
Edward terus mendekat membuat Vivi semakin mundur bahkan sampai mentok ke dinding sana.
"Ja-jangan mendekat!"
Deg ...
Edward terpaku melihat kilatan ketakutan yang tiba-tiba muncul di mata Vivi.
Untuk yang kedua kalinya Edward melihat itu membuat Edward semakin penasaran.
Jika waktu di hotel Edward tak peduli karena dia merasa ngantuk tapi sekarang Edward ingin tahu.
"Ku mohon pergi!"
Gemetar Vivi sudah tak bisa lagi menahan ketakutannya. Vivi berharap Edward mengerti ia tak bisa seperti ini.
"Kau kenapa? Aneh!"
"Pergi!!"
Bukannya pergi Edward malah semakin mendekat membuat Vivi beringsut ke dinding sana.
"Hey, kau kenapa--"
"Pergi!!!"
Jerit Vivi memeluk kedua lututnya dengan air mata yang mulai mengalir. Vivi tak mau seperti ini, kenapa ia lemah kenapa?
Edward tersentak akan teriakan Vivi Bahakan membuat Edward langsung mundur satu langkah.
Melihat tubuh Vivi yang terguncang membuat Edward mengepalkan kedua tangannya erat. Ia pergi begitu saja meninggalkan Vivi sendirian.
Edward menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Vivi seolah tak mau terjebak di satu ruangan bersama dirinya.
Drettt ..
Sebuah panggilan masuk membuat Edward langsung merogoh ponselnya yang ada di dalam saku celana.
"Apa ada sesuatu yang mendesak?"
Tanya Edward langsung karena memang seperti itulah Edward.
Edward ingin menjawab namun seketika tubuhnya menegang.
Wajah Edward berubah menjadi dingin dengan rahang mengeras.
Entah siapa yang menelepon dia kenapa Edward terlihat marah seperti itu.
Edward menjatuhkan tubuhnya di atas shopa sana ketika sambungan teleponnya terputus.
Edward menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sambil menunduk.
"Apa bisa!"
Lilir Edward, entah kenapa tiba-tiba hatinya terasa sesak.
"Mom, aku membencimu!"
Gumam Edward benar-benar sakit, sungguh pakta ini begitu menyakitkan bagi Edward.
Apa bisa bisa!
Jerit batin Edward, kenapa harus sama!
__ADS_1
Edward tak menyangka jika seperti ini, lantas apa yang harus ia lakukan.
Jika begini terus Edward yakin, ia tak akan bisa merubah Vivi menjadi kuat. Tugas dia hanya satu membuat Vivi kuat sampai di mana Vivi akan bertemu dengan hal yang menyakitkan.
Edward pikir ia mudah menyelesaikan misi ini nyatanya itu tak semudah yang di bayangkan jika Vivi dalam kondisi seperti ini.
Bahkan Edward terkejut saat mengetahui pakta menyakitkan itu dari Kaka.
Ya, yang menelepon Edward adalah Kaka. Kaka memberitahu kan semuanya tentang Vivi karena tak mau semuanya terlambat.
Kaka hanya tak ingin Edward terus menganggap menikahi Vivi adalah sebuah misi untuk itu Kaka meminta Edward sedikit merubah pandangannya.
Edward menatap rumit pintu kamarnya, apa Vivi sudah bisa mengendalikan diri atau belum.
Pantas saja Vivi merasa ketakutan jika satu ruangan dengannya dan selama ini kenapa Edward tak sadar akan hal itu.
Sial!
Sungguh Edward merutuki kebodohannya sendiri yang tak menggali lebih dalam kehidupan Vivi dulu. Jika begini, apa yang harus Edward lakukan sedang dirinya juga sama.
Seperti nya mereka harus bicara, agar Edward tahu langkah selanjutnya yang harus ia ambil.
Edward merebahkan tubuhnya di atas shopa sana. Mungkin malam ini ia harus tidur di shopa lagi atau mungkin akan seterusnya.
Trauma yang Vivi alami jauh lebih besar dari yang Edwar rasakan. Edward hanya perlu percaya jika semuanya tak sama.
Edward memejamkan kedua matanya sampai di mana bulan berganti mentari walau nampak malu-malu bersembunyi di balik awan.
Huh ...
Vivi menghela nafas berat sebelum keluar kamar.
Seperti nya Vivi harus membiasakan diri oleh kehadiran Edward. Sungguh Vivi sangatlah malu berada dalam posisi seperti ini di mana Edward selalu saja tahu kelemahannya.
Deg ...
Vivi terkejut mendapati Edward tidur di atas shopa sana. Sungguh Vivi tak bermaksud mengusir Edward namun keadaan itu membuat ia bersikap lancang.
Entah siapa tuan rumah di sini, sungguh Vivi tak enak hati.
Vivi menatap lekat wajah Edward, akhir-akhir ini memang sikap Edward tak seperti dulu. Sedikit lebih lembut dan mengurangi memerintah.
Ingin membangunkan namun Vivi menghentikan langkahnya.
Ia tak seberani itu membangunkan Edward takut-takut Edward akan marah karena Vivi belum sepenuhnya memahami perubahan Edward.
Vivi memutuskan pergi kearah dapur guna melihat apa ada bahan makan untuk sarapan mereka.
Ternyata sudah ada bahan makanan di dalam kulkas sana. Seperti nya Vivi memilih membuat sarapan saja dan hanya omelet tujuan sarapan mereka.Karena omelet sarapan paling simpel menurut Vivi selain sandwich.
Suara berisik membuat Edward terbangun dari tidurnya.
Akhh ....
Edward merintih sambil memegang bahunya yang terasa mau patah. Ia tak biasa tidur seperti ini dan seperti nya ia harus membiasakan diri.
Wangi omelet menyapa hidung Edward membuat Edward merasa aneh dengan suasana baru ini.
Biasanya ia tidur tak pernah mencium bau masakan. Membuat Edward menjadi lapar.
Deg ..
Seketika Edward tersadar lalu langsung mengarahkan pandangannya kearah dapur.
__ADS_1
Sesaat tatapan mereka bertemu tepat di mana Vivi menatap Edward.
"Maaf, aku menggunakan dapur mu!"
Ucap Vivi sebelum memutuskan pandangannya.
"Ma-mandilah dulu, kita sarapan!"
"Ahh, mak-maksud ku an .. Anu ..!"
Vivi jadi gelagapan sendiri menyadari ucapan lancang dia. Mereka tak sedekat itu hingga Vivi harus memerintah Edward.
"Tunggu! Aku akan mandi!"
Jawab Edward cepat kenapa ia merasa canggung dalam situasi seperti ini.
Edward langsung bergegas masuk kedalam kamar. Kamarnya terlihat sudah rapih, namun ekor mata Edward masih melihat koper milik Vivi di ujung sana. Sesaat Edward menghela nafas pelan.
"Vivi!"
Panggil Edward membuat Vivi seketika menegang. Ini kali pertama Edward memanggil namanya.
Biasanya Edward akan memanggil dirinya, kau, hey, atau kamu tapi panggilan ini nampak berbeda membuat Vivi merasa hangat.
"I-iya!"
"Apa kau masih takut?"
"Ti-tidak!'
"Kemari lah!"
Dengan ragu Vivi mendekat walau masih membentang jarak.
"Di sini lemariku, kau bereskan lah barangmu di di lemari ini!"
Titah Edward, sudah bicara seperti itu Edward langsung berlalu begitu saja masuk kedalam kamar mandi.
Vivi terpaku menatap punggung lebar Edward. Kenapa rasanya terasa berbeda membuat Vivi terdiam sejenak.
Kau istriku, tentu kau akan tidur di sini!
"Apa dia benar-benar menganggap ku seorang istri!"
Gumam Vivi seolah masih tak percaya, Vivi pikir ia akan di perlakukan seenaknya saja mengingat sikap Edward yang memang seperti itu dulu padanya.
"Baiklah, jika kau menganggap aku istrimu maka akan ku lakukan juga!"
Tekad Vivi, ia harus bisa mengendalikan traumanya memulai dengan terbiasa hidup dalam satu atap bersama Edward.
Vivi membereskan baju-baju miliknya kedalam lemari yang di tunjuk Edward tadi. Lalu menaruh barang-barang di atas nakas sana tepat di samping barang Edward.
Sudah selesai Vivi buru-buru keluar dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Merasa Vivi sudah keluar kamar, Edward baru keluar kamar mandi juga. Padahal sendari tadi Edward sudah selesai karena menghargai Vivi Edward tetap menahan diri.
Edward menatap nakas sana di mana ada barang milik Vivi di samping miliknya. Terasa aneh namun entah kenapa Edward menyukainya.
Tanpa sadar Edward menarik sudut bibirnya kearah samping.
"Aneh!"
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...