Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 55 Kebenaran


__ADS_3

Aurora diam membisu mendengar setiap penjelasan Vivi. Sungguh Aurora entah harus bereaksi seperti apa.


Penjelasan Vivi membuat Aurora benar-benar tak percaya namun semuanya memang nyata.


"Sungguh aku terpaksa Ra, waktu itu mereka mau mendorong Arsen ke jurang. Aku tak ada pilihan lagi selain memberi tahu identitas kamu namun mereka bohong hiks ... Mereka kejam, mereka benar-benar mendorong Arsen!"


Isak Vivi masih mengingat jelas dalam vidio itu jika Arsen di dorong ke jurang sana.


Setiap mengingat itu membuat dada Vivi sesak.


"Ak-aku pikir, kamu terluka, jika itu terjadi aku tak bisa memaafkan diriku sendiri!"


Aurora hanya diam saja mencerna setiap penjelasan Vivi yang membuat Aurora benar-benar bungkam.


Sungguh Aurora tak tahu jika sahabatnya benar-benar terluka karena dia dan Arsen hampir saja pergi untuk selamanya.


Jika Vivi mengatakan Arsen di dorong ke jurang, lalu!


Deg ....


Aurora tertegun menyadari satu hal, Aurora mencoba tak percaya namun bukti itu ada.


Apa Kamu yang menyelamatkan Arsen, Apa luka itu juga kamu dapatkan ketika menyelamatkannya!


Batin Aurora sesak mengingat kembali kejadian sebelum ia kabur di mana Kaka sempat terluka dengan luka sayatan di lengan dan punggungnya. Berarti luka itu luka di sebabkan oleh ranting.


Entah apa lagi yang Kaka sembunyikan darinya kenapa Kaka tak mengatakan itu semua.


"Kamu selamat!"


"Ak-aku di selamatkan oleh seseorang--"


Vivi mencoba mengingat siapa yang menyelamatkannya. Sebelum tak sadarkan diri memang Vivi sempat melihat sosok memakai jubah hitam dengan topeng yang menutupi wajahnya sampai di mana Edward datang membawanya pergi.


"Jubah, topeng ya dia memakai topeng!"


Ingat Vivi tak salah mengenali walau keadaannya waktu itu sangat tak memungkinkan.


Kini Aurora tahu jika suaminya terluka karena menyelamatkan Arsen. Ya, Aurora yakin siapa yang Vivi maksud. Karena kejadian itu sama persis dengan luka yang Kaka dapatkan.


"Ra, apa kau juga di selamatkan oleh dia?"


"Iya, dia bukan sekedar menyelamatkan ku tapi lebih dari itu!"


Jawab Aurora penuh makna namun Vivi tak paham itu.


"Apa kau mengenalnya, tolong sampaikan rasa terimakasih ku padanya!"


"Ya!"


"Vi, Arsen di--"


"Tak apa Ra, aku sudah ikhlas atas semuanya. Mungkin tuhan sudah sangat merindukan Arsen!"


Potong Vivi tak mau membahasnya lagi. Apalagi itu akan membuat luka Vivi kembali menganga. Ia hanya sedang belajar ikhlas melepas adiknya mengingat kondisi Arsen juga yang sakit membuat Vivi pasrah akan semuanya.


"Dia selamat!"

__ADS_1


"Ra!"


Lilir Vivi menggeleng dengan mata berkaca-kaca, Vivi tak mau membahasnya lagi.


"Arsen selamat!"


"Tapi dia!"


"Ikut aku!"


Tegas Aurora menarik Vivi keluar dari taman kaca ini.


Vivi tak bisa membantah, ia mengikuti langkah Aurora yang masuk kedalam bangunan dimana tempat Vivi juga di rawat.


Aurora membuka setiap pintu dengan kartu aksesnya karena memang Kaka memberikannya.


"Ra, kita mau ke mana?"


Bingung Vivi baru ngeh jika bangunan ini begitu luas dengan beberapa pintu.


"Lihat lah!"


Duarr ...


Vivi membulatkan kedua matanya melihat siapa yang berbaring di atas bangkar sana. Bulir bening tak bisa lagi di cegah membasahi wajah Vivi yang memang sudah sembah dari tadi.


Bibir Vivi gemetar tak menyangka dia masih bisa melihat adiknya.


Vivi berjalan mendekat dengan tubuh lemas tak menyangka jika sang adik masih hidup.


"Tiga hari lalu aku mengoperasinya, keadaannya sangat memburuk!"


Sungguh siapa orang yang telah menyelamatkan nyawa adiknya Vivi harus berterimakasih.


Bahkan ia rela mengabdi padanya demi sebuah balas Budi yang tak ada bandingannya.


Vivi pikir adiknya sudah pergi meninggalkan ia seorang diri.


Aurora melangkah mundur membiarkan Vivi melepas rindu pada adiknya.


Aurora memejamkan kedua matanya sambil menghela nafas berat. Entah apa yang Kaka lakukan lagi demi menyelamatkan nyawa sahabat dan Arsen tanpa peduli keselamatan nya sendiri.


Sungguh Aurora tak menyangka jika Kaka selama ini terluka karena menyelamatkan orang-orang tersayangnya. Aurora pikir Kaka melakukan hal di luar dugaan.


Bahkan nyawa Kaka beberapa kali hampir melayang karena dirinya sungguh Aurora tak tahu itu.


Aurora berlari dengan dada bergemuruh mencari di mana keberadaan Kaka. Namun Aurora tak mendapati Kaka di tempat pertama.


Aurora terus mencari entah di mana keberadaan Kaka kenapa menghilang tiba-tiba.


Aurora bertanya pada setiap penjaga yang ia lalui namun semuanya hanya bungkam membuat Aurora kesal.


Aurora pergi ke bangunan menara berharap Kaka sudah kembali ke kamar mereka.


"Ayo cepat-cepat!"


Gumam Aurora pada pintu lift ini yang entah kenapa terasa lama padahal hanya ke lantai lima.

__ADS_1


Ting ..


Pintu lift itu terbuka membuat Aurora langsung berlari.


Pintu kamar sana terbuka membuat Aurora langsung menerobos.


"Kaka!"


Panggil Aurora namun hanya suara dia yang menggema.


Kosong!


Di kamar mereka kosong, Kaka tidak ada di sana.


entah kemana perginya Kaka membuat Aurora nampak cemas.


Di setiap ruangan Aurora mencari namun tak menemukannya.


Aurora menggeram kesal karena Kaka tak ada di mana membuat Aurora prustasi entah di mana keberadaan Kaka kenapa menghilang tiba-tiba.


Aurora teringat akan ruangan kerja Kaka dia langsung berlari ke sana berharap Kaka ada di ruang kerjanya.


Namun nihil di sana juga tak ada membuat Aurora prustasi entah di mana Kaka berada. Aurora memicingkan kedua matanya mencari sesuatu. Karena menara ini begitu banyak pintu rahasia membuat Aurora mencari apa di ruang kerja Kaka ada pintu rahasia juga atau tidak.


Aurora yakin Kaka berada di salah satu ruangan yang entah di mana karena Aurora tahu Kaka terkadang sering muncul tiba-tiba membuat ia kaget.


Di ruang kerja ini begitu banyak miniatur dan beberapa lukisan membuat Aurora harus jeli pasti ada salah satu tombol rahasia di ruang ini.


Aurora terus menelusuri setiap sudut ruang kerja namun Aurora tak menemukan hal aneh membuat Aurora sejenak memejamkan kedua matanya.


Aurora membuka kembali kedua matanya hingga matanya tertuju pada lemari buku. Aurora yakin di balik lemari ini ada sebuah pintu.


Dengan cepat Aurora mencari di setiap buku apa di belakangnya ada tombol atau tidak. Namun nihil, semuanya tak ada membuat Aurora kesal entah di mana Kaka bersembunyi.


Bugh ..


Aurora meninju buku sama dengan kekesalan yang tak bisa di tahan.


Tiba-tiba Aurora mendengar suara getaran membuat Aurora mundur ternyata lemari buku ini tergeser dan benar saja nampak sebuah pintu di sini.


Aurora melihat tangannya lalu melihat ada sebuah buku yang berbeda yang kena tinju dia ternyata tombol itu ada di sana. Aurora mengambilnya ternyata ini bukan sembarang buku. Dilihat sekilas memang seperti buku tapi nyatanya ini sebuah alat.


Dengan cepat Aurora membuka pintu itu, ternyata ada sebuah lorong. Aurora masuk kesana entah lorong apa ini. Bangunan ini terlalu rumit Aurora pahami karena begitu banyak rahasia.


Ada sebuah tangga di mana Aurora harus turun tangga seperti nya ini menuju lantai bawah kembali.


Dengan hati-hati Aurora menuruni tangga tersebut, sebuah tangga yang sedikit melingkar membuat Aurora bisa melihat dengan jelas ke bawah sana.


Di sana terdapat sebuah mobil bukan hanya satu namun ada beberapa.


Deg ...


Aurora terpaku ketika matanya menatap sebuah mobil yang berada di ujung sana.


Aurora tahu siapa pemilik mobil tersebut.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2