Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 86 Gara-gara cemilan


__ADS_3

"Ra, ya ampun kau baik-baik saja kan!"


"Apa ada yang terluka atau apa?"


Cerocos Vivi mem-bulak-balik tubuh Aurora takut ada sesuatu yang lecet.


"Vivi kepalaku pusing!"


"Maaf, aku hanya khawatir!"


Cicit Vivi benar-benar khawatir dengan keadaan Aurora apalagi seharian Aurora benar-benar tak keluar.


"Aku baik-baik saja, ok!"


Tegas Aurora membuat Vivi mengangguk patuh bak anak kecil.


Tuan pertama tersenyum tipis melihat persahabatan kedua manusia di hadapannya ini. Sungguh beruntung Aurora mempunyai sahabat serasa saudara.


"Ra, ngomong-ngomong di mana suami mu?"


Bisik Vivi penasaran karena ia belum melihat bentuk suami Aurora seperti apa.


"Di ruang kerja!"


"Oh!"


Vivi hanya ber 'oh' ria saja tak mau bertanya lebih lanjut karena memang sejatinya Vivi begitu.


Vivi kembali memakan cemilannya sambil duduk di shopa sana dengan tak tahu malunya. Aurora hanya menggeleng kepala saja melihat tingkah sahabatnya yang mulai keluar konyolnya.


Entah apa yang sedang Kaka bahas bersama Hanz dan juga Edward. Tentu itu hal yang serius membuat mereka butuh beberapa jam berada di sana.


"Hanz kau pastikan Jendral Anderson tak ikut campur!"


"Siap Jendral!"


"Jika ia berusaha menghalangi habisi saja!"


Tegas Kaka terlihat jelas kilatan amarah memenuhi dadanya.


Hanz mengangguk patuh akan titah sang Jendral karena kesalahan yang di lakukan putri Jendral Anderson sangatlah patal.


Jika begini siapa yang akan menghalangi jalan sang Jendral apalagi membuat kondisi sang Jendral drop.


Hanz langsung keluar dari ruang kerja sang Jendral tinggallah Edward di sana.


"Ed!"


"Keadaan Berto sudah di ujung tanduk, seperti nya tak lama lagi dia akan mati!"


Kaka terdiam dengan pikiran rumitnya, semuanya sudah ia serahkan pada tuan Pertama.


Kebencian itu mendarah sendari lima belas tahun lalu. Namun Kaka tak bisa menampik jika Berto adalah pamannya sendiri.


Kesalahan yang Berto lakukan memang patal bahkan tak bisa di maafkan namun sebagai seorang Jendral, Kaka tahu apa hukumannya yang jelas hukuman mati yang pantas Berto dapatkan. Namun, itu di luar kuasa Kaka karena memang ia di suruh tak ikut campur dengan masalah satu ini karena semuanya tuan pertama yang mengurus dan tentu Cherry yang lebih berhak menghakiminya.


"Bunuh saja!"


"Lord, tuan pertama tak akan setuju!"


"Lantas!"


Edward bungkam karena tak tahu harus menjawab apa.


"Kesakitan yang dia perbuat sangatlah besar di banding kesakitan yang dia rasakan. Cih, hanya segitu lantas bagaimana dengan keponakan ku!"


Lagi-lagi Edward tetap bungkam tak berani menyela sang lord terlihat benar-benar marah.


"Bunuh atau aku yang membunuhnya!"


Tegas Kaka berlalu meninggalkan ruang kerja membuat Edward menghela nafas berat. Edward menatap sendu punggung sang lord yang menghilang di balik pintu sana.

__ADS_1


"Hatimu memang tulus, tapi kau di paksa kejam oleh keadaan!"


Gumam Edward tahu sangat tahu apa yang maksud dari setiap ucapan Kaka.


Biarlah rasa sakit itu menjadi masa lalu yang menyakitkan walau sampai sekarang rasa itu masih ada.


Namun sejatinya keluarga tak mungkin menyakiti keluarganya sendiri walau itu memang pantas.


Namun, melihat orang lain kesakitan itu bukan jiwa Kaka yang hanya diam.


Lebih baik mati sekalian hingga Kaka tak terlalu merasa bersalah jika begini ia merasa kejam.


Huh ...


Edward membuang nafas berat sangat pusing memikirkan semuanya.


Edward keluar menyusul sang lord entah kemana perginya.


Uhuk ...


Uhuk ...


Suara batuk mengalihkan perhatian Edward menuju ruang sana.


Ternyata Vivi yang sedang batuk entah karena apa.


"Makannya kalau makan hati-hati!"


Omel Aurora menepuk-nepuk pundak Vivi yang masih batuk berat.


Vivi hanya pasrah saja di omel walau hatinya menggerutu. Vivi seperti itu karena kedatangan Kaka tiba-tiba.


Suara bas mengalun indah dengan pahatan bak dewa. Siapa tak terpesona dengan pahatan sempurna itu. Badan tinggi atletis dengan rahang tegas, mata biru bening indah membuat Vivi terpesona sampai ia keselek makanan.


Sungguh Vivi tak menyangka suami sahabatnya ini begitu sempurna, Vivi ingin menjerit namun tertahan membuat dadanya sesak.


"Minum dulu!"


Vivi langsung minum air yang di berikan Aurora sampai habis.


Rasanya tungkai Vivi lemas dengan semua ini sungguh Aurora sangatlah beruntung.


"Sudah selesai by?'


Tanya Aurora menatap suaminya yang datar bahkan sok sibuk dengan ponsel di tangannya.


"Hm!"


Jawaban dingin membuat Aurora mendengus kesal.


 "Ra, dingin banget!"


"Ya begitulah!"


"Tapi tampan!"


Aurora seketika melotot menatap tajam Vivi yang nyengir kuda membuat Kaka melirik sekilas entah apa yang di bisikan kedua wanita di depannya.


"Tapi kenapa auranya sangat menakutkan!"


Bisik Vivi lagi ketika tak sengaja matanya bertemu dengan mata biru Kaka yang menatap tajam Vivi.


"Edward!"


Teriak Kaka membuat Edward yang bersembunyi di balik tembok sana hampir saja tersungkur karena terkejut.


"Siap lord!"


"Singkirkan makanan itu!"


Deg ....

__ADS_1


Vivi dan Aurora melotot tak percaya dengan apa yang Kaka ucapkan.


Bahkan Vivi langsung menjatuhkan cemilan yang mau ia masukan kedalam mulut saking terkejutnya mendengar suara menggelegar bak geledek itu.


"By, apa-apa!"


Kesal Aurora menahan tangan Edward yang akan menyingkirkan makanan yang ia cemil bersama Vivi.


"Ed!"


Tekan Kaka membuat Edward bingung, di satu sisi sang Lord di sisi lain Aurora sama-sama menatap ia tajam.


"Itu makanan tak sehat, seharusnya kau tak makan!"


"Siapa yang membawa makanan sialan ini!"


Glek ...


Vivi menelan ludahnya kasar ketika Kaka menatap ia tajam. Tentu dirinya yang membawa karena itu titah dari Aurora sendiri.


Sudah jauh-jauh hari ia memesan makanan itu dari Indonesia langsung dan sekarang dengan seenak jidatnya Kaka menyuruh menyingkirkannya.


"Ed, singkirkan tangan mu!"


"Maaf nyonya!"


"By, itu makanan kesukaan Rora!"


Protes Aurora menghampiri sang suami namun Kaka tak peduli.


"By, kembalikan!"


"Ganti yang lain!"


"Gak mau!"


"Itu tak sehat, ada banyak makanan di sini kenapa makan itu!"


"Tapi itu kesukaan Rora!"


"Tidak!"


Tegas Kaka membuat Aurora mengerucutkan bibirnya gemas dengan mata berkaca-kaca.


Sungguh Aurora sangat kesal dan marah sedang enak-enak nya nyemil Kaka malah menyuruh membuang.


"Kau jahat hiks ..,"


"Sayang, bukan begi--"


Deg ...


Kaka terkejut ketika Aurora malah menangis pergi begitu saja. Dengan cepat Kaka langsung menyusul.


Edward dan Vivi hanya saling pandang bingung melihat tingkah sang lord dan Aurora.


Tepatnya Vivi yang merasa aneh tak bisanya Aurora merajuk seperti itu hanya gara-gara makanan.


Tuan pertama yang melihat semuanya lagi-lagi hanya bisa tersenyum merasa lega jika adiknya sudah menemukan kebahagiaan nya.


"Sayang!"


"Jahat!"


"Bukan begitu, hub--"


Brakk ...


Aurora membanting pintu membuat Kaka terkejut dan juga heran.


Masa gara-gara cemilan Aurora semarah itu, itu seperti bukan diri Aurora namun orang lain karena tak mungkin Aurora bersikap seperti itu.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen,, dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2