Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 120 K: PC 2 (Iblis berwujud manusia)


__ADS_3

Pada musim panas bulan Juli hingga Agustus kalian dapat menyaksikan 19 pompa air tradisional ala Belanda beroperasi. Sedangkan di musim dingin, kalian bisa ikut ber-ice skating ria bersama warga di atas permukaan air yang membeku di sekitar windmills.


Tentu, Edward berlibur tepat di musim dingin di mana permukaan air membeku.


Edward sengaja mengajak Vivi jalan sore karena ingin menikmati suasana tenang di sana.


Edward duduk di salah satu kursi membiarkan Vivi melakukan apapun sesukanya.


Senyuman indah lepas tanpa beban terukir indah di bibir Vivi. Ia sangat senang sekali bisa melihat dengan jelas berjajar kincir angin.


Tempat yang ia impikan menjadi kenyataan. Bahkan Vivi sibuk bermain skating sendiri tanpa Edward.


Vivi berbaur dengan anak-anak ada juga orang dewasa berseluncur ria.


Sungguh suasana yang sangat menyenangkan. Bahkan saking senangnya Vivi lupa akan kekesalannya pada Edward.


Berseluncur, berputar-putar ria sambil merentangkan tangan seolah Vivi pemain sky yang handal.


Edward hanya memantau dari kejauhan membiarkan Vivi bebas mengekspresikan dirinya sendiri.


Edward hanya mengikuti dari pinggir kemana Vivi berseluncur. Bahkan saking asiknya Vivi tak sadar ia sudah jauh dari tempat awal.


Hari semakin sore pengunjung nyatanya semakin ramai membuat Edward harus benar-benar memerhatikan bisa-bisa Vivi hilang di kerumunan.


Bruk ...


Seorang anak kecil terjatuh membuat Vivi langsung menghampirinya.


"Boleh kakak bantu!"


Ucap Vivi tersenyum manis pada bocah pirang berusia sekitar delapan tahun.


Gadis kecil itu menatap Vivi lama sebelum tangannya terulur.


"Pelan-pelan dek,"


"Terimakasih!"


"Kasih kembali, main bersama siapa?"


"Kakak, tapi aku kabur habis kakak marah-marah ngajarin aku mainnya!"


"Baiklah, mau kakak ajarkan!"


Gadis pirang itu tersenyum sambil mengangguk memegang erat lengan Vivi.


Dengan senang hati Vivi mengajarkan bocah pirang ini bermain.


Kedua wanita berbeda generasi itu sangat asik bermain tanpa sadar jika empat pasang mata menatap tajam kearah mereka.


"Baiklah, hari sudah mulai gelap, kita istirahat!"


Vivi mengajak gadis pirang itu menepi lalu membantu membuka sepatu skating nya.


"Ngomong-ngomong di mana kakak kamu?"


"Itu dia!"


Tunjuk gadis pirang membuat Vivi berbalik.


Deg ....


Vivi membulatkan kedua matanya melihat siapa yang datang.


"Hay!"


Dengan santai Eva duduk tak peduli dengan keterkejutan Vivi.


"Jad--"


"Ya, dia adikku!"

__ADS_1


Vivi menghela nafas berat sungguh dunia ini sangatlah sempit. Siapa sangka gadis pirang yang ia bantu adalah adik Eva. Namun, di lihat-lihat kenapa tak ada kemiripan sama sekali di antara mereka.


"Dia adik tiriku, sangat sial bukan!"


Bisik Eva membuat Vivi mengerutkan kening tak mengerti dengan apa yang Eva maksud.


Gadis pirang itu beringsut memegang lengan Eva erat. Terlihat ketakutan membuat Vivi heran.


"Hey, jangan menatapnya begitu, Clara ketakutan!"


Kesal Eva menatap tajam Edward yang masa bodo. Lagi-lagi Vivi di buat terkejut oleh kehadiran Edward, pasalnya tadi Vivi melupakan Edward.


"Pulang!"


"Baiklah! Kami pulang duluan, selamat bersenang-senang!"


Cetus Eva sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Sudah mainnya?"


Tanya Edward datar membuat Vivi mengangguk kaku.


"Ayo naik, kita cari makan!"


Vivi menatap sepeda yang Edward naiki, apa benar Edward mau memboncengnya. Sungguh dulu Vivi membayangkan ini, ia di bonceng oleh orang yang sangat ia cintai dan menghabiskan waktu berdua namun Edward bukan orangnya.


Dengan ragu Vivi naik membuat Edward perlahan mengayuh sepeda nya.


Edward mengayuh sangat pelan seolah sedang menikmati momen ini. Momen yang belum pernah ia ciptakan.


Sungguh terlihat sangat romantis namun pada kenyataannya tak seromantis itu. Bahkan Vivi enggan berpegangan pada Edward.


Namun, detik kemudian Vivi memegang kedua sisi jaket Edward karena terkejut ketika ada pesepeda lain yang membawa sepeda nya kencang hampir menyerempet mereka.


"Sial!"


"Jangan di kejar!"


Mohon Vivi tak mau membuat masalah, Vivi bukan tak mau tapi takut Edward menghajar anak muda tadi mengingat bagaimana tempramen nya Edward.


Deg ...


Tubuh Vivi menegang tetkala Edward membawa tangannya melingkar ke perutnya. Bukan hanya satu namun dua-duanya hingga tangan Vivi melingkar indah di perut sixpack Edward.


"Jangan di lepas!"


Sudah bicara seperti itu Edward sedikit mengencangkan gayuh han nya. Mau tak mau Vivi tetap seperti itu walau ia harus menahan detak jantungnya yang tak stabil.


Kenapa dengan jantungku!


Apa aku mendadak punya penyakit jantung!


Batin Vivi tegang bahkan wajahnya memanas.


Setiap kali Edward berperilaku manis maka jantung Vivi tak baik-baik saja membuat Vivi seperti nya harus menjauh dari Edward tapi bagaimana caranya.


Edward menghentikan sepedanya tepat di depan restoran. Membuat Vivi seketika langsung melepaskan tangannya dan turun.


"Kenapa?"


"Gak!"


"Ayo!"


 Reflek Edward menarik lengan Vivi membuat Vivi menatap punggung Edward rumit.


Vivi ingin melepas dan berteriak menolak semuanya namun tubuhnya hanya diam saja seolah terhipnotis.


Vivi duduk di atas kursi yang Edward tarik, kemudian Edward duduk di hadapannya. Edward melihat buku menu di sana lalu memberikannya satu pada Vivi.


Vivi hanya menatap Edward rumit bahkan tak berkedip sedikitpun membuat Edward heran.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kenapa?"


Ucap Vivi mengulang pertanyaan Edward sambil tersenyum getir.


"Hey!"


"Kenapa kau baik pada ku dimana tu-tuan yang dulu?"


"Kau istriku, apa aku tak boleh memperlakukan istriku dengan baik!"


"Semuanya palsu!"


Bentak Vivi sambil menutup telinganya, ia benci kata itu.


Vivi tahu Edward tak mungkin berubah dengan tulus. Semuanya palsu, ini semua hanya kepalsuan. Edward bukan menganggap ia istri tapi Edward hanya kasihan, Edward hanya balas Budi.


Vivi tak butuh di kasihani, Vivi tak butuh di lindungi, Vivi tak butuh kepalsuan.


"Semuanya bohong!"


Vivi sudah tak bisa menahan kesesakannya lagi. Vivi berlari keluar membuat Edward terkejut dengan reaksi Vivi saat ini.


Vivi terus berlari dengan air mata yang tiba-tiba keluar entah karena apa ia semarah ini. Yang jelas Vivi tak suka cara Edward yang berubah secara tiba-tiba.


Vivi tahu selama ini Edward baik hanya atas perintah Kaka bukan kehendaknya sendiri, Vivi tahu itu.


Apa ia se-menyedihkan itu sampai harus pura-pura baik. Vivi benci itu, ia benci benci dan benci.


"Mereka sama, mereka hanya memanfaatkan hiks ..."


Isak Vivi sungguh gadis itu sangatlah rapuh, ia benar-benar benci berada di posisi ini.


Cittt ...


Bruk ...


Vivi terjatuh akibat terserempet pesepeda membuat kedua telapak tangannya berdarah akibat gesekan aspal begitu juga kedua lututnya.


Brak ..


Tendangan kokoh melayang cepat membuat pesepeda yang menyerempet Vivi terjungkal.


"Berani sekali kau menyakiti istriku, hah!"


Murka Edward darahnya mendidih melihat bagaimana Vivi terpental dan sialnya sang pesepeda malah kabur tanpa meminta maaf malah menyalahkan Vivi.


"Kau bosen hidup!"


Bugh ...


Sekali lagi Edward menendang sang pesepeda membuat dia meringis.


Vivi melihat itu semua membulatkan kedua matanya tak menyangka Edward akan semarah itu. Semua salah nya dia yang tak hati-hati.


Edward berjalan mendekat mencengkram erat kerah baju sang pesepeda. Cengkraman itu menjadi sebuah cekikan membuat Vivi dengan cepat bangun.


Bruk ..


"Tolong lepaskan, aku mohon!"


Pinta Vivi tanpa sadar memeluk Edward dari belakang berharap kemarahan Edward reda.


"Lepaskan!"


Seketika tangan Edward mengendur membuat sang pesepeda langsung berlari terbirit-birit sambil mendorong sepedanya.


Sang pesepeda tak menyangka jika ia akan bertemu iblis berwujud manusia.


Nafas Edward memburu, masih tergambar jelas kilatan kemarahan di sana.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2