
"Katakan?"
Tegas Aurora menatap Hanz tajam seolah mau mengikuti Hanz hidup-hidup.
Aurora sudah muak dengan kebungkaman Hanz sendari tadi yang belum buka mulut.
Bugh ...
Satu bogeman melayang membuat sudut bibir Hanz mengeluarkan darah namun Hanz tetap bungkam karena tak sanggup menceritakannya apa yang terjadi.
"Hanz cepat katakan sialan, apa yang membuat suami ku begini hiks ..."
Isak Aurora prustasi karena tak ada yang memberi tahunya.
Sungguh Aurora sangat sakit melihat keadaan suaminya yang seperti itu. Bahkan Aurora tak menyangka alergi itu begitu rumit.
"Hanz, katakan!"
"Adik ipar!"
Deg ...
Aurora terkejut langsung melepaskan cekikkannya di leher Hanz ketika melihat tuan muda pertama.
Tuan muda pertama begitu perihatin melihat keadaan Aurora yang sangat kacau belum lagi adiknya yang masih tak sadar.
Tuan pertama mengisyaratkan pada Hanz untuk pergi.
Tuan pertama menghampiri Aurora mengiringnya untuk duduk di atas shopa, memberikan air minum berharap emosi Aurora mengurang.
Istri mana yang tak sakit melihat keadaan suaminya pulang dengan keadaan seperti itu bahkan Aurora shok melihatnya.
Entah kejadian apa yang membuat Kaka seperti itu bahkan itu sangat mengerikan.
"Kaka seperti itu sejak lima belas tahun lalu!"
Ucap tuan pertama mulai bicara karena Aurora harus tahu apa yang terjadi pada suaminya.
"Ketika itu usia Kaka baru menginjak dua puluh tahun tepat di saat Kaka lulus dalam akademi militer karena kecerdasan dan keberaniannya. Suatu malam kami merayakan keberhasilan Kaka tepat dengan perayaan ulang tahun Cherry. Saat itu kami tak tahu jika tiba-tiba Kaka menghilang dalam acara dan di sanalah petaka itu terjadi!"
Tuan muda pertama mengepalkan kedua tangannya kuat sangat sakit ketika mengingat kejadian itu namun ia harus kuat demi menyelesaikan ucapannya karena Aurora harus tahu.
"Kami tak tahu jika istri dari Berto terobsesi pada Kaka sampai ia melakukan hal yang menjijikan menjebak Kaka untuk melayani nafsu bejadnya. Kaka yang sudah terlatih berusaha keluar dari kesadarannya walau ia harus menahan kesakitan akibat obat itu dan lolos dari cengkraman wanita sialan itu. Karena tak mau melayani Kaka mencoba menusukan pisau ke dadanya karena ia memilih mati dari pada harus melakukan hal terlarang. Namun, wanita sialan itu menghalanginya dan berusaha terus ingin mendapatkan Kaka sampai di mana kami datang!"
Aurora menutup mulutnya tak percaya dengan satu tangan mencengkram dadanya kuat. Sungguh Aurora tak tahu jika hal itu sangat menyakitkan sang suami dan Aurora dengan tega ingin menguji coba sang suami.
Istri macam apa Aurora, sungguh Aurora tak bermaksud.
"Dari kejadian itu, Kaka tak suka di sentuh perempuan ataupun berinteraksi. Karena ketika kulitnya bersentuhan maka Kaka akan mengalami hal itu. Trauma yang berat membuat Kaka seperti itu bahkan Kaka harus rehat dari militer selama tiga tahun untuk memulihkan traumanya agar orang-orang tak tahu apa yang terjadi pada Kaka!"
Jelas Tuan pertama membuat Aurora hanya bisa terisak. Sungguh hidup sang suami begitu menyeramkan bagaimana bisa ia bertahan sampai sekarang. Mendengarnya saja membuat Aurora sakit apalagi Kaka yang mengalaminya.
"Saya harap, adik ipar tak akan pergi meninggalkannya!"
Aurora menggeleng kuat dengan tangis yang tak henti. Bahkan Aurora sulit sekali bicara karena terlalu sesak.
"Saya percaya hanya kamu yang bisa menangani Kaka!"
__ADS_1
Ucap tuan pertama memeluk Aurora menguatkan.
Tuan pertama paham apa yang di rasakan Aurora berharap Aurora tak akan pernah meninggalkan adiknya.
Terlalu banyak penderitaan yang di emban sendari dulu, tuan pertama berharap bersama Aurora Kaka menemukan cahaya hidupnya.
Apalagi DNA Aurora sangat cocok dengan Kaka.
Lama tuan pertama menenangkan Aurora sampai tangisan Aurora meredup. Tuan pertama menghapus sisa air mata Aurora dengan lembut sama seperti ia memperlakukan Cherry.
"Sudah lama meninggalkan Kaka, kembalilah dia butuh kamu!"
Aurora mengangguk membuat tuan muda pertama tersenyum berharap pernikahan mereka baik-baik saja.
"Kaka ipar, siapa orang yang sudah menjebak suami ku?"
Deg ...
Tuan pertama terdiam dengan pikiran rumitnya. Melihat keterdiaman tuan Pertama membuat Aurora mengepalkan kedua tangannya.
Pasti ada hal besar yang terjadi hingga Kaka bisa terjebak bahkan sampai kambuh separah itu.
"Jangan terlalu banyak bertanya jika itu akan menyakitkan, kamu cukup percaya pada suami mu!"
Tegas tuan pertama membuat Aurora bungkam.
Tuan pertama hanya tak mau membuat Aurora semakin sedih, biarlah Aurora tak tahu hal satu ini jikapun tahu Aurora harus tahu dari Kaka sendiri.
"Adik ipar!"
"Saya harap kamu bertahan bukan karena rasa kasihan tapi kasih sayang!"
Aurora mengepalkan kedua tangannya lalu melanjutkan langkahnya lagi menuju kamar karena memang Kaka sudah di pindahkan ke kamar utama.
.
Sedang di bangunan lain Vivi terus saja memberontak ingin di lepaskan.
Bagaimana tidak memberontak jika Edward mengikat tangan dan kakinya kejam.
"Tuan lepaskan ikatan ini, kenapa aku harus di kurung!"
"Apa yang terjadi, apa Aurora baik-baik saja!"
Teriak Vivi membuat Edward kesal karena telinganya begitu panas. Andai aja laki-laki sudah sendari tadi Edward bogem.
Sungguh Vivi sangat kesal sekali dengan perlakuan Edward yang selalu semena-mena. Menarik tangannya tiba-tiba tanpa kejelasan meninggalkan Aurora sendiri di kelilingi orang-orang mana bisa tenang jiwa Vivi.
"Edward!"
Teriak Vivi benar-benar kesal bahkan tak ada embel-embel tuan lagi.
Brak ..
Edwar menendang pintu kamar tersebut dengan kaki kokohnya membuat Vivi terkejut.
Edward menatap tajam Vivi yang sudah membuat telinganya panas.
__ADS_1
Melihat tatapan Edward yang mengerikan bukannya takut Vivi malah menatap tajam Edward balik membuat Edward terhenyak akan tatapan itu.
"Kau mengikatku di sini sedang sahabatku di kelilingi orang-orang, dia pasti butuh aku, lepaskan sialan!"
Bentak Vivi sudah tak bisa menahan emosinya lagi.
Vivi tak tahu jika orang-orang tadi adalah ajudan Kaka. Vivi hanya berpikir pasti ada sesuatu yang terjadi hingga dirinya di ikat lalu bagaimana Aurora.
Vivi hanya cemas dan takut terjadi sesuatu pada Aurora jika itu terjadi Vivi akan membunuh Edward.
"Lepaskan sialan!"
Buk ....
Vivi berusaha menggerakkan kakinya yang di ikat sampai menendang kaki Edward kuat hingga membuat Edward oleng karena sempat melamun.
Bruk ..
Tubuh Edward terjatuh tepat di atas tubuh Vivi walau Edward dengan cepat menahannya agar tak menimpa Vivi.
Wajah mereka begitu dekat bahkan mereka bisa merasakan nafas mereka masing-masing menerpa wajahnya.
Andai saja Edward tak menahannya dengan kokoh sudah di pastikan bibir mereka akan menyatu.
Sesaat mereka sama-sama terdiam karena terkejut menatap kedalam bola mata masing-masing.
"Mau apa kau!"
Bugh ...
Dengan keras Vivi meninju kepala Edward dengan kedua tangannya yang di ikat karena merasa gugup ketika Edward malah mendekat.
Edward memegang kepalanya yang terasa berdenyut akibat bogeman dari Vivi.
"Kau!"
Geram Edward menatap tajam Vivi yang berani meninju kepalanya.
"Buka!"
Cicit Vivi membuat Edward menghela nafas berat.
"Berjanjilah, kau tak akan membuat ulah!"
"Buka!"
"Janji dulu!"
"Iya! tapi Auro--"
"Nyonya baik-baik saja!"
Tegas Edward kesal karena Vivi tak bisa diam bibirnya selalu saja nyerocos membuat Edward ingin mencomotnya.
Bersambung ..
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1