Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 25 Bagaimana mungkin!


__ADS_3

Aurora masih terdiam melihat manik biru bening menenggelamkan kewarasannya.


Kenapa sama, mimpi itu!


Gejolak batin Aurora seolah Dejavu dengan semuanya.


Berbeda dengan Kaka yang tak menyangka jika bau ini milik Aurora. Bagaimana bisa ia di selamatkan oleh istri kertasnya sendiri.


Sampai ingatan Kaka terpaut pada kejadian di mana mereka harus menikah.


"Tidak, tidak mungkin!"


Gumam Kaka mundur seolah membantah semuanya. Aurora mengerutkan kening melihat Kaka yang bertingkah aneh. Entah apa yang terjadi membuat Aurora benar-benar bingung.


Tiba-tiba datang bertingkah aneh dan sekarang bersikap seperti itu.


Apa yang tidak mungkin!


Pikir Aurora bingung menarik semua kewarasannya agar tak terpesona dengan pahatan tampan bak dewa kayangan.


Waktu itu Kaka sempat tak sadarkan diri dan tak ingat apapun dia bangun tiba-tiba di keroyok warga untuk bertanggung jawab yang tak pernah ia lakukan.


Rasa sakit dan demam di tubuh Kaka membuat Kaka sejenak melupakan kejadian itu sampai di mana ia bisa terjerat pernikahan palsu dengan Aurora.


Sekarang Kaka ingat pantas para warga meminta ia bertanggung jawab karena waktu itu penampilan Aurora sangat seksi.


Tapi mana mungkin tubuhnya tak bereaksi apapun jika memang benar Aurora orangnya. Apa DNA Aurora cocok dengan kulit sensitif nya ini mustahil bantah Kaka terus bergelut dengan pemikirannya.


Melihat Kaka yang seperti orang linglung Aurora mencoba mendekat.


"Kau kenapa?"


Tanya Aurora tak berani menyentuh karena takut suami tempramen nya ini mengamuk.


Raja menatap Aurora intens merekam setiap kejadian. Jaket, tujuh tahun lalu apa benar mereka orang yang sama. Jika iya ini tak mungkin hanya sebuah kebetulan belakang pasti ada sesuatu di balik ini semua.


Tapi kenapa Aurora terlihat seolah-olah ia tak mengenalnya dan terkesan mereka memang tak saling mengenal.


"Hey, kau kenapa! Sakit?"


Kesal Aurora mulai jengkel melihat sikap Kaka yang seperti itu.


"Siapa kau sebenarnya??"


Tanya Kaka menatap tajam Aurora membuat Aurora seketika terhenyak melihat tatapan penuh kuliti itu.


"Aku!"


Polos Aurora menunjuk dirinya sendiri dengan senyum pelik menatap ejek Kaka yang mengepalkan kedua tangannya.


"Kenapa kau pura-pura tak mengenalku hah, sedang kau sudah tahu siapa aku dari tujuh tahun yang lalu!"


Deg ...


Aurora tersentak mundur ketika Kaka terus berjalan ke arahnya dengan tatapan mengerikan seolah akan menelan Aurora hidup-hidup.

__ADS_1


"Kau apa-apa an sih, jangan membual!"


"Tak mau mengaku, hm!"


Aurora semakin terpojok bagaimana bisa Kaka bisa mengingatnya dalam waktu sekejap padahal Aurora berusaha menyembunyikan diri takut Kaka seorang psycho.


"Jika ia memang kenapa hah!"


Kesal Aurora mendorong dada bidang Kaka yang bahkan tak tergeser sama sekali kakinya terlalu kokoh untuk kekuatan Aurora yang lemah.


"Apa tujuan mu menjebak ku dengan pernikahan ini!"


"What!"


"Kau sengaja menggunakan trik murahan untuk mencapai TUJUAN MU katakan hah Apa TUJUAN MU menikahi ku!"


Plak ...


Sebuah tamparan empuk melayang di pipi kiri Kaka bahkan sampai wajah Kaka memaling dengan darah segar keluar dari sudut bibirnya.


Kaka tersenyum seringai sambil mengusap darah segar di bibirnya.


Sungguh Aurora sangat marah karena Kaka tanpa sadar ucapannya menganggap Aurora wanita murahan. Siapa yang terima akan hal itu bahkan di sini Aurora adalah korban.


"Ya! Aku memang orang yang menolong mu tujuh tahun lalu, sekarang aku MENYESAL MELAKUKANNYA!"


"Semenjak menolong mu hidupku jadi berantakan, bahkan aku harus terjebak dengan pernikahan konyol ini!"


"Sudah puas hah!"


"Seharusnya kau berterima kasih karena aku sudah menyelamatkan nyawamu yang bahkan hampir sekarat dan sekarang kau menyalahkan aku atas semuanya yang terjadi!"


Teriak Aurora dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya. Hatinya sakit dan lelah akan semuanya dan sekarang kenapa ia yang harus di salahkan bahkan karena pernikahan sialan ini Aurora harus kembali mengubur cita-cita.


"Aku tak tahu siapa kau hiks ..., kau selalu datang seolah meminta pertolongan. Ak-aku hanya berniat membantu tak lebih bahkan aku berusaha menghindar karena takut tapi kau selalu datang dalam keadaan mengenaskan lalu apa salahku menolong orang hiks ..,"


Ucap Aurora melemah sambil memeluk kedua lututnya amarah dan rasa sakit yang sendari dulu ia pendam kini keluar. Aurora lelah berada di posisi seperti ini ia ingin bebas terbang setinggi-tingginya menggapai cita-cita yang ia mau. Menolong orang dengan kedua tangannya, apa salah.


"Bahkan aku tak mengerti kenapa papa menikahkan ku dengan orang seperti mu!"


Sungguh hati seorang anak yang mana yang tak sakit hati jika ia harus menikah dengan laki-laki yang tak ia tahu siapa asal usul dan bagaimana keluarga.


Dan sekarang ia harus di hadapkan dengan kerumitan keluarga Aldarberto yang sangat pelik.


"Tolong, biarkan aku pergi hiks ...,"


Kaka mengepalkan kedua tangannya erat tak menyangka akan melihat sisi lain dari Aurora. Keangkuhan dan keberanian yang selama ini di tunjukan hanyalah sebuah topeng untuk menutupi kerapuhannya.


Kaka menatap Aurora rumit entah apa yang Kaka pikirkan setelah semuanya terucap dari bibir Aurora.


Apa ini acting atau memang nyata jika Aurora tak tahu apapun.


Apa yang sedang di rencanakan king Asia kenapa ia begitu mempercayaiku menjaga putrinya!


Kaka masih bingung dengan semua ini pahala semuanya hal sederhana untuk di tebak namun ternyata sangat pelik bahkan Kaka harus memutar otak untuk terus mencari jawaban.

__ADS_1


Jika Aurora tak tahu apa pun tentang dirinya cuma ada satu kemungkinan!


"Mintalah yang lain tapi tidak dengan kebebasan!"


Aurora mengangkat kepalanya menatap sendu Kaka membuat Kaka memalingkan wajahnya. Kaka paling benci dengan wajah seperti itu mengingatkan Kaka pada masa-masa terpuruk Cherry bahkan dulu hampir depresi.


"Tapi aku butuh terbang!"


"Kau sudah terbang sejauh ini!"


"Kenapa kau tak mengerti! tolong berikan kebebasan itu hiks ..,,"


"Ak-aku janji akan menurut asal kau memberiku kebebasan!"


Deg ..


Kaka tersentak ketika Aurora memegang tangannya membuat Kaka menahan nafas dengan mata terpejam.


Namun ada yang aneh kenapa tak bereaksi membuat Kaka langsung menatap tangannya sampai tak sadar menghempaskan kasar membuat Aurora terjatuh.


Bruk ...


Aurora terpental dengan kepala membentur ranjang sampai tak sadarkan diri.


Sedang Kaka masih sibuk dengan dirinya sendiri tanpa peduli Aurora.


"Bagaimana mungkin!"


Gumam Kaka tak percaya jika kulitnya tak mengeluarkan ruam merah seperti bekas terbakar. Tangan dan tubuhnya baik-baik saja tak terjadi lebih.


Pikiran Kaka begitu kacau menduga-duga kejadian itu.


"Bisa--"


Duarr ...


Kaka membulatkan kedua matanya melihat Aurora yang tergeletak tak sadarkan diri.


"Oh ya Ampun!"


Tak pernah Kaka se-panik ini terhadap orang lain.


"Edward!!"


Teriak Kaka membuat Edward langsung melesat cepat menuju panggilan sang lord.


"Cepat panggil Abe!"


"Apa yang terjadi!"


"Jangan banyak tanya, cepat panggil Abe!"


Bentak Kaka kesal karena Edward malah bertanya.


Kaka langsung menidurkan Aurora hati-hati di atas ranjang dengan kepanikan yang nyata. Entah ada apa sampai Kaka se-panik itu padahal tadi biasa saja.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ....


__ADS_2