Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 51 Kamu suami ku!


__ADS_3

"Aku benar-benar mencintaimu!"


Ucap Kaka untuk kedua kalinya karena Aurora malah membisu.


Untuk mengatakan itu membutuhkan keberanian yang hebat bahkan Kaka berusaha menekan egonya karena tak mau menyesal akan semuanya.


"Tapi kenapa ingin aku pergi!"


"Aku memang mencintaimu, tapi aku tak mau menekan kamu ketika rasa ini tak sama. Kamu berhak bahagia dengan siapapun pilihan mu!"


"Maaf selama ini sudah melibatkan kamu dalam masalah ku, hingga kamu terluka dan aku tak bisa melindungi mu akan hal itu, bahkan aku tak bisa memegang janjiku pada papa mu!"


Kaka laki-laki sejati yang selalu memegang ucapannya namun ketika Aurora terluka Kaka merasa jika dia lemah dan berdusta.


Itulah yang membuat Kaka ingin melepaskan Aurora karena Aurora berhak bahagia, tapi ketika melihat kemarahan Aurora membuat keberanian itu muncul sampai Kaka mengungkapkan isi hatinya.


Kaka berharap kemarahan Aurora adalah kabar yang sangat baik.


"Bukan kah kamu ingin meraih cita-cita mu, maka kejarlah aku tak ada kuasa menahan mu!"


"Ada!"


Potong Aurora dari sekian lama ia bungkam. Jika sang papa percaya Kaka maka tak ada alasan Aurora ragu. Sekarang Aurora yakin jika pilihan kedua orang tuanya baik untuk dia.


Mungkin dulu, Aurora tak menyukainya tapi mereka sudah menghabiskan waktu bersama dalam beberapa bulan ini walau tak baik.


Walau begitu ada beberapa momen indah yang mereka lalui dan mereka melakukannya secara sadar.


"Kamu suami ku!"


"Apa rasa itu sama!"


"Aku tak tahu!"


Cicit Aurora bingung, ia tak tahu apa itu jatuh cinta. Kata itu masih abu-abu dalam hidup Aurora namun satu yang Aurora yakini jika ia tak mau bercerai dari Kaka, dia tak mau jadi janda.


Aurora ingin menikah satu kali seumur hidup dengan orang yang sama dan tak mau terganti.


Maklum hidup Aurora sendari dulu di penuhi oleh belajar dan bekerja tanpa peduli dengan urusan asmara. Jadi jangan marah ketika Aurora tak langsung bisa menjawab karena itu memang adanya.


Mungkin di setiap pertanyaan Aurora akan langsung menjawab tanpa menunggu dan ragu, tapi masalah cinta Aurora belum tahu. Ia harus memastikan diri dulu, walau seorang dokter bukan berarti Aurora juga tahu masalah itu bukan!


"Kau mau menjadi istriku!"


"Iya!"


"Dengan aturan baru!"


"Tapi tak ada kata kurungan!"


Ha ... Ha ..


Kaka tertawa lepas membuat Aurora tertegun. Baru kali ini Aurora melihat Kaka tertawa sampai terlihat gigi putihnya. Padahal selama ini wajah ini selalu datar dan dingin bahkan tersenyum pun tidak pernah terlihat.


Tapi kali ini Aurora melihatnya bahkan bukan sekedar senyuman tapi tawa.


Apa hidup mu terlalu berat hingga pelit sekali tersenyum. Tapi lihatlah sekarang kau tertawa dengan hal sepele dan itu membuat ketampanan mu bertambah.


Batin Aurora terdiam merekam momen langka itu.

__ADS_1


Mengingat cerita dari sang papa membuat Aurora begitu miris. Pasti hari-hari yang Kaka lalui sangatlah berat hingga menjelma menjadi keras.


"Kau tahu nona, aku seorang lord devil dan juga seorang jenderal pasti banyak musuh menginginkanku, apa kamu masih mau menemani perjalananku?"


"Selagi kau tak melepaskan ku, aku akan tetap di sini!"


Tegas Aurora karena memang Aurora tipikal orang yang bertanggung jawab akan keputusannya sendiri.


"Terimakasih!"


Ucap Kaka tulus sungguh Kaka terharu akan jawaban tegas itu seolah itu tergantung apa Kaka sendiri.


Belum pernah Kaka merasa sebahagia ini bersama orang lain yang berstatus istrinya sendiri.


Tak masalah Aurora belum mencintainya bagi Kaka cukup Aurora mau bersamanya.


"Bolehkah aku memeluk mu?"


"Kenapa meminta izin!"


"Karena aku takut kamu tak nyaman!"


Aurora menarik Kaka kedalam pelukannya mengelus lembut rambut Kaka yang dia rawat.


Aurora tahu, Kaka hanya butuh kasih sayang yang selama ini hilang dalam hidupnya. Maka dengan senang hati Aurora akan memberikannya. Itu sudah keputusan Aurora memilih bertahan bukan sekedar karena permintaan kedua orang tuanya melainkan hatinya yang memilih itu.


Apapun yang terjadi kedepannya Aurora akan menanggungnya sendiri karena itu konsekuensi dari keputusannya sendiri.


Aurora hanya berharap Kaka memang pelabuhan hatinya.


Inilah nilai plus dari Aurora Kaka selalu menghormati nya ketika menginginkan sesuatu darinya.


Kaka tersenyum lega dan bahagia di perlakukan seperti ini tanpa canggung ataupun takut penyakitnya kambuh.


Aurora menghentikan usapannya ketika mengingat sesuatu.


"Sejak kapan punya alergi DNA berbeda?"


Tanya Aurora penasaran kenapa bisa dengan dirinya tak terjadi apa-apa.


"Aku tak tahu, mungkin saat kematian mommy!"


Jawab asal Kaka karena tak mau mengingat masa lalu kelam itu.


"Tapi bagaimana bisa kamu jadi Jendral jika punya alergi DNA!"


Bingung Aurora karena tak mungkin mudah masuk dalam militer.


"Entahlah aku lupa!"


Aurora mencebikkan bibirnya atas jawaban tak memuaskan itu. Namun Aurora tak mau memaksa sepertinya Kaka mempunyai trauma berat hingga tak mau mengingatnya lagi.


"Ku harap kau bisa terbuka dengan ku!"


"Apa kau juga bisa?"


Tuntut Kaka berusaha mengubah posisi tentu di bantu Aurora.


"Apa yang ingin kau tahu tentang diriku?"

__ADS_1


"Semuanya!"


"Itu terlalu banyak, satu saja dulu!"


"Siapa Zilla?"


Deg ...


Aurora terkejut akan pertanyaan itu, Aurora tak menyangka jika Kaka akan mempertanyakan itu.


"Apa sekarang kau menyesal memperistri gadis yang sudah punya anak?"


Kaka tersenyum tipis mendengarnya, itu bukan sebuah jawaban namun pertanyaan.


"Tak masalah, asal kau tak menduakan aku!"


Aurora mengigit bibir bawahnya bingung harus menjelaskan seperti apa. Aurora belum sanggup jika harus berpisah, Zilla putrinya akan tetap seperti itu.


Masalah setia jangan di ragukan Aurora orang yang membenci kata mendua jadi bagaimana mungkin ia berani melanggar prinsipnya itu.


"Aku hanya penasaran! Jika kau tak bisa tak apa!"


"Dia putriku!"


Tegas Aurora membuat Kaka menatap lekat wajah Aurora. Ada ketakutan dan kecemasan di dalam netra hitam kecoklatan itu membuat Kaka paham akan semuanya.


"Aku tak akan memisahkan kalian!"


Deg ...


Aurora terkejut mendengarnya seolah Kaka tahu ketakutan hatinya. Aurora memang tak takut di pisahkan karena percaya Kaka tak akan melakukan itu. Tapi, Aurora sendiri yang harus melakukannya bukankah Aurora harus mengembalikan pada tempat yang seharusnya.


"Bolehkah aku bertemu dengan putrimu?"


Aurora terus bungkam karena tak tahu harus menjawab apa. Jika Kaka bertemu dengan putrinya Aurora yakin Kaka pasti akan langsung mengenalinya.


Jika itu terjadi Aurora belum siap mengatakan semuanya.


"La-lain kali aku akan mengenalkan kamu, kau harus sembuh dulu!"


"Hm!"


Kaka mengerti dan ia tak mau memaksa, hubungan mereka baru terjalin dan Kaka tak mau gara-gara hal ini mereka menjadi canggung lagi.


Kaka menyandarkan kepalanya di bahu Aurora walau ia terlihat kaku karena tak pernah seperti ini.


Kaka memejamkan kedua matanya karena merasa kantuk semalaman ia bergadang guna terus memaksa menggerakkan tangannya walau sakit namun nampak berhasil. Andai saja Aurora tahu mungkin Aurora akan marah akan hal itu.


Aurora diam dengan pikirannya sendiri tak sadar jika Kaka sudah tertidur di bahunya.


Karena tak merasa pergerakan Kaka Aurora menoleh, seketika bibir Aurora tertarik ke samping.


Baru kali ini ada laki-laki lain tidur di bahunya selain dari Fatih dan Aksara. Tapi kali ini kenapa rasanya berbeda, tak sama namun sangat menyenangkan.


Karena tak mau nanti bangun Kaka kesakitan Aurora perlahan membaringkan Kaka di atas shopa bahkan dengan susah payah Aurora mengangkat kaki Kaka agar ber-selonjor.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah,, komen dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2