Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 32 Latihan


__ADS_3

Mata mereka saling tatap satu sama lain seolah keduanya hanyut dalam pesona masing-masing.


Mereka sama-sama yang pertama seperti ini tak ada yang lain.


"Kenapa lukanya masih membekas!"


Kaka memejamkan kedua matanya geram lagi-lagi Aurora berani memegang perutnya padahal satu tangannya sudah Kaka pegang.


Kaka membuka kedua matanya menatap tajam Aurora membuat Aurora gugup.


"Maaf!"


Cicit Aurora merasa bersalah menarik lengannya.


"Mau apa lagi!"


"Ak-aku minta maaf soal tadi, aku janji gak akan lancang lagi. Tapi kamu harus janji akan mencari Vivi memastikan keadaan nya!"


"Hm!"


"Yang benar!"


"Iya!"


"Terimakasih!"


Deg ...


Tubuh Kaka semakin menegang ketika Aurora dengan lancangnya malah memeluk dia. Begitulah Aurora jika senang ia akan memeluk orang itu, kecuali.


"Terimakasih, aku tunggu kabarnya besok!"


Girang Aurora karena Kaka mau membantunya walau wajah itu selalu datar membuat Aurora kesal. Tapi tak apa yang penting Kaka sudah mau berbaik hati.


Kaka menatap nanar kepergian Aurora yang benar-benar menghilang di balik pintu canggih itu.


"Sial!"


Umpat Kaka karena berani-beraninya tubuhnya mengkhianati dia.


Senyuman Aurora semakin mekar dengan wajah memanas karena baru kali ini ia menggoda laki-laki yang berstatus suami kertasnya dan itu ternyata sangatlah menyenangkan apalagi melihat wajah datar Kaka yang memerah bak kepiting rebus.


Bahkan matanya menahan kegeraman namun Kaka tak bisa memarahinya. Seperti nya Aurora punya cara untuk membuat Kaka diam.


Para penjaga yang melihat tingkah nyonya mereka terpesona apalagi jarang melihat senyuman itu namun mereka tak berani lebih.


Sungguh tak pernah Aurora bisa tersenyum selepas ini selama tujuh tahun lalu, hidupnya terlalu terkurung dalam sebuah pekerjaan. Namun kali ini Aurora harus mengubah lagi karakteristik guna membuat Kaka bertekuk lutut padanya hingga Kaka tak berani macam-macam.


Ya, misi kali ini Aurora akan membuat Kaka jatuh cinta padanya hingga tak bisa melepas dia. Jika Kaka sudah mencintainya Aurora yakin Kaka akan melakukan apa saja untuknya dan di saat Kaka lengah Aurora akan kabur karena Aurora sudah tahu di mana letak jalan keluar dari menara neraka ini.


Melihat reaksi Kaka yang seperti itu seperti nya mudah bagi Aurora meluluhkan hati Kaka. Aurora seorang dokter ia tahu apa yang terjadi, dia paham walau polos dalam praktek nya.


"Hay salju, aku bahagia hari ini!"


Teriak Aurora membuka jendela kamarnya hingga semilir angin langsung membelai wajah cantik tanpa noda itu.


Waktu Aurora tidaklah banyak ia harus cepat membuat Kaka jatuh cinta karena Aurora merasa jika teman-teman dalam bahaya dan butuh dia.


Aurora meliukkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri dengan kaki yang tak henti menari. Bukan hanya jago ilmu beladiri Aurora juga sangat jago menari.


Di saat suntuk Aurora memang suka menari sambil menyetel musik melengkapi tariannya.


Kini Aurora punya semangat hidup lagi merasa punya jalan untuk bisa terbang.


Aurora menghentikan tariannya ketika melihat para bodyguard di bawah sana bersiap entah ada apa. Melihat dari cara lari dan berdiri tegap seperti nya mereka bukan orang sembarangan.


Terlebih mereka seperti seorang inteljen yang terlatih.

__ADS_1


"Apa yang terjadi!"


Gumam Aurora ketika melihat Kaka keluar dengan pakaian formal dengan para bodyguard yang menunduk hormat.


"Apa dia ke kantor! Tapi kenapa terasa berbeda!"


Monolog Aurora lagi terus berpikir keras terus mengamati gerak-gerik Kaka hingga mobil yang membawa Kaka pergi meninggalkan garasi.


Jika Kaka pergi ini kesempatan bagi Aurora berkeliling lagi supaya ia hapal semuanya. Sebelum itu Aurora harus mandi dulu karena seharian ini ia belum mandi.


Tak membutuhkan waktu lama Aurora sudah rapih dengan baju santainya. Ia langsung keluar mencari Rose.


"Apa kau lihat Rose?"


Tanya Aurora pada salah satu penjaga dekat lorong kamarnya.


"Dia sedang latihan!"


"Di mana?"


Para penjaga diam tak berani bilang karena itu privasi.


"Hey kenapa kalian mendadak bisu! Dimana tempat latihannya!"


Kesal Aurora menatap tajam para penjaga yang setia dengan kebungkaman ya. Seperti nya Aurora harus menggunakan cara kasar agar para penjaga ini buka mulut.


"Tak mau buka mulut hah!"


Ucap Aurora menyeringai berjalan mendekat membuat para bodyguard waspada.


"Awwss .. Nyonya!"


Ringis salah satu penjaga ketika lengannya di cubit walau mereka memakai seragam lengkap tapi cubitan ini menembus kulit.


"Katakan!"


"Masih mau bungkam, hm!"


Bodyguard yang kena cubitan maut Aurora hanya bisa menggeram menahan sakit dengan wajah yang sudah memerah padam.


Melihat rekannya di siksa membuat bodyguard yang lain kasihan mereka tak menyangka jika nyonya mereka juga sangatlah menyebalkan.


"Di bagian Utara bangunan ini!"


Deg ..


Aurora langsung melepaskan cubitannya membuat bodyguard menghela nafas berat.


"Antarkan!"


"Tapi Lord bisa mara--"


"Antarkan atau aku akan menghancurkan bangunan ini!"


Glek ..


Para bodyguard hanya bisa menelan ludahnya kasar ternyata di balik wajah polos senyuman manis itu tersimpan singa betina yang sangat menakutkan.


Dengan terpaksa mereka mengantarkan Aurora ke sana membuat Aurora terus berpikir.


Dor .. Dor ...


Terdengar suara tembakan dan sabit tan pedang membuat Aurora semakin penasaran ia juga ingin berlatih sudah lama ia tak latihan.


"Woww!"


Deg ...

__ADS_1


Pekik Aurora berdecak kagum melihat ruang yang begitu luas dengan peralatan latihan yang komplit. Dari mulai pistol, pedang, panah dan belati belum lagi alat-alat lainnya.


Jika Aurora memasang wajah berbinar berbeda dengan para bodyguard dan Rose yang sudah pucat pasih melihat kedatangan nyonya mereka.


Rose menatap tajam dia bodyguard yang sudah membawa nyonya mereka ke tempat latihan jika sang lord tahu bisa habis mereka.


"Rose!"


Tegas Aurora membuat Rose seketika tersentak mengubah raut wajahnya lagi. Rose menunduk tak berani menatap Aurora yang menatapnya tajam.


"Kau latihan tak mengajakku hah, teman macam apa kau!"


Ketus Aurora berjalan melewati Rose membuat Rose terdiam ada rasa hangat tiba-tiba menyapa hatinya mendengar ucapan Aurora.


Teman!


Rose mengepalkan kedua tangannya mendengar kata itu seolah ada sesuatu yang terpendam sakit.


"Lanjutkan saja latihan kalian, jangan sungkan!"


Teriak Aurora membuat semuanya diam mereka bukan sungkan namun mereka sedang takut jika lord akan marah besar.


"Rose sini!"


Rose tersentak dari lamunannya langsung berlari menghadap.


"Iya nyonya!"


"Aku ingin lihat kau menggunakan ini!"


Rose menautkan kedua alisnya melihat pedang yang Aurora pegang. Pegangan ringan namun terlihat pas menguasai.


"Lanjutkan aku ingin melihat!"


Dengan ragu Rose mengambil pedang dari Aurora membuat Aurora tersenyum lalu duduk di kursi pojok sana guna ingin melihat.


Semuanya melanjutkan latihannya begitupun dengan Rose mulai mengayunkan pedang ragu.


Trang ...


Rose menepis pedang yang Aurora lempar terkejut karena hampir saja pedang itu menusuk dadanya.


Aurora hanya santai saja seolah tak terjadi apa-apa membuat Rose menatap rumit.


"Apa!"


Ucap Aurora santai membuat Rose kembali melanjutkan latihannya walau jantungnya hampir mau copot.


Aurora meloncat secepat kilat mengambil busur lalu mengarahkan pada anggota yang sedang berlatih Aurora tak peduli anak panahnya akan kena atau tidak.


Sittt,


Trang ..


Brak ...


Semua para bodyguard terkejut akan serangan dadakan itu membuat mereka refleks menangkis anak panah yang melesat ke arah mereka semua.


Mereka menatap Aurora yang kembali ke tempat semula dengan wajah polosnya.


Mereka seperti bukan hanya seorang mafia saja!


Batin Aurora sangat hapal betul gerakan yang mereka kuasai.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2