
Kabar kehamilan Vivi sudah sampai ke telinga Aurora.
Begitu bahagia Aurora mendengar sahabat sedang hamil, rasanya Aurora ingin memeluk Vivi namun sayang mereka jauh.
"Kim, sebentar lagi kamu punya adik nak!"
"Honey kamu hamil lagi?"
Deg ..
Aurora terkejut akan kedatangan sang suami tiba-tiba.
"Siapa yang hamil!"
"Tadi aku dengar kamu bilang Kim akan punya adik?"
Aurora tersenyum ternyata suaminya salah paham dan belum tahu.
"Kim memang akan punya adik, tapi bukan aku yang hamil melainkan Vivi, Vivi sedang hamil!"
Girang Aurora namun berbeda dengan Kaka rona bahagia tiba-tiba menghilang.
"Dear, kamu tak senang?"
"Senang honey sangat, tapi lebih bahagia jika kamu yang hamil!"
Plak ...
Aurora langsung memukul dada bidang sang suami karena terkejut.
"Kim masih kecil Dear, mana ada aku hamil. Lagian kamu yang minta tunggu Kim usia empat tahun!"
"Tidak! Sekarang aku berubah pikiran, aku ingin kamu hamil lagi!"
"Hah!"
Baby Kim menatap bergantian kedua orang tuanya yang berdebat kecil, membuat baby Kim terkekeh ketika Aurora memukul lengan Kaka.
"Aku gak mau, Kim saja baru delapan bulan!"
"Ayolah honey!"
Rengek Kaka dengan suara manjanya bahkan tatapannya di buat seimut mungkin.
"Kim, lihat lah papa kaya anak kecil!"
"Papa ..."
"Kim kamu harus mendukung papa ya, sekarang Kim harus tidur!"
Ucap Kaka menggendong putrinya menimang, agar Kim cepat tidur.
Aurora hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya.
Sungguh aneh, siapa yang mengawali jika mereka harus punya adik untuk Kim jika baby Kim sudah usia empat tahun.
"Honey!"
"Dear!"
Pekik Aurora terkejut ketika Kaka menggendongnya.
"Kim sudah tidur, saatnya kita bikin adik buat Kim!"
"Ya ampun dear, kau ini!"
Kesal bercampur lucu dengan tingkah sang suami yang tiba-tiba semangat ingin punya anak lagi.
"Kamu tak bisa menolak honey!"
Cup ...
Kaka mengecup bibir Aurora sebelum Aurora protes sambil berjalan menuju ranjang.
Di baringkan ya Aurora hati-hati tanpa melepaskan ciuman mereka.
"Siap honey?"
__ADS_1
"Kapan pun!"
Kaka tersenyum akan jawaban sang istri yang selalu membuat hatinya bahagia.
Entah apa yang terjadi dengan Kaka kenapa ia ingin mempunyai anak lagi. Bahkan Kaka sangat gencar bekerja agar Aurora hamil kembali.
Begitulah keadaan rumah tangga mereka, sangat bahagia apalagi di temani Kim di tengah-tengah kebahagiaan.
Kaka ingin punya anak lagi berharap anak keduanya akan laki-laki supaya bisa meneruskan perjalanannya tak mungkin jika Kim yang akan terjun.
Keluarga Aldarberto memang keturunan dari Dokter dan Militer yang mengabdi pada kerajaan apalagi memang dulu dua keluarga itu masih kerabat sampai sekarang ikatan mereka semakin erat bukan karena pengabdian keluarga Aldarberto saja namun ikatan pernikahan Cherry dan sang pangeran membuat keluarga itu semakin erat.
Kaka ingin anak nya kelak akan menjadi salah satu keseimbangan kerajaan dan melindungi setiap garis keturunan kerajaan.
"Terimakasih honey!"
"Hm!"
Sungguh Aurora tak punya tenaga lagi untuk menjawab sang suami. Ia sangat kantuk dan lelah apalagi ia harus bangun pagi-pagi sekali dan ia harus segera tidur.
Kaka tersenyum melihat istrinya yang langsung terlelap. Kaka semakin mengeratkan pelukannya sambil mencium gemas hidung mancung Aurora.
"Selamat tidur, semoga mimpi kamu hamil!"
Plak ...
Aurora memukul kecil dada bidang sang suami arena berisik. Kaka hanya terkekeh saja tak sakit sama sekali.
.
.
Apa yang di rasakan Kaka dan Aurora mendengar kabar kehamilan Vivi di rasakan juga oleh Hanz dan dokter Emma.
Hanz sangat bahagia keponakan dari Jendra nya sebentar lagi akan menjadi ayah.
Seperti nya Hanz harus bekerja keras agar dia juga cepat mendapat kabar walau Hanz tahu ia harus sabar karena sering meninggalkan sang istri karena pekerjaan.
"Dear!"
Dokter Emma membawa kopi dan beberapa cemilan ke ruang kerja sang suami. Dua hari lalu Hanz baru pulang dari tugasnya walau begitu banyak pekerjaan yang harus Hanz kerjakan juga di rumah.
"Jangan terlalu fokus, ini kopinya di minum dulu!"
"Terimakasih Dear!"
Hanz menyeruput kopi buatan sang istri dengan kadar gula rendah. Lalu memakan beberapa biskuit dari tangan sang istri.
"Kapan berangkat lagi?"
"Besok!"
Dokter Emma langsung terdiam dengan helaan nafas berat.
"Sabar ya, Dear. Aku janji setelah semuanya selesai kita akan berangkat honeymoon!"
Ucap Hanz lembut mengusap wajah sang istri. Dokter Emma mencoba tersenyum tak mau membuat Hanz merasa tak enak.
Hanz menarik sang istri agar duduk di atas pangkuannya.
"Aku akan menunggu!"
"Terimakasih!"
Cup ....
Dokter Emma mengecup kening Hanz lembut membuat Hanz tersenyum.
"Seperti nya kita harus menghabiskan waktu!"
"Pekerjaan nya?"
"Gampang!"
Hanz menggendong dokter Emma bak koala keluar dari ruang kerjanya menuju kamar.
Hanz akan memanfaatkan waktu yang ada karena ia harus puasa nanti cukup lama.
__ADS_1
Dua pasangan suami istri menghabiskan waktu bersama dengan luapan cinta.
Bahkan Hanz tak tahu sudah jam berapa sekarang, ia terus mengungkung sang istri dan tak akan melepaskan nya.
"Lelah Dear?"
"Tidak!"
Jawab santai dokter Emma membuat Hanz terkekeh sungguh istri nya selalu saja menguji kehebatannya.
.
.
Berbeda dengan Qennan yang di sibukkan oleh pekerjaan.
Qennan sangat senang sekali mendengar kabar jika Vivi sedang hamil. Namun di balik kebahagiaan itu Qennan merasa sedih. Kapan ia menjadi seorang ayah seperti Kaka dan Edward bahkan Hanz mungkin akan menyusul.
Pernikahannya dengan Eva sangat lama melebihi pernikahan Kaka tapi Qennan hanya bisa menelan kekecewaan jika lagi-lagi ia harus berjauhan dengan Eva.
Kapan Qennan merasakan kebahagiaan itu, ia hanya bisa menghabiskan hari dan malamnya dengan tumpukan berkas sedang Eva kembali ditugaskan ke negara berbeda lagi setelah Dubai.
Entah kemana tugas Eva sekarang Han belum tahu karena Eva belum memberi tahunya apalagi Qennan juga sangat sibuk.
Andai saja Eva ada di sampingnya tentu Qennan tak akan mau menghabiskan waktunya dengan tumpukan berkas yang menyebalkan.
Baru tiga bulan Qennan menghabiskan waktu dengan Eva di Dubai walau itupun sangat singkat karena Qennan terpaksa harus kembali. Dan sekarang Qennan mendengar istrinya harus kembali jauh darinya. Entah harus kemana di bawa pernikahan mereka.
Ini sudah hampir enam tahu mereka menjalani pernikahan seperti itu. Ada kalanya Qennan merasa bosan namun mau bagaimana lagi cinta mereka sangat kuat bahkan tak berkurang sedikitpun.
Walau berjauhan tapi mereka saling percaya satu sama lain apalagi Qennan bisa tahu kemana istri nya pergi.
Pekerjaan berbahaya sang istri menjadi Intel Negar membuat Qennan waspada walau jauh namun Qennan selalu menyuruh anak buahnya menjaga sang istri bahkan kelancaran pekerjaan Eva tak luput dari campur tangan Qennan namun Eva tak tahu itu.
Huh ...
Qennan menghembuskan nafas kasar sambil merentangkan kedua tangannya lelah karena kekerasan baru selesai tepat jam satu dini hari. Seperti nya Qennan akan bermalam lagi di kantor seperti sebelum-sebelumnya.
Brak ...
"Siapa di sana?"
Teriak Qennan waspada melihat bayangan seseorang.
Qennan mengambil sebuah pistol yang selalu ia bawa kemana-mana, Qennan beranjak dari duduknya.
Ia berjalan pelan apalagi lampu perusahaan memang sebagian sudah di matikan karena memang seperti itu.
Mata Qennan terus berkeliaran walau dalam keadaan gelap. Hanya ada pantulan cahaya dari lampu-lampu bagian luar.
Bruk ...
Qennan menghindar dari serangan orang yang berpakaian hitam.
"Siapa kau?"
Bentak Qennan waspada tak mungkin ia melepas pelatuk nya sembarangan.
Tanpa berkata orang tersebut menyerang Qennan hingga mereka terlibat perkelahian.
Tak ... Tak ..
Qennan menangkis segala serangan lawan yang entah siapa berani masuk ke Perusahaan.
Bruk ...
Krek ...
Qennan berhasil melumpuhkan lawan bahkan tak membiarkan tangan lawan bergerak.
Qennan menatap tajam wajah di balik masker itu perlahan Qennan membuka masker tersebut walau sang pemilik berusaha memberontak.
Srek...
"Kau!!!"
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...