
"By, kemana dokter Emma kenapa sampai sekarang belum ada?"
Tanya Aurora padahal ini sudah sangat malam tapi dokter Emma belum terlihat batang hidungnya.
Bahkan tadi yang memeriksa dia di gantikan oleh orang lain.
"Tak tahu!"
Jawab enteng Kaka sibuk memandang putri kecilnya yang sedang terlelap sama persis seperti Aurora.
"By!"
Kesal Aurora karena sendari tadi sang suami sibuk bersama putrinya bahkan mengabaikan dia dan sekarang hanya menjawab dingin.
"By!"
"Apa sayang!"
Kaka menghela nafas beranjak menuju sang istri membiarkan putrinya tidur nyaman.
"Lihatlah di luar ada badai salju, entah kenapa perasaan Rora gak enak. Apalagi tak biasanya Dokter Emma pergi tak pamit dulu!"
Aurora mengeluarkan keluh kesah nya yang sejak tadi menghantui hatinya.
"Jangan banyak pikiran, sayang harus istirahat besok kita pulang!"
"Aneh saja, apalagi dokter Abe ada?"
Aurora belum selesai dengan rasa penasarannya karena tak mungkin dokter paruh baya itu datang jika tak ada keperluan penting.
"Sayang, kenapa kau jadi bawel begini sih!"
Gemas Kaka mengecup pipi sang istri membuat Aurora bukannya senang malah melotot.
"Bawel!"
"Suttt, pelan kan sayang! Putri kita sedang tidur!"
Aurora mencebikkan bibirnya malas langsung berbaring membelakangi sang suami. Kaka hanya bisa tersenyum saja melihat tingkah istri ya yang merajuk.
Tak lama Aurora berbalik menghadap Kaka sambil merentangkan tangannya.
"Peluk!"
Rengek Aurora membuat Kaka terkekeh dengan senang hati ia berbaring di samping sang istri dan membawa sang istri kedalam pelukannya.
Kaka tahu Aurora tak akan bisa tidur jika belum di peluk oleh dirinya. Entah kenapa semenjak hamil selalu begitu dan sekarang semakin manja.
"Ayo tidur!"
"Susah by!"
"Ini sudah larut sayang!"
"Tapi susah, biasanya begini mudah tidur!"
Rengek Aurora mengendus dada bidang sang suami.
"Apa dokter Emma baik-baik saja?"
"Sayang!"
Gemas Kaka bercampur kesal masih saja sang istri menanyakan dokter Emma.
"Hanya bertanya by, kenap--"
Cup ...
Jalan satu-satunya hanya dengan ini agar bibir sang istri diam walau Kaka harus menahan sesuatu yang membuatnya pusing.
__ADS_1
Aurora malah tersenyum di sela ciumannya karena menginginkan ini.
Cup ...
"Tidur ya!"
"Terimakasih by!"
"Hm!"
Aurora mengulum senyum sambil mengeratkan pelukannya menyusupkan wajahnya di cekuk leher sang suami.
Rasanya Aurora benar-benar bahagia sangat bahagia apalagi dengan kehadiran Kimberly di antara mereka.
"By!"
"Hm!"
"Hubby pengen punya anak berapa?"
Seketika Kaka langsung membuka kedua matanya menatap sang istri tak percaya.
"Satu saja cukup!"
Plak ..
Aurora memukul lembut dada bidang sang suami yang sembarangan mengucap.
"Mana ada, harusnya tiga atau lima!"
"Kasihan kamu sayang, tadi saja mengeluarkan Kim sayang kesakitan begitu!"
Merinding Kaka tak bisa membayangkan jika istrinya melahirkan lagi. Sungguh Kaka tak mau melihat sang istri kesakitan.
"Itu sudah kodrat wanita By, kalau satu rasanya kesepian. Rora saja punya kak Fatih dan Aksara rasanya kurang. Pernah minta sama Bunda adik lagi tapi Bunda sedang sakit!"
Curhat Aurora membuat Kaka terdiam apa benar ini istri ya dingin nan galak kenapa jadi mellow seperti ini.
Putus Kaka membuat Aurora berpikir entah apa yang Aurora pikirkan.
Sekarang usia dia tiga puluh tahu, kalau menunggu lima tahun usia Aurora semakin tua dan di usia segitu banyak yang rentan seolah kembali seperti muda lagi.
"Ahhh,,, enggak by, usia Rora sudah tua nanti selisih tiga tahun saja bagaimana!"
Kaka menghela nafas berat mendengar ucapan sang istri yang mulai keras kepalanya keluar.
"Terus usia hubby juga nanti makin tua, tidak .. Tidak ..!!!"
Lagi-lagi Kaka menghela nafas bahkan semakin berat menatap sang istri kesal. Kenapa harus membahas anak di waktu yang tak tepat sungguh istrinya ini sangat menyiksa Kaka.
Dengan tampang polosnya bibirnya terus saja mengoceh membuat Kaka semakin geram.
Grep ...
Kaka memeluk sang istri erat sambil membungkam bibirnya agar diam. Hanya sebuah bungkam nan tak lebih dari itu.
"By se ... sak!!"
Rengek Aurora protes karena suaminya malah menyiksa dia.
"Sayang, sudah jangan bahas itu lagi ya!"
Ucap Kaka memelas dengan wajah memerah padam membuat Aurora menyerngit.
"By sakit!"
"Yang di sana yang sakit sayangggg!!!"
Blusss
__ADS_1
Wajah Aurora merona menatap tak percaya sang suami.
"Jangan siksa hubby lagi ya, sekarang tidur!"
"Tapi it--"
"Sudah biarkan, nanti juga sembuh!"
Aurora terdiam ingin menatap wajah sang suami namun Kaka menahan kepalanya membuat Aurora pasrah.
Aurora tak tahu jika apa yang ia lakukan malah menyiksa sang suami. Jika sudah begini Aurora tak bisa berbuat lebih.
"Maaf By,"
"Hm!"
Sabar ya by, puasa dulu!
.
Sedang di belahan dunia sana Vivi tak bisa tidur mengingat perkataan Edward tadi siang.
Vivi tak menyangka jika kedua orang tuanya bukan pergi meninggalkan ia dan Arsen tanpa jejak hingga berita kematiannya sampai pada dia.
Vivi tak menyangka jika kedua orang tuanya adalah anggota tim kesehatan di bawah naungan jendral Kaka dan yang membuat Vivi semakin shok adalah ketika tahu jika orang tuanya pergi akibat menyelamatkan Edward pada malam pembantaian keluarga Aldarberto.
Entah rahasia apa lagi yang kedua orang tuanya sembunyikan dari dia sungguh ini pakta yang sangat menyakitkan.
Aku setuju akan perjodohan yang Daddy Tuner lakukan, atas balas Budi!
Kedua orang tuamu sudah menyelamatkan aku dari kematian. Itulah alasan kenapa kamu masih berada di sini sampai saat ini.
Malam itu mereka pergi bukan untuk membuang kalian, tapi mereka sedang menjalankan misi karena itu tugas mereka!
"Kenapa aku dan Arsen yang harus jadi korban!"
Gumam Vivi sakit teringat jelas jika malam itu kedua orang tuanya menelantarkan ia di London di mana negara yang tak Vivi kenal.
Ia harus berjuang hidup demi cita-cita dan adiknya yang sakit kala itu Arsen berusia dua tahun.
"Kenapa harus terbuang jauh, apa se-menakutkan itu!"
Setetes air mata jatuh membasahi pipi mulus tanpa celah.
"Dan aku harus menikah dengan orang yang tak aku cintai sama sekali!"
"Balas Budi!"
Vivi menggigit bibir bawahnya miris andai ia bisa menolak sudah pasti ia lakukan. Tapi, Vivi tak mungkin mengecewakan dokter Tuner bagi Vivi dokter Tuner sudah seperti kakeknya sendiri.
"Mom, dad apa aku juga akan sama seperti kalian. Hidup ini hanya mengabdi pada keluarga Aldarberto?"
Vivi menatap langit sana terlihat gelap bahkan tak ada setitik harapan bintang. Dunia ini terasa menyeramkan seperti yang hati Vivi rasakan.
"Mom, dad dulu aku membenci kalian tapi--"
Vivi menyeka air matanya mencoba mencari jawaban atas apa yang orang tuanya lakukan. Kenapa mereka sampai melangkah sejauh ini.
"Kenapa harus di asingkan, apa alasan mereka?"
"Pertanyaan itu tak perlu ku jawab, kau cukup tahu bahwa kedua orang tuamu sangat menyayangi mu!"
"Tapi aku butuh jawaban!"
"Berhentilah bertanya ada kalanya rahasia harus di tutup rapat!"
Vivi termenung mengingat percakapan terakhir mereka di mana Edward yang mengakhiri secara sepihak tanpa memberikan jawaban yang puas.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....