
"Seberapa besar kamu membenciku"
"Semuanya!"
"Apa yang harus ku lakukan agar bisa menembus kesalahan ku?"
"Pergilah ke dunia dimana aku tak bisa melihat mu!"
Dokter Emma menggeleng kuat merutuki semua kebodohannya bahkan ia membenci kenapa harus mengatakan itu.
Ia tak ingin Hanz pergi namun ego yang membuatnya seperti itu.
Akankah ia bisa menyusul Hanz ke bandara keadaan yang tak memungkinkan.
Tiba-tiba ada badai salju membuat dokter Emma sulit menembus salju yang semakin tebal.
"Maafkan aku Hanz, maaf hiks ,,"
Isak dokter Emma mencoba fokus menyetir berharap ia masih bisa bertemu Hanz.
"Anggap saja itu ciuman terakhir dariku!"
"Berjanjilah melupakan ku, dan berjanjilah untuk bahagia!"
"Tidak, aku tak akan bahagia jika aku melupakan mu!"
"Maaf!"
Tak hentinya dokter Emma menangis menyesali perbuatannya. Ia tak tahu jika Hanz pergi bukan berniat meninggalkannya melainkan melindungi negara walau harus mempertaruhkan nyawanya.
Dokter Emma pikir Hanz sama seperti Siwon yang pergi untuk selamanya tanpa meninggalkan pesan apapun.
Meninggalkan ia seorang diri di Kubang kesepian, kehampaan dan kesakitan.
Meninggalkan dia menderita sendiri menanggung hati yang telah hancur berkeping-keping.
Rasa trauma kehilangan membuat dokter Emma ketakutan tapi ketika tahu Hanz masih hidup dan baik-baik saja ketakutan itu berubah membenci karena dokter Emma pikir Hanz benar-benar mencampakkannya begitu saja.
"Nona, mobil anda!"
Teriak penjaga ketika melihat dokter Emma berhenti di sembarang tempat hingga membuat kegaduhan.
Dokter Emma tak peduli, yang ia pikirkan saat ini hanya Hanz. Ia tak mau menyesal untuk kedua kalinya. Ia tak mau kehilangan cinta keduanya.
"Hanz!"
Teriak dokter Emma menggema namun sayang suaranya hanya angin lalu di tengah riuhnya manusia yang lalu lalang.
Dokter Emma terus berlari mencari di mana keberadaan Hanz dan kemana Hanz akan pergi. Sialnya, dokter Emma tak bertanya kemana arah keberangkatan Hanz.
"Hanz Jimenez!"
"Ku tahu kau belum pergi, Hanz!!!!"
Nada putus asa terlihat jelas di wajah dokter Emma membuat orang-orang menatap iba ada juga tak peduli.
Terus menyeret kedua kakinya mencari walau dirinya sendiri sedang di kejar-kejar penjaga bahkan sudah mengepungnya.
Beberapa penerbangan sudah lepas landas membuat dokter Emma sakit. Tinggal satu lagi yang belum. Dokter Emma berharap itu pesawat Hanz ia mencoba lolos dari kejaran para penjaga.
__ADS_1
"Hanz!!"
"Hanz!!!"
Teriak dokter Emma menggema karena berkurangnya para manusia yang memang sebagian sudah tak ada.
"Hanz!!!"
"Tidak!!! kau tak boleh meninggalkan ku!!!"
Teriak dokter Emma menjatuhkan tubuhnya ketika satu pesawat harapannya ternyata lepas landas juga sebelum ia masuk.
"Nyonya!"
Para penjaga langsung menahan dokter Emma dengan nafas memburu. Sungguh larinya sangat cepat membuat para penjaga kewalahan.
"Hanz!!"
Lilir dokter Emma tak berdaya di seret oleh dua orang penjaga.
"Apa kau benar-benar meninggalkan ku!"
"Kau memang brengsek, sialan!!"
"Nyonya mohon tenang!"
Kesal para penjaga karena dokter Emma tak mau diam. Bibirnya terus mengoceh dengan bulir bening tak mau berhenti.
Dokter Emma di bawa keruang keamanan untuk di interogasi.
Ruangan kemanan bukannya menjadi mencengkam malah terlihat mellow. Isakan dokter Emma membuat semuanya diam bahkan ketua penjaga sekalipun.
Karena merasa kasihan salah satu penjaga membiarkan Dokter Emma pergi.
Dokter Emma terus berjalan kearah luar bandara mencoba menerima takdirnya.
Apa ini akhir dari kisahnya kenapa harus sesakit ini. Semuanya terlambat benar-benar terlambat dan tak bisa di perbaiki lagi.
Hanz sudah pergi meninggalkan ia, apa Hanz akan kembali atau benar-benar menuruti ucapan dokter Emma.
Berjanjilah melupakan ku, berjanjilah untuk bahagia!
Ucapan itu terus terngiang di telinga dokter Emma membuat dokter Emma hanya bisa menangis dan menangis.
Semuanya salahnya yang selalu tak memberi kesempatan Hanz untuk menjelaskan. Kemana dokter Emma harus mencari bertanya pada sang Jendral itu hal yang mustahil.
Dokter Emma membawa mobilnya melesat jauh entah kemana dengan rasa sakit yang ia rasa. Menembus salju yang semakin tebal tak peduli jika itu akan bahaya baginya.
Bahkan beberapa mobil sudah tak bisa beroperasi karena tebalnya salju yang menghalangi jalan. Padahal sudah ada peringatan namun dokter Emma seolah tak peduli terus membelah salju sana.
Drum ...
Drum ..
Suara mesin mobil terdengar kencang menghantam salju namun dokter Emma sudah lagi tak bisa menembusnya karena salju yang semakin menebal dan mencekik ban mobilnya.
"Sial!!! Sial!!!! Hiks!!!"
Nada putus asa semakin jelas dengan kilatan kesakitan.
__ADS_1
Dokter Emma hanya bisa menangis sambil memukul-mukul stir mobil mengabaikan beberapa panggilan masuk.
"Kenapa?"
Lilir dokter Emma mencengkram dadanya kuat, kenapa luka ini kembali sakit. Bahkan lebih sakit dari pada kebohongan itu.
Sungguh, kisah cinta yang tak seindah orang lain. Kenapa harus ada sakit jika mencintai kenapa harus menderita jika menyayangi.
Tebalnya salju semakin mengurung mobil dokter Emma membuat Dokter Emma merasa sesak.
"Sial!"
Umpat dokter Emma ketika sulit membuka pintu mobil sedang salju semakin tebal di perkirakan akan ada badai salju.
Ia harus keluar tak mungkin ia mati kedinginan di dalam mobil.
Jika bagian atas di buka percuma dokter Emma sudah tak bisa lagi berjalan karena salju yang semakin meninggi sialnya mobil dokter Emma berhenti tepat di bawah lereng.
Pandangan dokter Emma semakin menipis karena semua bagian mobil sudah di selimuti salju.
"Apa ini akhir hidup ku!"
Gumam dokter Emma sudah pasrah dengan semuanya. Mungkin ini akhir dari hidupnya agar rasa sakit itu tak lagi ia rasakan.
"Aku mencintai mu, Hanz!"
Batin dokter Emma memegang sebuah kalung yang melingkar indah di lehernya.
Suara gemuruh mulai terdengar seperti nya badai salju benar-benar akan terjadi. Dokter Emma sudah pasrah akan semuanya mungkin ini jalan yang harus mereka tempuh.
"Dad, maafkan aku!"
"Mom, apa sebentar lagi kita akan bertemu!"
Brak ...
Badai salju benar-benar menghantam mobil dokter Emma hingga mobil itu terus berguling ke bawah sana. Dokter Emma hanya bisa memejamkan kedua matanya pasrah akan semuanya karena tahu siapapun yang terjebak badai salju tak akan selamat apalagi ia berada dalam mobil.
Dokter Emma semakin mencengkram erat kalungnya dengan rasa sesak yang mulai menyerang.
Ia tak berani membuka mata karena pasti hanya akan ada kegelapan.
Mobilnya benar-benar di timbun salju dan entah seberapa dalam membuat dokter Emma benar-benar sesak.
Dasar gadis bodoh, apa yang kau lakukan hah!
Cih, nyawamu berharga untuk sekedar menangisi cinta!
Orang tua mu pasti cemas!
Dokter Emma tersenyum mengingat pertemuan pertama mereka di mana momen ini merasa Dejavu baginya.
Namun semuanya hanya kenangan yang tak bisa di ulang kembali.
Sesak!
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1