
Setelah mengetahui pakta jika dirinya hamil dan mengalami keguguran membuat Vivi terus menangis. Sungguh hati yang masih basah akan pakta tentang orang tuanya dan kini dia harus mengalami hal yang menyakitkan lagi.
Ia tak tahu jika di dalam perutnya sudah ada malaikat kecil dan kini dia harus merelakan kepergian nya.
Sungguh Vivi tak tahu akan hal itu, dia tak tahu. Andai ia tahu ia tak mungkin membahayakan calon baby-nya. Andai ia tahu dia akan menjaganya.
Pantas saja kondisi tubuh Vivi menurun, dan menginginkan Edward pulang. Kenapa ia tak menyadari itu kenapa.
Sudah terjatuh tertimpa tangga pula, itulah yang sedang Vivi alami.
Hati ibu mana yang terima kehilangan baby-nya bahkan ia tak menyadari kehadirannya dan sekarang baby itu sudah tak ada.
Edward membiarkan sang istri terus menangis. Entah siapa di sini yang harus di persilahkan.
Edward tak menyangka jika Vivi tak menyadari jika dirinya sedang hamil. Edward pikir Vivi sudah mengetahuinya.
Di sini pasti Vivi yang paling hancur dari pada dirinya. Apalagi Vivi harus mengalami guncangan akibat pakta itu dan sekarang di timpa lagi.
Maafkan mama sayang yang tak menyadari kehadiran mu.
Maafkan mama yang tak bisa menjaga kamu.
Jerit batin Vivi memeluk perutnya, Vivi pikir di dalam perutnya belum ada tanda-tanda kehidupan apalagi memang Vivi sempat kedatangan tamu bulan walau memang siklusnya tak seperti biasanya.
Walau pada awalnya Vivi belum menginginkan kehadirannya, karena ia belum mencintai Edward. Tapi mendengar baby nya sudah hadir bahkan keguguran membuat Vivi merasa sakit dan sesak.
Apa kamu marah pada mama sayang, mama sempat tak menginginkan kamu. Tolong maafkan mama, nak.
Vivi terus saja menjerit bahkan tubuhnya terguncang akibat isakan sesak itu.
Isakan Vivi semakin kencang ketika Edward memeluknya dari belakang. Sungguh Vivi merasa bersalah.
Edward pasti kecewa padanya karena tak bisa menjaga baby mereka.
Kenapa sekarang Vivi sangat takut Edward marah dan meninggalkannya.
Vivi mencengkram erat tangan Edward yang memeluk perutnya. Edward tahu Vivi sedang terguncang dengan semua yang terjadi, yang Edward takutkan psikis Vivi terganggu.
Guncangan ini terlalu bertubi-tubi membuat Edward benar-benar khawatir.
Andai Aurora tahu apa yang terjadi pada Vivi mungkin detik ini juga kedua kaki Edward sudah patah.
Membayangkannya saja membuat Edward bergidik ngeri apalagi Edward tahu bagaimana kemarahan Aurora semuanya bisa hancur.
Lama mereka dalam posisi itu, bahkan tak ada satu orangpun yang berani masuk kedalam bahkan dokter sekalipun. Rose dan Qennan menjaga di luar karena tak mau ada sesuatu hal yang terjadi.
Hari semakin larut isakan Vivi mulai mereda bahkan tubuh Vivi mulai tenang. Entah berapa lama Vivi menangis bahkan matanya sudah tak terlihat lagi.
Batinnya sakit jiwanya patah semuanya hancur tak ada yang tersisa. Kenapa harus dia di antara ribuan manusia.
__ADS_1
Kenapa?
"Ed?"
"Hm!"
"Apa kau marah?"
Edward tak menjawab apapun membuat Vivi meringis, sungguh bodoh kenapa bertanya seperti itu Edward tentu marah karena itu yang di inginkan Edward hadirnya malaikat kecil di antara mereka berharap hubungan mereka akan baik-baik saja.
"Maafkan aku, aku tak tahu dia sudah ada!"
Vivi mengigit bibir bawahnya gemetar sungguh ia benar-benar takut Edward marah dan meninggalkannya di saat ia begini.
Hidup Vivi pasti akan hancur tak tersisa, karena Edward hanya harapannya.
"Ap-apa kau akan meninggalkan ku?"
Pertanyaan bodoh apa, kenapa Vivi bisa bicara seperti itu sungguh Edward tak habis pikir.
"Jangan banyak pikiran, kamu harus istirahat!"
Bukannya membuat Vivi tenang malah semakin takut.
Apa semua orang akan meninggalkannya, apa dia akan terbuang untuk kedua kalinya.
Edward membalikan tubuh Vivi pelan-pelan takut membuat Vivi kesakitan. Vivi tak mau Edward melihat wajahnya hingga ia menahannya.
"My love!"
"Ap-apa kamu akan meninggalkan ku sama seperti mereka?"
Deg ....
Edward tertegun mendengar ucapan Vivi yang menyayat hatinya. Edward pikir ia cukup mengerti apa yang di alami Vivi nyatanya tidak.
Jadi sejak tadi Vivi ternyata itu yang Vivi takutkan.
Sakit yang om nya lakukan tak membuat Vivi serapuh ini, yang Vivi takutkan hanya Edward. Apalagi baru saja mereka kehilangan baby yang tak mereka sadari.
Hanya Edward yang ia punya saat ini, Arsen jauh darinya dan tak mungkin memberitahu Arsen akan semuanya, adiknya pasti akan sedih Vivi tak mau itu.
"Berbalik lah!"
"Apa aku akan terbuang lagi hiks ..."
Sungguh Edward tak sanggup mendengarnya, Edward bangun mengungkung tubuh Vivi membuat Vivi terkejut ketika Edward membuat ia terlentang. Walau Edward menahannya tapi perutnya sedikit sakit.
Edward mengelus lembut air mata yang terus menetes.
__ADS_1
Cup ...
Edward mengecup kening Vivi lembut membuat Vivi memejamkan kedua matanya merasa nyaman dengan apa yang Edward lakukan.
Semuanya tak luput dari kecupan mesra Edward membuat Vivi membiarkan apa yang Edward lakukan.
Kecupan Edward berhenti tepat di bibir pucat Vivi.
Apa yang Edward lakukan mampu membuat Vivi terhipnotis tak ada perlawanan apapun seolah Vivi pasrah saja dengan apa yang Edward lakukan.
Perlahan Edward mengiring Vivi menyamping tanpa melepaskan tautan bibirnya sampai Vivi benar-benar menyamping dengan satu tangan Edward yang menjadi bantalan kepala Vivi.
Edward membawa Vivi kedalam pelukannya ketika ia melepaskan ciumannya.
"Aku tak marah dan tak akan meninggalkan kamu. Buang jauh-jauh pikiran itu, hm!"
"Jangan berpikir macam-macam, kamu harus istirahat!"
Ujar Edward berharap sang istri tenang, Edward takut itu malah mempengaruhi psikis nya. Apalagi dalam keadaan ini, hal itu sangat rentan terjadi.
Di sini entah siapa yang harus di salahkan, bahkan mereka pun tak tahu. Jika Edward tahu dia tak akan membahayakan istri dan calon anaknya begitupun jika Vivi tahu ia akan diam dan menyerahkan semuanya pada Edward.
Semua sudah terjadi tak perlu di sesali dan menyalahkan diri sendiri. Semuanya tak ada yang mau berada dalam posisi seperti itu.
"Ja-janji?"
"Aku janji!"
Edward tersenyum ketika Vivi memeluk pinggangnya erat.
Jangan sekarang!
Batin Edward memejamkan kedua matanya merasakan sakit di bagian kepala. Edward lol lupa ia belum minum obatnya sendiri.
Edward mengelus-elus punggung Vivi berharap Vivi segera tidur.
Karena terlalu lelah menangis akhirnya Vivi tertidur di pelukan Edward.
Edward bernafas lega melihat sang istri akhirnya tidur juga.
Perlahan Edward melepaskan pelukannya hati-hati takut Vivi terbangun.
Edward segera mencari obatnya yang memang sudah Rose taruh di dalam nakas dengan makanannya.
Edward memijit pelipisnya kenapa ia harus sakit di saat seperti ini, ia harus sembuh demi Vivi. Vivi butuh Edward tak mungkin jika mereka berdua sama-sama sakit lantas siapa yang akan menjaga mereka.
Bersambung...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1