
"Pangeran, putra mahkota sudah sadar!"
Lapor salah satu dokter yang membantu Aurora merawat putra mahkota.
Arnold yang mendengar putranya sudah sadar langsung meninggalkan ruang kerjanya berjalan cepat menuju ruang sang putra.
Arnold sungguh sangat bahagia bisa melihat putranya kembali sadar.
"Putra ku!"
Sang putra mahkota melirik dengan ekor matanya mendengar suara yang begitu familiar.
Seluruh tubuhnya tak bisa di gerakan hanya matanya saja yang terus berkeliaran menatap orang-orang asing di sekitarnya.
"Nak!"
"Dok, kenapa putraku tak bicara?"
"Itu biasa bagi pasien yang sudah lama koma, tolong pangeran mundur kami akan memeriksa lebih lanjut!"
Tegas Aurora tak bisa di bantah membuat sang pangeran menggeram tertahan karena tak suka di perintah.
Sang kaki tangan segera menahan sang pangeran agar tak gegabah membuat ia pasrah mundur walau tak jauh.
Aurora melirik jam pergelangan tangannya lalu beralih pada monitor. Satu persatu Aurora teliti dengan cekatan karena tak mau ada kesalahan.
Entah berapa lama Aurora membutuhkan pemeriksaan itu membuat Arnold sangat kesal sekali tak sabar dengan semuanya.
"Pangeran, tenang!"
Arnold menggeram kesal karena lagi-lagi ia harus sabar ia ingin tahu kenapa putranya tak bicara bahkan tak bergerak sama sekali bahkan matanya sudah terbuka.
Aurora mendekati pangeran Arnold yang tak sabaran membuat Aurora menghela nafas berat.
"Dari pemeriksaan keseluruhan, kemungkinan besar putra mahkota akan mengalami kelumpuhan. Akibat zat keras yang masuk kedalam tubuhnya membuat sel saraf inti mati di tambah benturan keras di kepalanya mem--"
Plak ....
"Tutup mulut mu, putraku tak akan lumpuh, dia putra mahkota!"
Bentak pangeran Arnold menampar keras mulut lancang Aurora yang berani mengatai putranya.
Sang kaki tangan terkejut akan tindakan pangeran Arnold yang gegabah membuat Aurora shok begitu pun dengan yang lain.
__ADS_1
Aurora mengelap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah membuat Aurora tersenyum miris.
Akhirnya!
Batin Aurora kelam mengepalkan kedua tangannya kuat dengan rahang mengeras.
"Tarik kata-kata mu, kalau tida--"
Deg ...
Pangeran Arnold mendorong Aurora keras terkejut melihat tatapan berbeda itu.
"Bawa dia, jangan ada yang berani-berani mengatakan putra mahkota lumpuh jika tidak nyawa kalian akan melayang!"
Bentak keras pangeran Arnold membuat para dokter langsung gemetar. Mereka ketakutan sampai tak berani menatap. Bahkan mereka menatap sendu Aurora yang sudah di seret ke ruang sana.
"Kau sudah melakukan kesalahan besar nona!"
Ucap sang kaki tangan memasukan Aurora kedalam ruangan pertama.
Tak ada rasa kasihan atau apa membuat Aurora hanya bungkam menatap sang kaki tangan rumit.
Aurora membuka sarung tangannya lalu mengelap darah di sudut bibirnya bahkan pipinya terasa bengkak.
Kenapa lagi-lagi hidupnya harus seperti ini, keluar dari menara neraka dan sekarang masuk di Kubang neraka juga sungguh hidup Aurora sangatlah miris. Kapan kesakitan ini akan usai kenapa tak ada yang peduli padanya. Bahkan ini sudah hampir satu bulan namun tak ada orang yang mencarinya.
Jerit batin Aurora sakit bahkan besok lusa adalah jadwal acara itu, apa Aurora bisa kabur dari sini sedang keamanan di sini sangatlah canggih membuat Aurora baru tahu jika ia berada di ruang bawah tanah karena sudah hampir satu bulan ini ia belum pernah melihat cahaya matahari atau pun rembulan.
Bahkan suami kertasnya juga benar-benar tak peduli dengan ia.
Suami!
Cih!
Aurora tersenyum miris mengingat satu manusia itu. Ia sangat membencinya semuanya karena dia Aurora jadi seperti ini.
Walau boleh memilih, Aurora lebih baik di kurung Kaka dari pada di kurung oleh iblis satu ini.
Selama Kaka mengurungnya Kaka tak pernah memerintah lebih atau pun mengatur lebih bahkan tak pernah berbuat lebih kalau dia tak melakukan kelancangan.
Namun di sini ia benar-benar seperti tawanan sungguhan yang harus melakukan semuanya tanpa peduli dirinya.
Ya, selama ini Aurora di paksa menjaga perkembangan putra mahkota sampai kurang tidur bahkan berat tubuh Aurora seperti nya menurun.
__ADS_1
Belum lagi membantu sebuah penelitian ilegal di mana Aurora harus melakukannya kalau tidak lehernya akan terasa tercekik karena alat yang di pasang.
Sungguh keadaan yang sangat miris dan sekarang ia harus di kurung di ruang dingin ini membuat Aurora harus bertahan.
Aku membenci mu, Ka. Aku membencimu!
Jerit Aurora hanya nama itu yang ia ingat sebelum Aurora benar-benar tak sadarkan diri akibat suhu dingin dan juga rasa lapar karena memang Aurora belum makan sendari pagi karena harus memantau terus kesehatan putra mahkota.
Kenapa semua orang hanya memanfaatkan kemampuannya saja tanpa menatap manusia pada dirinya.
Kini Aurora baru sadar jika apa yang sang papa lakukan semuanya demi kebaikan dirinya. Apa ini tujuan sang papa menyembunyikannya karena tak mau dia di manfaatkan akan kecerdasannya.
Apa ini tujuan sang papa melakukan drama semuanya karena takut ia terluka.
Andai saja keadaan bisa berputar Aurora tak akan mengeluh, ia akan menerima semuanya dan tak akan melanggar perjanjian Kaka yang tak memperbolehkan ia keluar dari menara.
Apa ini yang Kaka maksud karena dirinya sedang di incar dan nyawanya dalam bahaya.
Semuanya sudah terlambat, waktu tak bisa di ulang lagi hanya perlu di perbaiki. Namun, masih bisakah waktu itu di perbaiki sebaik-baiknya.
Para dokter yang memang sudah dekat dengan Aurora menatap sendu Aurora yang lagi-lagi tak sadarkan diri di ruang menyakitkan itu. Ingin membantu namun ia juga tak kuasa.
Sungguh nasib yang sangatlah buruk membuat para dokter di ruang sana kasihan.
Namun mereka tak bisa berbuat apa-apa karena nyawa mereka juga dalam bahaya. Bahkan jika ingin di katakan mereka juga ingin keluar dari neraka ini.
Sebagian dokter dan para ilmuan di sana adalah orang-orang yang di culik untuk melakukan penelitian mereka jika tidak patuh maka alat yang melingkar di leher mereka akan mencekik mereka semuanya membuat mereka selama ini bungkam tak berani melawan.
Padahal mereka merindukan orang tua, keluarga dan anak-anak mereka.
Keluarga mereka menyangka jika mereka semuanya meninggal karena pangeran Arnold yang melakukan manipulasi kematian itu.
Sungguh kejam sekali!
Andai mereka punya kekuatan sudah sendari dulu mereka memberontak namun mereka tak kuasa.
Ada rasa kagum juga dari mereka melihat Aurora. Gadis muda yang sangat cerdas tak gentar oleh apapun. Bahkan daya tahan tubuhnya sangatlah kuat berbeda dari mereka.
Harusnya tak ada yang selamat dari ruangan itu namun lagi-lagi Aurora selalu selamat dari sana walau kondisi tubuhnya sangatlah lemah.
Aurora hanya butuh bertahan tak lebih dari itu. Jika Aurora bisa bertahan maka semuanya akan usai.
Kini hanya bisa melihat hari esok apa Aurora masih bisa bernafas atau tidak.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...