sadar dia hanya seorang tawanan tak lebih dari itu.
Aurora pikir welcome nya Kaka membuktikan jika dia sudah berhasil membuat Kaka menyukainya nyatanya salah. Jika begini Aurora harus apa, seperti nya Aurora akan menjalankan misi terakhir.
Jika cara lembut tak bisa maka satu-satunya hanyalah pemberontakan.
__ADS_1
"Aku membencimu!"
Kaka menghentikan langkahnya tanpa menoleh sungguh Aurora tak bisa terus bertahan seperti ini.
"Kenapa kau hadir hah!"
"Kenapa kau hadir dalam hidup ku, gara-gara kau hidup ku hancur dan sekarang kau pun tak mau mewujudkan permintaan kecil ku!"
"Aku benci kau, dasar kaku, dingin dan menyebalkan!"
Umpat Aurora benar-benar kesal dan marah melihat Kaka yang bahkan tak peduli sama sekali tentang dirinya.
Mau sampai kapan Aurora terus terkurung seperti ini.
"Rose!"
Teriak Aurora untuk pertama kali membuat Rose langsung muncul.
"Nyonya!"
"Ikut aku!"
Rose patuh mengikuti Aurora masuk kedalam dapur entah apa yang sedang di rencanakan Aurora kenapa malah ke dapur. Bukankah tadi ia marah-marah pada sang lord kenapa sekarang malah ke dapur menyiapkan makan untuk sang lord.
Aneh!
Pikir Rose bergidik ngeri membayangkan apa yang di perbuat sang Nyonya. Rose hanya diam saja membantu menyiapkan beberapa bahan yang di minta.
Dengan cekatan Aurora meracik semuanya membuat Rose kagum. Bukan hanya ilmu bela diri dan juga ilmu kedokteran ternyata sang nyonya juga sangatlah jago masak.
Aurora hidup sendiri ya tentu ia melakukan apapun sendiri tanpa bantuan orang lain.
Aurora tersenyum ketika kerja kerasnya sudah selesai.
Aurora berharap Kaka akan luluh dengan makanan yang ia masak.
Apa yang Aurora lakukan tak luput dari pantauan netra biru indah sang lord yang terus memantau setiap pergerakan Aurora.
Hina sang lord membuat Edward hanya diam saja tak berani berkomentar.
Makanan Rendah yang ujungnya akan habis juga tanpa sisa, batin Edward mendelik malas.
Edward menatap Rose yang terus di seret untuk mengantarkan makanan tersebut. Namun Rose tak berani karena takut tapi Aurora tetap memaksanya dengan wajah imut itu.
"Ayolah Rose, Lord mu harus makan sebelum minum obat?"
"Tapi nyonya saya tak berani!"
Tolak Rose halus karena memang takut berhadapan dengan sang Lord.
"Kenapa tidak nyonya saja!"
"Kau ini, aku kan sedang marahan!"
"Tapi kenapa nyonya masih baik menyiapkan makanan untuk Lord!"
Lancang Rose tak takut di marahi apalagi memang Aurora memperlakukannya sebagai teman.
"Dia suami ku Rose!"
Deg ...
Edward terdiam melirik sang lord dengan ekor mata guna ingin melihat reaksi sang lord bagaimana tapi sialnya tak ada raut berlebih dari sang lord yang setia dengan wajah datarnya.
Edward pikir sang Lord akan beraksi lebih ketika sang nyonya menganggap ia suami.
Tok .. Tok ....
Dengan Ragu Rose mengetuk pintu ruangan sang lord gemetar karena baru kali ini ia mengantarkan makanan untuk sang Lord karena biasanya Edward lah yang mengambilnya.
Cklek ..
__ADS_1
Rasanya Rose mau pingsan saja melihat pintu itu terbuka. Nampaklah Edward berdiri di depan sana membuat Rose menghela nafas lega.
"Ada apa?"
Ketus Edward membuat Aurora yang bersembunyi menggeram kesal. Kenapa tak ada yang ramah satupun bahkan Edward juga sama.
"Maaf tuan, ini makanan untuk Lord dari Nyonya!"
Gugup Rose segan apalagi Rose tahu siapa Edward sang kaki tangan sekaligus asisten sang lord.
"Hm,"
Aurora tersenyum melihat Edward sudah membawa makana itu masuk kedalam barulah Aurora muncul.
"Terimakasih Rose, kau memang yang terbaik!"
"Iya nyonya!"
Jawab Rose merasa lega namun detik berikutnya Rose menautkan kedua alisnya bingung melihat tingkah sang nyonya yang nampak berbeda.
Satu ...
Dua ..
Aurora!!!!!
Prang .....
Deg ...
Rose terkejut mendengar teriakan sang lord bahkan pecahan terdengar nyaring keluar seolah menara ini akan roboh.
"Nyonya!"
"Kabur!!!"
Teriak Aurora berlari dengan tawa terbahak-bahak karena sudah berhasil mengerjai Kaka siapa suruh semena-mena padanya.
Brak ...
Rose terpekik jantungan ketika pintu sana sudah koyak di tendang kaki kokoh sang lord membuat Rose gemetar tak berani melihat.
"Lo--"
"Di mana dia!"
Bentak sang lord menyala dengan rahang mengeras bahkan tenggorokannya sampai sakit memakan makanan itu yang begitu asin dan pedas bahkan lidah sang lord terasa terbakar.
"Nyo-nyonya ke kamar!"
"Sitt!"
Kaka melangkah cepat membuat Edward tak bisa mencegah jika sudah begini tak ada yang bisa menghentikannya kecuali tuan pertama dan taun putri.
"Beraninya kau!"
Geram sang Lord melangkah lebar menuju kamar dimana Aurora berani.
Berani-beraninya meracuni dia dan sialnya sang Lord bisa terkecoh dengan semuanya. Padahal sang Lord melihat langsung bagaimana proses memasak itu yang nampak baik-baik saja bahkan Rose yang merasakan masakan itu dengan senyum manis seolah masakan itu memang lezat tapi kenapa masakan itu berubah jadi racun.
Dor ...
Dorrr ...
"Aurora buka!"
Teriak sang Lord marah besar berusaha tak menghancurkan pintu kamarnya.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1