Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 64 Semakin panas


__ADS_3

"Kenapa pangeran sampai sekarang belum di temukan!"


Murka sang Raja tak bisa menahan amarahnya lagi. Ini sudah dua puluh jam pencarian dan tinggal sisa empat jam lagi.


Semuanya tak akan bisa di kendalikan lagi, sang Raja tak mungkin terus menahan karena itu akan semakin memperburuk citra kerajaan.


Entah kemana perginya sang pangeran dan putri kenapa menghilang tanpa jejak dan siapa yang membantunya.


Bahkan Kaka kelimpungan memulihkan sistem yang sudah di retas.


Pikiran Kaka hanya tertuju pada king Asia karena keturunan Al-biru paling jago dalam hal begini bahkan kemampuannya tak usah di ragukan lagi. Jika memang king Asia di balik ini semua Kaka akan tenang karena yakin mereka pasti punya rencana bagus.


Hanz menautkan kedua alisnya bingung melihat anak Jendral yang terlihat tenang bahkan seolah tak peduli. Entah apa yang di pikirkan sang Jendral dia selalu punya kejutan.


Para jajaran terpaksa menunda pertemuan kemaren tapi hari ini mereka tak bisa menunggu lagi. Jika memang pangeran Jarvis tak sanggup maka ada pangeran William yang akan maju untuk menggantikan.


Pangeran William adalah seorang putra dari pangeran Peter sepupu dari sang raja sendiri.


Di mana pangeran Peter memang memegang bagiannya sendiri namun dia juga serakah ingin putranya menduduki tahta.


Jika kemaren para jajaran bungkam akan titah sang raja tapi kali ini mereka akan memberontak karena yakin jika terus di tekan sang Raja juga tak bisa apa-apa.


Licik pangeran Peter dengan rencana yang sudah lama ia susun.


Semuanya sudah berkumpul antusias tinggal menunggu sang Raja dan Ratu masuk ke aula.


Mereka berharap kekacauan yang di buat pangeran Jarvis membuat semuanya setuju jika pangeran Jarvis di gantikan.


Ruangan yang begitu tegang di penuhi dengan berbagai manusia licik dan serakah entah masih ada ketulusan atau tidak di sana.


Kaka hanya diam saja memantau dengan mata waspada sedang Hanz mengamankan semuanya.


Kaka sudah merasakan bahwa akan ada badai sebentar lagi.


Hari kedua pertemuan sang Raja berharap pangeran Jarvis datang jika tidak singgung sang Raja tak tahu harus bagaimana lagi.


Sang ratu hanya bisa bungkam dengan semuanya karena yakin putranya tak akan mencoreng nama baik kerajaan dan sang raja.


Semuanya sudah berkumpul lagi-lagi hanya kuris pangeran Jarvis dan tuan putri Cherry yang kosong membuat pangeran Peter menyeringai.


"Mohon maaf yang mulia, mau sampai kapan kita menunggu pangeran! Lagi-lagi dia tak hadir!"


Ucap pangeran Peter membuat suasana mulai tak kondusif.


"Ya, yang mulia ini tak bisa di biarkan pangeran semestinya tak seperti ini!"


Lanjut pangeran William membuat pangeran Peter tersenyum bangga putranya bisa di andalkan.


"Seorang penerus tahta harusnya profesional jangan hanya mementingkan tuan putri Cherry!"


Semprot putri Safira yang memang sudah geram melihat kemesraan pangeran Jarvis. Harusnya pangeran Jarvis menikah dengannya bukan dengan wanita penyakitan itu.


"Betul yang mulia, bagaimana bisa kerajaan akan baik-baik saja jika pangeran Jarvis tak bisa membedakan mana tugas dan mana cinta!"


"Tak bisakah kalian menunggu, mungkin pangeran Jarvis sedang dalam perjalanan!"


Potong Kaka dengan suara tegasnya membuat putri Safira terdiam dia memang sangat takut dengan salah satu Marquess kerajaan yang misterius.

__ADS_1


Keberadaannya selalu tak bisa di tebak oleh pada jajaran karena entah apa yang sang Jendral satu ini lakukan seperti seorang yang melakukan misi rahasia tapi kedudukannya di kerajaan tak bisa di bantah.


"Kita tak bisa menunggu lagi, lihatlah masyarakat sudah tak sabar menunggu!"


Deg ...


Sang Raja memijit pelipisnya pusing ia harus segera memutuskan antara menggulirkan tahta pangeran Jarvis atau di asingkan.


"Jangan terlalu cepat mengambil keputusan pangeran Peter, bukankah sesuatu yang terburu-buru itu tak baik!"


Krek ...


Pangeran Peter mengepalkan kedua tangannya sangat kesal dengan ucapan Kaka yang terlihat tenang namun setiap kalimatnya begitu menohok bahkan mematahkan segala argumen nya.


"Yang mulia ini bukan masalah sepele, kita harus segera bertindak!"


Ucap salah satu Earl, di mana masih keluarga kerajaan yang memiliki jabatan tinggi juga.


"Betul yang mulai jika pangeran Jarvis terus menghindar lebih baik tahta ini di serahkan pada orang lain!"


Seloroh pangeran Charles ayah dari putri Safira salah satu Viscount yang mempunyai kedudukan di beberapa wilayah kerajaan.


Pangeran Peter tersenyum seringai ketika sang Raja terus di desak jika begini terus ini akan menjadi sebuah keuntungan besar.


"Mohon maaf yang mulia, kita harus segera memutuskan para wartawan sudah mendesak dan kita tak bisa membuat rakyat kita menunggu!"


Ucap sopan sang penasehat membuat sang Raja sejenak memejamkan kedua matanya berat.


Sungguh ini keputusan yang sangat sulit ia ambil.


"Baiklah, keputusan sudah di buat!"


"Raja!"


Lilir sang Ratu memegang lengan suaminya, ia berharap sang Raja tak salah membuat keputusan.


"Pangeran Jarvis memang melakukan kesalahan maka posisi sebagai penerus tahta akan di gan--"


"Tunggu!"


Teriak pangeran Jarvis masuk dengan gaya Coll nya menggandeng lengan sang istri yang nampak baik-baik saja.


Semua orang yang ada di sana membulatkan kedua matanya tak percaya melihat siapa yang masuk namun yang membuat mereka terkejut lagi melihat keadaan putri Cherry yang baik-baik saja tidak seperti rumor bahkan sang raja dan ratu pun tersentak.


Pangeran Jarvis menunduk hormat pada sang raja dan ibu ratu lalu Jarvis mempersilahkan istrinya duduk.


"Mohon maaf atas kekacauan yang saya buat, namun bukan berarti posisi saya harus di ganti bukan!"


"Posisi itu tak cocok untuk anda pangeran, terlalu banyak kesalahan yang anda buat!"


"Benarkah!"


Ucap Pangeran Jarvis tenang menatap tajam pangeran William yang menjadi sepupunya itu.


"Lalu yang cocok siapa?"


Tanya Jarvis membuat pangeran William mengepalkan kedua tangan.

__ADS_1


"Tentu pangeran William karena sudah banyak prestasi yang dia dapatkan!"


Ucap pangeran Charles membuat putri Safira menatap tajam sang Daddy tak suka.


Walau putri Safira sangat kesal pada Jarvis namun ia tak mau posisi tahta tergeser dari Jarvis.


"Iya betul, Bagaimana bisa anda memimpin pangeran sedang tahta butuh penerus dan tuan putri Cherry sedang bermasalah!"


Desak pangeran Peter angkat bicara lagi membuat suasana semakin panas.


"Izin yang mulia!"


Ucap Cherry berdiri membuat sang raja langsung mengangguk.


Cherry berdiri menatap sang suami lembut lalu pandangannya teralih pada Kaka yang selalu setia dengan wajah datarnya membuat Cherry sedikit jengkel dan juga gemas.


"Saya memang bermasalah namun bukan berarti kalian bisa memojokkan pangeran Jarvis bukan!"


"Kami bukan memojokkan tuan putri, tapi tahta butuh penerus juga bukan sekedar pendamping!"


Ketus putri Safira membuat Cherry tersenyum lembut menghadapinya.


"Lalu, apa suamiku harus menikahi anda tuan putri Safira!"


Tekan Cherry menatap tajam putri Safira yang tersentak akan tatapan itu. Bahkan yang lainpun sama terkejutnya melihat sisi lain dari Cherry.


Sudah cukup bagi Cherry terus terdiam kini ia harus menunjukan taringnya dan memperlihatkan pada dunia jika suaminya bukan barang yang harus di lempar sana sini.


"Tenang saja, anda tak perlu khawatir tentang penerus!"


"Maksud anda apa tuan putri!"


Sanggah pangeran Peter mulai ketakutan jika putri Cherry telah hamil.


Cherry tersenyum seringai menatap sang raja yang juga bingung namun tidak dengan ibu ratu.


"Karena sang penerus sudah ada!"


Deg ....


Semua orang terkejut begitupun dengan putri Safira yang membulatkan kedua matanya menduga-duga apa putri Cherry hamil kembali, bukankah ia selalu memberikan obat agar itu tak terjadi.


"Jangan membual putri!"


"Iya!"


"Katakan yang sebenarnya!"


"Penerus tahta ada di sini!"


"Mommy Daddy!"


Duarrr ...


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2