
"Sudah selesai semuanya by?"
Tanya Aurora ketika melihat suaminya baru masuk kamar.
Tergambar jelas rasa lelah di wajah tampan Kaka membuat Aurora mengerti.
Kaka berusaha tersenyum menatap istri dan putrinya yang sendari tadi pasti menunggu.
Kaka memang melarang Aurora ikut melihat kondisi sang istri yang tak memungkinkan.
Aurora menyimpan baby Kim di ranjangnya sendiri lalu menghampiri sang suami duduk di shopa sana.
Kaka membaringkan tubuhnya di pangkuan sang istri posisi yang selalu Kaka sukai karena posisi itu Kaka bisa melihat wajah cantik sang istri dengan jelas apalagi ketika Aurora menunduk memainkan rambutnya.
"Apa mereka akan baik-baik saja?"
"Jangan khawatir sayang, Edward tak akan berani menyakiti Vivi!"
Aurora terdiam, rasa takut itu ada mengingat perjalanan mereka dulu juga sama seperti itu ketika belum saling mencintai.
Namun, Vivi berbeda dengannya dan itu yang menjadi ketakutan besar Aurora. Jika itu terjadi Aurora tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri karena tanpa sadar ia juga mendorong Vivi pada jalan ini.
"Kenapa sayang begitu mengkhawatirkan Vivi?"
Terlihat jelas di mata sang istri jika itu bukan sebuah ketakutan biasa. Pasti ada sesuatu yang terlewatkan yang Kaka tak tahu atau Edward dulu tak akurat menyelidikinya.
"Vivi mempunyai trauma besar terhadap laki-laki!"
Kaka terdiam mencoba mencerna setiap kata yang sang istri ucapkan. Sudah Kaka tebak, Edward pasti melewatkan akan hal satu ini.
"Maksudnya?"
Aurora menghela nafas berat menatap sang suami sendu. Jika mengingat itu dada Aurora kembali terasa panas, ingin sekali menghancurkan orang-orang yang dulu merundung Vivi.
"Vivi membenci laki-laki berawal dari ayahnya sendiri. Sosok ayah yang seharusnya melindungi putrinya, menjaga dan merawatnya tapi malah menelantarkan Vivi dan Arsen di negara asing bagi mereka. Vivi harus bertahan hidup dengan cemoohan dan hinaan. Bagaimana bisa Vivi menjalani hari berat di usinya yang masih remaja. Di cap hamil di luar nikah karena harus merawat Arsen yang kala itu masih berusia satu setengah tahun dan di--"
Aurora menghela nafas berat dengan tangan mengepal kuat membuat Kaka langsung duduk menarik sang istri kedalam pelukannya.
"By, Vivi hampir beberapa kali akan di perkosa oleh teman nya sendiri dan di jual pada bandit malam itu awal pertama kali Rora bertemu dengan Vivi dalam keadaan mengenaskan. Vivi berjuang sendiri by, dia membenci laki-laki karena menurutnya sama. Dia membenci di tinggalkan, dia membenci di telantarkan dia hiks ..."
Kaka mengeratkan pelukannya ketika sang istri terbawa emosi. Tubuhnya terguncang oleh isak tangis yang menyesakan.
Kini Kaka paham kenapa mereka saling menyayangi. Aurora begitu berharga bagi Vivi karena bagi Vivi, Aurora adalah malaikat penolongnya.
Pantas saja Vivi sangat khawatir apapun yang terjadi pada Aurora.
Sial!
Ternyata Edward memang melewatkan akan hal ini. Bagaimana bisa Edward tak tahu akan hal besar seperti ini. Ini akan jadi malapetaka jika Edward benar-benar tak tahu.
Kaka sudah berjanji pada sang istri jika Vivi akan baik-baik saja di tangan Edward. Sekarang Kaka entah kenapa merasa ragu jika masalahnya begini karena mereka dua orang yang bertolak belakang akan semuanya walau pada dasarnya mereka sama.
Edward sama membenci wanita karena bagi Edward mereka sama seperti sang mama yang menghalalkan segala cara demi nafsu bejatnya.
Seperti nya Kaka harus bertindak cepat sebelum semuanya terlambat. Ini akan menjadi bahaya besar dan Kaka tak mau sang istri bersedih akan hal ini.
"Sudah sayang, percayalah semua akan baik-baik saja!"
"Jika Edward melakukan kesalahan, jangan cegah Rora untuk mematahkan kakinya!"
__ADS_1
Glek .. .
Kaka menelan ludahnya kasar, entah kenapa ancaman sang istri begitu nyata seolah dirinya yang sedang di intimidasi.
"Kita doakan saja, semoga mereka baik-baik saja!"
"Sudah jangan menangis, nanti Kim bangun!"
Kaka menghapus air mata sang istri dengan lembut membuat Aurora menghela nafas pelan.
Di sini entah siapa yang harus di tenangkan sepertinya terbalik. Harusnya Kaka yang di tenangkan karena kehilangan profesor Tuner.
"Apa semuanya sudah istirahat by?"
"Sudah, tinggal kak Fatih yang masih di luar!"
"Sekarang istirahat ya!"
"Entah kenapa, semenjak ada Kim Rora susah tidur tapi kalau pagi bawaannya ngantuk!"
"Mungkin karena sayang sering bangun ketika Kim terbangun mau mimi atau pun!"
"Hubby tidur duluan saja,"
"No!"
Jawab Kaka cepat, mana bisa ia tidur tanpa sang istri.
"Rora mau menemui kak Fatih dulu!"
"Besok saja!"
Kaka mengunci tubuh sang istri dalam pelukannya membuat Aurora pasrah membalas pelukan sang suami.
"Begini nyaman sayang!"
"Cih!"
Aurora mendelik malas walau bibirnya nampak tersenyum akan tingkah sang suami yang terus menempelkan wajah di dadanya.
Aurora mengelus rambut Kaka lembut sambil menepuk-nepuk pundaknya sesekali bak anak kecil yang sedang di koloni ibunya.
"Berapa hari lagi selesai Nifas?"
"Masih lama!"
"Hm!"
"Sudah tidur, katanya ngantuk!"
Gemas Aurora menahan tangan sang suami yang malah berkeliaran.
"Hm!"
"By!"
"Apa sayang!"
"Tidur, nanti Kim kebangun!"
__ADS_1
"Ya .. Ya ..."
Kaka memejamkan kedua matanya perlahan merasa nyaman akan usapan lembut sang istri.
Hingga Aurora benar-benar bisa membuat Kaka cepat tidur. Terbukti dari nafas Kaka yang mulai teratur menerpa dadanya.
Oekk ..
Oek ...
"Kim!"
Gumam Aurora perlahan melepaskan pelukan sang istri.
Sesudah baby besarnya tertidur kini Kim yang terbangun.
Perlahan Aurora mendekat menggendong Kim yang seperti nya haus.
"Putri bunda haus!"
"Hm, sepertinya bukan haus, tapi pipis. Kim gak nyaman ya!"
Ucap Aurora pelan mengajak bicara putrinya. Kim hanya tersenyum saja seolah mengerti akan ucapan sang bunda.
Dengan telaten Aurora mengganti popok Kim agar putrinya kembali tidur dengan nyaman. Aurora menepuk-nepuk bokong Kim agar kembali tidur.
Kim, baby itu perlahan memejamkan kedua matanya kembali seolah mengerti ia harus kembali tidur karena sudah larut.
"Sayang!"
"By!"
Pekik Aurora tertahan terkejut akan pelukan hangat sang suami.
"Kenapa terbangun, hm!"
"Selimut hangatnya gak ada!"
Rengek Kaka membuat Aurora tersenyum menarik selimut guna menutupi putrinya.
"Tidur yang nyenyak nak, karena bunda harus menidurkan papa lagi!"
Kaka hanya tersenyum saja mendengar celotehan sang istri. Kaka terus saja memeluk sang istri dari belakang dan mengikuti kemana langkahnya dengan mata terpejam.
Se-bucin itukah Kaka sampai membuat Aurora sulit bergerak.
Mungkin mereka masih bisa seperti ini sebelum Kaka di sibukkan lagi dengan tugasnya.
Kaka hanya memanfaatkan waktu saja manja dengan Aurora sebelum semuanya benar-benar kembali ke titik awal di mana Kaka pasti akan sibuk.
"Ayo!"
Kaka membaringkan tubuhnya lagi dengan Aurora langsung memeluk tubuh besar Kaka.
Cup ...
Aurora mengecup kening Kaka lembut mencoba membuat Kaka tenang untuk kembali tidur karena Aurora tahu sang suami besok akan di pertemukan dengan pekerjaan nya lagi.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...